Belum Terlambat

"Selama hidup sepanjang usiaku
Tak sekalipun pernah ku menyentuh wujudnya.." 
Padi - Belum Terlambat.





Saat saya menulis ini, saya telah merampungkan satu buku dari Paulo Coelho yang berjudul ziarah. Kebiasaan pagi, yang saya awali dengan kegiatan medhang, seperti membuat teh atau jika mata masih merasa kantuk, saya akan membuat kopi untuk menyegarkannya.

Meluangkan waktu selama lima menit sebelum keluar rumah dengan membaca beberapa bacaan, seperti majalah, komik, koran, sampai buku yang tak sengaja tertutup semalaman oleh kantuk. Menurut saya, aktivitas pagi yang seperti ini adalah cita-cita setiap orang nantinya, setelah aktivitas berkebun yang menjadi cita-cita tua saya kelak. Pagi yang luar biasa menyenangkan.

Beberapa hari ini memang ada sebuah peristiwa yang membuat saya berdecak kagum, seperti seorang kawan lama yang tiba-tiba datang ke rumah lalu menyodori undangan pernikahan. Kemudian banyak berita gembira yang saya terima baik itu bersifat langsung atau berita yang sengaja saya cari tahu sendiri kebenarannya. Saya merasa waktu memang berputar begitu cepat dan beringas meninggalkan orang-orang malas macam saya.

Saya masih berpikir, "ini saya yang terlampau lambat menikmati dunia, atau orang-orang di luar sana terlampau cepat untuk menghadapi dunia?"

Saya masih mencari jawabannya. 

Melihat cangkir teh dengan isi yang sudah mulai habis, saya urungkan untuk meneruskan membaca. Saya putuskan untuk menutup beberapa majalah yang 8 menit lalu saya buka secara bergantian, saya berhenti mencari beberapa refrensi perjalanan untuk destinasi saya menuju Ujung Pandang akhir bulan nanti. Tiba-tiba perasaan saya menjadi datar, saya memikirkan pertanyaan yang saya buat sendiri barusan.

Majalah-majalah dengan framing warna kuning dan foto-foto yang menawan itu saya rapikan di sisi kursi tempat saya duduk. Saya menyalakan rokok yang masih utuh semalaman yang tak sempat saya nikmati sebelum saya tidur, berusaha mengusir beberapa pikiran aneh yang berputar-putar melalui pembuluh vena kiri. Saya menghadap ke arah atas, melihat susunan pohon sepatu yang mulai menguap terpapar sinar matahari. Kombinasi hijau berbaur dengan warna keemasan. Membuat saya teralihkan untuk menikmati pola warna yang saya lihat itu semakin lama.

Saya mulai rindu masuk hutan, berjalan puluhan kilo kemudian menemukan sumber air untuk membalas kering dahaga dan perasaan lelah. Saya juga mulai rindu pantai, rindu semilir angin, dengan masyarakat pesisir yang selalu bersahaja dengan kulit coklat keemasannya. Namun pagi ini, pikiran saya berisi ribuan sel yang meminta saya untuk bercerita, bahwa saya sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dengan orang lain di luar sana, entah, orang lain yang tak pernah tersentuh wujudnya. Siapa saja, yang merasa saya mencintainya. Saya ingin mengatakan, "belum terlambatkah saya untuk mengerti?"


Ps: Menulis sembari mendengarkan lantunan suara Fadli, Padi dengan judul Belum Terlambat.

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini