Senin, 17 Februari 2014

Bapak Dimanakah Engkau?



Hari Saka, seperti biasanya. Seorang nalayan muda yang sedang menjaring ikan-ikan di laut, kemudian memutuskan untuk berlabuh di pulau kecil untuk menaruh sau. Beristirahat sembari memilah hasil tangkapan. Berselimutkan angin laut yang sedikit membuat perutnya mual. Lelah, namun masih tersenyum diantara buliran air yang tersimpan di sudut matanya. Sembari menghisap kretek yang hampir basah oleh air laut yang asin, ia mencari ayahnya. Ia rindu Ayahnya yang lima tahun lalu meninggalkannya.

 ***

Saya adalah Hari Saka. Tetapi, teman-teman sesama nelayan sering memanggil saya dengan panggilan: Jaka. Entah, mengapa saya dipanggil demikian, saya menerima saja panggilan itu. Menurut saya, nama saya tak lebih penting dari tangkapan ikan. Saya adalah anak dari seorang nelayan di daerah pantai Popoh Tulungagung.

Mungkin kalian bertanya-tanya berapa umur saya? Mungkin kalian tak akan percaya saat saya mengatakan, “15 tahun.” Ya, benar. Umur saya baru 15 tahun, dihitung Januari tahun ini. saya memulai mencari ikan tiap malam pada umur 10 tahun. Setelah Bapak tak pulang dan tak ada kabar dari para nelayan lainnya. Entah, dimana beliau berada, tak ada yang tahu keberadaannya sampai sekarang.

“Mati?” Saya tak pernah mengenal kata brengsek itu. Bagi saya, kata itu berlaku saat seseorang datang membawa kabar dan saya melihat jasadnya dihadapan saya langsung. Selebihnya, saya tak pernah mempercayainya. Dusta.

Saya percaya, Bapak saya adalah seseorang nelayan yang tangguh. Beliau tak pernah kalah dengan ombak, apalagi ikan macam Paus Batu. Saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri, saat Bapak membawa sirip Paus sampai di teras rumah pukul empat petang. Pernah juga Bapak pulang sebelum shubuh, tapi waktu itu dengan tangan kosong, tak ada satupun tangkapan yang ia bawa dan ternyata perahunya karam dimakan ombak. Lelah dan miris, namun ia masih berjalan pulang, mengetuk pintu bambu rumah kami lalu meminta saya untuk membuatkannya kopi.

Bapak tak pernah kalah dengan ombak, apalagi dimakan badai. Saya tak pernah percaya itu.
Saya yakin, sekarang Bapak sedang mengarahkan perahunya ke laut yang lebih jauh. Mungkin tenggara, mungkin juga barat laut. Untuk mendapatkan tangkapan yang luar biasa besar. Mungkin Hiu Martil, atau mungkin juga Paus Batu.

Saat ini, yang dapat saya lakukan untuk Mamak dan Adik adalah mewakilkan Bapak pergi melaut. Supaya dapur kami tetap mengepul dan perut kami tetap terisi. Dulu saat umur 10 tahun, saya hanya bertugas untuk menimba air yang masuk ke perahu dan memilah ikan untuk ditempatkan ke setiap bak-bak ukuran 50 liter. Saya tak sempat belajar melaut kepada Bapak langsung. Namun Mas Dirman yang dengan terpaksa menerima saya waktu itu, untuk ikut ke perahunya 5 tahun lalu. Mas Dirman adalah rekan Bapak melaut. Dan sekarang saya tumbuh menjadi pelaut perantara perahu Mas Dirman. Tapi saya lebih percaya, bahwa bakat melaut saya adalah turunan dari Bapak.

“Jangan heran jika di desa kami, anak-anak seumuran kami sudah ikut melaut. Bagi kami, laut adalah tempat bermain, tempat kami belajar, dan yang lebih penting adalah tempat kami hidup.”

Saya pernah bertanya kepada Mas Dirman, “Bapak kemana ya mas, kok sampai saat ini belum pulang?” atau sesekali mengganti pertanyaan dengan, “Ke arah mana Bapak melaut, mas?” Mas Dirman hanya menggelengkan kepala dengan menghisap kreteknya dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca, sembari menghisap kretek dengan hisapan dalam. Selalu seperti itu. Saat ada kesempatan untuk saya menayakan kerinduan untuk Bapak. Saya berharap dalam hati, semoga Bapak pulang membawa tangkapan yang besar. Mamak dan Gendhis akan senang jika Bapak membawa ikan yang besar.

Sudah 5 tahun Bapak belum pulang. Pikiran saya mulai berkecamuk. Namun saya selalu membayangkan hal yang baik tentang Bapak. Karena Mamak selalu berpesan kepada saya, untuk selalu memikirkan hal yang baik. Karena ucapan dan pikiran yang baik adalah doa. Sedangkan pikiran dan ucapan yang buruk adalah dosa. Itu saja, yang selalu saya ingat jika saya mulai rindu sosok Bapak. Saya membayangkan bahwa Bapak menemukan satu pulau dan membuatkan kami satu rumah dengan susunan bambu serta lantai kayu yang terpasang dengan sulaman yang cantik.

Mungkin saat ini menurutnya, belum waktunya untuk pulang, jika rumah dan perabotnya belum genap. Bapak sering membuat kejutan untuk kami. Mungkin ada kejutan lain setelah ini. Untuk saya, Mamak dan Gendhis. Saya mulai menerka-nerka apa yang sedang Bapak lakukan pasti luar biasa menyenangkan. Saya masih meyakini ini.

***

Sekarang hari minggu. Saya masih mengarahkan perahu ke arah tenggara. Sebelum berangkat melaut, saya ijin kepada Mamak untuk pulang lebih lama dari biasanya. Mungkin tiga sampai empat hari. Keluarga nelayan jauh mempunyai kepercayaan yang lebih tinggi dari pada keluarga lainnya. Karena mungkin doa yang mengikatnya. Saya putuskan untuk melaut sendirian.

Sempat pada satu kesempatan. Saya tak pulang tepat waktu, karena badai dari selatan. Saya tak pernah takut. Namun saya memikirkan, “Bagaimana Mamak dan Gendhis menunggu di rumah dengan perasaan was-was.” Dengan kepercayaan yang diberikan Mamak dan Gendhis, saya pulang dengan tangkapan yang lumayan melimpah, meski ombak dan badai selatan hampir memakan saya dan perahu dua kitir milik Mas Dirman.

Entah tak ada alasan yang pasti mengapa saya mengarahkan perahu ke tenggara. Padahal arah angin malam ini mengarah ke timur. Perahu yang sengaja dua hari saya siapkan untuk perjalanan jauh yang berisikan satu kotak makanan dan dua perlengkapan bermalam di daratan.

Saya ingin menemukan satu pulau ke arah tenggara malam ini. Entah malam ini atau esok hari. Saya beranggapan semoga raja laut mempertemukan saya dengan Bapak, yang belum pulang selama lima tahun itu. Ada perasaan rindu yang menggiring perahu saya, melaju membelah ombak yang kalu malam ini. Sangat sepi. Bukan hanya itu, gelap dan buta.

Dalam perjalanan malam ini saya tiba-tiba teringat perkataan mudin di desa kami dua minggu lalu, saat tetangga tiga rumah dari tempat saya tinggal, meninggal karena panas tinggi. Beliau berkata kepada saya bahwa, “Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia.” Saya tak mengeti maksudnya. Dan malam ini saya sedang memikirkan perkataannya.

Dalam benak saya, tiba-tiba saya menerka satu kejadian yang selama ini saya anggap tidak mungkin. Bahwa Bapak sudah tiada. “Ah, mana mungkin! Bapak adalah nelayan tangguh.” Mana mungkin ia kalah dengan ombak apalagi badai. Cepat saya buang pikiran kurang ajar itu. Untuk mengalihkan pikiran-pikiran bodoh itu, saya mulai menyiapkan jaring dan kemudian melemparnya ke laut. Perahu saya tetap melaju membelah ombak selatan yang mulai meninggi. Saya mulai menghisap kretek yang saya taruh di kotak makanan, untuk membuang rasa bosan.

***

Entah saya tertidur pukul berapa. Yang pasti saya terbangun karena sinar matahari yang mulai terik. “Ah sial, mengapa saya seceroboh ini?” Dengan segera saya bangun dan mencari pangkal tali jala yang saya pasang di bagian belakang perahu. Beruntung, tali jala masih menyangkut pada dua siku kayu yang terpasang pada disel merk cina itu. Saya menariknya perlahan dengan sesekali memperhatikan sekitaran.

Saya melihat ke arah timur, ada satu daratan berwarna hijau kehitam-hitaman. Tidak terlalu luas, dan tidak terlalu jauh. Saya yakin itu adalah pulau. Ya sepertinya, yang saya lihat itu adalah pulau kecil. Tapi entah, pulau apa di sana. Dengan cekatan saya menarik jala yang mulai terasa berat, sepertinya tangkapan saya lumayan banyak.

Setelah membereskan jala, dan menaruh ikan-ikan secara sementara kedalam bak-bak. Saya mengarahkan perahu untuk segera melaju kepulau yang saya lihat itu.

Tidak lebih dari satu jam saya sudah menepikan perahu dengan dua kitir ke dekat pohon bakau. Dan segera melempar sau supaya perahu tidak terbawa arus laut. Saya melompat dan mengamati sekitar pulau itu. Saya mencari sesuatu untuk dapat ditanyai, mungkin ada orang yang saya dapat temui di pulau ini.

Saya berjalan semakin dalam, mencoba mencari tahu.

Aneh, tidak ada satupun orang yang terlihat di pulau ini. Pulau yang tak terlalu luas. Mungkin luasnya sekitar 2 kilometer lawan 1,5 kilometer. Kemudian saya putuskan untuk kembali ke perahu saja. Untuk mengisi perut dan nanti akan saya lanjutkan memilah hasil tangkapan yang tadi saya pindahkan asal-asalan.

***

Saya membuka terpal dan memudarkan tali tampar yang sudah saya siapkan dari rumah. Saya mencari pepohonan untuk membuat teduhan. Kemudian saya mengeluarkan parang tebas, untuk mencari beberapa kayu yang akan saya pakai untuk membuat api. Saya memutuskan untuk bermalam di pulau ini semalam saja.
Setelah teduhan dari terpal dekat pepohonan Gebang selesai, dan satu pikulan kayu terkumpul. Saya mengambil hasil pilahan ikan di bak, kemudian membersihkannya untuk saya bakar. Kepulan asap membumbung tinggi, aroma kayu yang bercampur aroma laut yang sudah sangat saya kenal. Siang yang terik, namun saya menikmatinya.

Hening. Dihadapan saya ada api menjilati ikan yang saya pasung ujung dan pangkalnya. Saya duduk di pasir yang berbeda dari pasir pantai tempat saya tinggal. Pasir yang halus, seperti biji wijen yang lebih putih. Saya menekukkan kaki ke arah perut, kemudian melingkarkan lengan untuk menyangganya. Kemudian saya menundukkan kepala, melihat pasir itu dari celah paha kaki. Mendengar suara angin yang mengalun lembut. Saya meneteskan air mata, ada sesuatu di celah dada yang berusaha meminta perhatian. Saya berkata lirih dalam keheningan siang itu:

“Bapak dimanakah kau sekarang?, mungkinkah sekarang kau di pulau ini?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar