Tinggalkan Lesung Pipimu (Part 2)



“Ajari aku membaca hujan
Agar aku mampu membaca air
Ajari aku mendengar angin
Agar aku sanggup mendengar
Lirih jeritan di balik bahana
Bahana, suaramu, suaramu..”
Dialog Dini Hari - Membaca hujan

Langit di luar jendela pesawat sudah mulai berganti. Langit tampak menghitam rata. Jakarta diguyur hujan dan Luna tersenyum senang. Senang karena dia tidak menjadi bagian dari kegelapan itu. Meski di bawah sana, barangkali Adit pacarnya, sedang terjebak macet yang di Jakarta selalu sepaket dengan hujan. Adit yang sedang menuju bandara untuk menjemputnya. Realita sudah mulai menggapainya. Realita bisa rindu juga rupanya.

***

Dua hari berikutnya Luna dan Rama tak bisa bertemu, tetapi tetap berkomunikasi melalui SMS. Rama menawarkan diri untuk mengantarkan Luna ke bandara esok harinya. Tanpa berpikir, Luna mengiyakan.

“tut,tutut.” Bunyi nada SMS dari seluler Rama.

LOL!” SMS Luna kepada Rama.

“Kok ketawa?” jawab Rama.

“Pengin aja, Ayo buka laptop!” Ajak Luna kepada Rama, untuk memulai obrolan.

Dan seperti biasa Luna memulainya dengan awalan Dear. Rama membalas dengan emoticon titik dua tutup kurung.

Rama: Ngga’ kemana-mana? Ini malam terakhirmu kan?

Luna: Pengennya ke Korea, tapi kok jauh ya?

Rama: Aku pengin ke Hotelmu.

Luna: Ini jam berapa? Kamu gila ya?

Rama: Banget. Kenapa kok tiba-tiba pengin ke Korea?

Luna: Bukan tiba-tiba, tapi sejak 5 tahun lalu aku pengin ke sana. Pengin liat konser SNSD langsung, lalu berkeliling Seoul.

Rama: Memangnya tidak ada yang lain di pikiranmu selain lagu dan drama Korea? Apa yang kamu suka dari mereka?

Luna: Tidak ada alasan untuk tidak menyukai mereka. Aku suka saja. Lagian aku pengin berlibur jauuhh sekali dari pekerjaanku dan Indonesia.

Rama: Separah itukah pekerjaanmu? If you hate it so much, why don’t you quit?

Luna: Easy for you to say. I’m not like you. I don’t have production houses waiting for my music scores. I don’t have books to translate everyday. I need to pay rent. Nyicil mobil, bayar zakat... Oh, wait. You’re a moeslem but do not practice. See? I’m not like you. I have parents to please, nephew and nieces to buy cute clothes for. I’m not like you, making a living for yourself only_

Untuk beberapa detik jari-jari Luna berhenti di atas tombol “Enter” sebelum kemudian menekan tombol backspace dan menghapus kata-kata sinisnya. Lalu menggantinya dengan:

Luna: Its an option, but not mine to take.

Rama: Why not? Its your life?

Luna: Sudahlah.

Rama: You must be tired. After all it is 3 am.

Luna lama tidak menjawab. Dia kesal. Tapi tidak pada Rama. Namun pada dirinya sendiri. Yang terperangkap dalam pekerjaan dengan atasan tak kompeten yang menyebalkan.

Keperluannya ke Jogja pun untuk mewakili atasannya yang lagi-lagi mendadak melimpahkan tanggung jawab pada Luna. Sesuatu yang sangat mahir dilakukannya selama Luna bekerja di perusahaan konsultan tersebut. Akan tetapi Luna sadar, bukan semata dirinya bawahan yang merasa memiliki atasan tak becus dan semaunya sendiri. Setiap orang punya kecenderungan merasa lebih hebat dan lupa akan kekurangan-kekurangan yang dimiliki.

***

Rama menatap layar yang tidak berubah selama semenit. Tidak ada sahutan dari Luna. Dia tahu Luna tidak menyukai pekerjaannya, terutama atasannya langsung. Dia tahu, berbeda dengan dirinya, Luna berusaha mengenakan segala titel yang dia punya dengan baik. Anak, kakak, adik, tante, wanita karier, sahabat, dan titel termutakhir: pacar orang. Rama hidup dari hari ke hari. dia tidak memikirkan esok hari yang jauh dan tak pasti. Dia tak peduli orang menganggapnya egois dan acuh tak acuh. Baginya lebih baik sendiri daripada harus hidup dengan drama. Hidup bukan dari perkara memenuhi standar orang lain.

Namun, Luna bagi Rama adalah sebuah pengecualian. Baru kali ini dia merasa dirinya menginjak area berbahaya. Dia biasa bergaul “virtual” dengan gadis-gadis berotak seksi. Tapi baru kali ini dia bertemu gadis dengan benak dan bodi sama-sama seksi. Tepatnya malam itu saat mereka pertama kali benar-benar bertemu. Luna yang menyamakan mereka dengan Summer dan Tom dari film “500 Days Of Summer” film favorit Rama.

Rama: Luna? Are you okay?

Luna: Ya.

Rama: Wait. I’m going to your place.

Luna: What? Wait Rama! JANGAN!

***

Rama memaksa berangkat menuju hotel tempat Luna menginap. Itulah Rama, dengan segala kejutan-kejutannya yang sering ia lakukan. Ia bergegas mengenakan celana kargo dan kaos katun kesayangannya, dibalut dengan jaket outdoor warna biru dongker. Menyusuri jalanan Jogja yang tak pernah mati. Pagi buta, ia memaksakan diri untuk menemui Luna yang sudah menolak melalui obrolan maya.

Ia hanya berpikir, tidak ada kesempatan lain selain pagi ini. Ia tak mau bertaruh, dengan menunda dan menunggu momen yang benar-benar pas. Nalurinya mengatakan demikian.

Rama mengetuk kamar nomer 8, tempat Luna menginap. Belum genap ketukan kedua, pintu itu telah terbuka dari dalam. Ternyata Luna sudah menduga, bahwa Rama tak main-main untuk mendatanginya sepagi ini.

Rama: Hai lesung pipi..

Luna: Gila!

Rama: Lama menunggu?

Tanpa jawaban, Luna segera menggandeng tangan Rama untuk masuk ke dalam kamar. Mereka menghabiskan pagi yang belum genap itu dengan saling berpelukan. Sembari bertukar gurauan yang selama ini hanya mereka habiskan melalui telpon dan surat surel.

Ada perasaan takut yang tercermin dari raut Luna pagi itu. Perasaan takut kehilangan, serta rindu yang belum tuntas atau beberapa kecemasan yang akan terjadi setelah ini. Luna beranggapan semua resahnya hanya Rama yang mampu mengobatinya. Seolah sirna dengan tatapan lembut Rama yang selalu membawa Luna ke dalam satu mimpi yang indah. Bernama harapan.

Mereka berdua melepaskan perasaan-perasaan rumit yang selama ini terbesit. Membiarkan suasana datang tanpa rencana dari otak yang terkadang begitu kurang ajar. Mengalir begitu saja. Dan mereka menikmatinya pagi itu pada kursi kapasitas dua orang yang menghadap jendela ke arah timur. Mereka saling berpegangan tangan, sembari menunggu matahari terbit.

***

Seperti biasa, Adit menunggu Luna di KFC dengan segelas Coke kesukaanya. Luna memeluk leher Adit dari belakang. Menciumi wangi parfum yang Luna belikan untuknya. Ada kerinduan yang dirasakannya. Begitu kuat. Tapi Luna tak yakin untuk siapa. Adit atau Rama? Adit dengan sigap bangkit, lalu meraih bawaan Luna dan dengan tangan yang satunya menggenggam jemari pacarnya.

Luna menangkap bayangan dirinya dan Adit di pintu kaca otomatis. Pasangan yang serasi. Meski Adit bukan sosok pria yang bisa diajaknya berdiskusi seru, Luna merasa dilindungi. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Adit.

Di jalan tol, mobil Adit melesat meninggalkan patung Soekarno-Hatta, Luna membaca kembali SMS terakhir antara dirinya dan Rama:

“Thank you for the lovely visit. I hope we could do it all again someday.”

“The feeling’s mutual. But how come your ‘someday’ seems so far away?”

Lau menghapusnya.

Playlist yang dibuatkan Adit untuknya sedang diputar. Dia merasa seolah sedang menaiki mesin waktu yang makin tak sabar ingin mengembalikannya pada realita.

“Kamu agak gemukan, ya Sayang?” tanya Adit setelah melirik Luna sekilas.

Kata-kata pertama yang diucapkan Adit untuknya setelah seminggu tak berjumpa.

(selesai)

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini