Selasa, 14 Januari 2014

Meluruskannya dengan Menikah

Baru satu tahun saya mengenal Bagus Setiawan. Saya tak pernah menyangka bisa berkawan dengan pria jangkung nan selow asal Surabaya ini.

Saya masih ingat, pertemuan pertama kami berlangsung di kedai kopi yang tak jauh dari rumahnya. Setelah magrib berkumandang, dan setelah beban pekerjaan rampung, saya selalu menyempatkan diri ke kedai ini. Sebelumnya saya hanya mengenalnya sebagai kawan dari Asyeb. Asyeb Awwaluddin, pria yang saya kenal tujuh tahun lalu saat masuk perkuliahan, yang sampai sekarang menjadi karib untuk berbagi tawa dan melerai kepenatan.

Kedekatan saya dengan Bagus Setiawan berlanjut saat usaha rintisan saya dan Asyeb mengalami krisis. Usaha kecil itu, dibidang produksi pupuk organik cair dan budidaya jamur tiram yang kami rintis mulai dari bangku perkuliahan. Bagus Setiawan adalah orang yang membatu kami untuk melerai krisis itu, membuatnya sedikit mudah untuk ditekuni kembali.

"Bro, besok aku mau minta arsip keuangan CV. Mau aku pelajari dan siapa tau, aku bisa bantu preteli satu persatu." Ujar Bagus Setiawan dengan raut serius. Waktu itu saya dan Asyeb hampir kehilangan cara untuk mengganti kerugian yang hampir mencapai angka 20 juta itu. Alhasil, kami pasrah tak ada pilihan lain untuk menerima tawaran darinya.

***

Sebuah awal cerita untuk saya, yang beruntung mengenal seorang Bagus Setiawan. Pria yang yang banyak mengajarkan kepada kami tentang semangat pantang menyerah, dan selalu merenovasi rasa malu untuk terus berjalan dengan spartan.

Sekarang tepat di hari kelahiran Rosullullah Muhammad SAW, Pria pekerja keras, dan pemikir pintar ini, mewujudkan niat lurusnya untuk menikahi Sekar Wening di hari kelahiran Rasullullah SAW yang insya-Allah diberkahi.

Ada prinsip di dalam diri ini yang tertanam, untuk menjalin persaudaraan dalam kemanusiaan . Prinsip ini saya dapat dari perbincangan dengan kedua orang tua saya, khususnya dengan sang Ayah. Ayah pernah berucap kepada saya, "Ada tiga hal penting untuk sebuah penghormatan untuk sesama manusia. Pertama, merayakan kelahiran. Kedua, menghadiri undangan pernikahan, dan ketiga adalah menghadiri pemakaman."

Sebagai seseorang sahabat, yang ikut berbahagia dengan suka cita yang dirasakan Bagus dan Sekar. Saya sangat bersemangat untuk pakewuh di dalam kegembiraan mereka berdua. 

Ada beberapa hal yang saya lihat dalam prosesi itu, dan kemudian diam-diam menjelma menjadi sebuah perenungan dan pertanyaan diri. Kapan saya pantas? kemudian lirih saya menjawab, saatnya untuk berbenah dan meluruskan niat supaya waktu itu pantas. Bahwa meluruskan niat dan menyempurnakan ibadah dengan menikah, sebagai sunnah Rosullullah SAW.

Siapa Berikutnya?


ps: Saya berterima kasih untuk percakapan malam dengan kawan perempuan yang jauh di sana. Secara sadar atau tidak, ia banyak memberi inspirasi untuk saya menulis tentang pernikahan, yang saya sendiri pun sebenarnya ragu untuk menuliskannya. Kemudian, perasaan berani itu keluar, karena ia pernah berkata kepada saya melalui percakapan melalui seluler, "bahwa sebelum memutuskan untuk menikah, ada satu hal yang harus diluruskan yaitu niat." Subhanallah. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar