Selasa, 09 September 2014

Belajar Mengemudi!

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Batu untuk kunjungan kantor. Saat itu saya bersama Pak Aril dan Ibu Indi, dua orang atasan saya. Kami bersepakat untuk bersiap pukul 06:00 Pagi. Sebelumnya saya berinisiatif untuk memulai keberangkatan dari rumah Bapak Aril, saya pikir supaya praktis dan efisien. Mengingat jalanan akhir pekan Surabaya - Malang seperti semut yang mengantri untuk makan: padat merayap.

Saat perjalanan kami menuju Kota Batu, tiba-tiba saya teringat sosok Ayah. Saat itu saya berada di seat belakang Ibu indi yang sedang tidak menyetir. Tiga puluh derajat ke arah kanan, tempat saya duduk menghadap ke arah pak Aril yang sedang mengemudi mobil. Saya teringat saat saya dan keluarga berlibur bersama, saya selalu memperhatikan Ayah saat menyetir.

Saya mengingat satu hal kecil yang menjadi ciri khas Ayah. Ia tergolong orang yang kaku, namun seiring bergulirnya waktu sepertinya ia mengubah sikapnya. Meski begitu ada satu kekakuan kecil yang terus ia pegang sampai saat ini. Itu diwujudkan dalam melatih anak-anaknya berkendara.

Ayah saya punya ukuran jelas dalam mengemudikan kendaraan. Saya sama sekali tak diijinkan mengendarai motor sebelum usia saya 17 tahun, apapun alasannya. Ia melatih saya naik motor sebelum usia 17 tentunya, namun ia hanya akan menyerahkan kunci ketika saat itu saya sudah menginjak usia 17 tahun. Ia pernah mengatakan, akan ada waktunya untuk setiap kesempatan. Begitupun untuk mengajukan saya untuk mengurus surat mengemudi. Beliau pikir semua memang ada masanya.

Layaknya anak laki-laki setelah bisa mengendarai motor, di usia muda saya pun meminta untuk diajari mengendarai mobil. Namun, ia selalu menolak permintaan saya. Malah menyuruh saya untuk tetap menggunakan Motor. Waktu itu saya beranggapan jika Ayah egois dan kaku. Saya yang waktu itu tinggal bersama Kakek dan Nenek, tak punya pilihan untuk menerimanya saja.

Waktu terus berlalu dan saya merasa kebutuhan dapat mengendarai mobil semakin mendesak. Apalagi dalam beberapa bulan terakhir. Saya sering mengunjungi beberapa kantor untuk urusan tour dan travel di pekerjaan. Mengantarkan tamu untuk city tour dan berbelanja.

Ada rasa bersalah ketika saat Bapak Aril menyupiri saat kunjungan kami pergi ke kota Batu. Namun perasaan bersalah itu saya ganti dengan beberapa obrolan ringan mengenai beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan. Minimal pak Aril tidak merasa sendiri saat menyetir.

Setelah obrolan mengenai pengalaman traveling kami habis. Berganti suara hening yang membuat saya memilih utuk diam dan memandang ke arah luar jendela. Saya melihat beberapa pepohonan yang berjalan berlawanan. Semakin cepat mobil melaju, semakin cepat pepohonan berganti.

Saya merindukan keluarga saya. Ayah, Mama, dan dua orang adik yang semakin berumur. Saya juga merindukan berlibur bersama dengan satu mobil dan keceriaannya. Meskipun ada beberapa hal yang sulit saya mengerti sampai sekarang, "Mengapa Ayah selalu mengemudi dengan kecepatan yang begitu lambat?"

Mungkin saya melewatkan pelajaran dari ayah, bahwa mengemudi tidak selalu identik dengan pedal gas dan selalu melaju dengan kecepatan yang tinggi. Terkadang pedal rem itu penting untuk kita perhatikan, "Bahwa banyak obsesi yang tidak terolah, hanya akan membawa kita pada sebuah kecerobohan."

Pada pelajaran mengemudi terakhir yang pernah saya lakukan bersama Ayah, kami tak sedang belajar mengatur kopling, rem pun gas. Yang beliau lakukan sedang mengajak saya berbincang secara setara antara dua laki-laki dewasa. Dan untuk kali itu, saya tak ingin mengecewakannya, setelah apa yang selalu saya bantah darinya di kala muda tentang obsesi saya. Pun mungkin ia sudah tak begitu kecewa dengan impian-impiannya pada saya, seperti yang dikatakannya pagi hari itu, “Cuma kamu mas yang bisa ngerasakan ingin secepat apa lajunya, bukan Ayah.”