Senin, 03 Maret 2014

Malam Itu dan Hujan yang Tak Pernah Tepat Waktu



16:15

Setelah membalas surat elektronik dari seorang rekan waktu SMA, saya bergegas untuk segera pulang. Minggu ini Surabaya selalu turun hujan setiap sore. Sedangkan saya tidak ingin melewatkan satu pertemuan penting dengan kawan lama di satu kedai kopi. Saya yang mulai dekat denganya beberapa bulan terakhir ini, merasa berhutang untuk menemuinya. Apalagi setelah perjumpaan terakhir kami waktu kami masih SMA, kami tidak pernah bertemu lagi setelah itu, hanya mengerti kabar masing-masing melalui media sosial dan juga surat elektronik yang jarang kami balas. Apalagi saya mengerti jika malam ini adalah malam terakhirnya berada di Surabaya.

Baru beberapa kilometer saya memacu motor, tiba-tiba hujan mengguyur jalanan dengan hebatnya. Sebenarnya peringatan itu sudah saya terima dari rekan saya yang hendak saya temui melaui pesan singkat.

“Di sini hujan, nggakpapa ta?”

“Tenang, aku bawa mantel kok.”

Saya memutuskan untuk berhenti saja. Awalnya untuk mengenakan mantel hujan, tapi setelah tahu hujan bercampur angin dan sangat lebat, saya memutuskan untuk berhenti agak lama sembari menunggu hujan sedikit mereda. Apalagi saya baru ingat jika dompet yang hampir basah di kantong belakang saku celana saya tidak ada isinya. Saya mencari mesin tarik tunai yang paling dekat dengan tempat saya berteduh. 

Saya menepi di pelataran rumah sakit, memilih sebuah bangunan menyerupai kantin atau rumah makan yang sepertinya baru ditutup oleh pemiliknya. Mempercepat untuk memarkir kendaraan dan berlari menuju kantin yang sudah tertutup itu. Saya melihat beberapa orang juga berhamburan mencari tempat berteduh. Dingin, namun sore itu sangat ramai. Saya menyalakan rokok, untuk membuang rasa bosan.

Saya mengamati sekitar, dan sesekali melihat air hujan yang jatuh ke jalanan. Kemudian saya membuka salah satu kantong pada tas kamera, berharap saya membawa cover tahan air untuk membungkusnya. Saya hanya menemukan mantel warna biru yang saya taruh di sela-sela lipatan penghubung bagian tas.

17:07

Ada perasaan cemas, saat hujan tak kunjung reda. Saya takut kawan saya ini menunggu terlalu lama. Mengingat ia sudah keluar rumah mulai siang. Kemudian ada perasaan cemas lainnya yang saya takutkan, mungkin saja ia akan merasa tidak enak jika harus menunggu saya dan kemudian merasa canggung saat saya temui. Dan lain sebagainya, beberapa perasaan yang muncul secara acak. Saya takut akan membuatnya kecewa.

17:19

Saya memutuskan untuk memakai mantel, dan membiarkan tas kamera saya beradu dengan hujan. Saya memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya, supaya saya lebih cepat tiba di lokasi. Saya sudah terlambat cukup lama dari apa yang kami janjikan sebelumnya. Semoga ia bisa mengerti, jika motor keluaran tahun 2004 yang saya naiki ini, sempat mogok saat melewati jalanan banjir. Arrgh, sial..

18:15

Saya tiba tepat di parkiran kedai kopi tempat di mana kami membuat janji. Saya masih mengenakan mantel hujan, dan terpaksa harus melepaskannya terlebih dahulu. Cukup lama dan bergegas membenarkan letaknya sehingga tidak berantakan tertiup angin. Sembari saya melipat dan membereskan mantel hujan dan tas kamera yang sedikit basah, pikiran saya menerawang kemana-mana. Saya memikirkan beberapa peristiwa yang baru-baru ini saya alami dengannya, sempat ada perbincangan dan juga situasi yang membuat kami bersitegang. Komunikasi yang awalnya hangat dan seru, baru-baru ini menjadi dingin dan datar. Entahlah. Saya tak bisa menceritakannya di sini. 

Sesaat saya memutuskan untuk masuk menemuinya. Saya berusaha membuang jauh-jauh perasaan bersalah saya, membuang beberapa pikiran negatif yang saya miliki tentangnya, tentang apapun itu. Saya ingin membebaskan semuanya, membiarkan yang akan terjadi dengan begitu saja. Saya hanya ingin menikmati malam ini, tanpa ada beban yang masih harus saya bawa tadi seharian: dengan hujan yang tak tepat waktu, dengan motor yang mogok. Persetan..

 Saya akan menjadi diri saya sendiri malam ini, dan semoga kamu tahu, inilah aku setelah 7 tahun yang lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar