Sabtu, 01 Maret 2014

Alhamdulillah Maret!



Kurang lebih lima belas hari sudah saya menulis di blog kesayangan ini, dengan label tulisan #30HariMenulis. Ada perasaan bangga, sudah separuh perjalanan untuk berusaha konsisten dalam menulis. Sebenarnya ada beberapa hal yang mendasari saya untuk tetap berusaha konsisten dalam menulis pada label tulisan #30HariMenulis ini. 

Pertama. Dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, Ayah saya pernah berkata pada saya, “Jika kamu sudah mulai menyukai seorang gadis, maka kirimilah ia satu surat. Entah, berisikan tentang apa saja untuknya. Kemudian sebelum kamu mengirimkan kepadanya, taruhlah dulu di meja belajarmu supaya kamu selalu semangat untuk pergi ke sekolah.”

Kedua, ternyata cara klasik itu lebih berkesan dari pada cara-cara instant nan modern seperti saat ini. Saya beruntung, meski saya tidak tinggal serumah dengan Ayah dan Mamak saya, tapi di rumah yang saya tinggali saat ini bersama Kakek dan Nenek, tersimpan beberapa buku-buku peninggalan Ayah dan Mamak saya. Pernah pada kesempatan lain, saya menemukan beberapa kotak yang berisikan ribuan surat dari kedua orang tua saya, surat yang mereka buat dulu saat mereka sedang jatuh cinta. Saya membaca bagaimana Ayah saya sedang merayu Mamak saya melalui surat, kemudian Mamak membalasnya dengan satu puisi yang romantis. Argh, mereka pernah muda juga ternyata!

Ketiga, saya percaya ada beberapa hal selain doa yang tak pernah mati, yaitu tulisan. Pernah pada satu halaman Mamak menuliskan satu puisi. Pada surat tersebut Mamak menuliskan puisi untuk seseorang yang lahir pada tanggal 13 Februari. Seperti monolog ringan untuk mengawali puisi tersebut. Puisi tersebut seolah berteriak dengan lirih memuja dan memuji pada satu nama dalam surat tersebut. “Saya kaget saat menuntaskan puisi dalam surat tersebut, surat yang tertulis pada tanggal 13 Februari 1990 di Surabaya itu, ternyata menceritakan tentang saya yang waktu itu sedang berumur satu tahun.”

Keempat, kenangan dan masa depan adalah satu paket yang utuh dalam hidup. Begitu pun saat berbicara tentang cinta dan tujuan, kedua hal tersebut membutuhkan usaha serta pembuktian. Dengan menulis saya dapat merangkum kenangan, merapikannya dan dapat lebih bersahabat dengannya tanpa harus melawannya. Dengan menulis masa depan dapat kita persiapkan dengan matang, karena dari apa yang kita tulis kemarin kita lebih mengerti langkah apa yang harus kita ambil setelahnya.

Saya pernah mendengar satu kalimat baik dari Ayah saya, “Lakukanlah, Lakukanlah kebaikan, tanpa pedulikan nantinya kamu akan menjadi apa dan bagaimana? Jadilah apa saja, dengan perasaan yang utuh dan berbahagialah!”

Mungkin dengan menulis saya dapat merangkum duka, menerjemahkan kebahagiaan, serta mengejawantahkan harapan, atau juga lebih bersahabat kembali dengan kenangan. Apa pun itu saya ingin berkata dalam diri saya sendiri, “Tetap menulis, dan tetaplah berbahagia!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar