Selasa, 14 Oktober 2014

Lupakan Foto Lanskap: Mulailah Memfoto Diri Saat Pergi Melancong

Photo: Abdurrahman Azhim

Saya hanya memiliki tidak lebih lima foto Ayah dan Ibu sampai adik kedua saya lahir. Dari lima foto mereka, mungkin hanya dua yang sempat saya selamatkan. Pertama adalah foto pernikahan Ayah dan Ibu saat melangsungkan upacara pernikahan menggunakan pakaian adat Jawa. Ibu terlihat memakai sanggul, sangat anggun dengan riasan bunga melati di rambutnya. Sedangkan Ayah menggunakan kain batik Jawa yang dipakai melingkar di daerah perut sampai ke bawah lutut.

Foto kedua adalah saat kami bertiga berlibur ke pulau Dewata: Bali. Kami bertiga berada di depan hotel daerah Sanur. Ibu duduk di kursi berbahan bambu yang setiap pangkalnya tertutupi dengan kulit lontar yang berpilin sangat rapi. Sedangkan Ayah dan Saya berdiri di samping kiri dan kanan Ibu. Ibu saya menggunakan rok berwarna biru muda dengan atasan berkerah berwarna hitam. Ibu terlihat manis dengan gaya rambut pendek seleher. Ayah saya memiliki kumis berwarna hitam, nampak aneh bagi saya. Saya mengenalnya saat ini dengan kumis tipis berwarna perak, dan selalu membersihkan jenggotnya dengan gunting kecil. Kami bertiga tersenyum, senyuman kami nampak sama persis. Foto tersebut mencoba memberitahu kepada orang lain bahwa inilah liburan keluarga kami untuk pertama kali yang patut untuk kami kenang nanti.

Foto kami tetap ditempel di kaca lemari rumah kakek dan nenek, rapuh, dan mulai menguning dengan bingkai selotip transparan. Foto yang mengalahkan usia, diambil lebih dari 28 tahun yang lalu, ini adalah salah satu artefak orang tua saya yang masih tersisa sebelum saya memasuki sekolah dasar.

Whenever any of us comes back from traveling, my family insists that we show our photographs in a kind of grandiose slideshow on our monitor laptop. Mungkin hanya untuk mendengar salah satu dari kami berkata "ooh" dan "haaa" untuk pemandangan langit dengan awan cumulus, hamparan savana yang berada di Baluran, dan birunya air laut di pulau Lombok Nusa Tenggara.

Ketika saya masih kuliah, saya memutuskan untuk backpacking selama satu tahun. Mengunjungi beberapa tempat di Jawa Timur dan berlanjut sampai ke Timur Indonesia. Saya kembali ke rumah saat memasuki musim hujan di bulan Desember. Saat saya berada di teras dan menikmati teh, saya mencoba memainkan kamera dengan meng-klik beberapa gambar bunga sepatu yang mulai mekar dengan warna merahnya yang cantik. Memfoto cangkir teh, dan kretek yang terbakar di pinggiran asbak kecil merah jambu.

Lebih dari 200 gambar foto yang ada di memori card kamera saya, mungkin tidak lebih dari 17 foto adalah foto selfie saya saat travelling. Ada yang paling saya ingat dari foto itu adalah saat saya bersama tas kariel 60 liter, berada di pinggir danau Bedugul. Kemudian ada satu lagi saat saya meminta tumpangan kepada supir angkutan sayur di daerah desa Sasak. Rambut yang nampak memerah karena terbakar matahari, kulit yang terbakar dengan warna yang sedikit kusam. Sungguh terlihat eksotis waktu itu. Tapi beberapa bulan terakhir saat saya mengalami musibah, laptop saya jatuh dan rusak, saya harus mengikhlaskan beberapa foto perjalanan saya hilang. Sampai saat ini, saya masih berpikir bahwa itulah kenang-kenangan satu-satunya yang dapat saya bawa pulang dan menjadi penawar rindu akan tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Bahwa saya pernah berkunjung ke sana di umur 20 tahun.

Saya pernah mendengar beberapa cerita dari Ayah dan Ibu, bahwa mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk berpose dan berfoto bersama saat melakukan perjalanan. Mungkin pada saat itu kamera bukan satu prioritas atau gaya hidup.

Portraits allow us to speak with our past selves, thank them for their youthful dreams. Throughout our extended family, my dad is known for being a stubborn, determined photographer. Mungkin bakat itu menurun kepada saya saat ini. Saya selalu tertarik untuk mengambil beberapa momen apalagi saat hari raya tiba, saat semua keluarga sedang berkumpul. Tetapi belum ada yang sanggup mengalahkan semangat Ayah saya untuk menjadi tukang foto dadakan, 

“You’re all going to be very thankful I did this,” he claims. (mengko awakmu kabeh, podo suwun-suwun nang aku, kata beliau kepada kami)

When I look into my own photographed eyes, I can almost remember exactly what I was thinking at that moment. We all know ourselves so well that we can decode the lines on our faces, the slight crinkles, side glances, turned-up lips. Portraits allow us to speak with our past selves, thank them for their youthful dreams.

Sometimes we see ourselves in old photos — arms around the person we love, hair frizzy, clothes dirty — and we think about what we didn’t yet know. We laugh at our naivety. Envy it. Other times, we marvel at an old friend — a past soul we’ve forgotten — the traveler caught up in a vast landscape, while slowly moving on to another moment of life.

Tidak ada salahnya jika sedikit melupakan foto lanskap, dan memulai foto diri saat pergi melancong.

2 komentar: