Minggu, 23 Februari 2014

Kurang Piknik

"Tidak akan pernah manusia merasa nyaman pada satu waktu dengan kondisi apapun." 

Begitulah kalimat yang saya dengar setahun lalu dari kakek tua yang saya temui pada saat penyeberangan dari Padang Bai menuju Lembar. Entah, ada perlawanan perasaan saat kakek disamping saya tersebut berbicara seperti itu pada saya. "Apa maksudnya?"

Lambat laun, kalimat tersebut bertaji. Pernah pada satu kejadian, saat saya ingin berangkat menuju Sungai Penuh Sumatera. Saya menyiapkan itinerary dengan matang. Saya memesan pesawat bisnis untuk fasilitas perjalanan udara saya. Besar harapan saya dapat merasakan perjalanan yang nyaman. Namun, tidak sesuai ekspektasi, perjalanan saya terganggu dengan jadwal yang ngaret hampir satu jam lebih delay.

Belum lagi, untuk jalur darat Jambi yang tergolong jalur rawan longsor dan rawan kecelakaan. Karena jalur trans Jambi terkenal menjadi pilihan utama truk-truk besar bermuatan level empat, dengan minimum beban hampir 3-4 ton. Saya pun menyiapkan diri untuk mengeluarkan dana lebih, dengan menyewa mobil yang  baik. Supaya, saya dapat beristirahat atau tidur selama perjalanan, mengingat perjalanan tersebut menempuh kurang lebih delapan sampai sembilan jam perjalanan. Ditambah lagi dengan kondisi malam, apa yang bisa saya dokumentasikan dengan keadaan tersebut. Saya memilih tidur, supaya pagi hari saya dapat maksimal dalam mengambil gambar.

Saat saya memutuskan untuk tidur dengan mobil sewaan yang saya rasa baik tersebut, ternyata sang sopir mempunyai kebiasaan beser, ia sering meminta ijin untuk berhenti mencari semak-semak untuk buang air kecil setiap setengah jam sekali. Akibatnya, perjalanan kami jadi molor bukan delapan jam lagi, melainkan jadi 15 jam. Terpaksa, beberapa janji dengan beberapa pihak diundur. Otomatis, pengunduran mempunyai konsewensi yaitu pembengkakan budget.

Dengan kondisi tersebut, banyak pihak yang merasa saya rugikan. Termasuk saya: jadi rugi.

Mungkin ini sebagian kecil yang dapat saya ceritakan. Karena saya beranggapan bahwa, apapun permasalahannya saya cukupkan untuk pembelajaran saya. Orang lain tidak akan tahu dan akan baik-baik saja. Termasuk salah satunya sang sopir yang masih saya ajak bergurau dan masih saya ajak ngobrol sembari bertukar kretek selama perjalanan tersebut. Meskipun, dalam hati saya dongkol gak karuan.

Saya drama? Saya rasa tidak. Karena, saya mencoba menempatkan diri saya pada kondisi si sopir tersebut. Siapa yang meminta kita jadi sering buang air kecil di jalur yang rawan tesebut? Siapa juga yang ingin memberikan pelayanan buruk kepada custumer? tidak ada. Semua ingin memberi yang terbaik. Dan kita juga harus mengerti perasaan orang lain jika kita ingin dihargai.

Banyak dari kita, termasuk saya pribadi ingin sesuatu yang sempurna. Dengan menyiapkan diri sebaik mungkin, mengatur ini dan itu sebaik mungkin. Tapi kenyataan di lapangan? Sangat sedikit dari yang kita rencanakan tidak berlaku. Lalu, apakah kita jadi uring-uringan? Marah-marah kepada orang yang kita temui? Mendiamkan rekan kerja yang beranggapan, "Lu tuh tau gak sih, kalau gue lagi sebel?" Halooo.. memangnya semuanya harus ngerti apa yang sedang terjadi pada diri kita.

Banyak dari kita yang sudah mulai terkungkung dan jenuh. Banyak dari kita tidak menyadari bahwa otak kreatif yang diberikan oleh Yang Maha Pencipta ini dikunci rapat-rapat dengan kondisi yang monoton. Semua itu ada pakemnya, semua itu ada standarnya. Bener, tidak ada yang salah. Kita wajib menyiapkan diri sebaik mungkin, tapi kita juga harus ingat bahwa ada tangan-tangan ajaib yang bisa saja usil mengganggu atau juga ada tangan-tangan kreatif yang membantu. "Sampeyan bisa bermimpi dan berencana, Gusti Allah yang menentukan."

Mungkin orang-orang macam ini, lagi kurang piknik kali ya. Termasuk saya, yang akhir-akhir ini mulai kurang kreatif karena kurang piknik. Preeett..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar