Mengasihani Diri Sendiri



Hari ini saya memutuskan untuk pulang terlambat. Saya mengunjungi sebuah kedai yang berada tak jauh dari rumah. Ritual ini sebenarnya sudah sering saya lakukan selama masih kuliah dulu, yakni mengunjungi sebuah kedai, kafe atau sejenisnya. Saya senang mengamati sekitar, mencari suasana baru atau menuntaskan buku yang terpaksa tertutup semalam oleh kantuk.

Saya datang sendiri ke kedai ini. Tidak ada alasan khusus mengapa saya datang ke kedai ini seorang diri, mungkin memang niat awalnya hanya mencari suasana baru dan meneruskan membaca buku, maka saya memutuskan untuk datang sendiri. Saya melihat beberapa pasangan muda-mudi yang sedang memesan kopi dan beberapa yang lainnya memesan lemon tea. Mereka nampak berbahagia, bertukar cerita satu dengan yang lain. Dan anehnya saya baru menyadari, bahwa hanya saya saja yang datang sendiri ke kedai ini.

Akhir-akhir ini saya baru menyadarinya, ada beberapa hal yang tidak terlalu penting sebenarnya untuk dipertanyakan. Namun ada beberapa hal yang ganjil jika kita coba amati. Seperti seseorang yang datang ke kedai seorang diri, sampai kemudian seseorang menonton bioskop seorang diri. Apakah ada di luar sana seseorang yang melakukan hal yang serupa dengan apa yang saya lakukan, “Nampak aneh kah?”. Menurut saya, “Tidak”, Biasa saja.

Mungkin kita hanya jarang berjalan sendirian, teramat komunal.

Seperti saat saya berada di toko buku. Melihat buku-buku yang berjudul atau bertemakan tentang kesendirian. “Sendiri dalam Senja”, “Sendiri Termangu Menunggumu”. Dan semua mengarah pada satu kata yaitu: sendiri. Sangat tidak umum, saya sering berjalan sendiri, dan jarang sekali ada  seseorang yang bernasip serupa dengan saya.

***

Saya pernah membaca satu tulisan dari Ardi Wilda tentang topik yang serupa dengan apa yang  saya tulis di atas, yaitu bertemakan “sendiri”, dan “kesendirian”. Saya kaget ternyata di luar sana ada seseorang yang ‘hampir’ bernasip serupa dengan saya. Saya katakan ‘hampir’, karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar sama dan persis.

Ia mengatakan bahwa, cerita-cerita jaman dahulu sering mengisahkan topik yang serupa. Seperti di mana kita adalah bagian dari sebuah entitas yang besar. Malam ini misalnya, saat saya membaca, subjek ceritanya tidak pernah menampilkan dirinya yang sendirian. Subjeknya adalah mereka-mereka yang menjadi bagian dari sebuah entitas besar, Pak Lurah dalam sebuah desa pemulung, guru ngaji di perkampungan yang tak religius. Mereka bukan subjek-subjek yang merasakan kesendirian. Atau meromantisir kesendirian. Tapi dalam kebersamaan dengan “yang lebih besar” tersebut, saya merasakan subjek-subjek ini adalah mereka yang hidup dalam kesendirian.

Tentu naïf membandingkan karya saat ini dengan yang dulu, banyak konteks yang jelas berubah. Tapi buat saya menarik ketika kita berkisah soal yang “sendiri di kafe” ini membanjiri toko buku. Kemudian menjadi begitu klise dengan imbuhan ‘senja’, ‘temaram’, ‘kemuning’ dan banyak kata lain yang sudah habis diromantisir. Padahal saya jarang sekali menemui sosok-sosok “sang penyendiri” ini di kehidupan nyata. Tiba-tiba bertemu dan berbincang hangat setelahnya. Jarang sekali.

Mungkin memang tulisan tak perlu jadi spion kehidupan. Tapi jika ia bukan spion, bukankah ia bisa juga berarti harapan terdalam? Bisa jadi kita risih dengan kebersamaan dan menciptakan alter ego diri kita sendiri dalam sosok-sosok individual ini. Ketika makan malam kita jengah dengan pertanyaan tipikal orang tua, ketika di pertemanan kita jengah dengan indikator kesuksesan yang begitu bias, pun saat dalam sebuah relasi kita jengah dengan mis-persepsi tentang masa depan yang ideal. Namun kita tak pernah berani menghadapinya, tokoh-tokoh sendiri itu kemudian maju sendiri.

Jika itu terjadi, mungkin kita memang tak pernah sendiri. Dalam kesendirian itu kita merindukan sesuatu yang komunal. Kita merindukan entitas yang lebih besar. Merindukan keluarga yang hangat di meja makan, merindukan teman bertukar pikiran yang tak bias dalam pemikiran. Begitupun merindukan seseorang yang kita cintai atau pasangan. Dalam kesendirian tokoh-tokoh itu mungkin para penulis sedang mengumpat dari kenyataan. Berteriak tanpa suara.

Sedihnya tokoh-tokoh itu adalah penegasan bahwa ia tetap bagian dari sebuah kelompok besar. Dan saat tokoh-tokoh sendiri maju bersama-sama dalam rak-rak toko buku, mereka membuat yang sendiri-sendiri menjadi begitu terkelompok. Sebuah spion besar akan ketakutan jadi bagian dari entitas yang lebih besar. Dan ketika mereka berusaha menjadi begitu sendiri di kafe di ujung antartika sekalipun, mereka sebenarnya sedang menegaskan mereka sedang beramai-ramai. Beramai-ramai menyatakan dirinya takut dengan kesendirian yang nyata. Kini saya bingung apakah harus mengasihani tokoh-tokoh yang selalu sendiri itu atau mengasihani saya sendiri.

1 komentar

Pasang Iklanmu di sini