Kamis, 16 Juli 2015

Re-start Saja Aku Tuhan!

Istilah, kembali ke nol makin hari makin sering terdengar. Apalagi menjelang berakhirnya ramadhan, dan berganti bulan syawal.

Sering diimbuhi dengan kalimat ucapan maaf. Seperti "mohon maaf lahir dan batin, kita kembali ke nol ya... bla bla bla.."

Bisa jadi terinspirasi dengan vocal service pertamina, "kita mulai dengan angkal nol ya bapak/ibu." Saat kita mengisi bahan bakar minyak di stasiun pengisian.

Sampai sekarang saat saya membaca pesan elektronik, dan menemui kata 'kembali ke nol'. Saya seakan-akan tidak sepakat. Mungkin maksudnya nol itu fitrah atau bersih. Kembali ke fitrah manusia. Kekiniannya kita panggil dengan 'kembali ke nol'. Tapi tetap saja istilah tersebut tidak bisa disamakan

Buru buru berpikir kembali ke nol setelah ramadhan selesai. Memulai yang baik saja masih nol. Apalagi melakukan kebaikan? Nol.

Di akhir ramadhan ini, mungkin yang tepat adalah mulai nol dan tetap saja berada di nol. Perubahan dari nol ukuran kecil menjadi nol ukuran besar. Apalagi mendekati lebaran, dan istilah lain yang kita kenal dengan THR, semakin membuat nol nol nol lain.. seru untuk dibahas.

Hahahaha..

Kemudian kita berpikir tentang penyesalan karena tidak dapat beribadah secara maksimal, lalu merenung dengan duka bahwa kita terlambat akan hal ini.

Kita tidak berbuat banyak untuk ramadhan tahun ini apalagi berbuat sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk diri kita sendiri. Kemudian muncul harapan-harapan kecil dari benak kita, kemudian dikemas dengan bahasa yang sedikit hiperbolik supaya terkesan lebih bijak menjadi, "Semoga kita dipertemukan dengan ramadhan tahun depan."

Malaikat mringis, "kok cek enak'e uripmu Le? Ra poso, ra sembahyang.. muna muni ramadhan taun ngarep.."

"koe tak 'nol' noh maneh ae ya.."

Kemudian malaikat "me-restart" manusia macam ini. Nul nul nul nul... Zzz.. Zzz..

Jumat, 10 Juli 2015

Hail Kedai Kopi Premium

Sepulang kerja saya memutuskan utuk menunda waktu pulang. Saya menuju kedai premium, salah satu kedai kopi langganan di dekat tempat saya bekerja. Saya memesan minuman dingin dan makanan ringan untuk mengganjal perut yang kosong.

Kedai Premium yang masih sepi, lima belas meja berukuran setengah meter kali tujuh puluh lima meter, menjadi teman yang seru untuk diceritakan disini.

Hail premium, hail kopi, hail meja dan kursi.