Jumat, 28 Februari 2014

Hancurkan Pria Tulang Lunak!

Dulu ada beberapa hal yang sering kami lakukan semasa kuliah untuk membuang perasaan negatif, seperti perasaan malas, dan laku yang kurang produktif. Terkadang dari kami sering mengalami perasaan jenuh dan matinya kreatifitas. Kegiatan yang monoton membuat kami suka uring-uringan sendiri. Apalagi melihat pria-pria dengan sebutan "Pria Tulang Lunak" yang kami buat untuk membenci mereka. Kami selalu gemas melihat mereka hidup di muka bumi. Entah, seperti perasaan risih tak karuan saat kami sedang dalam keadaan jenuh, kemudian bertemu dengan beberapa kaum ini. Rasanya ingin mengerjai mereka habis-habisan.

Sebenarnya banyak cara yang dapat kami lakukan untuk mengatasi perasan loyo ini, seperti misalnya pergi jalan-jalan, menghadiri pertunjukan musik, sampai mencoba religion method untuk datang ke majelis dzikir. Tapi saat semua aktifitas pengusir itu kami lakukan, serasa tak cukup untuk mengimbangi sisi lain dari kegilaan kami. Akhirya kami sering melakukan beberapa pertunjukan dengan tokoh dan penonton dari kami sendiri. Dari kami untuk kami secara instant.

Beragam aktifitas yang sering kami lakukan bersama, membuat persahabatan kami memiliki ikatan emosional. Saya bersyukur tidak ada 'ikatan lain' selain ikatan persahabatan. Amit-amit jabang bayi.

Ambillah contoh, seperti saat kami selesai melakukan praktikum anatomi vertebrata dengan beban satu sistem kredit semester, tapi kami lakukan selama dua jam. Alhasil membuat muka kami tertekuk tak karuan. Selepas menuntaskan praktikum, kami berulah tak karuan seperti membuat mini drama dengan judul "Pemberantas Pria Tulang Lunak" atau sesekali bercanda dengan properti bahan praktikum yang telah selesai kami kuliti habis. Kami mengabadikannya dengan membuat satu scene untuk pertunjukan tersebut, yang nantinya akan kami putar saat kita telah menuntaskan masa perkuliahan. Jadi ceritanya kami punya film kompilasi untuk mengusir kebosanan.

Masa-masa indah itu, kini telah menjadi kenangan yang luar biasa berkesan untuk kami ingat. Dulu kami berpendapat, "bahwa kami akan selalu berjalan dan berkarya bersama-sama selepas kuliah". Tapi tak ada yang yang ideal untuk disandingkan dengan satu kenyataan hidup. Kami berjalan sendiri-sendiri, namun terkadang kita bertemu sesekali untuk berkontemplasi. Kami percaya dalam laku yang sendiri-sendiri tersebut, kami akan menemukan kesatuan yang nantinya akan mempertemukan kita pada satu titik tertentu. Entah kapan, dimana, dan bagaimana?

Kami hanya saling mendoakan dalam jarak yang kasat mata, berdoa yang terbaik untuk masing-masing dari kami. Berharap nanti kami akan bertemu dengan membawa karya dan prestasi yang saling membanggakan untuk diceritakan.

Ranger divisi pemberantas pria tulang lunak.
Selamat berkarya kawan-kawanku! Hancurkan duka dengan tawa. :D











PS: Tulisan singkat ini, akan saya tuntaskan (lagi) nanti. Karena ada beberapa cerita menarik yang mesti kalian tau.

Kamis, 27 Februari 2014

Ku Kan Pulang

Dialog Dini Hari.

 Lamakah aku pergi
Hingga tak sadar rambutmu makin memutih
Banyak waktuku yang terbuang rugi

Lamakah aku pergi
Hingga tak sadar beribu kisah ingin ku bagi
Berilah aku waktu sebentar lagi

Ku kan pulang
Pulang ke rumah
Berilah waktu
Sabar menunggu

Doamu slalu untukku
Slalu untukku, hingga kini ku tak ragu
Biarkan aku sujud di kakimu

Lukisanmu slalu indah
Seperti doamu
Sepanjang masa tak putus asa
Sementara waktu merubah kita

Sementara waktu merubah kita
Ku kan pulang
Pulang ke rumah
Berilah waktu
Sabar menunggu

Ku kan pulang
Pulang ke rumah
Bawa cerita
Indah Dunia. 

Dialog Dini Hari - Ku Kan Pulang.

Rabu, 26 Februari 2014

Indigo Flycatcher and Tahura R. Soeryo

The Indigo Flycatcher (Eumyias indigo) is a species of bird in the Old World flycatcher family Muscicapidae. It is found in Indonesia and Malaysia, where it is found in Sumatra, Java and northern montane areas of Borneo. Its natural habitat is tropical moist submontane montane forests between 900m to 3000m, where it is a common to fairly common species.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

References:
  • BirdLife International (2012). "Eumyias indigo". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2013.2. International Union for Conservation of Nature. Retrieved 26 November 2013.
  • Del Hoyo, J.; Elliot, A. & Christie D. (editors). (2006). Handbook of the Birds of the World. Volume 11: Old World Flycatchers to Old World Warblers. Lynx Edicions. ISBN 84-96553-06-X.

Selasa, 25 Februari 2014

Siji Maneh!

"Alhamdulillah.
Satu persatu mimpi dan cita-cita saya akhirnya menjadi kenyataan."


Dulu pada pertengahan tahun 2007, saat saya masih aktif di kampus. Kemudian berlanjut berkenalan dengan aktivitas birding di Wonorejo, melihat kawasan ini yang begitu minim dengan petunjuk informasi tentang keberadaan keaneragaman flora dan fauna, saya cuma mbatin dalam hati saja. "Seandainya, kawasan ini ada petunjuk tentang burung dan mangrove, pasti kawan-kawan bisa lebih asyik untuk belajar di Wonorejo."

Setelah meng-create acara lomba fotografi alam liar di Wonorejo Surabaya bersama rekan-rekan Sarang Burung Surabaya (SBS) dan dibantu Yayasan IDEP-Bali. Kami ingin bangun dari mimpi dan ingin mewujudkan impian bersama untuk membuat papan informasi di kawasan Wonorejo. Kenapa Wonorejo? Karena Wonorejo merupakan kawasan IBA (Important Bird Area).

Dan akhirnya, mulai tanggal 24 Februari sampai hari ini, papan informasi untuk pengunjung sudah terpasang. Papan selamat datang, sampai papan informasi mengenai keaneragaman burung dan keaneragaman mangrove terpasang dengan baik di sepanjang jalur (trekking baru) berdekatan dengan pendopo ekowisata.





















Semoga, cita-cita bersama ini dapat dibarengi dengan semangat untuk menjaga. Karena untuk menjaga mimpi lebih sukar jika disandingkan dengan kata bermimpi. Dan semoga para pengunjung Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya dapat mengambil manfaat dari pemasangan papan informasi dan petunjuk keaneragaman flora dan fauna yang ada di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo.

Selamat berkunjung, selamat berjalan-jalan, dan selamat belajar. Semoga bermanfaat.

Senin, 24 Februari 2014

Hai Pelangi, Surga Di Hati!

Sekali lagi saya meminta maaf, untuk apa yang saya lakukan. Tidak ada maksud apapun untuk menyakiti atau pun melukai. Telah habis semalaman untuk tak tidur, memucat, dan kemudian menghangat. Meski kota sudah reda oleh hujan sore hari tetap saja tak ada yang mampu membuat nyaman dan terlelap. Sekali lagi saya meminta maaf, untuk sebelum dan sesudahnya hari ini.

Jika sakit dapat seindah saat kita pergi piknik, pasti akan selalu merindunya setiap pagi. Sekali lagi saya meminta maaf. Saya hanya ingin berbeda seperti pelangi, indah dan selalu setia menunggu hujan mereda.

Sama seperti ingin pergi travelling, mau opname tetap bersih-bersih gear dulu.
Jangan sampai mati karena perut, Penting!
Oke, sudah bersih. Kalau di tinggal jadi tenang.
Packing, selesai. Siap berangkat!
 Hai pelangi, Surga di hati!


Minggu, 23 Februari 2014

Kurang Piknik

"Tidak akan pernah manusia merasa nyaman pada satu waktu dengan kondisi apapun." 

Begitulah kalimat yang saya dengar setahun lalu dari kakek tua yang saya temui pada saat penyeberangan dari Padang Bai menuju Lembar. Entah, ada perlawanan perasaan saat kakek disamping saya tersebut berbicara seperti itu pada saya. "Apa maksudnya?"

Lambat laun, kalimat tersebut bertaji. Pernah pada satu kejadian, saat saya ingin berangkat menuju Sungai Penuh Sumatera. Saya menyiapkan itinerary dengan matang. Saya memesan pesawat bisnis untuk fasilitas perjalanan udara saya. Besar harapan saya dapat merasakan perjalanan yang nyaman. Namun, tidak sesuai ekspektasi, perjalanan saya terganggu dengan jadwal yang ngaret hampir satu jam lebih delay.

Belum lagi, untuk jalur darat Jambi yang tergolong jalur rawan longsor dan rawan kecelakaan. Karena jalur trans Jambi terkenal menjadi pilihan utama truk-truk besar bermuatan level empat, dengan minimum beban hampir 3-4 ton. Saya pun menyiapkan diri untuk mengeluarkan dana lebih, dengan menyewa mobil yang  baik. Supaya, saya dapat beristirahat atau tidur selama perjalanan, mengingat perjalanan tersebut menempuh kurang lebih delapan sampai sembilan jam perjalanan. Ditambah lagi dengan kondisi malam, apa yang bisa saya dokumentasikan dengan keadaan tersebut. Saya memilih tidur, supaya pagi hari saya dapat maksimal dalam mengambil gambar.

Saat saya memutuskan untuk tidur dengan mobil sewaan yang saya rasa baik tersebut, ternyata sang sopir mempunyai kebiasaan beser, ia sering meminta ijin untuk berhenti mencari semak-semak untuk buang air kecil setiap setengah jam sekali. Akibatnya, perjalanan kami jadi molor bukan delapan jam lagi, melainkan jadi 15 jam. Terpaksa, beberapa janji dengan beberapa pihak diundur. Otomatis, pengunduran mempunyai konsewensi yaitu pembengkakan budget.

Dengan kondisi tersebut, banyak pihak yang merasa saya rugikan. Termasuk saya: jadi rugi.

Mungkin ini sebagian kecil yang dapat saya ceritakan. Karena saya beranggapan bahwa, apapun permasalahannya saya cukupkan untuk pembelajaran saya. Orang lain tidak akan tahu dan akan baik-baik saja. Termasuk salah satunya sang sopir yang masih saya ajak bergurau dan masih saya ajak ngobrol sembari bertukar kretek selama perjalanan tersebut. Meskipun, dalam hati saya dongkol gak karuan.

Saya drama? Saya rasa tidak. Karena, saya mencoba menempatkan diri saya pada kondisi si sopir tersebut. Siapa yang meminta kita jadi sering buang air kecil di jalur yang rawan tesebut? Siapa juga yang ingin memberikan pelayanan buruk kepada custumer? tidak ada. Semua ingin memberi yang terbaik. Dan kita juga harus mengerti perasaan orang lain jika kita ingin dihargai.

Banyak dari kita, termasuk saya pribadi ingin sesuatu yang sempurna. Dengan menyiapkan diri sebaik mungkin, mengatur ini dan itu sebaik mungkin. Tapi kenyataan di lapangan? Sangat sedikit dari yang kita rencanakan tidak berlaku. Lalu, apakah kita jadi uring-uringan? Marah-marah kepada orang yang kita temui? Mendiamkan rekan kerja yang beranggapan, "Lu tuh tau gak sih, kalau gue lagi sebel?" Halooo.. memangnya semuanya harus ngerti apa yang sedang terjadi pada diri kita.

Banyak dari kita yang sudah mulai terkungkung dan jenuh. Banyak dari kita tidak menyadari bahwa otak kreatif yang diberikan oleh Yang Maha Pencipta ini dikunci rapat-rapat dengan kondisi yang monoton. Semua itu ada pakemnya, semua itu ada standarnya. Bener, tidak ada yang salah. Kita wajib menyiapkan diri sebaik mungkin, tapi kita juga harus ingat bahwa ada tangan-tangan ajaib yang bisa saja usil mengganggu atau juga ada tangan-tangan kreatif yang membantu. "Sampeyan bisa bermimpi dan berencana, Gusti Allah yang menentukan."

Mungkin orang-orang macam ini, lagi kurang piknik kali ya. Termasuk saya, yang akhir-akhir ini mulai kurang kreatif karena kurang piknik. Preeett..


Sabtu, 22 Februari 2014

Jual Susu



Kata siapa akhir pekan hanya bisa dipakai untuk tiduran dan bermalas-malasan. Saya ada kegiatan baru bersama rekan-rekan, yaitu jualan susu kambing etawa. Susu kambing etawa yang kami jual ini mengambil langsung dari peternakan kambing perah di Kota Batu Malang. 

Susu kambing etawa yang kami jual bisa dibilang unik. Karena dalam proses pengolahannya tidak menggunakan panas yang sering dilakukan oleh produsen susu perah lainnya, seperti memasak atau mendidihkan susu. Namun kami menggunakan alat kejut listrik untuk sterilisasi. Jika menggunakan kejut listrik, protein yang terdapat dalam susu tersebut tidak mengalami denaturasi. Jadi kandungan protein di dalam susu bisa dikatakan masih mendekati jumlah yang lebih.

Kegiatan kami jualan susu kambing etawa ini, kami lakukan tak jauh dari perumahan pondok nirwana rungkut. Dan kami lakukan setiap akhir pekan mulai dari pukul 06:00 sampai pukul 09:00.

Susu etawa yang kami jual ini, selalu kami simpan dalam lemari es dan selalu dalam kondisi beku. Karena susu segar jika disimpan tidak dalam kondisi yang beku, akan mengalami kejenuhan dan pemisahan struktur penyusunnya. Bisa dibilang rasa dari susu tersebut akan menjadi kurang nikmat. Jadi saat anda ingin meminum susu etawa dari kami, rendam terlebih dahulu menggunakan air tawar yang bersuhu lebih hangat dari susu etawa, sehingga susu dalam kemasan botol plastik ukuran 250 mili ini mencair terlebih dahulu.

Bisa juga jika anda ingin mengkonsumsinya dalam keadaan hangat. Anda juga bisa merendamnya dahulu menggunakan air hangat dengan memasukkan botol susu etawa ke dalam rendaman air hangat. sekali lagi tidak disarankan menghangatkannya dengan mendidihkannya di atas kompor. Karena kita tidak akan mendapat kandungan utuh yang terdapat dari susu etawa ini.

Untuk penyimpanan susu kambing etawa cair dari kami juga cukup unik. Simpan ke dalam lemari es dalam kondisi beku. Dan jika kemasan sudah di buka, paling tidak harus sudah di konsumsi tidak lebih dari enam jam. Karena sifat dari susu kambing etawa dari kami murni dan tanpa bahan pengawet.

Mudah, jika anda gemar berolah raga pada akhir pekan pagi hari dan melalui jalan Mer 2C tepat di jalur Jl. H. Ir. Soekarno, dekat dengan kampus STIKOM. Jangan sungkan untuk mampir, dan mencoba susu segar kambing etawa dari kami.

Atau jika anda bertemu dengan penjual kami, seperti pada foto di bawah ini. Spesial order untuk anda di daerah rungkut dan sekitarnya, akan kami antar langsung ke rumah pada pemesanan antara pukul 06:00 sampai pukul 07:00. Dengan menghubungi terlebih dahulu contact person dari kami, ke 08574-6666-414, dan jika anda pengguna akun twitter dapat memesan secara langsung ke akun @agungmartani dan @cipto_dh

Semoga bermanfaat. Tetap sehat, tetap semangat. Supaya kita semua tetap bisa berjalan-jalan.

Delivery order susu etawa.





ps: foto produk sengaja tidak dipasang. akan dipasang pada postingan mendatang.

Jumat, 21 Februari 2014

Maafkan Saya yang Masih Belajar ini



Saya yang tak tau diri, ingin meminta maaf.

Menurut saya, tidak ada waktu yang benar-benar tepat. Seperti pada kesempatan, saat saya bertemu dengan Ayah. Berbincang di teras rumah, perihal beberapa rencana yang hendak saya lakukan. Seperti rencana saya untuk memutuskan merintis sebuah usaha, dan perbincangan mengenai apa yang telah saya lakukan. Mengenai prestasi-prestasi yang sudah saya dapatkan.

Mungkin kami yang tak pernah bertemu dalam satu sudut pandang yang sama. Membuat perbincangan sore itu, seperti acara debat di televisi yang selalu meninggalkan kebingunan. Ayah yang memiliki aksen bicara yang keras, tegas, dan terkesan ingin menangnya sendiri membuat saya tersinggung dan tidak terima. Saya pun tidak ingin kalah. Saya berpendapat bahwa sesuatu hal yang kecil, akan menjadi besar nantinya, jika diupayakan dengan usaha yang keras pula. Upaya yang kita lakukan untuk mewujudkannya tidak akan pernah mungkin terlihat dalam waktu satu dua hari saja. Ambil contoh, keinginan saya untuk merintis usaha di bidang budidaya jamur dan pupuk organik.

Ayah mungkin melihat beberapa pengalaman yang sudah-sudah. Melihat beberapa hal yang sudah beliau saksikan dan alami. Bahwa menurut beliau, saya tidak akan pernah bisa menjadi seorang wirausahawan

Tetapi menurut saya, semua sah untuk dibicarakan namun tidak semua perbincangan dengannya dapat diambil satu pakem yang utuh untuk satu kejadian lain. Menurut saya, semua hal yang beliau katakan tidak dapat saya terima dengan mentah-mentah. Sekalipun beliau adalah orang tua saya sendiri. Saya masih belajar. Sekalipun satu kelebihan dapat menurun melalui susunan genus dan sel darah sekalipun. Begitu pun sebaliknya. 

Saya akui kami memiliki sifat yang sama-sama keras. Baik itu prinsip, dan juga pemikiran.

Pernah ada hal lain yang membuat saya tersinggung. Saat saya memutuskan bergabung menjadi bagian pasukan pengibar bendera waktu SMA. Saya yang memiliki tinggi badan kurang dari 180 senti, dapat dipastikan tidak akan mampu menjadi bagian penting barisan pengibar tingkat Kota apalagi Nasional. Tapi saya beranggapan, semua akan berubah selama kita meyakininya.

Saya beranggapan semua pasti memiliki ruang. Semua yang tersudut dan buntu akan runtuh pada satu titik, tinggal kita mau mencari celahnya atau tidak. Singkat kata, saya tertarik untuk mengikuti perlombaan “Kibar Bendera se-Gerbang Kertasusila”, atau setara dengan perlobaan tingkat Propinsi. Saya membuktikannya, bahwa saya mampu membawa pulang Juara I dalam ajang tersebut.

Dengan perasaan bangga, saya bergegas pulang untuk mengabarkannya kepada Ayah. Namun bukan satu pujian yang saya terima untuk jerih payah yang saya wujudkan di depan beliau, tetapi kalimat yang ‘masih mampu’ saya ingat sampai detik ini yaitu, “Ayah tidak butuh ini!” sambil kemudian melempar semua sertifikat dan trofi yang saya peroleh itu di hadapan saya.

Semakin di remehkan, dan semakin terhina. Nadi untuk membuktikan tidak semakin melemah. Sebaliknya, saya semakin terpacu untuk mewujudkannya. Saya berlatih lebih giat lagi untuk ajang pemilihan pasukan pengibar bendera di Gedung Negara Grahadi Jatim. Meski hanya untuk penurunan bendera di tanggal 17 yang bernama “Parade Surya Senja”, saya bersemangat untuk menjadi bagian penting tersebut. Dan saya beruntung menjadi bagian penting di dalamnya.

Tapi apa respon ayah untuk itu? Tidak ada. Sekalipun untuk satu sudut pandang yang mengarah pada penghargaan yang saya perjuangkan. Baginya, hal-hal semacam itu hanya omong kosong saja.

Satu evaluasi yang saya lakukan sebagai anak. Saya memutuskan untuk menemui Ayah, menanyakan beberapa hal yang ganjil diantara kami. Saya beranggapan, bagaimana pun seorang anak akan nampak salah di hadapan orang tua dan selalu dianggap sebagai anak kecil berapa pun usianya.

Saya tetap menjalin komunikasi yang baik dengan beliau, menelanjangi semua apa yang telah saya lakukan dan mencoba mengosongkan prasangka. Saya mencari tahu apa yang sebenarnya Ayah inginkan dari saya? ternyata Ayah tidak ingin saya gagal untuk masuk di Perguruan Tinggi Negeri. Baginya itu yang penting.

Baik jika itu keinginannya, saya akan mencoba merujuk misi saya kembali. Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin. Jangankan Perguruan Tinggi Negeri, jika Ayah mengutarakan keinginannya untuk saya bersekolah di Universitas Negeri Paman Sam pun saya akan berupaya untuk itu. Ridho orang tua, adalah ridho Gusti Allah.

Singkat cerita, tidak ada waktu yang terbuang. Saya membuat jadwal untuk treatment diri. Waktu makan, main, sampai waktu mengerjakan tumpukkan soal UMPTN pun saya timer. Begitu ketat. Demi satu senyuman seorang Ayah, saya lakukan dengan sungguh-sungguh.

Saya katakan lagi tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya mungkin. Sebelum rekan-rekan saya masuk di Perguruan Tinggi Negeri, saya pun sudah berbangga karena dua kursi PTN sudah saya kantongi. Saya diterima di Universitas Brawijaya dan Intitut Teknologi Bandung.

Saya pun segera memberi kabar bahagia itu kepada Ayah. Tidak sesuai ekspektasi. Ada raut kekhawatiran yang coba ayah perlihatkan kepada saya. Kemudian, ada kalimat yang keluar untuk mencoba menenangkan saya yang sedang gusar hati. Ayah ingin saya untuk mencoba UMPTN, dan mengambil pilihan yang berlokasi di Surabaya saja. Saya lemas, dan mbatin.

Baiklah, saya berpikir positif saja. Mungkin ada beberapa kekhawatiran yang beliau pikirkan. Bagaimana pun seorang Ayah akan lebih mengerti kondisi anaknya. Padahal saya tidak pernah mempercayai argumen semacam itu. Bagi saya manusia berubah dan tidak akan pernah dinamis, apalagi untuk seorang anak yang hidup jauh dari orang tua selama 13 tahun lamanya. Ada yang tidak mereka ketahui sepenuhnya pada saya. Begitu pun saya, yang masih belajar mengenal seorang Ayah sendiri.

Demi beliau, dan demi senyuman dari seorang Ayah yang saya hormati. Saya masuk di Universitas Negeri yang Ayah inginkan. Dan saya bertemu banyak orang-orang hebat di dalamnya. Tapi perasaan kecewa untuk sang Ayah belum tertuntaskan.

***

Beberapa hari lalu, seorang rekan saya mengalami ujian perkara kematian dan kepulangan manusia. Tentang kepulangan manusia yang selama ini saya kenal sebagai sosok yang memberi tantangan dan memberi treatment hidup, yaitu sosok Ayah. Ayahnya telah berpulang pada kamis malam. Saya mengenal sahabat saya ini cukup lama. Saat saya menjalani kehidupan di kampus. Banyak yang sudah kami lakukan bersama, mulai membuat acara kampus sampai terakhir kali saya meninggalkannya pada satu acara trekking di salah satu gunung paling timur di Jawa Timur karena ia berjalan sangat lambat. Ini juga yang membuat saya ikut merasakan bagaimana berdukanya seorang Cipto Dwi Handono saat Ayahnya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta.

Dalam kunjungan duka itu, saya sengaja tidak menanyakan bagaimana ia sekarang dan bagaimana kejadiannya. Saya hanya ingin mendengar saja darinya. Dan ia pun seolah mengerti apa yang saya maksud, kemudian ia bercerita bagaimana sang ayah diambil pada pukul 17:30 WIB. Sebelum Almarhum berpulang, Cipto sempat mendengarkan pesan untuknya dari sang Ayah. Sebuah pesan yang begitu dalam, tapi sayang, Cipto tak ingin pesan tersebut banyak orang yang mengetahui. Saya pun sepakat tak akan menuliskannya.

Saya yang gemar mengamati dan belajar dari apa yang saya lihat. Saat itu saya sedang mengingat kembali beberapa momen saya bersama Cipto dan mengambil pelajaran dari kehilangan malam itu.

Saya mengingat kembali, pernah ada kesempatan untuk kami pergi bersama mengamati burung di daerah Gresik. Ayah Cipto lah yang langsung menawarkan diri untuk mengantarkan kami. Sepanjang perjalanan kami mendengar cerita dari Ayah Cipto, tentang bagaimana keseruan yang ia lakukan saat pergi memancing bersama Cipto. Ada kesan yang saya tangkap, bahwa Ayah Cipto selalu bangga kepada Cipto. Saya pikir ini hal yang wajar terjadi, saat ada seorang Ayah berhadapan dengan orang lain, akan selalu membanggakan anaknya. 

Kemudian saya berkaca pada apa yang saya alami sekarang. Apakah itu berlaku juga pada saya? Timbul lah pertanyaan, “Apakah Ayah saya bangga kepada saya?” Jika pun benar, mungkin hanya sebatas imajinasi saya semata.

***

Dua hari yang lalu, saat saya memutuskan untuk memeriksakan perut di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Saya menunggu cukup lama untuk nomer antrian dengan nomer 20 di tangan. Mungkin ada satu jam saya menunggu antrian yang membosankan itu. Saya berpikir, lebih baik mati dengan cepat daripada menunggu antrian yang membosankan itu.

Saya yang awalnya lebih memutuskan untuk tetap duduk saja di bangku panjang ukuran 3 meter berbahan almini itu, akhirnya goyah untuk keluar ruangan antrian. Mengambil rokok yang saya taruh dikantong sisi samping tas kamera yang saya gendong di punggung. Kemudian mengamati sekitar  sambil merokok. 

Saya mengamati sekitar, saya melihat beberapa kerumunan penarik becak yang sedang bercanda. Dan beberapa muda-mudi yang sedang menunggu angkutan publik pada sebuah halte yang atapnya mengkilap memantulkan warna keemasan, terkena sinar matahari sore.

Tiba-tiba, dari kejauhan ada yang memanggil nama saya. Awalnya saya tidak menghiraukan panggilan tersebut. Tapi suara itu semakin lama semakin mendekat. Saya pun menoleh ke sumber suara itu berasal.

“Mas Rahman?”

“Iya!”

“Sedang Apa di sini?”

“Em, Lagi periksa Bu.”

“Siapa yang sakit? Embah?”

“Bukan. Tapi saya Bu.”

“Loh, Sakit Apa?”

Saya lupa, siapakah Ibu yang di hadapan saya waktu itu. Untuk menghormatinya, saya segera mematikan rokok yang masih separuh saya hisap. Kemudian saya menuruti ajakan Ibu itu menuju kembali ke dalam rumah sakit dan sampai pada akhirnya kami berada di satu ruangan yang lebih mirip kantor daripada ruangan di rumah sakit.

Kami berbincang, dan saya masih mencoba mengingat kembali siapa Ibu tersebut. Ibu itu menggandeng saya mulai dari luar rumah sakit sampai menuju ruangan yang hampir menyerupai kantor imigrasi daripada rumah sakit itu.

Ternyata beliau adalah rekan Ayah saya. Entah, saya sendiri pun tidak terlalu peduli, kapan mereka bertemu atau pertanyaan lain yang berhubungan dengan itu. Waktu itu saya, hanya berpikir nomer antrian saya bagaimana?

Ibu di hadapan saya itu, kemudian diam cukup lama setelah membicarakan tentang dirinya dan Ayah saya. Kemudian, ia beralih pembicaraan mengenai ayah saya saja. Ibu itu mengatakan bahwa saya selalu menjadi topik penting dari setiap kegiatan yang Ayah saya lakukan, entah itu tentang urusan rumah sakit, sampai kegiatan projek lapangan di luar Jawa. Dan Ibu di hadapan saya itu adalah salah satu orang yang pernah dibantu oleh Ayah saya saat di Kalimantan, begitu ungkapnya kepada saya.

“Ibu, tau saya dari mana?” Saya mencoba menanyakan kepadanya.

“Ayah mu selalu membawa buku note warna hijau tua kan?”

“Iya benar.”

“Sehabis Shalat di Masjid Muhajirin, Buku Ayahmu tertinggal. Mungkin jatuh atau bagaimana saya juga tidak begitu paham. Waktu itu ada Takmir masjid yang menemukannya, dan segera menghantarkan kepada saya. Di situ ada fotonya mas Rahman saat berada di Mataram.”

Saya hanya diam, mendengarkan Ibu itu berbicara. Kemudian ia meneruskan kalimatnya sembari mencari sesuatu di sekitaran meja kerjanya.

“Ini kan bukunya Ayah?” tanya Ibu itu, kepada saya.

“Iya benar, ini notenya Ayah.”

“Coba cek lagi, di dalamnya pasti ada fotonya mas Rahman.”

 Kemudian saya menerima buku Ayah saya dari Ibu yang memakai jilbab dengan warna biru muda itu.

Saya terdiam, dan meneruskan membuka-buka beberapa lembar di dalam buku itu. Ada aliran air yang mencoba untuk memaksa keluar melalui sudut mata saya. Saya berkaca-kaca saat melihat ada beberapa foto saya yang diam-diam Ayah simpan.

Kemudian saya dapati ada beberapa tulisan mengenai saya. Tulisan itu bercerita tentang keluhan saya saat berada di rumah Nenek, sampai pada tulisan terakhir yang tidak bisa saya tahan untuk memaksa mata terpejam, karena ada yang sesak di bagian ulu hati.

Tulisan itu berjudul, “Maafkan Saya yang Masih Belajar Ini.”

Buku Harian Ayah.
 

Kamis, 20 Februari 2014

Mengasihani Diri Sendiri



Hari ini saya memutuskan untuk pulang terlambat. Saya mengunjungi sebuah kedai yang berada tak jauh dari rumah. Ritual ini sebenarnya sudah sering saya lakukan selama masih kuliah dulu, yakni mengunjungi sebuah kedai, kafe atau sejenisnya. Saya senang mengamati sekitar, mencari suasana baru atau menuntaskan buku yang terpaksa tertutup semalam oleh kantuk.

Saya datang sendiri ke kedai ini. Tidak ada alasan khusus mengapa saya datang ke kedai ini seorang diri, mungkin memang niat awalnya hanya mencari suasana baru dan meneruskan membaca buku, maka saya memutuskan untuk datang sendiri. Saya melihat beberapa pasangan muda-mudi yang sedang memesan kopi dan beberapa yang lainnya memesan lemon tea. Mereka nampak berbahagia, bertukar cerita satu dengan yang lain. Dan anehnya saya baru menyadari, bahwa hanya saya saja yang datang sendiri ke kedai ini.

Akhir-akhir ini saya baru menyadarinya, ada beberapa hal yang tidak terlalu penting sebenarnya untuk dipertanyakan. Namun ada beberapa hal yang ganjil jika kita coba amati. Seperti seseorang yang datang ke kedai seorang diri, sampai kemudian seseorang menonton bioskop seorang diri. Apakah ada di luar sana seseorang yang melakukan hal yang serupa dengan apa yang saya lakukan, “Nampak aneh kah?”. Menurut saya, “Tidak”, Biasa saja.

Mungkin kita hanya jarang berjalan sendirian, teramat komunal.

Seperti saat saya berada di toko buku. Melihat buku-buku yang berjudul atau bertemakan tentang kesendirian. “Sendiri dalam Senja”, “Sendiri Termangu Menunggumu”. Dan semua mengarah pada satu kata yaitu: sendiri. Sangat tidak umum, saya sering berjalan sendiri, dan jarang sekali ada  seseorang yang bernasip serupa dengan saya.

***

Saya pernah membaca satu tulisan dari Ardi Wilda tentang topik yang serupa dengan apa yang  saya tulis di atas, yaitu bertemakan “sendiri”, dan “kesendirian”. Saya kaget ternyata di luar sana ada seseorang yang ‘hampir’ bernasip serupa dengan saya. Saya katakan ‘hampir’, karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar sama dan persis.

Ia mengatakan bahwa, cerita-cerita jaman dahulu sering mengisahkan topik yang serupa. Seperti di mana kita adalah bagian dari sebuah entitas yang besar. Malam ini misalnya, saat saya membaca, subjek ceritanya tidak pernah menampilkan dirinya yang sendirian. Subjeknya adalah mereka-mereka yang menjadi bagian dari sebuah entitas besar, Pak Lurah dalam sebuah desa pemulung, guru ngaji di perkampungan yang tak religius. Mereka bukan subjek-subjek yang merasakan kesendirian. Atau meromantisir kesendirian. Tapi dalam kebersamaan dengan “yang lebih besar” tersebut, saya merasakan subjek-subjek ini adalah mereka yang hidup dalam kesendirian.

Tentu naïf membandingkan karya saat ini dengan yang dulu, banyak konteks yang jelas berubah. Tapi buat saya menarik ketika kita berkisah soal yang “sendiri di kafe” ini membanjiri toko buku. Kemudian menjadi begitu klise dengan imbuhan ‘senja’, ‘temaram’, ‘kemuning’ dan banyak kata lain yang sudah habis diromantisir. Padahal saya jarang sekali menemui sosok-sosok “sang penyendiri” ini di kehidupan nyata. Tiba-tiba bertemu dan berbincang hangat setelahnya. Jarang sekali.

Mungkin memang tulisan tak perlu jadi spion kehidupan. Tapi jika ia bukan spion, bukankah ia bisa juga berarti harapan terdalam? Bisa jadi kita risih dengan kebersamaan dan menciptakan alter ego diri kita sendiri dalam sosok-sosok individual ini. Ketika makan malam kita jengah dengan pertanyaan tipikal orang tua, ketika di pertemanan kita jengah dengan indikator kesuksesan yang begitu bias, pun saat dalam sebuah relasi kita jengah dengan mis-persepsi tentang masa depan yang ideal. Namun kita tak pernah berani menghadapinya, tokoh-tokoh sendiri itu kemudian maju sendiri.

Jika itu terjadi, mungkin kita memang tak pernah sendiri. Dalam kesendirian itu kita merindukan sesuatu yang komunal. Kita merindukan entitas yang lebih besar. Merindukan keluarga yang hangat di meja makan, merindukan teman bertukar pikiran yang tak bias dalam pemikiran. Begitupun merindukan seseorang yang kita cintai atau pasangan. Dalam kesendirian tokoh-tokoh itu mungkin para penulis sedang mengumpat dari kenyataan. Berteriak tanpa suara.

Sedihnya tokoh-tokoh itu adalah penegasan bahwa ia tetap bagian dari sebuah kelompok besar. Dan saat tokoh-tokoh sendiri maju bersama-sama dalam rak-rak toko buku, mereka membuat yang sendiri-sendiri menjadi begitu terkelompok. Sebuah spion besar akan ketakutan jadi bagian dari entitas yang lebih besar. Dan ketika mereka berusaha menjadi begitu sendiri di kafe di ujung antartika sekalipun, mereka sebenarnya sedang menegaskan mereka sedang beramai-ramai. Beramai-ramai menyatakan dirinya takut dengan kesendirian yang nyata. Kini saya bingung apakah harus mengasihani tokoh-tokoh yang selalu sendiri itu atau mengasihani saya sendiri.