Apa Benar, Menulis Itu Merapikan Kenangan?



Saya hanya bisa terdiam saat mendapat surat elektronik dari seseorang kawan semasa SMA. Ia mengisahkan dengan satu puisi yang mengiris hati, saat cintanya terlambat untuk dikatakan kepada seseorang pria. Ia tak mempunyai kuasa atas semesta yang memilihnya untuk mengetahui bahwa pria yang ia kagumi dan juga ia cintai akan menikah dengan perempuan lain. Kawan saya yang memiliki hati yang lembut ini, lebih memilih jalan diam untuk satu perasaan yang ia lawan sendiri. Ia lebih memilih untuk diam sebagai seorang perempuan yang tak ingin mengutarakan cintanya.

Saya tidak mengerti bagaimana satu dogma yang terpatri begitu kuat di masyarakat lalu disepakati menjadi satu kebenaran secara berjama’ah. Saya juga tidak mengerti, apakah tingkatan seorang perempuan ditakdirkan untuk menunggu satu permintaan perasaan dari kaum pria, sekalipun itu adalah perasaan yang ia yakini sendiri kemudian ia ingkari. Apakah perempuan ditakdirkan hanya untuk menunggu permintaan perasaan yang ia harapkan kehadirannya dari pria yang ia cintai? Dihadapkan dengan kondisi apa boleh bikin dan terserah kemudian pasrah dibuatnya.

***

Semua manusia pernah sakit hati. Mengutuk, kemudian berucap sumpah serapah. Mungkin ada yang menerimanya sebagai satu perjalanan hidup yang harus dihadapi. Namun tak jarang ada juga yang terpuruk, meratap, kemudian memilih menjadi apatis. Semua berpulang pada waktu dan kenangan.

Kenangan yang kuat mungkin muncul pada saat kita dihadapkan dengan satu fragmen tentang kesedihan dan kehilangan, dari pada fragmen mengenai kebahagiaan. Entah, bagaimana sistem kerja otak manusia? Mengapa ia begitu kekal untuk menyimpan satu kenangan yang memiliki unsur kesakitan, kedukaan, kehilangan, dan juga kematian?

Pernah ada seorang kawan karib berkata kepada saya pada satu sore di taman kota, “Saat manusia menjadi galau, mungkin saja ia belum bertemu dengan satu hikmah dari Yang Maha Pencipta.” Secara tidak langsung, ia ingin menyampaikan bahwa “Satu kenangan akan memunculkan seribu hikmah yang akan kita petik pelajarannya.” Tiba-tiba ada perasaan ingin menuliskannya pada selembar kertas kemudian menerbangkannya ke langit, supaya tertangkap oleh awan dan kemudian menjadi hujan.

***

Saya melihat jam tangan digital saya menunjuk pukul 23:00 wib. Saya baru datang dari Sidoarjo setelah mengerjakan satu program sanitasi masyarakat di sana. Selama perjalanan menuju rumah tak sengaja saya mendengarkan Band BIP yang terputar secara random di playlist seluler saya. Band pecahan Slank dengan lagu perpisahan yang luar biasa ampuh untuk mengiris-iris perasaan saya malam ini. Lagu tersebut mungkin bercerita tentang perpisahan antar anggota band hingga perpisahan asmara sendu karena keharusan mengejar mimpi. Lagu yang berjudul "Ternyata Harus Memilih". Lagu ini dibuat BIP ketika Irang (vokalis awal BIP yang lantas digantikan oleh Ipang, mantan vokalis Plastik), yang mengundurkan diri. Di lagu ini, para personil BIP berharap agar Irang mengenang masa-masa indah mereka. Tapi lagu ini multitafsir. Bisa juga untuk para pecinta yang sedang dirundung duka perpisahan dan kenangan.

Di hari ini semua berakhir sudah
Kita berpisah baik-baik saja
Jangan ingat hal yang membuatmu marah
Apalagi membuatmu kecewa
Kenang yang indah, kenang yang memiliki kesan di hati
Hanya yang baik, hanya yang membuat tersenyum saat kita mengingatnya.
Ternyata kita sampai, pada jalan yang berlainan arah
Ternyata kita harus memilih mana yang terbaik tuk semua.
Cukup banyak waktu yang kita habiskan, semua tidak terbuang percuma.
Lambaikan tangan biar pergi lebih mudah.
Sungguh senang ku bisa kenal kamu...
                                                                                        
 Iya, sekitar dua tahun yang lalu. Saya dan Fitri memutuskan bahwa kami harus berpisah. Meski sudah cukup lama kami berpisah, ada perasaan yang harus saya akui yang tiba-tiba muncul saat mendengar lagu BIP mengalun dalam perjalan pulang saya malam ini. Bahwa ada perasaan rindu yang tiba-tiba mengular dari dada. Entah, perasaan lain seperti juga ikut tergerak ingin dipanggil, seperti perasaan kehilangan, kecewa, atau pun perasaan marah. Entah sampai kapan perasaan seperti ini kerap datang dengan kurang ajar. Dalam batin saya, “Saya berharap ingatan-ingatan seperti ini tidak akan muncul lagi”. Perpisahan saya dengan Fitri memang adalah keputusan yang terbaik yang kami ambil saat itu. Setidaknya sampai sekarang.

Awalnya, perpisahan ini bukan hal yang mudah, baik untuk Fitri, juga untuk saya. Mungkin hanya perasaan bodoh saya saja yang mengatakan demikian. Tak selang berapa lama, Fitri memilih jalan yang terbaik yang ia ambil untuk berbahagia. Tidak ada yang salah. Semua orang berhak berbahagia dengan pilihannya. Karena tidak ada satu pun orang lain di luar sana, yang mau bertanggung jawab jika terjadi hal yang menyakitkan dengan diri kita. Mengenai penyebab kami berpisah, saya serahkan pada bagian publicist untuk menceritakannya.

Panggil saya berlebihan, tapi bagi saya, Fitri tetap perempuan paling baik yang pernah saya temui. Setidaknya sampai saat ini. Dia mau menerima saya apa adanya. Diantara banyak perempuan yang datang dan pergi, dia yang paling lama bertahan menghadapi semua sifat buruk saya. Dan saya menghaturkan salut untuknya. Entah, sekarang ia bersanding dengan siapa, saya tidak ambil pusing yang jelas saya selalu menghormatinya sebagai seseorang perempuan yang pernah dekat dengan saya.

Apakah dulu saya dan Fitri sedih dengan perpisahan? Jelas. Tak pernah ada perpisahan yang mudah untuk dihadapi. Tapi kadar kapasitas seseorang selalu berbeda untuk menakar kesedihan yang dialami. Mungkin Fitri lebih tegar dari saya kala itu, untuk menyadari perpisahan yang terjadi. Semuanya masih wajar, dan kami menyadarinya sebagai sebuah fase yang harus kami hadapi dalam satu hubungan.

 Saya akui setiap peristiwa akan memiliki aktornya masing-masing. Saat itu, saya belajar mengerti arti pengorbanan dan berjuang untuk meraih mimpi bersama Fitri. Melalui cara kesederhanaan, dan melalui sifat yang apa adannya. Mungkin waktu tidak akan pernah berputar untuk menunjukkan betapa kami melewatinya dengan berliku-liku, sesuatu hal yang lebih baik atau lebih buruk mungkin sekarang tidak ada artinya lagi. Kita hanya dipaksa oleh sang waktu untuk menerimanya saja, sebagai sebuah keyakinan masing-masing, sebagai sebuah pembelajaran hidup. Kau yang kuat, akan bertahan. Sedangkan kau yang lemah, akan meratap.

Sayang, manusia selalu merusak persaudaraannya dengan keegoannya. Saya yang memilih untuk membenci supaya dapat mudah untuk melupakan kenangan, ternyata sia-sia setelah dilakukan. Karena semakin melupakan, saya semakin mengingat dengan tekun. Fitri yang mengerti kebencian saya itu, terlanjur sakit hati dan memilih menjauh serta acuh terhadap saya. Sikap yang ia lakukan, membuat saya sedikit tenang awalnya, karena usaha untuk tidak mengingatnya akan berjalan dengan mudah. Namun ada perasaan menyesal setelah melakukan hal tersebut, sama halnya saya menafikkan diri saya sendiri, bahwa ada masa lalu yang telah membentuk saya sampai detik ini. 

Sampai pada akhirnya saya memilih untuk diam saja, memutuskan membuang diri dengan berjalan sendiri, merampungkan mimpi yang masih tertunda kala itu. Berangkat traveling, menulis, dan bersenang-senang semau saya. Supaya pikiran teralihkan. Sesaat memang mengasikkan, tapi ada sudut kecil yang berteriak, “Bahwa kamu telah berdosa, melakukan hal itu!” dan mengajak saya untuk kembali pulang, dan berdamai dengan diri sendiri.

Bulan Maret, bagi saya adalah shelter dimana saya harus berkontemplasi, setelah sebulan lalu saya menyadari bahwa umur ini tidak muda lagi. Saya ingin merapikan beberapa kenangan yang berserak tak karuan. Beberapa peristiwa yang mungkin masih ganjil dan memang butuh penjelasan. Beberapa peristiwa yang mungkin (dahulu) tidak mampu saya terima keberadaannya dan masih saja terbawa sampai saat ini, harus segera saya ikhlaskan.

Semua harus dirapikan bulan ini, supaya tidak terlalu berat untuk melangkahkan kaki ini kembali. mengingat bulan ini adalah awal pertemuan saya dengan Fitri lima tahun yang lalu. Teramat sayang, bahwa pertemuan yang baik, berakhir dengan sesuatu hal yang kurang baik.

Mungkin saja ada baiknya, seseorang perempuan di posisikan untuk menunggu supaya pria lebih proaktif untuk berjuang. Mungkin saja, ia menunggu bahwa sesuatu yang ganjil akan segera terungkap dan terselesaikan oleh keberadaan sang pria.  Memang ada benarnya, saat perempuan mempunyai kuasa untuk memilih, pria juga ternyata memiliki kuasa untuk menyelesaikannya.

Baiklah, sebelum menyelesaikannya. Ada satu pertanyaan yang masih saya pikirkan sedari tadi,

“Apa benar, menulis itu merapikan kenangan?”
“...hmmm...”
“Saya kok masih ragu ya!”
“Malah saya berasumsi, semakin memunculkan kenangan kepermukaan.”
Waaaaahhhkk.”

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini