Jumat, 23 Mei 2014

Penghujung Bulan Mei

"Di penghujung bulan Mei tahun ini saya mulai merasakan kekawatiran akan beberapa hal tentang cita-cita dan mimpi-mimpi yang satu persatu mulai terwujud."

Saya teringat akan satu kejadian yang baru saja saya alami beberapa minggu lalu. Saat liburan akhir pekan, saya dan Ryan memutuskan untuk pergi ke Taman Hutan Rakyat Cangar Pacet Mojokerto untuk birding. Kami berangkat dini hari sekitar pukul 01:00 WIB. Perjalanan kami ke Tahura Cangar ditemani rintik hujan yang membuat saya semakin berpikir tentang beberapa hal yang telah saya peroleh, baik itu yang saya persiapkan secara matang dan kebetulan-kebetulan yang datang melalui berkah yang tak satu pun saya duga sebelumnya.

Sembilan Mei lalu contohnya, saya dan rekan-rekan Sayap Surabaya dikejutkan dengan sebuah berita bahwa komunitas kami yang yang belum genap dua bulan telah tertulis di koran Jawa Pos. Saya pribadi merasa bingung, mengapa harus komunitas kami yang berada di situ, mengapa tidak komunitas lain yang sudah lama mengawali kegiatan pengamatan burung.

Selama perjalanan saya terus menerka-nerka apalah semua ini? karunia kah, atau sebuah ujian yang sengaja diberikan oleh Tuhan untuk hambanya yang sedang dirundung kebingungan? Tapi terlepas dari itu semua ada satu titik yang terus saya pikirkan yang membawa saya untuk mencoba diam dan menerimanya saja.

Apalah ini?

Jumat, 02 Mei 2014

Belum Genap Tiga Bulan

Setelah pemasangan information board di Ekowisata Mangrove Wonorejo pada bulan Februari lalu oleh tim Yayasan IDEP Bali yang bekerjasama dengan komunitas pengamat burung Sayap Surabaya. Telah terpasang 20 information board di sepanjang jalur (jembatan kayu) di sebelah barat bosem Wonorejo Surabaya.

Pada hari kamis (1/5) kemarin, tim Sayap Surabaya melakukan pengecekan kembali. Pengecekan tersebut adalah pengecekan kali ketiga setelah information board terpasang di bulan Februari 2014. Hasil temuan dari tim Sayap Surabaya pada hari kamis lalu sangat mencenangkan, karena dari 20 papan informasi yang terpasang dijumpai ada sekitar 8 papan yang hilang atau terlepas dari pagar di jembatan kayu tersebut.

Sebagian information board yang masih bertahan. Foto: di sini.
Hasil temuan ini dicatat dan kami data, pengecekan kembali kami lakukan di bagian penyangga tempat papan informasi burung dan mangrove ini di tempatkan. Ada beberapa kayu penyangga yang sudah mulai retak dan hancur. Entah, ini akibat kayu penyangga yang kurang kuat atau ulah dari sebagian pengunjung yang usil.

Pengamatan kami lanjutkan ke beberapa pengunjung yang hadir dan melintas di jembatan kayu sepanjang 200 meter ini. Fenomena yang kami temui adalah sering dari pengunjung yang bersandar di papan informasi dan berfoto. Jarang sekali kami temui pengunjung yang berhenti untuk membaca papan informasi yang terpasang di pinggiran jembatan. Dari 30 menit pengamatan singkat yang kami lakukan kemarin, dijumpai 9 orang pengunjung yang berhenti, kemudian bersandar di dekat papan informasi untuk berfoto, dan hanya 3 pengunjung yang berhenti untuk membaca papan informasi tersebut.

Terhitung belum genap triwulan papan informasi di Ekowisata Mangrove ini dimanfaatkan, sudah rusak dan mulai hilang satu persatu. Hasil pengecekan ini akan kami buat laporan untuk kami bawa ke Dinas Pertanian, lalu akan kami diskusikan kepada Yayasan IDEP selaku penggagas program ini, untuk mendapat perhatian dan segera dilakukan pembenahan. Karena sangat disayangkan, papan informasi yang kami buat untuk pengunjung supaya pengunjung Ekowisata Mangrove dapat sedikit 'melek' lingkungan dan mengerti bahwa di Wonorejo mempunyai keaneragaman flora dan fauna yang Subhanallah melimpah untuk dikaji dan dipelajari.

Sekali lagi saya pribadi bersama rekan-rekan Sayap Surabaya, mengajak pengunjung Ekowisata Mangrove Wonorejo supaya turut menjaga fasilitas yang sudah ada untuk kepentingan bersama. Dalam hati saya mbatin, "Benar kata mas Swiss kalau sedikit dari kita yang mampu ngeregani hutan dengan lebih." Boro-boro menghargai hutan dan isinya, untuk menjaga fasilitas saja sebagian dari kita lebih memilih sikap acuh.

Sekarang saya tantang kalian yang merasa jika harga tiket masuk bisa saja mahal dan kemudian meminta fasilitas harus lengkap dan memadai. Bukan membela pihak manapun yang mencetuskan gagasan tersebut, tapi di Wonorejo anda masuk dengan harga tidak lebih dari Rp2.000,- tapi anda bisa belajar mengenal keaneragaman flora dan fauna gratis melalui papan informasi yang tersedia di sana, menikmati alam dan pesonannya di Wonorejo dengan leluasa. Coba jika kalian mengerti dan sedikit saja berempati, "Bagaimana rekan-rekan kami mendokumentasikan keaneragaman flora-fauna siang dan malam supaya kita bersama dapat belajar mencintai alam Wonorejo, melalui papan informasi tersebut." Mereka yang ikhlas berkarya dan tidak dibayar, tapi mereka mempunyai semangat yang luar biasa untuk menjaga lingkungan. Tapi kalian yang ngakunya sudah membayar dengan kertas warna abu-abu itu, bisa seenaknya saja merusak fasilitas, membuang sampah seenaknya, dan bertindak asusila di sana.

"Apa dengan membayar, semua dapat seenaknya kita lakukan?"

"Oh tentu tidak, bagi kita yang berpikir,"

"Alam dan isinya bukan barang dagangan yang habis sekali bayar."