Jumat, 21 Februari 2014

Maafkan Saya yang Masih Belajar ini



Saya yang tak tau diri, ingin meminta maaf.

Menurut saya, tidak ada waktu yang benar-benar tepat. Seperti pada kesempatan, saat saya bertemu dengan Ayah. Berbincang di teras rumah, perihal beberapa rencana yang hendak saya lakukan. Seperti rencana saya untuk memutuskan merintis sebuah usaha, dan perbincangan mengenai apa yang telah saya lakukan. Mengenai prestasi-prestasi yang sudah saya dapatkan.

Mungkin kami yang tak pernah bertemu dalam satu sudut pandang yang sama. Membuat perbincangan sore itu, seperti acara debat di televisi yang selalu meninggalkan kebingunan. Ayah yang memiliki aksen bicara yang keras, tegas, dan terkesan ingin menangnya sendiri membuat saya tersinggung dan tidak terima. Saya pun tidak ingin kalah. Saya berpendapat bahwa sesuatu hal yang kecil, akan menjadi besar nantinya, jika diupayakan dengan usaha yang keras pula. Upaya yang kita lakukan untuk mewujudkannya tidak akan pernah mungkin terlihat dalam waktu satu dua hari saja. Ambil contoh, keinginan saya untuk merintis usaha di bidang budidaya jamur dan pupuk organik.

Ayah mungkin melihat beberapa pengalaman yang sudah-sudah. Melihat beberapa hal yang sudah beliau saksikan dan alami. Bahwa menurut beliau, saya tidak akan pernah bisa menjadi seorang wirausahawan

Tetapi menurut saya, semua sah untuk dibicarakan namun tidak semua perbincangan dengannya dapat diambil satu pakem yang utuh untuk satu kejadian lain. Menurut saya, semua hal yang beliau katakan tidak dapat saya terima dengan mentah-mentah. Sekalipun beliau adalah orang tua saya sendiri. Saya masih belajar. Sekalipun satu kelebihan dapat menurun melalui susunan genus dan sel darah sekalipun. Begitu pun sebaliknya. 

Saya akui kami memiliki sifat yang sama-sama keras. Baik itu prinsip, dan juga pemikiran.

Pernah ada hal lain yang membuat saya tersinggung. Saat saya memutuskan bergabung menjadi bagian pasukan pengibar bendera waktu SMA. Saya yang memiliki tinggi badan kurang dari 180 senti, dapat dipastikan tidak akan mampu menjadi bagian penting barisan pengibar tingkat Kota apalagi Nasional. Tapi saya beranggapan, semua akan berubah selama kita meyakininya.

Saya beranggapan semua pasti memiliki ruang. Semua yang tersudut dan buntu akan runtuh pada satu titik, tinggal kita mau mencari celahnya atau tidak. Singkat kata, saya tertarik untuk mengikuti perlombaan “Kibar Bendera se-Gerbang Kertasusila”, atau setara dengan perlobaan tingkat Propinsi. Saya membuktikannya, bahwa saya mampu membawa pulang Juara I dalam ajang tersebut.

Dengan perasaan bangga, saya bergegas pulang untuk mengabarkannya kepada Ayah. Namun bukan satu pujian yang saya terima untuk jerih payah yang saya wujudkan di depan beliau, tetapi kalimat yang ‘masih mampu’ saya ingat sampai detik ini yaitu, “Ayah tidak butuh ini!” sambil kemudian melempar semua sertifikat dan trofi yang saya peroleh itu di hadapan saya.

Semakin di remehkan, dan semakin terhina. Nadi untuk membuktikan tidak semakin melemah. Sebaliknya, saya semakin terpacu untuk mewujudkannya. Saya berlatih lebih giat lagi untuk ajang pemilihan pasukan pengibar bendera di Gedung Negara Grahadi Jatim. Meski hanya untuk penurunan bendera di tanggal 17 yang bernama “Parade Surya Senja”, saya bersemangat untuk menjadi bagian penting tersebut. Dan saya beruntung menjadi bagian penting di dalamnya.

Tapi apa respon ayah untuk itu? Tidak ada. Sekalipun untuk satu sudut pandang yang mengarah pada penghargaan yang saya perjuangkan. Baginya, hal-hal semacam itu hanya omong kosong saja.

Satu evaluasi yang saya lakukan sebagai anak. Saya memutuskan untuk menemui Ayah, menanyakan beberapa hal yang ganjil diantara kami. Saya beranggapan, bagaimana pun seorang anak akan nampak salah di hadapan orang tua dan selalu dianggap sebagai anak kecil berapa pun usianya.

Saya tetap menjalin komunikasi yang baik dengan beliau, menelanjangi semua apa yang telah saya lakukan dan mencoba mengosongkan prasangka. Saya mencari tahu apa yang sebenarnya Ayah inginkan dari saya? ternyata Ayah tidak ingin saya gagal untuk masuk di Perguruan Tinggi Negeri. Baginya itu yang penting.

Baik jika itu keinginannya, saya akan mencoba merujuk misi saya kembali. Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin. Jangankan Perguruan Tinggi Negeri, jika Ayah mengutarakan keinginannya untuk saya bersekolah di Universitas Negeri Paman Sam pun saya akan berupaya untuk itu. Ridho orang tua, adalah ridho Gusti Allah.

Singkat cerita, tidak ada waktu yang terbuang. Saya membuat jadwal untuk treatment diri. Waktu makan, main, sampai waktu mengerjakan tumpukkan soal UMPTN pun saya timer. Begitu ketat. Demi satu senyuman seorang Ayah, saya lakukan dengan sungguh-sungguh.

Saya katakan lagi tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya mungkin. Sebelum rekan-rekan saya masuk di Perguruan Tinggi Negeri, saya pun sudah berbangga karena dua kursi PTN sudah saya kantongi. Saya diterima di Universitas Brawijaya dan Intitut Teknologi Bandung.

Saya pun segera memberi kabar bahagia itu kepada Ayah. Tidak sesuai ekspektasi. Ada raut kekhawatiran yang coba ayah perlihatkan kepada saya. Kemudian, ada kalimat yang keluar untuk mencoba menenangkan saya yang sedang gusar hati. Ayah ingin saya untuk mencoba UMPTN, dan mengambil pilihan yang berlokasi di Surabaya saja. Saya lemas, dan mbatin.

Baiklah, saya berpikir positif saja. Mungkin ada beberapa kekhawatiran yang beliau pikirkan. Bagaimana pun seorang Ayah akan lebih mengerti kondisi anaknya. Padahal saya tidak pernah mempercayai argumen semacam itu. Bagi saya manusia berubah dan tidak akan pernah dinamis, apalagi untuk seorang anak yang hidup jauh dari orang tua selama 13 tahun lamanya. Ada yang tidak mereka ketahui sepenuhnya pada saya. Begitu pun saya, yang masih belajar mengenal seorang Ayah sendiri.

Demi beliau, dan demi senyuman dari seorang Ayah yang saya hormati. Saya masuk di Universitas Negeri yang Ayah inginkan. Dan saya bertemu banyak orang-orang hebat di dalamnya. Tapi perasaan kecewa untuk sang Ayah belum tertuntaskan.

***

Beberapa hari lalu, seorang rekan saya mengalami ujian perkara kematian dan kepulangan manusia. Tentang kepulangan manusia yang selama ini saya kenal sebagai sosok yang memberi tantangan dan memberi treatment hidup, yaitu sosok Ayah. Ayahnya telah berpulang pada kamis malam. Saya mengenal sahabat saya ini cukup lama. Saat saya menjalani kehidupan di kampus. Banyak yang sudah kami lakukan bersama, mulai membuat acara kampus sampai terakhir kali saya meninggalkannya pada satu acara trekking di salah satu gunung paling timur di Jawa Timur karena ia berjalan sangat lambat. Ini juga yang membuat saya ikut merasakan bagaimana berdukanya seorang Cipto Dwi Handono saat Ayahnya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta.

Dalam kunjungan duka itu, saya sengaja tidak menanyakan bagaimana ia sekarang dan bagaimana kejadiannya. Saya hanya ingin mendengar saja darinya. Dan ia pun seolah mengerti apa yang saya maksud, kemudian ia bercerita bagaimana sang ayah diambil pada pukul 17:30 WIB. Sebelum Almarhum berpulang, Cipto sempat mendengarkan pesan untuknya dari sang Ayah. Sebuah pesan yang begitu dalam, tapi sayang, Cipto tak ingin pesan tersebut banyak orang yang mengetahui. Saya pun sepakat tak akan menuliskannya.

Saya yang gemar mengamati dan belajar dari apa yang saya lihat. Saat itu saya sedang mengingat kembali beberapa momen saya bersama Cipto dan mengambil pelajaran dari kehilangan malam itu.

Saya mengingat kembali, pernah ada kesempatan untuk kami pergi bersama mengamati burung di daerah Gresik. Ayah Cipto lah yang langsung menawarkan diri untuk mengantarkan kami. Sepanjang perjalanan kami mendengar cerita dari Ayah Cipto, tentang bagaimana keseruan yang ia lakukan saat pergi memancing bersama Cipto. Ada kesan yang saya tangkap, bahwa Ayah Cipto selalu bangga kepada Cipto. Saya pikir ini hal yang wajar terjadi, saat ada seorang Ayah berhadapan dengan orang lain, akan selalu membanggakan anaknya. 

Kemudian saya berkaca pada apa yang saya alami sekarang. Apakah itu berlaku juga pada saya? Timbul lah pertanyaan, “Apakah Ayah saya bangga kepada saya?” Jika pun benar, mungkin hanya sebatas imajinasi saya semata.

***

Dua hari yang lalu, saat saya memutuskan untuk memeriksakan perut di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Saya menunggu cukup lama untuk nomer antrian dengan nomer 20 di tangan. Mungkin ada satu jam saya menunggu antrian yang membosankan itu. Saya berpikir, lebih baik mati dengan cepat daripada menunggu antrian yang membosankan itu.

Saya yang awalnya lebih memutuskan untuk tetap duduk saja di bangku panjang ukuran 3 meter berbahan almini itu, akhirnya goyah untuk keluar ruangan antrian. Mengambil rokok yang saya taruh dikantong sisi samping tas kamera yang saya gendong di punggung. Kemudian mengamati sekitar  sambil merokok. 

Saya mengamati sekitar, saya melihat beberapa kerumunan penarik becak yang sedang bercanda. Dan beberapa muda-mudi yang sedang menunggu angkutan publik pada sebuah halte yang atapnya mengkilap memantulkan warna keemasan, terkena sinar matahari sore.

Tiba-tiba, dari kejauhan ada yang memanggil nama saya. Awalnya saya tidak menghiraukan panggilan tersebut. Tapi suara itu semakin lama semakin mendekat. Saya pun menoleh ke sumber suara itu berasal.

“Mas Rahman?”

“Iya!”

“Sedang Apa di sini?”

“Em, Lagi periksa Bu.”

“Siapa yang sakit? Embah?”

“Bukan. Tapi saya Bu.”

“Loh, Sakit Apa?”

Saya lupa, siapakah Ibu yang di hadapan saya waktu itu. Untuk menghormatinya, saya segera mematikan rokok yang masih separuh saya hisap. Kemudian saya menuruti ajakan Ibu itu menuju kembali ke dalam rumah sakit dan sampai pada akhirnya kami berada di satu ruangan yang lebih mirip kantor daripada ruangan di rumah sakit.

Kami berbincang, dan saya masih mencoba mengingat kembali siapa Ibu tersebut. Ibu itu menggandeng saya mulai dari luar rumah sakit sampai menuju ruangan yang hampir menyerupai kantor imigrasi daripada rumah sakit itu.

Ternyata beliau adalah rekan Ayah saya. Entah, saya sendiri pun tidak terlalu peduli, kapan mereka bertemu atau pertanyaan lain yang berhubungan dengan itu. Waktu itu saya, hanya berpikir nomer antrian saya bagaimana?

Ibu di hadapan saya itu, kemudian diam cukup lama setelah membicarakan tentang dirinya dan Ayah saya. Kemudian, ia beralih pembicaraan mengenai ayah saya saja. Ibu itu mengatakan bahwa saya selalu menjadi topik penting dari setiap kegiatan yang Ayah saya lakukan, entah itu tentang urusan rumah sakit, sampai kegiatan projek lapangan di luar Jawa. Dan Ibu di hadapan saya itu adalah salah satu orang yang pernah dibantu oleh Ayah saya saat di Kalimantan, begitu ungkapnya kepada saya.

“Ibu, tau saya dari mana?” Saya mencoba menanyakan kepadanya.

“Ayah mu selalu membawa buku note warna hijau tua kan?”

“Iya benar.”

“Sehabis Shalat di Masjid Muhajirin, Buku Ayahmu tertinggal. Mungkin jatuh atau bagaimana saya juga tidak begitu paham. Waktu itu ada Takmir masjid yang menemukannya, dan segera menghantarkan kepada saya. Di situ ada fotonya mas Rahman saat berada di Mataram.”

Saya hanya diam, mendengarkan Ibu itu berbicara. Kemudian ia meneruskan kalimatnya sembari mencari sesuatu di sekitaran meja kerjanya.

“Ini kan bukunya Ayah?” tanya Ibu itu, kepada saya.

“Iya benar, ini notenya Ayah.”

“Coba cek lagi, di dalamnya pasti ada fotonya mas Rahman.”

 Kemudian saya menerima buku Ayah saya dari Ibu yang memakai jilbab dengan warna biru muda itu.

Saya terdiam, dan meneruskan membuka-buka beberapa lembar di dalam buku itu. Ada aliran air yang mencoba untuk memaksa keluar melalui sudut mata saya. Saya berkaca-kaca saat melihat ada beberapa foto saya yang diam-diam Ayah simpan.

Kemudian saya dapati ada beberapa tulisan mengenai saya. Tulisan itu bercerita tentang keluhan saya saat berada di rumah Nenek, sampai pada tulisan terakhir yang tidak bisa saya tahan untuk memaksa mata terpejam, karena ada yang sesak di bagian ulu hati.

Tulisan itu berjudul, “Maafkan Saya yang Masih Belajar Ini.”

Buku Harian Ayah.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar