Tantangan Uang Receh



Menara Receh.

Saat kita membeli beberapa barang di toko-toko kecil dan besar, kemudian kita membayar dengan uang yang bernominal lebih besar dari yang kita beli, kita mendapat uang kembali dari kasir atau penjual. Bentuk uang kembalian tersebut ada yang kertas dan ada yang koin atau sering saya sebut: receh. Saya mempunyai kebiasaan menyimpan uang-uang receh tersebut pada kantong bekas berbahan kain. Biasanya jika saya melakukan perjalanan, kantong yang berisikan uang receh tersebut saya bawa dengan berbagai tujuan, seperti saat saya memutuskan pergi menggunakan bis ekonomi, tak jarang uang receh sebagai tip untuk ‘musisi jalanan’. Apalagi jika saya terpaksa pergi ke toilet umum, uang receh sebagai ‘syarat’ untuk mengganti jasa kebersihan di toilet tersebut. Pernah saya berkegiatan di luar ruangan, saat saya dan kawan-kawan selesai mendirikan tenda, kami memutuskan untuk bermain poker tanpa hukuman dan sore itu benar-benar membosankan, ujung-ujungnya recehan yang saya punya menjadi taruhan untuk menyemarakkan permainan.

Pernah kita dengar beberapa hal dikaitkan dengan receh, ambil contoh untuk seseorang (warga sipil) yang mengatur lalu lintas di pertigaan dan perempatan yang kerap kali macet. Mereka dijuluki dengan polisi cepek atau polisi receh. Malah julukan receh yang pernah saya dengar ada yang extreme, biasanya julukan tersebut diberikan untuk laki-laki/wanita yang gampangan, dengan sebutan laki-laki receh atau wanita receh. Haduuh..

Pada tahun 2000-an, receh juga dijadikan sebuah pergerakan kemanusiaan. Pernah kita dengar koin untuk si Anu dan si Itu, sebagai wujud bantuan kesehatan atau perekonomian. Receh diibaratkan sebagai bentuk persatuan dan kesatuan, dari hal yang amat kecil dan remeh temeh, tetapi memiliki nilai yang luar biasa kuat dan besar. Berapapun besaran nominal uang yang kita punya sekarang, tak dapat ‘berbunyi’ jika kita tak mempunyai koin Rp.100,- atau kurang dari itu.

Pada malam akhir pekan, saya melihat sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta, dengan acara tantangan untuk salah satu anggota keluarga. Tantangan tersebut bermacam-macam, beberapa hal yang menarik bagi saya adalah tantangan yang diberikan berupa hal-hal remeh dan jarang sekali kita perhatikan. Ambil contoh tantangan untuk meniup koin dari permukaan meja atau permukaan yang datar untuk dapat masuk kedalam gelas. Sepele, tapi apakah kita bisa melakukannya dengan baik?, belum tentu.

Mungkin untuk meniup koin supaya dapat masuk kedalam gelas, nampak mustahil. Baik, mari kita coba untuk menyusun koin secara vertikal, seperti yang sering kita lihat di acara perlombaan dan tantangan berhadiah. Apakah anda sudah pernah mencobanya?

Saya pernah mencobanya. Pertama, saya menyiapkan koin/receh yang sering saya kumpulkan. Saya mencoba langkah awal dengan jumlah Rp.33.600,- dan berhasil. Receh yang saya pakai untuk menyusun membentuk ‘menara receh’ tidak sejenis, melainkan dari beberapa nominal yang berbeda seperti uang Rp100,- warna perak dan kuning; Rp200,- warna perak; sampai Rp500,- warna perak dan kuning. Tingkat kesulitan jika saya dapat mengatakan sama, malah lebih bervariasi jika dibandingkan dengan satu tipe nominal uang receh, seperti semuannya Rp100,-. Kesulitan lain dari yang saya coba adalah permukaan uang receh yang saya gunakan tidak semuanya mulus, kita tahu uang dari hasil kembalian di Indonesia bermacam-macam sumbernya, mungkin bekas kembalian dari pasar, mungkin juga dari bekas pijat urut ditambah lagi bekas ‘kerokkan’ untuk orang masuk angin. Sangat bervariasi.

***

Nampak sepele, bukan. Tapi tunggu dulu jika anda belum pernah melakukannya dengan uang receh yang anda miliki, “jangan berucap seperti itu!”. Saya menantang kalian, untuk membuat sebuah Menara Receh dengan media uang receh yang anda miliki tentunya. Berikut uraiannya:

1. Media tantangan yang digunakan berupa uang koin Indonesia (Rupiah).

2. Tantangan peserta untuk Membuat Menara Receh dengan komposisi uang receh sebagai berikut:

  • Uang Rp500,- warna perak sebanyak 10 keping,
  • Uang Rp500,- warna kuning sebanyak 4 keping,
  • Uang Rp200,- warna perak sebanyak 40 keping,
  • Uang Rp100,- warna perak sebanyak 200 keping,
Jadi total koin yang digunakan dalam tantangan ini sebanyak Rp35.000,-.

3. Menara Receh yang dibuat harus vertikal dan tanpa bantuan alat seperti selotip dan perekat lainnya. Dalam penyusunannya tidak terpatok atau (tidak harus urut) dari besaran nominal uang yang sudah menjadi persyaratan.

4. Setelah Menara Receh terbangun dan berdiri, ukur tinggi Menara Receh tersebut dan kemudian dokumentasikan melalui foto dengan format .JPEG. 

5. Hasil tantangan Membuat Menara Receh, difoto dengan ukuran kurang dari 1 MB dan dikirim ke email abdurrahmanazhimali@gmail.com dengan judul ‘Tantangan Uang Receh’. Yang berisikan hasil foto uang koin yang sudah berdiri secara vertikal, foto komposisi uang koin yang digunakan (seperti yang sudah saya contohkan, secara horisontal), kemudian tinggi menara receh (dalam sentimeter) yang telah anda buat. Sertakan nama lengkap, nomer handphone yang dapat di hubungi dan acount twitter (jika anda mempunyai).

Komposisi uang yang saya gunakan.
 
6. Hasil foto Membuat Menara Receh dikirim paling lambat tanggal 5 Maret 2014, dan pengumuman pemenang tantangan Membuat Menara Receh akan diumumkan via twitter dan foto hasil dari Membuat Menara Receh, akan di upload pada tanggal 14 Maret 2014. Melaui acount twitter: @tuan_ali

7. Penilaian meliputi kesesuaian koin/receh yang dipergunakan dalam mengikuti tantangan. Berhubung hasil tantangan dinilai dari media foto, keunikan dari foto yang dikirim juga menjadi poin plus.

8. Peserta yang beruntung akan mendapatkan voucher pulsa elektrik sebesar Rp100.000,- dan satu Buff (multi-purpose).

9. Info update tantangan Membuat Menara Receh, baik konfirmasi keikutsertaan dan info-info yang berkaitan dengan tantangan. Diberikan kode #MenaraReceh pada Twitter.

10. Semoga beruntung kawan-kawan untuk membuat #MenaraReceh.

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini