Kamis, 13 Maret 2014

Kita Adalah Produk Setengah Jadi Dari Tuhan (Wajib Branding)



Setelah kedatangan mas Iwan Londo dari Bali dalam rangka acara bird banding, beliau banyak bercerita tentang antusiasme rekan-rekan birder dari Pulau Dewata. “Terutama fotografer alam liarnya man, eksis banget.” Birder Bali memang tidak sebanyak dari Kota Jogja atau Jakarta, tetapi mereka mampu menampilkan satu keteraturan dalam berkarya, menghasilkan beribu-ribu frame foto yang menarik untuk mereka tampilkan melaui grub di media sosial, tulisan berkala, dan menjadikannya sebuah pameran foto yang edukatif bagi masyarakat. Mereka mampu menyuarakan sesuatu yang kecil, yang tanpa kita sadari mampu masuk ke ‘ruangan’ yang bernama “ADA” dan “WAH.” Secara tidak langsung mereka telah menampilkan branding untuk identitas mereka kepada khalayak. Kita mengetahui bahwa keberadaan mereka terpisahkan dengan bentang alam, letak geografis berkilo-kilo-mil jauhnya, namun cukup dengan sekali klik ‘tuts enter’ kita mampu mengenal mereka begitu dekat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kegemaran dalam bidang fotografi alam liar atau sering kita dengar dengan “wildlife photographer” di Indonesia sudah menjadi tempat tersendiri di hati penikmat foto dan pemerhati lingkungan. Saya juga tidak mengerti apakah fenomena yang ada hanya sebatas hobi atau aktifitas “anget-anget tai ayam” saja? Tapi yang jelas beberapa forum dikusi tentang flora-fauna seperti di grub facebook misalnya, dan beberapa forum lain semakin sering di dengungkan. Salah satunya oleh para fotografer alam liar yang saya sebutkan di atas untuk menyuarakan kelestarian lingkungan beserta isinya.

Sedikit cerita, saya pernah berkesempatan mengikuti pelatihan tentang kewirausahaan yang diselenggarakan di Tanggerang tiga tahun lalu. Ciputra enterpreneur bekerjasama dengan Dikti, mencoba menstimulus para wirausahawan muda untuk lebih meningkatkan kinerja melalui beberapa pelatihan, ada yang menyebutnya dengan istilah “coaching center.” Saya tidak membahas istilah coaching center, saya tertarik untuk membahas mengenai sisi branding dalam dunia bisnis yang ada kaitan mengenai fenomena rekan-rekan birder di Bali, yang mampu menjadi trending topik di beberapa forum diskusi online.

Ada beberapa hal yang harus kita pelajari untuk membuat suatu branding untuk, katakanlah ‘bisnis’ yang akan kita lakukan. Saya tidak terlalu mengkultuskan makna bisnis itu hanya melulu berbicara mengenai uang dan profit semata. Bisnis di sini yang saya coba artikan dengan konteks yang lebih luas, seperti hobi dan kegemaran yang kita lakukan sehari-hari. Entah, nantinya menjadi sebuah profit tersendiri, itu terserah Anda. Seperti kegiatan memancing, fotografi, atau kegiatan lain yang Anda gemari misalnya. Sebelum membahas branding, mari kita berbicara sedikit mengenai fenomena inet di masyarakat.

Di era digital, semua jaringan inet tanpa kita sadari sudah menjalar bak kacang goreng. Kita temui dimana-mana dan sangat laku. Sejurus dengan perkembangan itu dibarengi dengan keberadaan kedai wifi, dan seluler pintar dengan harga yang sangat miring. Praktis kedai/warung kopi yang dulunya sebagai tempat beristirahat untuk para pekerja, sekarang menjadi tempat favorit untuk masyarakat yang lebih kompleks. Bukan hanya sekedar menjadi tempat bagi kaum pekerja melepas lelah, sekarang sedikit demi sedikit bergeser menjadi lokasi paling dimintai bagi pelajar.

Fenomena yang saya amati, mereka duduk dengan begitu khusuk dan sibuk menunduk mengakrabi smartphone-nya masing-masing. Saya ingat dengan apa yang dosen saya katakan empat tahun lalu dalam satu matakuliah mengenai kewirausahaan, “Dengan adanya internet kita yang jauh terasa dekat, dan yang dekat terasa jauh.” Fenomena yang terjadi di masyarakat itu harus kita sikapi sebagai satu peluang positif untuk maju dan meningkatkan kreatifitas kita dalam berkarya.

Branding diri yang kita kemas melalui sebuah tulisan maupun tampilan yang menarik dapat membuat masyarakat tertarik ingin mengetahui secara lebih dekat. Saat ini mungkin blogger atau penulis media online menjadi penting keberadaannya, meskipun dahulu juga memiliki peranan yang luar biasa vital dalam perkembangan era portal web. Pada dasarnya sebuah blog terbukti dalam banyak kasus menjadi alat publikasi yang ampuh, baik itu untuk sebuah perusahaan yang sedang kita dirikan atau untuk kepentingan profile branding yang akan kita kenalkan kepada khalayak.

Namun, ada juga sebagian pemilik ‘bisnis’ yang masih merasa bingung saat harus menampilkan diri dalam blog. Mereka kurang percaya diri, tak merasa begitu seksi di mata calon konsumen. Apakah Anda salah satu dari mereka? Jika iya, ubahlah cara pandang Anda karena keuntungan blog lebih banyak dari yang Anda pikir. Dampak yang dapat diberikan pada brand Anda oleh blog bisnis yang dikelola dengan tepat, terutama untuk perusahaan-perusahaan yang sektor industrinya tak begitu menarik perhatian dan mungkin bagi banyak orang sangat membosankan dan menawarkan sedikit celah untuk berkreasi. 

Oke, jangan menyerah dulu. Tak peduli apapun yang Anda coba promosikan di blog Anda, berikut adalah 4 kiat mudah untuk membuat blog untuk ‘bisnis’ Anda yang akan membuat pembacanya terkejut dan sekaligus puas.

Temukan suara brand Anda
Buatlah menyenangkan untuk dibaca. Siapa yang pernah berpikir untuk menggunakan suara (gaya menyampaikan pesan) yang lebih santai, jenaka malah bisa mengangkat brand yang biasa-biasa saja? Itulah yang dilakukan oleh Warby Parker melalui blognya. Alih-alih menggunakan suara yang formal dan kaku, perusahaan itu memilih gaya penyampaian yang kreatif, lebih membumi dengan pengalaman sehari-hari pembaca, menghibur dan lucu. Melalui tagline blog Musings, inspirations, and fun stuff from your friends at Warby Parker, perusahaan seolah-olah menanggalkan kesan korporat yang serius dan lebih memahami karakter konsumen masa kini. Jangan lupakan unsur kemanusiaan dan humor. Hal ini juga diterapkan pada blog traveler seperti yang dikelola oleh Adis dengan blognya yang bejudul “Whatever I’m Backpacker”.

Kemaslah konten dengan kreatif
Kita bisa belajar dari cara penyajian konten blog milik General Electric (GE) yang menarik. Di sini, mereka mengemas konten yang biasa dan tak begitu menarik tentang foto-foto lokomotif KA dan pembangunan terowongan angin menjadi lebih menarik, informatif, dan indah untuk dibaca dan dinikmati. Brand Anda juga bisa melakukannya dengan mengetahui apa yang disukai oleh audiens dan berkreasilah secara liar. Unggah foto-foto spontan yang informatif, artistik yang masih relevan dengan bidang industri Anda. Jangan lupakan membuat infografis yang berwarna-warni tetapi serasi dan mudah dimengerti mengenai topik-topik industri yang lebih rumit. Pajang gambar GIF para karyawan yang sedang sibuk bekerja. Atau minta komunitas Anda untuk memamerkan produk dan jasa Anda dengan menyebarluaskan konten.

Edukasi
Bagaimanapun jangan pernah meninggalkan sisi edukasi dari sebuah brand. Salah satu cara terbaik meningkatkan interaksi dengan para anggota komunitas dan menarik anggota baru ialah memberikan edukasi yang bermanfaat dalam format yang mudah dicerna, enak dinikmati siapapun. Blog edukatif lebih dibutuhkan oleh perusahaan dan brand yang bidang industrinya cukup sukar dipahami orang awam. Contoh yang bisa ditiru ialah blog milik Whole Foods Whole Story, yang di dalamnya membahas resep dan makanan lezat nan sehat, dan blog milik AmEx Open Forum, yang dipenuhi tips untuk UMKM.

Bersosialisasi
Ada banyak cara untuk mengembangkannya, yaitu salah satunya dengan bersosialisasi. Daripada menunggu orang datang, mengapa Anda tidak pro-aktif mendatangi mereka? Bertukar pikiran, dan berdiskusi. Tentukan segmen konsumen yang Anda bidik, baru pilih jenis platform jejaring sosial yang sesuai dengan mayoritas kepribadian mereka. Anda bisa memilih untuk berjejaring di Tumblr misalnya, tempat blogging menjadi lebih praktis dan mendorong audiens berinteraksi melalui konten yang Anda unggah di platform jejaring sosial. Untuk melihat contoh ideal, Anda bisa mengunjungi akun Tumblr IBM: ibmblr.tumblr.com, atau enroutemagazine.tumblr.com milik maskapai penerbangan Air Canada. Saksikan dan pelajari bagaimana brand-brand itu berinteraksi dengan konsumen di Tumblr.

Sebelum Anda membuat ‘blog bisnis,’ amati terlebih dahulu blog-blog lain yang sudah dulu muncul dan mapan serta sukses. Hal ini penting, untuk menjadikannya refrensi untuk belajar. Konten yang menarik misalnya, yang mampu membuat sebuah interaksi yang baik terjalin dari masa ke masa. Satu hal dalam kemunculan media untuk branding diri, adanya sebuah interaksi yang baik antara Anda dengan audiences, pembaca, konsumen, dan komunitas yang terlibat di dalamnya. Tapi yang lebih utama adalah jangan sampai melupakan kelebihan dan daya tarik brand Anda sendiri. Pikirkan cara yang lebih kreatif dari yang sudah ada dengan menggunakan kelebihan dan daya tarik tersebut. 

Lalu terbesit untuk bertanya kepada diri sendiri, 

“Lalu, blogmu, menariknya apa?”
“...embuh...”
“..Masih setengah jadi?..”
“Hmmm, Dipikir sambil minum kopi yuk!”
“Kami berdua tersenyum.”
“Selamat Mencoba!”

 
Suasana kelas menulis di sekretariat AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia).








Post-scriptum: Tulisan di atas sebagai ucapan terima kasih saya untuk mas Iwan Londo, yang berkenan untuk mengajak saya mengikuti pelatihan menulis bersama kawan-kawan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada tanggal 9 maret 2014 lalu. Saat M.R. Hartono (Mantan Ketum AJI) membahas “branding” dalam forum tersebut, saya teringat akan materi yang disampaikan Ir. Ciputra tiga tahun lalu. “Bagaimana kamu bisa didengar, jika kamu tidak bersuara! Era yang berubah, kini diam bukan menjadi emas lagi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar