Sabtu, 15 Maret 2014

Ho Chi Minh City



Ho Chi Minh at People's Committee Hall - Vietnam.

Gedung-gedung warisan Prancis dan situs-situs pasukan Viet Cong adalah magnet utama untuk memikat palancong. Ternyata tak selamanya penjajahan hanya meninggalkan duka.

Namanya membawa imajinasi kita ke zaman perang saat Ho Chi Minh memimpin ribuan gerilyawan melawan serdadu Prancis dan Jepang. Untuk mengenang jasanya, warga Vietnam sepakat mengganti nama Saigon menjadi Ho Chi Minh City pada tahun 1975. Patung bapak bangsa terpajang di dekat People’s Committee Hall dalam pose memangku gadis cilik.

Sebagai pusat perlawanan, (HCMC) singkatan dari Ho Chi Minh City tentu menyimpan banyak artefak perang. Di pusat kota terdapat Hotel Continental yang memainkan peran penting di masa penjajahan. Kisahnya diabadikan dalam ‘The Quiet American’, film yang diadaptasi dari novel karya Graham Greene. Hotel lain yang menjadi saksi perang adalah Rex Hotel. Awalnya dibangun sebagai showroom mobil buatan Prancis, penginapan ini melambung namanya semasa Perang Vietnam karena sering dijadikan tempat konfrensi pers oleh tentara Amerika.

War Remnants Museum.
Serakan obyek perang lainnya bisa disaksikan di War Remnants Museum. Halamannya dihiasi berbagai mesin pembunuh, mulai dari tank hingga pesawat tempur. Sementara dinding dipenuhi foto-foto korban yang menjadi bukti kejinya pertarungan ideologi di masa lalu.

Chu Chi Tunnel, terowongan bawah tanah yang di pergunakan tentara militer Vietnam..
Berkendara dua jam ke luar kota, terdapat situs yang menjadi saksi kegigihan gerilyawan Viet Cong dalam merebut Saigon: Chu Chi Tunnel. Terowongan bawah tanah ini memiliki jaringan yang kompleks layaknya sarang tikus. Fungsinya adalah menyalurkan logistik, rumah tinggal, sekaligus jalur lalu-lintas para pejuang. Di beberapa bagian, tinggi terowongan hanya satu meter, sehingga pasukan harus merangkak.

Jika tubuh tak cukup langsing untuk memasuki lubang-lubang tersebut, pengalaman perang yang tak kalah seru bisa didapatkan dengan menyewa senapan mesin AK-47 dan menembakkannya ke sasaran pasif. Peluru dijual $1 per butir. Di akhir kunjungan, nikmat sajian steamed tapioca yang pernah mejadi ransum darurat pasukan Viet Cong.

Steamed Tapioca, sejenis singkong atau gethuk jika di Jawa.
War Surplus Market, pasar alat-alat militer.
Perang memang meninggalkan luka mendalam, tapi beberapa orang berhasil menjadikannya inspirasi bisnis. Di War Surplus Market, Anda bisa menemukan suvernir berbau militer yang berasosiasi dengan Amerika, Prancis, atau komunisme. Ada seragam tentara, helm pilot pesawat tempur, bayonet, hingga pecahan badan tank dan roket. Tapi harus diingat, tak semua barang berlabel orisinal.

Salah satu alasan mengapa Saigon diperebutkan oleh banyak negara adalah lokasinya yang strategis secara geopolitik. Kota yang berdiri menghadap Laut Cina Selatan ini dijadikan pelabuhan laut oleh Kerajaan Khmer. Pada tahun 1858, Prancis datang dan menguasai kota seluas 2.000 kilometer persegi ini, hingga akhirnya hengkang di 1954 dengan mewarisi banyak gedung.

Prancis sepertinya memang menaruh hati pada HCMC. Untuk membangun kantor pos misalnya, mereka menyewa arsitek terkenal Gustave Eiffel, perancang Menara Eiffel. Sementara untuk membangun Saigon Notre-Dame Cathedral Basilica, kontraktor mengimpor hampir semua bahan bangunan langsung dari Prancis. Sang penjajah juga menyematkan dua julukan bagi HCMC: “Paris in the Orient” dan “Pearl of thr Far East”.

Tet Nguyen Tieu atau Pesta Tahun Baru Lunar.
Momen terbaik untuk menyaksikan wajah warga lokal adalah akhir Januari atau awal Februari saat HCMC menggelar Tet Nguyen Tieu atau Pesta Tahun Baru Lunar, perhelatan terbesar di Vietnam. Dalam praktiknya, Tet sangat mirip Idul Fitri di Indonesia. Sekali dalam setahun, orang-orang meninggalkan kesibukan untuk merayakan pesta bersama keluarga. Selama periode ini, kuil-kuil dipenuhi jemaah yang datang untuk memohon berkah di tahun yang akan datang. Pemandangan serupa terlihat di kompleks makam di mana para peziarah bersimpuh dan mendoakan arwah leluhur. Seperti juga Idul Fitri, anak-anak sibuk mengenakan baju baru dan menyalami orangtua sembari berharap akan menerima amplop berisi uang. Puncak perayaan terjadi di malam tahun baru saat jalan-jalan Saigon dimeriahkan parade kostum, pesta kembang api, dan berbagai konser musik.

Turis dipersilahkan jika ingin berpartisipasi dalam parade itu. Suasana paling autentik terlihat di Cholon, pecinan terbesar di Vietnam. Kuil megah Thien Hau dipenuhi peziarah selama perayaan Tet. 

Berikut sejarah dari beberapa hotel yang mungkin menjadi rekomendasi menginap atau bisa menjadi foto pemandangan yang menarik untuk Anda abadikan, pantang untuk dilewatkan saat Anda memutuskan berkunjung ke Vietnam:

Caravelle Hotel
Hotel ini dibuka di malam Natal 1959 dan sempat berganti nama menjadi Doc Lap pada 1975. Sebagian kru dan pemain film The Quiet American menginap di sini saat syuting digelar di HMCM di 2001. (19 Lam Son Square, District 1., T.84 8 3823 4999, www.caravellehotel.com). 

Rex Hotel
Pada 1960, gedung ini dijadikan Pusat Kebudayaan America, lengkap dengan Perpustakaan Abraham Lincoln di lantai dasarnya. Status hotel bintang lima mulai dipegang pada 1975 (141 Ngunyen Hue Blvd., T.84 8 3829 2185, www.rexhotelvietnam.com). 

Hotel Continental
Beberapa figur penting internasional pernah bermalam di kamarnya, sebut saja sastrawan India peraih Nobel, Rabindranath Tagore, serta novelis asal Inggris, Graham Greene. (132-134 Dong Khoi Street, District 1., T.84 8 3829 9201, www.continental-hotel.com.vn). 

Hotel Majesti
Didirikan pada 1925 dan pernah digunakan sebagai barak militer oleh serdadu Jepang di masa PD II. Pangeran Edward (Inggris) dan Akishimo (Jepang) pernah menjajal kasurnya. (1 Dong Khoi Street, District 1, T.84 8 3829 5517, www.majesticsaigon.com.vn). 

Grand Hotel Saigon
Diresmikan pada 1930 dan sempat direstorasi pada 1997, hotel bersejarah ini menampilkan ballroom berkapasitas 400 kursi serta 233 kamar yang mengkombinasikan arsitektur Prancis dan Asia. (8 Dong Khoi Street, District 1., T.84 8 3823 0163, grandhotel.vn).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar