Minggu, 01 Maret 2015

Memilih Menjadi Ekor Naga, Atu Menjadi Kepala Cicak?



Ceritanya pada Sabtu sore. Tepat saat saya sedang libur kerja. Kawan saya: Hasan, yang sering saya panggil “Cepung” mengajak untuk bertemu di sebuah kedai kopi ternama di Surabaya.

Sedikit cerita tentang Hasan. Ia adalah adik angkatan saat kami masih kuliah, ia satu tingkat di bawah saya. Ia bisa berbangga menjadi Alumni sosiologi dengan predikat terbaik. Ia sekarang menjadi pemilik empat kedai pulsa yang tersebar di kabupaten Gersik. Waow? Itu belum cukup. Sekarang ia sedang meneruskan studi di salah satu Universitas Swasta termuka di Surabaya, ia mengambil program pasca sarjana bidang Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan. Latar belakang Hasan adalah anak dari salah satu pengasuh bimbingan haji dan umroh yang cukup terkemuka di Kabupaten Gersik. Sepertinya ia akan menjadi kandidat kuat untuk meneruskan usaha bimbingan haji dan umroh milik orang tuanya.

Tapi di depan saya, Hasan tidak lebih dari seorang pemuda yang kesepian, butuh pelukan dan juga perhatian lawan jenis. Walaupun ia sangat pintar menutupinya dengan gaya bicaranya yang sok ketuaan. Mengingatkan saya pada Kakek dari adik Nenek saya: Mbah Prawoto. Tertata, dan mempunyai tekanan disetiap kalimat.

Sampai saya menulisnya di sini, Hasan adalah salah satu kawan terbaik saya untuk berbagi cerita mengenai kewirausahaan. Mengingat Hasan sekarang adalah pelaku bisnis, membuat saya tidak ragu untuk bercerita dan meminta pendapatnya. Dua puluh karyawan yang bekerja di kedai seluler miliknya membuat ruang tersendiri bagi saya untuk meminta saran mengenai rancangan usaha yang telah saya siapkan. Saya rasa, pilihan yang pas untuk memilih Hasan sebagai lawan tanding obrolan kami sembari menikmati kopi sore itu.

***

Ijinkan saya sedikit bercerita mengenai pekerjaan saya. Saat ini saya merupakan bagian penting dari perusahaan tempat dimana saya bekerja. Saya mengawali pekerjaan di tiga bulan pertama sebagai staf ticketing dan tours sebelum saya diangkat menjadi hotel chief operation di bulan kedelapan saya bekerja, pekerjaan harian saya pada waktu itu meliputi penanganan permintaan pelanggan perusahaan dalam urusan penjualan elektronic airlines ticket, dan penjulan voucher hotel. Untuk pekerjaan lain, saya bertanggung jawab sebagai pembuatan sales order untuk berbagai program tour wisata domestik dan internasional. Secara khusus bertanggung jawab membuat paket wisata domestik di Jawa Timur untuk lingkup adventure dan special interest. Sangat menarik untuk berada di posisi ini. Berkomunikasi dengan banyak orang, dan menjadi garda depan perusahaan dalam kemitraan dan penjualan. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di posisi ini.

Namun ada sisi yang membuat saya teramat jengkel, dan pingin muntah-muntah. Terutama untuk pembuatan dan perancangan paket wisata. Dulu saat saya belum bekerja di posisi ini, saya pernah mengkultuskan diri bahwa, lawannya backpacker adalah travel agen! Saya beranggapan bahwa jalan-jalan itu gak perlu mahal, semua bisa mudah dan murah. Hal ini belum berlaku sebelum saya masuk di dunia travel agen. Namun sekarang, berbalik. Saya harus menerima kenyataan bahwa saat ini saya adalah komponen penting pada sistem penyelia jasa agen wisata. Saya harus merancang sematang mungkin paket wisata orang lain, menentukan harga untuk setiap komponen wisata yang saya sendiri pun terkadang belum tentu bisa mengunjunginya.

Sudah mendekati satu tahun saya berada di sistem ini, sedikit demi sedikit saya memahami sistem di dunia penyelia jasa wisata. Bahwa bisnis ini tidak luput dengan kepercayaan, pelayanan, dan juga penghargaan kepada sang pelanggan.

Bisnis penyelia jasa wisata, ibarat angin. Bisa sepoi-sepoi, bisa juga seperti badai. Bahkan, bisa jadi tidak ada angin yang berhembus sama sekali. Inovasi dan kreatifitas pelaku bisnis adalah materi penting bagi sang penyelia untuk mengatur ritme angin permintaan dari pelanggan. Seperti kondisi pada awal bulan di tahun ini misalnya, kami menyebutnya low season. Permintaan akan paket wisata masih sepoi-sepoi, namun tekanan dari pemilik dan pemegang saham di perusahaan kami sebaliknya. Tiada hari tanpa omelan dan tekanan. Terkadang kefokusan karyawan menjadi bias, pimpinan terkesan seenaknya sendiri dalam memberikan intruksi. Alhasil, beberapa karyawan mengeluh dengan dalil: “Besar permintaan, gaji pun kian tertahan.”

***

Saya di hadapan Hasan adalah kategori karyawan bandel, menurutnya. Penuh provokasi yang meluap-luap. Begitu pun saat saya bercerita mengenai kondisi yang saya alami di pekerjaan saya. Namun, sore itu Hasan bisa jadi sedikit terbuka dan memahami mengenai kondisi karyawan pada umumnya. Bisa jadi pemilik perusahaan seperti Hasan, juga harus mendengar kondisi karyawannya di kedai kopi.

Setelah obrolan kami panjang lebar mengenai usaha yang akan saya wujudkan. Saya mencoba menanyakan beberapa hal kepada Hasan. Saya bertanya kepada Hasan: 

“Bagaimana jika saya keluar dari pekerjaan saya saat ini yang teramat membosankan, persetan dengan Bos yang seenaknya sendiri mengatur karyawan. Mungkin inilah waktunya untuk memulai usaha saya sendiri?”

Hasan tersenyum kepada saya. Kemudian berkata kepada saya, dengan gayanya yang mirip sekali dengan kakek saya. Ah dasar, plagiat!

“Kamu memilih menjadi ekor Naga, atau kepala Cicak?”

“Berada di belakang Naga dengan tangkapan luar biasa besar, namun kamu selalu di belakang sebagai ekor. Atau menjadi kepala Cicak? Menangkap yang kecil, namun kamulah kepalanya.”

Saya dibuat diam untuk memikirkan perkataannya. 

Saya masih terdiam memikirkan perkataannya sembari melihat ke langit-langit di kedai kopi sore itu yang mulai berwarna keemasan sambil menyalakan rokok.

“Aduh, sepertinya saya butuh kopi lagi!”

“Hasan Asu!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar