Guyonan Taek!

“Mas, Sehat? Jumat libur, Apa tidak pulang?” Sebuah pesan pendek dari Ibu masuk ke telepon selular saya. Saat menerima pesan tersebut, saya sedang berteduh di kedai kopi dan menyelesaikan draf tulisan mengenai perjalanan ke Sungai Penuh Jambi untuk majalah Indimagz. Pesan dari Ibu saya baca sekilas dan beberapa menit kemudian baru saya balas.

Seperti bunyi pesannya, saya lama tidak pulang ke rumah. Ibu saya sebenarnya sudah terbiasa dengan hal ini, namun ibu tetaplah ibu, ia kerap menanyakan kabar anaknya dalam jangka waktu tertentu. Biasanya ibu akan mengirimkan pesan menanyakan apakah saya pulang ke rumah di akhir pekan, waktu yang biasa saya pakai untuk pulang.

***

Beberapa hari ini saya sedikit terganggu dengan gurauan beberapa rekan saya. Entah itu gurauan di sebuah forum kecil sabtu minggu atau beberapa postingan di lini masa. Entah, ini sebuah kebetulan atau kesengajaan, tapi saya merasa tersudut dalam sebuah kondisi yang tidak mempunyai pilihan “yang apa boleh terima”. Gurauan mengenai sesuatu yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi, bukan menjadi sebuah forum umum yang semua orang harus tahu. Mereka semua membicarakan kenapa saya masih memilih jalan yang bernama: sendiri.

Ada rasa yang aneh ketika tema semacam “Sendiri”, “Kenangan”, “Mengubur Masa Lalu” muncul ke permukaan. Entah kenapa bagi saya tema tersebut seperti sebuah prolog berjudul, “Mantan Kekasih” dan sejenisnya. Tak selamanya salah, tapi terasa begitu naïf. Ia seperti sedang mengorek konteks kehadirannya. Menjadi asing sendiri dan tampak mencari-cari di tengah kehidupan yang begitu biasa. Mungkin pada mulanya nampak lucu, tapi semakin disadari beberapa hal nampak semakin membosankan untuk diterima.

Saya hampir yakin ceritanya akan berpusar pada saling menyudutkan, saling menertawakan, kemudian mereka akan tersadar bahwa mereka akan menertawakan diri mereka sendiri, yang mungkin ada sebuah persamaan yang mereka alami dulu. Mungkin mereka tak perlu jauh-jauh pergi untuk menyorot saya sebagai sebuah obyek yang pernah tersakiti atau dihianati. Jika mereka mempunyai jiwa yang cukup besar, mungkin mereka bisa melihat ke dalam diri mereka masing-masing. Rasanya seperti menyaksikan film Hollywood dengan tambahan satu sendok makan gula pasir saat melihat saya.

***

Ada satu penjelasan yang dapat saya ambil saat saya bertolak ke Bandung beberapa bulan lalu, saat kawan-kawan birder dari Bandung menampilkan foto Kota Bandung pasca lautan api yang hancur lebur, dan disandingkan dengan potret Kota Bandung kini yang cantik. Secara kebetulan juga ada sebuah proyek berjudul, “Decomposing Colonial Town” karya Dea Aulia Widyaeran yang memotret alun-alun Bandung dulu dan kini. Dalam penjelasan karyanya Dea menulis, “Bandung identity now is detach from history, how history still significance, or how to define a downtown nowadays.“ 

Laiknya perbandingan alun-alun dulu dan kini yang dilakukan Dea, buat saya bahasan soal Mantan kekasih dan segala tetek bengek yang tertinggal di dalamnya terkadang tidak lagi signifikan. Kita memberi penilaian dalam konteks masa lalu. “Mantan yang berubah cantik”, “Mantan kekasih yang berlibur di pantai bersama kekasih barunya”, “jalanan yang dulu pernah kami lalui bersama”, atau “tempat makan yang kini sudah direnovasi menjadi sebuah resto yang bonafit.” Semua menjadi biasa dan tak penting lagi. Nyatanya kita hidup di hari ini. Masa lalu tidak pernah pergi. Kita yang pergi meninggalkannya. Kita yang menjadi sombong karena mampu menertawakan kawan sendiri.

Lantas kita masih menilai sebuah keputusan hidup seorang kawan untuk ‘sendiri’, dan mengaitkan sesuatu hal yang berhubungan dengan masa lalu. Hanya keledai bodoh yang dapat menganut paham seperti itu. Dalam perspektif panggilan Mantan kekasih kepada kita dijadikan bahan lelucon di depan umum. Maka frase semacam, “Mantan sudah berpacar” dan menyadarkan kita akan jauhnya kita dari kebahagiaan menjadi begitu signifikan bagi sebuah penceritaan. Dan ya, kita tetap tak beranjak untuk kembali mengorek masa lalu, dan menangisi keadaan yang jauh sudah terlewat bodoh. Mantan kekasih hanya menjadi sebuah elemen romantis paling klise dalam cerita-cerita. Dan saya sangat kecewa akan hal ini, saat dilakukan oleh rekan-rekan dekat saya sendiri, ini seperti memelihara borok yang sudah tau obat mana yang akan kita pakai.

Mungkin ini adalah pertanda, saat ada samsak-samsak yang harus kembali dipukul untuk membuang kekesalan dan mungkin untuk kembali mengasah kepalan tangan yang telah lama tak dipakai untuk diarahkan kepada manusia-manusia yang sombong.

***

Lama saya tak pulang ke rumah. Panggilan Ibu melalui pesan pendek sore ini adalah salah satu indikator menurunnya frekuensi saya pulang ke rumah. Ibu mencari saya, Ayah akan kembali bertanya tentang rencana studi saya tahun ini, dan dua orang adik yang entah masih mengingat saya sebagai seorang kakak yang suka menggunakan sarung setiap malam dan selalu tidur paling larut. Tapi saya tahu ini akan menjadi sebuah momentum untuk kembali menata diri, bahwa intensitas bersama keluarga harus dijaga dengan lebih rapi.

Saat pulang ke rumah, saya menggunakan motor. Dengan kecepatan yang biasa saja. Melewati jalan tikus supaya lebih lama untuk melihat pemandangan persawahan di desa. Berbuah kelelahan yang bisa diobati dengan hawa yang segar dengan seduhan teh hangat. Tak ada gurauan yang menyudutkan mengenai mantan kekasih. Dalam lamunan di kamar setelah mandi saya kadang bingung harus melakukan apa di rumah. Namun ada momentum di mana saya merasa sebuah kenyamanan bersama orang-orang yang mengerti saya. Aman dan sangat bahagia.

Ketika menuliskan ini saya kembali berpikir mengapa banyak cerita masa lalu saya yang kembali dimunculkan oleh rekan-rekan dekat saya sendiri? Saya tidak mengerti motif mereka memunculkan itu baik di depan saya atau di belakang saya. Apakah mereka pernah berpikir, akan ada masanya saat mereka bercerita kepada saya tentang kekasihnya yang pergi bersama laki-laki lain, atau pernikahan yang kandas akibat kedua orang tua mereka tidak menemui jalan mufakat. Kita tidak akan pernah tahu, kapan kita berada di bawah atau di atas lantas tertawa terbahak-bahak menertawakan diri kita masing-masing beserta semua kebodohannya.

Saya hanya tersenyum saat mengingat kejadian dimana saya disudutkan habis-habisan, dan kembali membaca tweet saya di linimasa yang bertuliskan, “Guyonan Taek!” Entah untuk siapa saja yang merasa?

4 komentar

  1. Hemmm.. daleeemm..
    Semangatt Rahmaaann..
    :)
    *bawapompom

    BalasHapus
  2. Wah, ternyata ya masih ada yang ngakunya "sahabat" tapi masih demen "nanam borok" ke sahabatnya sendiri. #parah!

    BalasHapus

Pasang Iklanmu di sini