Minggu, 26 April 2015

Room 903

Sore hari di sekitar Jalan Letjend MT. Haryono, Kota Semarang. Hari terakhir dalam acara kunjungan ke Kota Lumpia. Saya menepi sejenak di toserba di depan Java Mall, membeli minuman dingin dan merokok di pelatarannya.

Sambil menghisap rokok, saya mengecek beberapa pesan di gadget. Saya menggulirkan touchpad, mencari satu nama yang akan menjadi cerita dalam tulisan saya kali ini.

Setelah menggulirkan touchpad ke arah bawah, saya berhenti pada foto profil wanita berhijab dengan warna biru yang dominan. Foto itu menyiratkan bahwa ia malu-malu sembari menutup bagian wajahnya dengan satu tangannya. Saya mencoba membuka pesan tersebut, mencoba kembali mengingat obrolan kami tentang rencananya berkunjung ke Semarang.

Sore itu, saya memang memutuskan untuk pulang menuju Surabaya. Namun, keputusan itu kalah dengan kondisi badan yang sangat lelah. Apalagi rute perjalanan saya akan menuju terminal Terboyo lumayan jauh. Jika memaksa pun saya harus berpindah moda transportasi dua kali untuk menuju terminal. Belum lagi saya harus menghabiskan waktu atau beristirahat di dalam bis Semarang-Surabaya kurang lebih 6-7 jam perjalanan. Jika saya tiba di Terboyo pukul 19:00, kemungkinan saya akan tiba di Surabaya pukul 02:00 dini hari, belum lagi saya harus mengendarai sepeda motor yang saya titipkan di terminal Purabaya Surabaya. Membayangkannya saja saya tak sanggup, saya dibuat menyerah sore itu.

Dua batang rokok mild telah habis, pun juga minuman dingin di sebelah saya. Saya bergegas mengambil tas jinjing ukuran 40 liter warna hitam dan menggendong tas ransel yang berisikan laptop ukuran 14 inch. Saya memanggil taxi, dan meminta supir untuk mengantarkan saya menuju daerah Pandanaran.

Di dalam taxi saya berpikir, mengapa saya harus kembali lagi ke Hotel Pandanaran? Padahal hari ini saya baru saja check out. Mengapa saya tergerak menuju ke Pandanaran? Apakah karena wanita ini?

Saya tau dia berada disana, saya sempat menghubunginya. Meminta ijin untuk mampir sejenak  untuk beristirahat. Saya hanya ingin menyentuh air, membersihkan sedikit penat. Mandi dan berwudhu, merebahkan punggung yang sedikit kaku. 

Saya tiba di Pandanaran, berhenti sejenak di lobby hotel. Memikirkan beberapa kemungkinan terburuk sebelum taxi yang mengantarkan saya benar-benar pergi. Masih ada opsi untuk tidak mendatanginya, dan berputar balik untuk pulang ke Surabaya. Sekali lagi saya kalah. Saya melangkah ke arah lift dan bersiap menemuinya.

Room 903, di Hotel Pandanaran Kota Semarang. Saya menemuinya sebagai seseorang lelaki yang menaruh rasa, bahwa wanita cantik itu ada di satu selimut kesederhanaan, dan dengan tawa yang lepas. Semoga kita akan bersua pada satu rasa yang bertumbuh, seperti pijar lampu kota yang menjadikannya sedikit biru.








Room 903, Pandanaran Kota Semarang

Melihatmu tertidur, 
adalah sedikit anugrah dari Tuhan
yang harus aku ingat.