Rabu, 19 Februari 2014

Nikmatnya Travelling



Segarkan ingatan saat menghirupku
Resapi rasa hadirnya diriku
Aku bisa hidupkan dirimu hari ini
Aku bisa..

Dialog Dini Hari – Oksigen

Nikmatnya Travelling.
Ada kalanya kita mengutuki nasip sendiri dengan beberapa pernyataan yang tak mendasar. Lalu berusaha melawan diri sendiri, menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi pada diri kita. Perasaan bosan dengan rutinitas, perasaan jengah dengan lingkungan, yang tanpa sadar telah menyudutkan kita menjadi satu identitas diri. Mengkotak-kotakan wilayah hidup, sehingga kita sendiri hampir lupa siapa diri kita sebenarnya.

Lupa dengan tujuan, lupa dengan apa yang membuat kita tersenyum dengan tulus. Kita diperkosa habis-habisan dengan waktu dan lingkungan yang kita sendiri ragu menyebutnya apa? Apa satu kebahagiaan atau satu kepiluan hidup yang tidak kuasa kita tolak keberadaannya.

Banyak dari diri kita sibuk mengasihani orang lain, tapi tak pernah mampu mengasihani dirinya sendiri dengan tulus-ikhlas. Kita hanya sibuk menolak untuk bertelanjang, apalagi untuk kemudian menundukkan kepala melihat kemaluan masing-masing. Kita hanya tak mau dilihat kurang. Kita adalah pengecut berupa badut.

Saat bangun tidur pun, kita tak pernah punya kuasa akan diri kita sendiri. Tubuh yang lelah, perasaan yang tak bernyawa. Tapi kita tetap memaksa untuk menuju kamar mandi untuk mencuci muka dengan menahan rasa kantuk yang terkadang bercampur dengan udara dingin pagi hari. Parahnya, kita masih bisa menerka-nerka beberapa hal yang akan kita lakukan nanti. Satu jam yang akan datang, sampai lima jam yang akan datang. Hebat! Semua seolah-olah sudah tertanam dalam pikiran bawah sadar kita, seperti memori yang menyimpan satu fase aktivitas harian sebelum kita benar-benar melakukannya. Kualat!

“Kita sudah membiasakannya, maka kami biasa menebak.”

“Semua terlihat sama, sama seperti biasanya.
Tapi, aku dimana?” di tempat monoton seperti biasa.

“Goblok!”

***

Jika sudah seperti itu kawan, mungkin ada baiknya kita memberanikan diri untuk keluar dari wilayah tersebut, sebentar saja. “kita butuh piknik.”

Bukan lari dari tanggung jawab, bukan menyerah dari tantangan. Tetapi lebih dari itu, otak kita butuh daur ulang. Butuh oksigen yang lebih. Supaya kita dapat terus berpikir jernih. Biarkan mata beristirahat sejenak, persilahkan mata untuk melihat beberapa hal yang berbeda. Melihat beberapa hal yang mungkin jarang kamu lihat, atau kejutan-kejutan kecil yang mampu membuat kita lebih peka lagi. Kejutan-kejutan kecil dalam hidup itu, sama serunya saat kamu jatuh cinta dengan seseorang.

Mungkin tolak ukur dari kamu butuh piknik adalah saat beberapa hari ke depan yang akan kamu lakukan dapat mudah ditebak. Kamu dapat menebak dengan siapa kamu bertemu, sampai kamu dapat menerka kamu akan memutuskan pulang dengan siapa.

Terkadang, kita juga dihadapkan dengan kondisi yang apa boleh bikin. Kita juga terkadang tak memiliki kuasa atas diri kita sendiri untuk berani merubahnya, apalagi keluar dari zona itu. Sudah terlanjur nyaman. Jika sudah begitu, kita memang butuh piknik, untuk sebentar memutar sekrup otak supaya tak terlalu kencang mengikat. Kita butuh piknik kawan, dan saya sering menyebutnya dengan “travelling”.

***

Saya akan sedikit berbagi dengan kalian. Berbagi bagaimana nikmatnya saat travelling. Ambil contoh dengan kondisi tempat tinggal saya sekarang, kota metropolitan. Kota yang mulai berbenah dengan segala hiruk-pikuknya. Kota ini mulai meniru padatnya Ibu kota Jakarta. Serangan dari penjuru daerah, dari pagi sampai pagi lagi tak pernah berhenti. Itulah Surabaya.

Melihat fenomena ini, bisa dipastikan kita sendiri butuh rehat. Beristirahat sejenak untuk menarik nafas dengan tarikan panjang, dan menyandarkan punggung yang lupa untuk disandarkan.

Baiklah, sampeyan butuh contoh nyata saja. Karena bisa dipastikan saat saya berbicara panjang lebar, sampeyan-sampeyan tak akan pernah percaya bagaimana nikmat travelling itu diceritakan dengan kalimat-kalimat yang saya tuliskan. Yang ada sampeyan semua jadi bosen dan bingung.

Lebih baik, sampeyan-sampeyang melihat beberapa foto yang akan saya tampilkan. Kemudian sampeyan-sampeyan bisa menilai sendiri bagaimana jika berada di sana. Ada sampeyan berdiri atau duduk dengan suasana yang jarang anda lihat apalagi temui, dapat membuat sampeyan lebih peka dan bersemangat.

Patahan dan Kabut Pagi Kawah Ijen

Entah, tidak ada alasan khusus untuk memilih foto ini, apalagi untuk judul yang saya tuliskan sekarang. Mungkin saya ingin mengajak anda untuk sedikit mengetahui Kawah Ijen. Atau jika anda sudah pernah berkunjung ke Kawah Ijen, saya mengajak anda untuk mengulang kembali ingatan-ingatan perjalan menuju warna danau dengan hijau toska yang terkenal itu.




Para Penambang Belerang

Mungkin pada kesempatan itu, saat saya berkunjung ke Kawah Ijen, bukan keindahan kawah yang coba Tuhan perlihatkan kepada saya dan rekan-rekan. Kami tak bertemu blue-fire. Jangankan blue-fire, Kawah Ijen yang hijau toska itu pun, tak kami lihat dengan jelas, karena kabut serta asap yang dikeluarkan dari kawah bercampur aroma belerang yang khas itu terus-menerus keluar membuat dada kami sesak.

Mungkin Tuhan coba memberi tahu saya, ada beberapa saudara-saudara kita di muka bumi ini, yang kebetulan bekerja cukup keras untuk hidup dan menghidupi keluarganya dengan menambang belerang. Mereka adalah penambang belerang di Kawah Ijen. Memikul belerang dengan beban hampir 95 kilogram, dengan kurang lebih empat kali estafet bolak-balik. Maka lihatlah mereka dalam berupaya, kemudian ambil pelajaran darinya supaya saya lebih bersyukur.



“Gendeng, pundakmu isok anjlok! Cuk..”

Ragam Rupa Pengunjung Kawah Ijen

Tidak dapat dipungkiri, satu kawasan yang dapat ditempuh dengan biaya murah dan dengan akses kawasan yang mudah. Pastilah pengunjung pun banyak berdatangan. Apalagi gema Kawah Ijen memang tiada tanding. Keunikan dan karakter Kawah Ijen, yang dapat kita temui saat berada di perjalanan sampai berada di kaldera, memang cukup tenar untuk wisatawan asing.

Bukan hanya wisatawan asing saja, yang memenuhi kawasan Kawah Ijen. Wisatawan lokal yang memanfaatkan liburan akhir pekan seperti saya juga tak kalah banyak. Maka inilah pemandangan menarik yang selalu dapat saya ambil pelajaran. Apalagi saya sangat gemar melihat-lihat sekitar, kemudian memikirkan apa yang saya lihat, mengapa bisa seperti itu? dan banyak lagi beberapa hal yang saya pikirkan.

Bumi kita Indonesia ini, sangat cantik. Ijen adalah sebagian kecil yang Tuhan coba tunjukkan kepada saya dan rekan-rekan untuk liburan. Kemudian saya juga menemui ragam rupa dari ciptaan Tuhan yang sungguh mulia, yaitu manusia dengan semua perangainya. Jauh lebih beragam dari manusia-manusia yang berada di pasar, kubikel kantor, apalagi rumah toko.

Gunung yang menampung keragaman. Mulai dari sang pencari pencerahan sampai pencari masalah hidup yang bertahan hidup.



Tapi saya bersyukur, masih bertemu beberapa orang diperjalanan yang selalu menjaga senyumnya. Saya bangga dengan orang-orang yang menjaga senyumnya untuk orang lain. Entah mereka sedang menertawai sebuah kesedihan, atau menertawakan diri sendiri. Saya tidak tahu, yang saya tahu senyum adalah salah satu ibadah terkecil yang bisa sampeyan dan saya lakukan untuk orang lain. Maka biasa saya katakan, nikmat travelling adalah nikmat yang baru benar-benar kita rasakan saat berada di rumah, kemudian tersenyum tulus kepada orang-orang terdekat kita.

Seperti halnya, jika sampeyan tidak punya uang apalagi waktu untuk travelling, sudahlah sampeyan jangan memaksakan diri, apalagi menyiksa diri sendiri, cukup tersenyum saja. Toh sama saja, senyum itu sama dengan beribadah kan. Hahaha..

Nuikmaaatt Terrsuenyuuumm! :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar