Sabtu, 15 Februari 2014

Tinggalkan Lesung Pipimu Di Sini! (Part 1)


“Memilikimu bak mendulang udara,
diruang hampa, diruang hampa,
aku tak mampu menolak indahmu.”
Dialog Dini Hari – Kau

"Tinggalkan Lesung Pipimu Di Sini!"
Itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya kepada Luna. Bukan “Tunggu aku di kotamu” atau “I’m going to miss you”. Luna sendiri lupa berterima kasih telah diantar ke bandara karena hati dan pikirannya sibuk berebut berbicara, selebihnya salah tingkah. Luna ingin menelusupkan hangat peluknya ke tubuh pria itu. Menitipkan rindu yang mungkin tak ada yang tahu selain Luna dan dia.

Pesawatnya dijadwalkan berangkat pukul 17.55. Mereka duduk di bangku semen yang rupanya merupakan area khusus perokok di seberang pintu utama Bandara Adi Sucipto. Mobil dan taksi lewat silih berganti menurunkan calon penumpang pesawat dan para pengantar. Sore yang hidup. Langit Jogja memperpanjang bayangan-bayangan orang-orang yang lalu-lalang dengan sinarnya yang hangat. sehangat binar mata Luna yang mendengarkan Rama bercerita tentang naskah film yang sedang digarapnya. Waktu sangat pintar menjelma dari bukan apa-apa menjadi begitu berharga di hadapan dua manusia yang saling suka.

“Jam berapa sekarang?”

“16.55. Aku masuk setengah jam lagi, ya?”

“Tunggu dipanggil aja. Kedengaran kok. Masa aku tega,” jawab Rama dengan tenang.

Tahan aku. Tahan waktu. Agar kita bisa menuntaskan cerita sambil bercinta berbantalkan mimpi, pinta Luna pada semesta.

***

Pesawat yang Luna naiki termasuk baru. Ditandai dengan televisi kecil ditanam pada punggung kursi di hadapannya. Saat pesawat lepas landas, Luna menyipitkan mata ke arah bandara, berharap melihat sosok tinggi Rama dengan kedua tangan bersembunyi di saku, menatap pesawat yang membawa Luna pergi. Luna menepis harapan tolol yang tak mungkin itu. Pasti dia sudah meluncur di jalanan kota Jogja yang tak pernah mendesaknya untuk menjadi apa pun yang dia tak suka.

Sebaliknya, satu jam lagi kota kelahiran Luna akan kembali mengikatnya dengan rutinitas. Rutinitas-rutinitas yang menumpulkan imajinasi, mengeriputkannya dengan macet dan polusi. Luna tidak rela. Dia menghela napas dan memandangnya ke luar jendela. Gradasi warna kesayangannya menguasai angkasa: ungu, merah jambu, dan jingga. Luna kembali menghela napas, kali ini karena keindahan yang dirasa kelewat menyesakkan.

***

Hampir setengah tahun Luna tak berhubungan dengannya. Pertama, karena koneksi internet di kantornya untuk situs-situs jejaring sosial diblokir. Kedua, karena Luna kini punya seseorang yang bisa disebutnya pacar. Sore itu, saat Luna sedang menikmati sisa-sisa akhir pekannya dengan bermalas-malasan di kamar sambil browsing internet, menyapa teman-temannya melalui situs-situs jejaring sosial , ditarik-ulur gelombang informasi, tiba-tiba salah satu tab-nya menyala. Mengedipkan pikiran nama pria itu. Pria yang mampu mengimbangi jalan pikiran Luna yang ruwet. Luna segera mengarahkan kursornya ke sana.

Rama: Hey You.

Luna: Hey.

Rama: :D

Luna: Long time no see.

Rama: Ada yang sibuk pacaran sih.

Luna: :D

Seperti biasa mereka tenggelam dalam pembicaraan yang seru. Luna merasa bertemu dengan seseorang yang mampu mengimbangi kebodohannya dan kepintarannya sekaligus. Seseorang yang memiliki pendapat sendiri dan tidak takut mengungkapkannya.

Sesi chat mereka kurang lebih menggambarkan bahwa semua beban mereka berdua adalah taman yang berisi ribuan bunga yang mekar di sisi sungai yang bening, semuanya tumbuh dan mengalir begitu saja tanpa ada beban. Perbincangan mereka acak, tapi menyenangkan. Selalu membuat Luna berpikir dan mempertanyakan hal-hal yang selama ini dia yakini. Mencoba melihatkan hal-hal tersebut dari sudut yang berbeda. Bagi Luna, Rama semacam oase berpikir. Dan Luna semakin sayang padanya meski sudah lama mereka tidak bertatap muka.

***

“Aku akan menginap di Hotel Santika. Kalau mau kita bisa ketemuan. SMS ya. Masih punya nomorku, kan?” Pesan singkat itu Luna titipkan di laman message Facebooknya. Tanpa beban. Diiyakan syukur, tidak juga tidak mengapa.

***

Luna membuka-buka majalah yang tersedia di lobi. Berusaha terlihat sesantai mungkin. Meski hatinya kebat-kebit dan dia mulai merasa kebelet pipis. Rupanya kupu-kupu di dalam kemihnya sudah mulai berkontraksi dan menggelitiknya dengan sayap-sayap mereka. Wajah John Mayer di majalah Rolling Stone edisi terkini tidak mampu mengalihkan perhatiannya dari pintu utama hotel.

Luna sedang berusaha mengingat satu-satunya foto Rama yang terpasang di Facebook, manakala pria tinggi menjurus kurus dengan sweater hoodie hitam dan celana pendek menghampiri. Foto di Facebook-nya tidak memberi rasa keadilan bagi pemuda yang kini berdiri dengan senyum dan tangan terulur di depan Luna. Meruntuhkan segala kekhawatiran kopi darat yang mengecewakan.

“Rama.”

“Luna.”

Nice to Finally meet you.

“Sama-sama,” jawab Luna kikuk.

So?

Do you want to sit for a while?

Do you?

Nope. Yuk?”

“Tapi gudeg yang kamu mau jam segini belum buka.”

“Ngak papa. Aku ingin menapaktilasi kota Jogja.”

Rama ingat menemukan sosok Luna dari laman Facebook teman dekatnya. Seorang perempuan yang duduk di hamparan rumput keemasan dengan sebuah buku di tangan. Seulas senyuman yang mengalahkan hangat matahari senja yang memantul dari kacamata minusnya. Bersinar.

Mereka pernah berada di Jogjakarta pada kurun waktu yang sama. Tapi tidak saling mengenal. Meski kebun sastra menjadi tempat yang mereka kerapi bersama. Luna dengan buku Harry Potter sewaan atau literatur inggris berdebu. Sedangkan Rama yang mengakrapi dunia film untuk mengabadikan beberapa kejadian di satu taman untuk program filmnya. Mereka pernah berada pada suatu tempat yang sama, namun semesta belum mempertemukannya waktu itu.

Mereka berjalan melewati becak-becak yang masih mangkal. Melangkah ke arah Tugu dan berbelok ke arah selatan di perempatannya, sebelum keduanya memutuskan untuk duduk-duduk ngobrol di angkringan lor stasiun saja.

***

Malam itu pikiran Luna berkecamuk, Luna membayangkan dirinya dan Rama adalah satu scene dalam film Before Sunrise.

Malam itu mereka berdua saling berbagi mimpi, Berkeluh kesah akan hal-hal yang membuat mereka resah. Beberapa kali keduanya tenggelam dalam tatap yang tak kalah fasih menyampaikan arti.

Perbincangan mereka terus menyala. Kemudian Rama memutuskan untuk mengatarkan Luna menuju hotel. Mereka berjalan menyusuri satu taman dengan rintik hujan yang lirih. Rama mengantar Luna sampai di depan pintu kamar hotelnya.

“Aku cuma takut,” ucap Luna di lorong hotel depan kamarnya, membuat Rama berbalik meski telah pamit.

“Takut apa?”

“Takut kenyamanan ini berubah menjadi ketidaknyamanan saat jarak dan waktu menengahinya.”

“Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bahkan satu menit dari sekarang. Kita tak akan bisa tahu. Jadi, buat apa sok tahu?”

Luna menunduk menatap karpet.

“Lagi pula, sebelum malam ini jarak dan waktu tidak pernah menjadi masalah, bukan?”

Diam-diam Luna berharap Rama mengangkat dagunya dan mencium keningnya seperti di film-film korea romantis yang ia gandrungi.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar