Jumat, 14 Februari 2014

10:45 (Kita adalah ketakutan yang kita ciptakan sendiri)



“Manusia-manusia sering lupa, jika ia akan diuji oleh beberapa ketakutan di dunia. Mereka diuji dengan sedikit kelaparan, kemiskinan, dan rasa sakit.”

***

Saya mengenal Kelud, melalui perjalanan akhir tahun bersama keluarga. Waktu itu saya melewati beberapa jembatan yang baru dibangun sekitar tahun 2000-an. Jembatan yang dibangun tersebut untuk menghindari aliran lahar Kelud yang jika sewaktu-waktu turun. Sehingga akses kota yang menghubungkan kabupaten sekitarnya tidak terganggu.

Sekilas tentang Kelud. Saya pernah mendengar seorang kawan yang sering menyusuri jalanan menuju Kelud menggunakan sepeda. Mereka bercerita bagaimana Kelud dengan segala keindahan dan panoramanya yang menyejukkan mata. Membuat saya penasaran ingin ikut merasakan sensasinya.

Gunung Kelud (1.731 mdpl) pernah meletus hebat 1960-an dan menghilangkan puncak kepundannya. Muntahan laharnya menyapu bersih daerah Srengat, Wlingi, Talun, Blitar dan sekitarnya. Saat itu saya masih kecil dan saya dapati cerita luar biasa tersebut itu dari Kakek.

Pada tahun 1999 Kelud pun meletus, setelah berkali-kali menunjukkan keberadaanya sebagai gunung api yang masih aktif. Menghancurkan perkebunan teh di lereng-lereng gunung.

Dari Simpang tiga jalan raya Wates – Kediri, saya bersepeda menyusuri jalan pedesaan. Di ujung desa, ada sebuah warung yang biasanya digunakan para pendaki gunung beristirahat. Lalu jalanan membelah daerah pertanian yang banyak ditanami palawija sebelum akhirnya masuk area perkebunan teh. Walaupun jalanan menanjak, tak terasa berat karena pemandangan alam sekitarnya sangat bagus. Dari sebuah ketinggian tampak perkebunan teh yang membentang luas, menutup semua permukaan tanah bak beludru hijau.

Semakin tinggi saya berada, udara terasa semakin sejuk. Menurut penduduk, jarak antara desa terakhir sampai terowongan sekitar 10 km. Tapi dengan bersepeda menjadi terasa lebih jauh. Hal ini karena saya sering berhenti untuk beristirahat mengatur nafas dan menyiasati jalanan menanjak. Maklum perokok seperti saya, butuh treadment khusus untuk olah raga seperti ini. Lambat laun, jalan memasuki kawasan hutan pohon Kaliandra. Selanjutnya sepeda melipir punggungan dan di sebelah kanan jurang menganga lebar. Jalan ini berakhir pada mulut terowongan.

Di dalam terowongan, ada beberapa ruangan yang dibuat untuk menginap para penjaga atau pemantau aktivitas Gunung Kelud. Tapi kini berubah fungsi menjadi tempat bersemedi para peziarah. Seberang mulut terowongan, sebuah pemandangan indah menunggu. Danau kawah berwarna kehijauan membentang, dibentengi dinding padas. Sementara dinding terjal bagian kanan, kerap dipakai berlatih panjat tebing. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai ‘Gajah Mungkur’, karena berbentuk mirip seekor gajah yang sedang duduk membelakangi.

Semalam Gunung Kelud menunjukkan keberadaanya yang masih aktif. Saya tak sempat mengabadikan hujan abu semalaman. Baru mengetahuinya setelah pagi tadi, saat saya hendak menyiram beberapa tanaman dalam pot di depan rumah. Tumpukkan abu halus sudah menutupi teras rumah.

Ini adalah hari pertama saya selepas dari angka kelahiran masehi, setelah kemarin sibuk membalas ribuan ucapan selamat milad yang saya terima melalui seluler dan media sosial. Dan beberapa kejutan istimewa dari beberapa rekan karib.

Kita yang tak pernah mengerti bahwa ujian yang diberikan kepada kita adalah gerbang awal dari kebahagiaan. Maka setelah kita diuji oleh-Nya, maka ujilah diri pribadi dengan ketakutan yang kita ciptakan sendiri. 

Sangat mudah untuk Tuhan membalik keadaan, dari yang sumringah menjadi was-was. Saya berharap rekan-rekan yang berada di sekitar Gunung Kelud diberi perlindungan dan keselamatan oleh Allah SWT. Amiiin. 




Ps: tulisan ini sebagai tulisan belangsungkawa kepada rekan, dan saudara yang berada di area Gunung Kelud. Dan juga sebagai tulisan pertama saya dalam acara #30harimenulis, satu kompetisi personal antara saya dengan rekan saya, setelah perbincangan absurd semalaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar