Senin, 30 November 2015

Menggantung di Kampung Hammock

Antropolog banyak yang percaya bahwa Hammock ditemukan sekitar 1.000 tahun sebelum Colombus menemukan Amerika, di mana masyarakat adat Maya dan lainnya membuat Hammock mereka dari kulit pohon atau serat tanaman. Hammock menawarkan perlindungan dari tanah, ular, tikus dan makhluk beracun lainnya. Menurut sejarah pada abad ke-16 para penjelajah akan menempatkan bara panas atau api kecil di bawah tempat tidur gantung mereka untuk tetap hangat atau me"nangkal serangga saat mereka tertidur.

Diperkirakan bahwa Columbus dan anak buahnya menjadi orang Eropa pertama yang melihat dan merasakan tempat tidur gantung ketika secara luas di kalangan masyarakat Taino dari Bahama dan sebagian Amerika Selatan. Mereka membawa beberapa contoh jaring tidur anyaman kembali ke Spanyol. Selama masa kolonial, orang Spanyol dan Eropa lainnya membawa kapas, kanvas dan kain lainnya ke Dunia Baru, banyak yang akhirnya digunakan oleh penenun Hammock tradisional bersama dengan lebih banyak bahan. Pero de Magalhães Gandavo, penulis sejarah kolonial, Brasil menulis pada tahun 1570, "Sebagian besar tempat tidur di Brasil tempat tidur gantung, tergantung di rumah dari dua kabel." Sejarah lengkap bisa kawan-kawan baca di sini.

***

Cukup bercerita tentang sejarah Hammock dan Bapak Columbus, mari kita berpindah pada acara camping ceria di The Pines - Taman Dayu, Pasuruan. Komunitas Hammock Regional Jawa Timur pada tanggal 28-29 November 2015 menyelenggarakan acara 'November Rain Hammock Camp'

Acara yang dihadiri oleh 150 peserta dari beberapa komunitas penggiat dan pecinta alam di Jawa Timur ini, menawarkan metode baru untuk 'bergantung-ria'. Metode dengan nama 'Spider Hammock' yang diusung oleh pemilik blog My Trip asal Sidoarjo, dan merupakan pemilik akun facebook 'Sinyo Ureh' dan dibantu oleh beberapa kawan-kawan Hammocker's Jatim mendapat sambutan dan apresiasi yang bagus dari kawan Hammocker's regional lain. Anda bisa menengoknya di sini. Sampai Saya menulisnya ada 67 jempol yang bersemayam untuk foto ini, belum lagi beberapa foto yang diunggah oleh kawan-kawan lain pada grup yang didirikan awal tahun 2015.

Secara simpel teknik Hammock memang digunakan oleh para pejalan dan pendaki untuk bertahan hidup dan berlindung di alam bebas. Metode membuat bivak dari bahan yang tidak tembus dengan air dan mampu dijadikan sebagai media berlindung. Memasuki era baru dalam berkemah, para pejalan dan pendaki membuat barang yang mereka bawa semakin lebih ringan/ultralight. Pada acara 'November Rain' yang diadakan dua hari pada akhir pekan ini, lumayan dipresiasi oleh pecinta alam dan komunitas lain di Jawa Timur, terbukti 150 peserta yang tercatat oleh panitia pada tanggal 29 November 2015. 

Bersama kawan saya Daniel dari komunitas Backpacker Indonesia, kami membuat Hammock bergantung ria di pohon pinus yang sejajar. Kawan-kawan Hammocker's menyebutnya dengan istilah 'tandem', yang berarti menggantungkan dua Hammock sejajar atas dan bawah.

Hammock Daniel dan Saya, yang menggantung tandem. (Foto oleh: Septi).
Bergantung ria merupakan pengalaman pertama saya dalam bermalam di alam bebas. Ada kekhawatiran saat malam menjelang, khawatiran saya yang tidak dapat tidur karena bergantung pada selembar kain mirip parasut ini. Apalagi pada acara tersebut, saya tidak membawa tutupan semacam flysheet yang biasa saya bawa saat berkemah di hutan. Namun kekhawatiran tersebut sirna, Hammock yang saya gantung membuat badan saya rileks dengan posisi tidur yang menyesuaikan alur tulang belakang saya. Kawan-kawan yang telah lama menggunakan Hammock menyarankan kepada saya untuk tidur dengan posisi sedikit serong dari poros kutub Hammock yang saya gunakan.

Hammock yang saya gunakan merupakan pemberian Zilla pacar saya. Dia sengaja membuatnya sendiri dengan jahitan yang rapi. Praktis sebagai apresiasi, saya membawanya untuk bermalam di acara Kampung Hammock. Banyak yang khawatir saat saya memasang Hammock buatan Zilla, mereka bilang kainnya terlalu light, tali yang menghubungkan kain Hammock dengan webbing hanya berukuran 3 mm. Tapi syukurlah kekhawatiran kawan-kawan tidak terjadi, Hammock terpasang dengan baik. Yokha, Woldy dan om Hartono yang menjadi penggiat komunitas Hammocker's Jatim pun ikut turun tangan untuk membantu Saya dan Daniel memasang Hammock.

Acara yang didukung oleh banyak media outdoor ini, memiliki andil besar dalam acara camping ceria Hammocker's Jawa Timur. Cek saja di grup Facebook Hammockers Indonesia, peserta dimanjakan dengan ratusan doorprize yang istimewa. 


Berada di tengah-tengah kampung Hammock. (Foto oleh: Daniel)
Jika ditanya bagaimana kesan-kesan yang didapat dalam acara tersebut? Sebenarnya hampir sama seperti saat Saya pertama kali masuk sekolah, ada perasaan penasaran saat melakukan perjalanan menuju sekolah. Penasaran bertemu kawan baru, penasaran tidur dengan metode berkemah yang unik, dan lain sebagainya. Kemudian dihadapkan dengan kondisi di lapangan: campur aduk.

November Rain - Hammockers Indonesia memberikan Saya wawasan dan pengalaman baru dalam dunia berkemah. Sudut pandang baru dalam dunia backpacker dan melakukan camping. Namun lebih dari itu, Saya melihat kegiatan alam terbuka selalu identik dengan menjaga alam dan keselamatan diri, cara tidur yang menggantung dengan Hammock tidak dapat dianggap sebelah mata. Cara ini syarat dengan keselamatan diri yang tinggi, selain itu teknik tali-temali juga menjadi ilmu yang harus dilatih kembali. Anda pernah merasakan pentingnya mengikuti ekstrakurikuler Pramuka saat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi? Anda akan tahu pentingnya saat mengikuti acara gantung bareng bersama kawan-kawan Hammockers Indonesia.


Hammockers Indonesia Regional Jatim - Spider Hammock. (Foto: HIRegJatim)
Sukses selalu buat kawan-kawan Hammockers Indonesia, semoga acara ke depan semakin baik. Tetap solid, sehat, dan tetap semangat supaya kita semua bisa bergantung ria bersama-sama. Tabik.

Sabtu, 05 September 2015

September (?)

Dahulu sebelum tidur aku selalu berdoa untuk bisa kurus. Entah, sepertinya aneh bukan? berdoa untuk menjadi kurus. Namun sekarang benar-benar menjadi kenyataan, "bahwa aku kurus." Berat badanku turun, orang disekitarku mengatakan bahwa aku kurus, namun aku sendiri tak bisa merasakan kurus itu seperti apa? mungkin yang aku rasakan sementara ini adalah aku semakin ringan dan dapat meloncat kesana kemari.

***

Aku tersenyum. Bahwa kurus bisa terjadi akibat doa. Doa adalah keinginan manusia, dengan berulang-ulang ia rampalkan untuk menjadi ada. Bisa jadi juga lagu, ia diulang-ulang sehingga menjadi syahdu. Lagu juga doa, ia berulang-ulang melantun syahdu. Bisa jadi melantunkan duka, bisa jadi melantunkan bahagia. Mereka mengutuk, ada mereka yang menyanjung dengan syukur.

Beberapa hari ini, mungkin doa yang lain telah tiba. Ada doa dimana aku meminta sesorang kawan untuk datang dan mendengar. Kemarin malam ia datang, dan kami berjumpa dalam tawa dan harapan. Memuja dalam suara, tertawa dalam malam. Kuakui, bahwa aku bahagia hari itu. Aku menikmatinya. Aku menikmati doa-doaku setiap malam.

"Terima kasih September."

"Entah mengapa harus September (?)"

"Doa yang kurampal tiap malam, sekarang datang!"

"Mengapa harus September (?)"

Kamis, 16 Juli 2015

Re-start Saja Aku Tuhan!

Istilah, kembali ke nol makin hari makin sering terdengar. Apalagi menjelang berakhirnya ramadhan, dan berganti bulan syawal.

Sering diimbuhi dengan kalimat ucapan maaf. Seperti "mohon maaf lahir dan batin, kita kembali ke nol ya... bla bla bla.."

Bisa jadi terinspirasi dengan vocal service pertamina, "kita mulai dengan angkal nol ya bapak/ibu." Saat kita mengisi bahan bakar minyak di stasiun pengisian.

Sampai sekarang saat saya membaca pesan elektronik, dan menemui kata 'kembali ke nol'. Saya seakan-akan tidak sepakat. Mungkin maksudnya nol itu fitrah atau bersih. Kembali ke fitrah manusia. Kekiniannya kita panggil dengan 'kembali ke nol'. Tapi tetap saja istilah tersebut tidak bisa disamakan

Buru buru berpikir kembali ke nol setelah ramadhan selesai. Memulai yang baik saja masih nol. Apalagi melakukan kebaikan? Nol.

Di akhir ramadhan ini, mungkin yang tepat adalah mulai nol dan tetap saja berada di nol. Perubahan dari nol ukuran kecil menjadi nol ukuran besar. Apalagi mendekati lebaran, dan istilah lain yang kita kenal dengan THR, semakin membuat nol nol nol lain.. seru untuk dibahas.

Hahahaha..

Kemudian kita berpikir tentang penyesalan karena tidak dapat beribadah secara maksimal, lalu merenung dengan duka bahwa kita terlambat akan hal ini.

Kita tidak berbuat banyak untuk ramadhan tahun ini apalagi berbuat sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk diri kita sendiri. Kemudian muncul harapan-harapan kecil dari benak kita, kemudian dikemas dengan bahasa yang sedikit hiperbolik supaya terkesan lebih bijak menjadi, "Semoga kita dipertemukan dengan ramadhan tahun depan."

Malaikat mringis, "kok cek enak'e uripmu Le? Ra poso, ra sembahyang.. muna muni ramadhan taun ngarep.."

"koe tak 'nol' noh maneh ae ya.."

Kemudian malaikat "me-restart" manusia macam ini. Nul nul nul nul... Zzz.. Zzz..

Jumat, 10 Juli 2015

Hail Kedai Kopi Premium

Sepulang kerja saya memutuskan utuk menunda waktu pulang. Saya menuju kedai premium, salah satu kedai kopi langganan di dekat tempat saya bekerja. Saya memesan minuman dingin dan makanan ringan untuk mengganjal perut yang kosong.

Kedai Premium yang masih sepi, lima belas meja berukuran setengah meter kali tujuh puluh lima meter, menjadi teman yang seru untuk diceritakan disini.

Hail premium, hail kopi, hail meja dan kursi.

Rabu, 03 Juni 2015

Hello June!

"We learn from experiences, both good and bad, and with that knowledge come change... and growth."

Tuhan tetaplah bersamaku, dalam peluh, duka laraku. Aku mencintaimu selalu, dalam rindu haru yang begitu menggebu.

Sabtu, 23 Mei 2015

Tiada Netral?

Menjadi pemandu itu nyatanya lebih susah ketimbang dipilih untuk menjadi pemandu. Karena banyak yang terpilih, tapi tidak bersikap layaknya yang terpilih.

Ini prolog untuk satu kata yang bernama pilihan. Entah itu untuk kata kedua yang akan digabung-gabungkan, seperti pilihan hidup misalnya.

Pernah pada suatu ketika, pada separuh malam menjelang shubuh. Saya 'ditampar habis' oleh seorang perempuan dengan kalimatnya yang melantun pelan, namun menghujam begitu tajam.

Perempuan itu berkata kepada saya, "Ketika aku bilang aku mencintaimu, bukan berarti kau harus membalasnya. Aku bukan perempuan bodoh, Rahman. Aku rasa kau tahu bahwa kau punya pilihan, untuk berkata ya atau tidak."

Menganggap perjumpaan dengannya adalah kesempatan. Menganggap ia tepat untuk dicintai adalah kesempatan. Sama halnya saat kita bertemu dengan seseorang yang membuat kita tertarik, itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan.

Coba kita bedakan dengan, saat kita bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada orang yang kita cinta misalnya, itulah pilihan.

Saya memutuskan untuk diam, dan apakah termasuk pilihan?

Bahkan jika pun kita diam, akan selalu ada orang yang menyalahkan kediam-an kita. Lalu masihkah kita akan tetap diam? Diam atau bersuara? Iya atau tidak? Semuanya kembali kepada pilihan.

"Jika mencintaimu adalah pilihan, aku memilih tidak menjadi se-mau-ku. Meski mauku adalah kamu, aku tak terburu-buru untuk jadi mau."

Minggu, 26 April 2015

Room 903

Sore hari di sekitar Jalan Letjend MT. Haryono, Kota Semarang. Hari terakhir dalam acara kunjungan ke Kota Lumpia. Saya menepi sejenak di toserba di depan Java Mall, membeli minuman dingin dan merokok di pelatarannya.

Sambil menghisap rokok, saya mengecek beberapa pesan di gadget. Saya menggulirkan touchpad, mencari satu nama yang akan menjadi cerita dalam tulisan saya kali ini.

Setelah menggulirkan touchpad ke arah bawah, saya berhenti pada foto profil wanita berhijab dengan warna biru yang dominan. Foto itu menyiratkan bahwa ia malu-malu sembari menutup bagian wajahnya dengan satu tangannya. Saya mencoba membuka pesan tersebut, mencoba kembali mengingat obrolan kami tentang rencananya berkunjung ke Semarang.

Sore itu, saya memang memutuskan untuk pulang menuju Surabaya. Namun, keputusan itu kalah dengan kondisi badan yang sangat lelah. Apalagi rute perjalanan saya akan menuju terminal Terboyo lumayan jauh. Jika memaksa pun saya harus berpindah moda transportasi dua kali untuk menuju terminal. Belum lagi saya harus menghabiskan waktu atau beristirahat di dalam bis Semarang-Surabaya kurang lebih 6-7 jam perjalanan. Jika saya tiba di Terboyo pukul 19:00, kemungkinan saya akan tiba di Surabaya pukul 02:00 dini hari, belum lagi saya harus mengendarai sepeda motor yang saya titipkan di terminal Purabaya Surabaya. Membayangkannya saja saya tak sanggup, saya dibuat menyerah sore itu.

Dua batang rokok mild telah habis, pun juga minuman dingin di sebelah saya. Saya bergegas mengambil tas jinjing ukuran 40 liter warna hitam dan menggendong tas ransel yang berisikan laptop ukuran 14 inch. Saya memanggil taxi, dan meminta supir untuk mengantarkan saya menuju daerah Pandanaran.

Di dalam taxi saya berpikir, mengapa saya harus kembali lagi ke Hotel Pandanaran? Padahal hari ini saya baru saja check out. Mengapa saya tergerak menuju ke Pandanaran? Apakah karena wanita ini?

Saya tau dia berada disana, saya sempat menghubunginya. Meminta ijin untuk mampir sejenak  untuk beristirahat. Saya hanya ingin menyentuh air, membersihkan sedikit penat. Mandi dan berwudhu, merebahkan punggung yang sedikit kaku. 

Saya tiba di Pandanaran, berhenti sejenak di lobby hotel. Memikirkan beberapa kemungkinan terburuk sebelum taxi yang mengantarkan saya benar-benar pergi. Masih ada opsi untuk tidak mendatanginya, dan berputar balik untuk pulang ke Surabaya. Sekali lagi saya kalah. Saya melangkah ke arah lift dan bersiap menemuinya.

Room 903, di Hotel Pandanaran Kota Semarang. Saya menemuinya sebagai seseorang lelaki yang menaruh rasa, bahwa wanita cantik itu ada di satu selimut kesederhanaan, dan dengan tawa yang lepas. Semoga kita akan bersua pada satu rasa yang bertumbuh, seperti pijar lampu kota yang menjadikannya sedikit biru.








Room 903, Pandanaran Kota Semarang

Melihatmu tertidur, 
adalah sedikit anugrah dari Tuhan
yang harus aku ingat.



Minggu, 01 Maret 2015

Memilih Menjadi Ekor Naga, Atu Menjadi Kepala Cicak?



Ceritanya pada Sabtu sore. Tepat saat saya sedang libur kerja. Kawan saya: Hasan, yang sering saya panggil “Cepung” mengajak untuk bertemu di sebuah kedai kopi ternama di Surabaya.

Sedikit cerita tentang Hasan. Ia adalah adik angkatan saat kami masih kuliah, ia satu tingkat di bawah saya. Ia bisa berbangga menjadi Alumni sosiologi dengan predikat terbaik. Ia sekarang menjadi pemilik empat kedai pulsa yang tersebar di kabupaten Gersik. Waow? Itu belum cukup. Sekarang ia sedang meneruskan studi di salah satu Universitas Swasta termuka di Surabaya, ia mengambil program pasca sarjana bidang Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan. Latar belakang Hasan adalah anak dari salah satu pengasuh bimbingan haji dan umroh yang cukup terkemuka di Kabupaten Gersik. Sepertinya ia akan menjadi kandidat kuat untuk meneruskan usaha bimbingan haji dan umroh milik orang tuanya.

Tapi di depan saya, Hasan tidak lebih dari seorang pemuda yang kesepian, butuh pelukan dan juga perhatian lawan jenis. Walaupun ia sangat pintar menutupinya dengan gaya bicaranya yang sok ketuaan. Mengingatkan saya pada Kakek dari adik Nenek saya: Mbah Prawoto. Tertata, dan mempunyai tekanan disetiap kalimat.

Sampai saya menulisnya di sini, Hasan adalah salah satu kawan terbaik saya untuk berbagi cerita mengenai kewirausahaan. Mengingat Hasan sekarang adalah pelaku bisnis, membuat saya tidak ragu untuk bercerita dan meminta pendapatnya. Dua puluh karyawan yang bekerja di kedai seluler miliknya membuat ruang tersendiri bagi saya untuk meminta saran mengenai rancangan usaha yang telah saya siapkan. Saya rasa, pilihan yang pas untuk memilih Hasan sebagai lawan tanding obrolan kami sembari menikmati kopi sore itu.

***

Ijinkan saya sedikit bercerita mengenai pekerjaan saya. Saat ini saya merupakan bagian penting dari perusahaan tempat dimana saya bekerja. Saya mengawali pekerjaan di tiga bulan pertama sebagai staf ticketing dan tours sebelum saya diangkat menjadi hotel chief operation di bulan kedelapan saya bekerja, pekerjaan harian saya pada waktu itu meliputi penanganan permintaan pelanggan perusahaan dalam urusan penjualan elektronic airlines ticket, dan penjulan voucher hotel. Untuk pekerjaan lain, saya bertanggung jawab sebagai pembuatan sales order untuk berbagai program tour wisata domestik dan internasional. Secara khusus bertanggung jawab membuat paket wisata domestik di Jawa Timur untuk lingkup adventure dan special interest. Sangat menarik untuk berada di posisi ini. Berkomunikasi dengan banyak orang, dan menjadi garda depan perusahaan dalam kemitraan dan penjualan. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di posisi ini.

Namun ada sisi yang membuat saya teramat jengkel, dan pingin muntah-muntah. Terutama untuk pembuatan dan perancangan paket wisata. Dulu saat saya belum bekerja di posisi ini, saya pernah mengkultuskan diri bahwa, lawannya backpacker adalah travel agen! Saya beranggapan bahwa jalan-jalan itu gak perlu mahal, semua bisa mudah dan murah. Hal ini belum berlaku sebelum saya masuk di dunia travel agen. Namun sekarang, berbalik. Saya harus menerima kenyataan bahwa saat ini saya adalah komponen penting pada sistem penyelia jasa agen wisata. Saya harus merancang sematang mungkin paket wisata orang lain, menentukan harga untuk setiap komponen wisata yang saya sendiri pun terkadang belum tentu bisa mengunjunginya.

Sudah mendekati satu tahun saya berada di sistem ini, sedikit demi sedikit saya memahami sistem di dunia penyelia jasa wisata. Bahwa bisnis ini tidak luput dengan kepercayaan, pelayanan, dan juga penghargaan kepada sang pelanggan.

Bisnis penyelia jasa wisata, ibarat angin. Bisa sepoi-sepoi, bisa juga seperti badai. Bahkan, bisa jadi tidak ada angin yang berhembus sama sekali. Inovasi dan kreatifitas pelaku bisnis adalah materi penting bagi sang penyelia untuk mengatur ritme angin permintaan dari pelanggan. Seperti kondisi pada awal bulan di tahun ini misalnya, kami menyebutnya low season. Permintaan akan paket wisata masih sepoi-sepoi, namun tekanan dari pemilik dan pemegang saham di perusahaan kami sebaliknya. Tiada hari tanpa omelan dan tekanan. Terkadang kefokusan karyawan menjadi bias, pimpinan terkesan seenaknya sendiri dalam memberikan intruksi. Alhasil, beberapa karyawan mengeluh dengan dalil: “Besar permintaan, gaji pun kian tertahan.”

***

Saya di hadapan Hasan adalah kategori karyawan bandel, menurutnya. Penuh provokasi yang meluap-luap. Begitu pun saat saya bercerita mengenai kondisi yang saya alami di pekerjaan saya. Namun, sore itu Hasan bisa jadi sedikit terbuka dan memahami mengenai kondisi karyawan pada umumnya. Bisa jadi pemilik perusahaan seperti Hasan, juga harus mendengar kondisi karyawannya di kedai kopi.

Setelah obrolan kami panjang lebar mengenai usaha yang akan saya wujudkan. Saya mencoba menanyakan beberapa hal kepada Hasan. Saya bertanya kepada Hasan: 

“Bagaimana jika saya keluar dari pekerjaan saya saat ini yang teramat membosankan, persetan dengan Bos yang seenaknya sendiri mengatur karyawan. Mungkin inilah waktunya untuk memulai usaha saya sendiri?”

Hasan tersenyum kepada saya. Kemudian berkata kepada saya, dengan gayanya yang mirip sekali dengan kakek saya. Ah dasar, plagiat!

“Kamu memilih menjadi ekor Naga, atau kepala Cicak?”

“Berada di belakang Naga dengan tangkapan luar biasa besar, namun kamu selalu di belakang sebagai ekor. Atau menjadi kepala Cicak? Menangkap yang kecil, namun kamulah kepalanya.”

Saya dibuat diam untuk memikirkan perkataannya. 

Saya masih terdiam memikirkan perkataannya sembari melihat ke langit-langit di kedai kopi sore itu yang mulai berwarna keemasan sambil menyalakan rokok.

“Aduh, sepertinya saya butuh kopi lagi!”

“Hasan Asu!”