Rabu, 05 Maret 2014

The Little Hanoi (Seandainya)



Ibukota Vietnam yang semula berada di Hanoi sekarang sudah berganti di Ho Chi Mihn City. Oke, kalau lupa tak mengapa. Berilah sedikit waktu untuk saya mengingatkan kembali tentang negara yang tak lepas dari peninggalan seni budaya Perancis dan menerapkan strategi perang kepunyaan komunis yang membuat ‘John Rambo’ menjadi legenda fiktif buatan Amerika.

Dari 15 danau yang menghiasi lanskap Hanoi, ada satu yang tidak pernah sepi dari aktivitas manusia: Hoan Kiem. Di sekitaran Hoan Kiem juga terdapat kawasan wisata paling tesohor di Hanoi: Old Quarter. Hotel-hotel bujet dengan arsitektur langsing bertaburan di jalan-jalan yang bercabang-cabang bak arteri tubuh. Satu gang sepanjang 100 meter saja bisa mengoleksi lima hotel. Suasananya sangat riuh. Klakson kendaraan terdengar hampir tiap detik. Para pramusaji berdiri di depan restoran merayu tiap turis yang lewat.

Tapi Old Quarter lebih dari sekadar sarang wisatawan. Di masa lalu, ia kerap disebut “36 streets”, julukan yang terinspirasi oleh 36 jalan paling terkenal di kawasan ini. Sejarahnya dimulai di zaman Dinasti  Ly (1010-1225) saat sang kaisar, Ly Thai To, menentapkan Hanoi sebagai ibukota. Perlahan, Old Quarter berkembang menjadi pusat kerajinan – reputasi yang terus bertahan pasca-kemerdekaan Vietnam. Kemudian, memasuki era penjajahan Prancis dan pemerintahan komunis, Hanoi bersama Old Quarter-nya berganti peran menjadi pusat politik.

“Piye kabare dab?”

“Sik iling gak awak peno, nek awak dewe tau nang Hanoi?”

The little Hanoi, Hang Gai 23, Old Quarter - Vietnam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar