Minggu, 27 April 2014

Empat dan Sepuluh untuk Sayap Surabaya

Setelah tiga hari menjadi tim pemantau perkembangan rekan-rekan Sayap Surabaya yang berangkat mengikuti event bird race di Selangor, baru malam ini saya dapat merasa sedikit tenang. Karena Sayap Surabaya mendapat nomer 4 untuk lomba fotografi burung dan nomer 10 untuk lomba pengamatan burung. Dua nomer tersebut diperoleh oleh rekan kami Ryan Essa dan Cipto Dwi.

Tim Sayap Surabaya di Bandara Juanda. Foto: Sayap Surabaya.
Dua nomer yang menurut saya sebuah prestasi yang cukup membanggakan adalah salah satu pecutan bagi kami untuk lebih bersemangat melebarkan sayap menghasilkan karya untuk kelestarian lingkungan dan nama Indonesia. Kami bersyukur bisa ikut berpartisipasi mengikuti event internasional di Selangor tahun ini, karena dengan acara ini kami merasa bersemangat untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Tim Sayap Surabaya di Selangor Bersama Birder Jepang.
Ah, saya sudah tidak sabar menunggu rekan-rekan yang berada di Selangor kembali ke tanah air. Tidak sabar untuk mendengarkan mereka membagikan ilmu dan pengalamannya di sana. Dan segera mengeksekusi beberapa program yang sudah kami susun untuk beberapa bulan ke depan.

Saya mengucapkan selamat untuk kawan kami Ryan dan Cipto untuk dua nomer yang sensasional itu. Dan dukungan penuh untuk rekan-rekan yang lain (Lukman, Adrian, dan Fahmi). "Masih ada dua hari lagi Bro, ayo semangat, lebarkan "Sayap Surabaya" dan Indonesia!" []

Kamis, 24 April 2014

Selangor!

Aktifitas tim Sayap Surabaya, H-3.
Tinggal hitungan jam saja tim Sayap Surabaya akan berangkat menuju Selangor Malaysia. Tepatnya tanggal 25 April besok, pukul 14:00 WIB. Rencana keberangkatan akan dimulai di terminal 2 Bandara Juanda. 

Rekan-rekan yang mewakili Sayap Surabaya untuk memenuhi undangan Majelis Daerah Hulu Selangor dalam acara bird race KKB adalah Lukman Nurdini, Ryan Essa, Cipto Dwi, Adrian Fauzi dan Fahmi. Acara yang akan kami hadiri adalah acara internasional pertama dari Sayap Surabaya.

X-banner Sayap Surabaya.
Sebagai komunitas pengamat burung yang baru terbentuk, Sayap Surabaya beruntung diberi kehormatan oleh MDHS untuk berpartisipasi dalam acara yang akan diadakan di daerah Genting Selangor. Berbagai persiapan yang telah kami (Sayap Surabaya) lakukan untuk menyemarakkan acara yang menjadi bagian dari “Visit Malaysia 2014” tidak banyak, karena pada dasarnya kami selaku komunitas yang masih tergolong baru, masih sangat perlu akan informasi dan wawasan mengenai burung dan pelestariannya di alam. Terutama informasi untuk mengadakan acara bird race skala internasional yang diadakan oleh MDHS. Kami masih harus banyak belajar dari MDHS dalam segi penyelenggaraan acara.

Peluang baik yang diberikan kepada kami (Sayap Surabaya) selaku komunitas pengamat burung, akan kami manfaatkan sebaik-baiknya. Terutama dari aspek hubungan baik dengan sesama pengamat burung di negeri Jiran Malaysia. Tidak menutup kemungkinan berlaku untuk negara-negara lain yang hadir pada acara tersebut. Pada dasarnya untuk menjaga kelestarian lingkungan beserta isinya dibutuhkan peran banyak pihak.

Jika Malaysia mampu mengadakan acara bird race skala internasional, pikir kami, “Mengapa kami yang mengaku memiliki keaneragaman flora dan fauna yang luar biasa melimpah ini, tidak mampu mengadakan acara serupa di kemudian hari?” Ini pertanyaan yang menjadi motivasi tersendiri bagi kami setelah pulang ke tanah air nantinya.

Sebulan sudah kami mematangkan persiapan untuk kami bawa pada acara tersebut. Kami membuat video kegiatan, pengumpulan dokumentasi biodiversitas tentang burung yang ada di Wonorejo, sampai dengan pembuatan brosur pun juga stiker, untuk mengenalkan Wonorejo sebagai kawasan penting bagi burung. Tidak cukup itu, untuk media branding komunitas, kami menyiapkan akun media sosial, supaya kami dapat lebih dikenal sehingga interaksi dengan para pemerhati kelestarian burung dan lingkungan dapat terjalin baik sesudah perhelatan acara tahunan tersebut.

Cinderamata yang akan Sayap Surabaya bawa ke Selangor.

Brosur Sayap Surabaya, mengenai potensi Wonorejo.
Semoga yang sedikit dari kami ini, akan mampu memperkenalkan potensi keaneragaman Wonorejo di Selangor. Pagi ini telah rampung x-banner, brosur lipat dan cendramata. Tinggal menunggu id card, pin, dan stiker yang tinggal pengambilan di percetakan. Semoga sedikit yang kami lakukan ini, dapat menjadi tabungan semangat untuk terus berkarya menjaga lingkungan tetap bestari. Tabik []

Minggu, 20 April 2014

Phil and Tetty (Fantastic Ranger)

Fantastic Ranger. (Foto)
Keterangan foto: (dari kiri ke kanan) Tetty Pangaribuan, Dedik, Iwan, Philippe Ganz.
 
Phil dan Tetty adalah suami istri yang saya kenal lewat rekan saya Lukman Nurdini, saat mereka berkunjung pada April 2013 di Wonorejo Surabaya untuk birding. Menurut cerita dari beberapa rekan-rekan saya, Phil adalah pria kelahiran Trüllikon, Switzerland. Sedangkan Tetty adalah istri dari Phil berasal dari Indonesia. Mereka berdua aktif berpetualang dan mendokumentasikan perjalanannya. Fantastic Ranger adalah sebuah nama yang dibuat Phil untuk mewadahi semua aktifitas yang mengarah kepada alam dan hewan. 

Phil, Lukman, dan petani tambak Wonorejo. (Foto)
Kecintaannya terhadap hewan dan alam membawanya ke Taman Nasional Baluran sebagai volunter. Bersama sang istri (Tetty), Phil tidak sendiri. Aktifitas Phil banyak dibantu oleh sang istri sebagai videografer. Sungguh mengagumkan melihat pasangan suami istri ini kompak beraktifitas di alam. Bangga rasanya jika mengetahui kekompakan mereka dalam berkarya bersama, menjaga alam dan mendokumentasikan keaneragaman flora dan fauna Nusantara.

April tahun ini Phil dan Tetty berkunjung lagi ke Wonorejo Surabaya. Kali ini bertepatan dengan komunitas kami yang baru terbentuk pada bulan Maret lalu: Sayap Surabaya. Tim dari Sayap Surabaya yang beruntung menemani Phil dan Tetty untuk birding adalah Adit, Ryan, dan mas Agung Martani selaku ketua dari Sayap Surabaya. Selain itu dari komunitas Mangrovers, mas Rusman Budi yang akrab kami sapa dengan panggilan "mas Prast" juga ikut mendampingi aktivitas birding di pertambakan yang masih menjadi lingkup area Pantai Timur Surabaya ini.

Fantastic Ranger and Sayap Surabaya.
Keterangan foto: (dari kiri ke kanan) Ryan, Phil, Adit, Mas Agung, Mas Prast (Mangrovers), dan Happy (KSB Kirik-kirik FKH UA).

Menurut Phil, "Ia tak pernah bosan jika harus menunggu untuk membidik burung dengan waktu yang cukup lama." Namun sayangnya, saat Phil dan rekan-rekan dari komunitas pengamat burung Surabaya melakukan aktifitas birding di Wonorejo, tidak banyak yang dapat dijumpai dan difoto dikarenakan cuaca yang kurang mendukung. Tetapi rekan-rekan tidak kecewa, karena pada dasarnya tidak ada yang mampu mengatur alam, kita lah yang mesti beradaptasi dengan alam.

Wonorejo sebagai daerah IBA (Important Bird Area), adalah satu kawasan yang berpotensi luar biasa untuk dijaga bersama. Bukan karena pada bulan Mei mendatang bertepatan dengan adanya sensus burung migran saja. Lebih dari itu, kawasan yang dijadikan laboratorium alam untuk siswa dan para mahasiswa yang mengambil bahan untuk penelitian harus memiliki perhatian khusus, terutama dalam segi kebersihan dan kelestariannya.

Philippe Ganz pada unggahan album foto di facebook miliknya yang diberi judul "Goodbye to Surabaya and Mangrove Wonorejo." Mengatakan, "Thank to all friends for an impressive day with so many birds. It was an unforgettable day with the fotocommunity Surabaya." Sembari mengunggah foto segerombolan Dara Laut yang sedang terbang, membuat kami pengamat burung di Surabaya menjadi bersemangat lagi untuk menjaga kawasan tersebut. "Orang bule saja mengakui jika Indonesia adalah cuilane suwargo, lah kita yang berada di dalam bagian ini tidak kah ingin lebih mencintainya?"

Dara Laut in Wonorejo. (Foto)
Kemudian, pada kalimat terakhir yang Phil tuliskan, masih di album yang sama berbunyi, "Thanks everybody and see us next time."
 
Sampai jumpa lagi Phil dan Tetty, terima kasih telah berkunjung ke Surabaya, khususnya Wonorejo sebagai tempat bermain dan belajar kami. Semoga kelak kita diberi waktu yang lebih untuk mengamati keindahan Tuhan yang diberikan kepada kita dengan gratis dan penuh nuansa keceriaan. []
 

Kamis, 17 April 2014

Guyonan Taek!

“Mas, Sehat? Jumat libur, Apa tidak pulang?” Sebuah pesan pendek dari Ibu masuk ke telepon selular saya. Saat menerima pesan tersebut, saya sedang berteduh di kedai kopi dan menyelesaikan draf tulisan mengenai perjalanan ke Sungai Penuh Jambi untuk majalah Indimagz. Pesan dari Ibu saya baca sekilas dan beberapa menit kemudian baru saya balas.

Seperti bunyi pesannya, saya lama tidak pulang ke rumah. Ibu saya sebenarnya sudah terbiasa dengan hal ini, namun ibu tetaplah ibu, ia kerap menanyakan kabar anaknya dalam jangka waktu tertentu. Biasanya ibu akan mengirimkan pesan menanyakan apakah saya pulang ke rumah di akhir pekan, waktu yang biasa saya pakai untuk pulang.

***

Beberapa hari ini saya sedikit terganggu dengan gurauan beberapa rekan saya. Entah itu gurauan di sebuah forum kecil sabtu minggu atau beberapa postingan di lini masa. Entah, ini sebuah kebetulan atau kesengajaan, tapi saya merasa tersudut dalam sebuah kondisi yang tidak mempunyai pilihan “yang apa boleh terima”. Gurauan mengenai sesuatu yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi, bukan menjadi sebuah forum umum yang semua orang harus tahu. Mereka semua membicarakan kenapa saya masih memilih jalan yang bernama: sendiri.

Ada rasa yang aneh ketika tema semacam “Sendiri”, “Kenangan”, “Mengubur Masa Lalu” muncul ke permukaan. Entah kenapa bagi saya tema tersebut seperti sebuah prolog berjudul, “Mantan Kekasih” dan sejenisnya. Tak selamanya salah, tapi terasa begitu naïf. Ia seperti sedang mengorek konteks kehadirannya. Menjadi asing sendiri dan tampak mencari-cari di tengah kehidupan yang begitu biasa. Mungkin pada mulanya nampak lucu, tapi semakin disadari beberapa hal nampak semakin membosankan untuk diterima.

Saya hampir yakin ceritanya akan berpusar pada saling menyudutkan, saling menertawakan, kemudian mereka akan tersadar bahwa mereka akan menertawakan diri mereka sendiri, yang mungkin ada sebuah persamaan yang mereka alami dulu. Mungkin mereka tak perlu jauh-jauh pergi untuk menyorot saya sebagai sebuah obyek yang pernah tersakiti atau dihianati. Jika mereka mempunyai jiwa yang cukup besar, mungkin mereka bisa melihat ke dalam diri mereka masing-masing. Rasanya seperti menyaksikan film Hollywood dengan tambahan satu sendok makan gula pasir saat melihat saya.

***

Ada satu penjelasan yang dapat saya ambil saat saya bertolak ke Bandung beberapa bulan lalu, saat kawan-kawan birder dari Bandung menampilkan foto Kota Bandung pasca lautan api yang hancur lebur, dan disandingkan dengan potret Kota Bandung kini yang cantik. Secara kebetulan juga ada sebuah proyek berjudul, “Decomposing Colonial Town” karya Dea Aulia Widyaeran yang memotret alun-alun Bandung dulu dan kini. Dalam penjelasan karyanya Dea menulis, “Bandung identity now is detach from history, how history still significance, or how to define a downtown nowadays.“ 

Laiknya perbandingan alun-alun dulu dan kini yang dilakukan Dea, buat saya bahasan soal Mantan kekasih dan segala tetek bengek yang tertinggal di dalamnya terkadang tidak lagi signifikan. Kita memberi penilaian dalam konteks masa lalu. “Mantan yang berubah cantik”, “Mantan kekasih yang berlibur di pantai bersama kekasih barunya”, “jalanan yang dulu pernah kami lalui bersama”, atau “tempat makan yang kini sudah direnovasi menjadi sebuah resto yang bonafit.” Semua menjadi biasa dan tak penting lagi. Nyatanya kita hidup di hari ini. Masa lalu tidak pernah pergi. Kita yang pergi meninggalkannya. Kita yang menjadi sombong karena mampu menertawakan kawan sendiri.

Lantas kita masih menilai sebuah keputusan hidup seorang kawan untuk ‘sendiri’, dan mengaitkan sesuatu hal yang berhubungan dengan masa lalu. Hanya keledai bodoh yang dapat menganut paham seperti itu. Dalam perspektif panggilan Mantan kekasih kepada kita dijadikan bahan lelucon di depan umum. Maka frase semacam, “Mantan sudah berpacar” dan menyadarkan kita akan jauhnya kita dari kebahagiaan menjadi begitu signifikan bagi sebuah penceritaan. Dan ya, kita tetap tak beranjak untuk kembali mengorek masa lalu, dan menangisi keadaan yang jauh sudah terlewat bodoh. Mantan kekasih hanya menjadi sebuah elemen romantis paling klise dalam cerita-cerita. Dan saya sangat kecewa akan hal ini, saat dilakukan oleh rekan-rekan dekat saya sendiri, ini seperti memelihara borok yang sudah tau obat mana yang akan kita pakai.

Mungkin ini adalah pertanda, saat ada samsak-samsak yang harus kembali dipukul untuk membuang kekesalan dan mungkin untuk kembali mengasah kepalan tangan yang telah lama tak dipakai untuk diarahkan kepada manusia-manusia yang sombong.

***

Lama saya tak pulang ke rumah. Panggilan Ibu melalui pesan pendek sore ini adalah salah satu indikator menurunnya frekuensi saya pulang ke rumah. Ibu mencari saya, Ayah akan kembali bertanya tentang rencana studi saya tahun ini, dan dua orang adik yang entah masih mengingat saya sebagai seorang kakak yang suka menggunakan sarung setiap malam dan selalu tidur paling larut. Tapi saya tahu ini akan menjadi sebuah momentum untuk kembali menata diri, bahwa intensitas bersama keluarga harus dijaga dengan lebih rapi.

Saat pulang ke rumah, saya menggunakan motor. Dengan kecepatan yang biasa saja. Melewati jalan tikus supaya lebih lama untuk melihat pemandangan persawahan di desa. Berbuah kelelahan yang bisa diobati dengan hawa yang segar dengan seduhan teh hangat. Tak ada gurauan yang menyudutkan mengenai mantan kekasih. Dalam lamunan di kamar setelah mandi saya kadang bingung harus melakukan apa di rumah. Namun ada momentum di mana saya merasa sebuah kenyamanan bersama orang-orang yang mengerti saya. Aman dan sangat bahagia.

Ketika menuliskan ini saya kembali berpikir mengapa banyak cerita masa lalu saya yang kembali dimunculkan oleh rekan-rekan dekat saya sendiri? Saya tidak mengerti motif mereka memunculkan itu baik di depan saya atau di belakang saya. Apakah mereka pernah berpikir, akan ada masanya saat mereka bercerita kepada saya tentang kekasihnya yang pergi bersama laki-laki lain, atau pernikahan yang kandas akibat kedua orang tua mereka tidak menemui jalan mufakat. Kita tidak akan pernah tahu, kapan kita berada di bawah atau di atas lantas tertawa terbahak-bahak menertawakan diri kita masing-masing beserta semua kebodohannya.

Saya hanya tersenyum saat mengingat kejadian dimana saya disudutkan habis-habisan, dan kembali membaca tweet saya di linimasa yang bertuliskan, “Guyonan Taek!” Entah untuk siapa saja yang merasa?

Sabtu, 12 April 2014

Nampak Lucu dan Bodoh


Siang kala itu sedang gila-gilanya melepaskan teriknya. Alhasil, kami berenam dibuat berkeringat, setelah berkeliling museum rokok House Of Sampoerna, kami memutuskan untuk menepi sebentar di sebuah warung makan yang masih satu wilayah dengan HOS.

Kami berenam tidak memesan makan. Padahal jam tangan telah menunjukkan pukul 13:00 WIB, kami malah memesan es teh manis. Saya yang masih kehausan terpaksa membuka lemari pendingin di samping tempat saya duduk dan mengambil botol teh hijau pabrikan. 

Sembari melepas lelah, beberapa diantara kami sibuk membuka hasil tangkapan dari kamera digital. Ryan misalnya, dia menggunakan lensa fix 50 mili nikor yang saya amati sedang memutar ulang rekamannya menggunakan mode video. Sedangkan mas Adrian dan Adit sepertinya lebih memilih menghisap rokok saja sembari mengamati sekitar. Mas Agung dan Ichsan yang saya perhatikan sedang sibuk memainkan ponsel pintarnya, entah sedang mengetik atau bermain game untuk mengusir bosan.

Saya sendiri memutuskan untuk membahas video yang diambil Ryan saat kami berada di museum. Saya memperhatikan beberapa scenes yang diambil Ryan secara sembunyi-sembunyi. Nampak menyenangkan saat melihat setiap orang dalam satu ruangan sedang melakukan aktivitasnya masing-masing tanpa dibuat-buat atau direkayasa. Alami dan apa adanya. Kemudian saya tertarik untuk mengulangi scenes yang direkam Ryan, saat saya sedang mengamati kumpulan Radio lama yang tertata rapi di ruang tengah musium rokok. Nampak lucu, mungkin lebih tepatnya aneh, saat saya melihat diri saya sendiri melakukan beberapa aktivitas yang kami lihat di layar ukuran 5x5 senti meter itu. Ada sebuah miniatur hidup yang saya coba artikan di sana, melihat diri kita beraktivitas dalam sebuah cermin kecil bernama kamera.

Dulu saat kita duduk di bangku sekolah dasar, mungkin kita pernah mendengar guru agama kita berbicara mengenai tugas malaikat (pencatat amal baik dan buruk), yang berkewajiban mencatat beberapa amalan hidup dan mencatat keburukan yang telah kita lakukan, Pada suatu hari akhir nanti, semua catatan itu akan diputar ulang dan kita tidak akan mampu mengelak saat semua rekaman itu ditampilkan di hadapan kita. Saat memutar rekaman di kamera Ryan, mungkin saya sedang tersadar, bisa jadi nanti saya akan lebih merasa bahwa, “semua yang saya lakukan sekarang akan nampak lucu dan bodoh nantinya.”

Senin, 07 April 2014

Satu Pagi Dengan Keping 500 Rupiah

Ada satu pertanyaan pagi ini yang membuat saya sedikit merasakan kecemasan yang subtil, yaitu pertanyaan mengenai, “Apakah manusia benar-benar membutuhkan uang?” dan sampai sekarang pun saya masih ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dalam sebuah obrolan sore hari dengan Ryan—rekan saya yang saya kenal di warung kecil langganan kami—selepas berburu gambar di taman kota. Bahwa ia mengatakan, “uang adalah awal penyakit kehidupan.” Saya hanya mengangguk kecil untuk memberi reaksi yang waktu itu saya anggap paling netral untuk merespon pernyataannya.

Ryan juga pernah mengatakan kepada saya, mengenai konsep uang pada abad jauh sebelum Portugis mengekspansi Nusantara. Bahwa ia masih berharap sistem barter akan muncul kembali sebagai peradaban yang paling manusiawi di negeri ini. “Tidak akan ada korupsi dan penyakit lintah darat, saat kita masih menganut sistem barter untuk memenuhi kebutuhan hidup, Man.” Dengan gaya selow yang begitu khas darinya, ia melanjutkan pernyataannya sembari menyalakan rokok yang ia jepit di kedua ujung jari kanannya, bahwa alat tukar (uang) yang selama ini kita sepakati bersama sebagai benda “anti ribet” yang dipergunakan dipelbagai aspek kehidupan adalah akal-akalan bangsa barat untuk menjajah kita.

Seperti saat Alexander Supertramp dalam film Into the Wild yang memutuskan pergi menuju Alaska sebagai tempat pelariannya, ia berusaha menjauh dari realitas sosial yang begitu memuakkan, ia pun mengatakan bahwa, “Uang adalah ilusi yang kita  buat sendiri.”

“Ambil contoh seperti ini bro, saat aku punya rokok dan saat itu juga aku pasti butuh korek api untuk nyalain rokokku. Padahal aku gak punya korek api. Kemudian, kamu punya korek api dan tidak mempunyai rokok, pada saat bersamaan kita sama-sama ingin merokok. Ada sebuah diskusi di situasi ini, untuk saling menukar dan saling berbagi, yang mungkin sering kita hindari di lingkup masyarakat sekarang. Masyarakat sekarang tidak ingin ribet, Man. Mereka mempunyai uang dan dengan mudah menukarnya dengan apa yang mereka inginkan.” Mungkin istilah yang pas untuk menggambarkan perkataan Ryan adalah yang mempunyai uang berlimpah ialah yang berkuasa.

Saya kembali terdiam dan berusaha mencerna perkataan Ryan. Kemudian mencoba mencari sisi kekinian dengan kondisi masyarakat menjelang pemilihan umum.

Saya yang hampir sepakat dengan yang dikatakan Ryan, saat mengingat cerita teman saya yang bernama Hedi, bahwa beberapa bulan lalu tender yang ia ajukan lagi-lagi gagal setelah mengetahui lawan tendernya adalah kaum berduit di atas 1 miliar. “Aku gak iso lapo-lapo cuk, bah iku rancanganku paling apik, nek aku disawang kere aku ra iso lapo-lapo.” (aku tidak bisa berbuat banyak untuk rancangan tenderku, jika aku terlihat miskin). Saat ini mungkin semua orang memandang bahwa yang berkompeten adalah yang berduit, dengan duit pula seseorang bisa dipandang terhormat. Begitu pula untuk kasus saat ini, barang siapa yang mampu menyediakan baliho dan media (alat pentas promosi) untuk kampanye partainya paling banyak, dialah yang akan dipilih. Bisa dibayangkan untuk membuat satu baliho saja kita mesti merogoh kocek minimal 500 ribu rupiah sampe 600 ribu rupiah, lah, sekarang tinggal kalikan saja berapa jumlahnya dan dikalikan lagi berapa daerah yang akan dipasangi baliho.

Kemudian para calon-calon itu mempertaruhkan uangnya untuk berkampanye. Mungkin istilah Jawanya adalah “nombok’i dhisik gawe kampanye ben payu.” Untuk dipilih saja mereka sudah berani bertaruh, saya tidak bisa membayangkan saat mereka-mereka itu resmi terpilih, apalagi yang bisa mereka lakukan untuk mencari “balen” (tebusan dari dana yang dipergunakan saat kampanye). Sebelum terpilih mereka mengeluarkan dana sekitar 3 miliar misalnya, setelah resmi terpilih, apa mereka ikhlas 3  miliar itu hilang begitu saja? Saya tidak yakin mereka ikhlas.

Saya ingat Mas Swiss pernah ngadem-ngademi pembaca blognya untuk mengajak supaya nyoblos kandidat wakil rakyat yang paling sedikit masang foto di baliho, atau yang tidak ada balihonya. Menurutnya, mereka yang paling tulus untuk maju menjadi pemimpin, tidak memakai promosi ‘kacangan’ melalui baliho dan poster. Mereka berangkat dari nol rupiah, menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan/goal. Bukankah imam atau pemimpin itu saling mempersilahkan, bukan malah saling memperebutkan.

Banyak jika kita ingin melihat sesuatu hal yang remeh dan beberapa hal kecil untuk dijadikan pembelajaran hidup. Terkadang kita lupa bahwa pintu rizki tiap insan (manusia) itu sudah ada yang nanggung, lah kenapa kita ribut untuk saling tipu dan sikut-sikutan. Memakai cara promosi nombok’i untuk menyakinkan masyarakat. Kemudian setelah terpilih, dengan besar-besaran mengeruk uang rakyat untuk mengganti biaya promosi mereka saat berkampanye.

Saya bisa ambil contoh kecil dari apa yang sudah kami lakukan. Saya menyebutkan ‘kami’, bahwa saya tidak pernah sendiri untuk memahami sebuah konsep kebaikan dan kemudian mengerjakannya bersama-sama. Beberapa bulan terakhir misalnya, kegiatan kami yang sebagian besar bergerak mengatasnamakan komunitas Sayap Surabaya yang dulunya bernama Sarang Burung Surabaya, cenderung nol rupiah pada setiap program garapannya. Tapi kami cukup percaya diri saat disandingkan dengan lembaga-lembaga yang mengatasnamakan sosial dalam pergerakan visinya. Karena kami berpendapat bahwa uang adalah side effect dari apa yang kita kerjakan, dan bukan menjadi tujuan utama untuk melakukan visi. Toh, saat proyek pemasangan etiket di ekowisata mangrove wonorejo selesai, tanpa disangka kami mendapat donasi yang cukup lumayan untuk kami pergunakan segabai booking tiket pesawat menuju Selangor sebanyak 6 orang pulang-pergi.

Hidup dalam keterbatasan memang tidak selamanya menyakitkan seperti tidak mempunyai cukup uang untuk sesuatu kebutuhan. Saya sendiri sering merasakan beberapa momentum sulit dari hidup, tapi masih bersyukur karena kita diberi sifat membandingkan sebuah kondisi satu dengan kondisi lainnya, mencari bentuk kesamaan atau perbedaan. Tinggal bagaimana kita mampu memilih membandingkannya dengan siapa dibanding siapa.

Seperti saat tidak punya cukup uang bulan ini misalnya, saya berusaha mengatur kembali neraca keuangan. Hal ini mustahil saat saya memasuki fase dimana uang begitu berlebih. Banyak hal yang mampu kita lakukan, sekalipun kita kekurangan uang. Seperti saat saya menuliskan ini, saya sedang berada di kamar setelah mencari dompet dan kemudian membukanya. Kemudian beralih dengan teliti membuka beberapa kabinet untuk mencari simpanan kopi dan rokok yang mungkin saja bulan lalu sengaja saya selipkan di sela-sela buku dan majalah perjalanan. Tetapi kenyataannya nihil, malah saya dapati satu keping uang 500 rupiah terselip di tumpukkan kertas curiculum vitae yang beberapa bulan lalu saya abaikan begitu saja.


Memang kita butuh uang saat kita bermasyarakat, karena uang adalah efek domino. Ia berbunyi saat ada rangkaian yang sama untuk kita sandingkan. Namun, perlu kita pikirkan lagi bahwa uang bukanlah hal yang teramat penting dalam hidup. Toh, pagi ini saya masih bisa tersenyum saat menemukan kepingan 500 rupiah yang terselip di tumpukkan cv yang urung saya kirim  bulan lalu. Bisa jadi dengan kepingan 500 rupiah ini, pertanda bahwa Tuhan sedang mengingatkan saya untuk mencari pekerjaan dengan menjamah curiculum vitae.

Sabtu, 05 April 2014

Sayap Surabaya

Logo Sayap Surabaya. diambil di sini.

Setelah kepengurusan Sarang Burung Surabaya berganti, kami yang tergabung di Sarang Burung Surabaya periode 20010-2014, segera membuat wadah baru yang kami beri nama: Sayap Surabaya. Kami merasa harus membuat komunitas baru untuk membebaskan pemikiran dan beberapa program yang mewakili gagasan, ide, dan passion kami. 


Pada tanggal 26 Maret 2014, di Pondok Al-Baruk tempat biasa kami menyebutnya untuk berkumpul. Kami sepakat menamai komunitas baru ini dengan nama Sayap Surabaya. Yang beranggotakan Agung Martani sebagai ketua, Lukman Nurdini sebagai wakil ketua, dan Adrian Fauzi sebagai bendahara, sedangkan sekretaris diemban oleh Anggara Padang. Kami membuat tiga divisi untuk program yang menjadi fokus garapan dari Sayap Surabaya, yaitu memasukkan divisi keilmuan yang menjadi fokus kerja dengan Radityo Pradipta sebagai koordinator, sedangkan untuk divisi fun and marketing oleh Cipto Dwi dan divisi media saya yang bertanggung jawab untuk mengelolanya. Sedangkan Dimas Putra dan Ryan Essa masuk ke dalam pos keilmuan dan media.

Kami bersembilan bersepakat jika pembuatan struktur ini, untuk melatih tanggung jawab masing-masing dari anggota, namun pada prinsipnya kami semua bekerja tanpa tebang pilih.

Hari jumat lalu, selepas isya’ kami berkumpul lagi untuk menindaklanjuti pertemuan sebelumnya yang membahas tentang pembuatan program kerja dan pembuatan profil komunitas untuk pengenalan kepada masyarakat, istilah kekiniannya mungkin bisa dikatakan sebagai upaya branding.

Memanfaatkan semangat pesta demokrasi yang digadang-gadang sebagai tahun perubahan dengan menjamurnya baliho, poster, serta pamflet dari calon legislatif. Kami juga tidak mau kalah untuk memperkenalkan diri sebagai salah satu komunitas yang peduli akan kelestarian satwa dan lingkungan. Tercetuslah untuk membuat sebuah media untuk memperkenalkannya kepada khalayak. Media tersebut berupa brosur lipat, yang dalam waktu dekat ini akan dipergunakan untuk menghadiri event international, yaitu Selangor Bird Race yang akan diadakan pada tanggal 25-27 April 2014, bertempat di Kuala Khubu Baru Selangor Malaysia.

Kemarin malam selesai rapat mingguan, --mungkin juga bisa dibilang pertemuan pertiga hari sekali dalam dua minggu-- karena kami bersembilan sedang ngebut untuk menyelesaikan target jangka dekat: event Bird Race Selangor. Akhirnya, sebuah logo terpilih untuk dijadikan identitas dari komunitas Sayap Surabaya. Serta pematangan dua akun media sosial sebagai brand awal dari komunitas yaitu akun facebook yang kami beri nama Sayap Surabaya, dan twitter dengan akun @sayapsurabaya, sedangkan untuk komunikasi melalui surat elektronik dapat dikirim ke sayapsurabaya@gmail.com.

Visi kami sebagai salah satu komunitas yang peduli akan kelestarian alam, memfokuskan satwa khususnya aves sebagai bidang kerja utama (fokus konservasi dan keilmuan), dan kesejahteraan masyarakat sebagai tolak ukur dari fokus kerja kami. Sedangkan misi yang kami usung yaitu memberi wawasan dan mengajak partisipasi masyarakat dalam konservasi burung serta lingkungan melalui penelitian dan pemberdayaan masyarakat. 

Beberpa rencana ke depan ada beberapa program yang akan kami kemas dan sebarkan kepada masyarakat dengan cara rekreasi dan edukasi yang menyenangkan. Melalui media e-book, galeri foto, city tour dan birdwatching. Tidak menutup kemungkinan pengenalan satwa burung dan monitoring burung migran juga akan kami masukkan sebagai salah satu acara utama yang mempunyai beberapa rangkaian acara lain yang mendukung, seperti perlombaan fotografi satwa liar dan beberapa pelatihan untuk konservasi lingkungan.

Semoga dengan terbentuknya wadah baru, semakin membuat kami bersemangat untuk menularkan sedikit ilmu yang kami ketahui. Berhubung juga tulisan semi-serius ini numpang di blog pribadi saya, jadi saya bebas untuk meminta bantuan dan doa dari pembaca sekalian untuk mendukung dan memantau kami. Supaya saya dan rekan-rekan yang tergabung di komunitas Sayap Surabaya dapat terus bersemangat dalam menelurkan karya-karya yang unggul bagi kemanfaatan alam dan masyarakat. Salam lestari!