Rabu, 29 Januari 2014

Surat Untuk Luna (Tentang Syukur)

Dear Luna.

Semoga harimu selalu menyenangkan.

Luna, dua hari ini. Atau beberapa hari sebelum ini, nampak biasa-biasa saja. Saat pagi tiba, aku luangkan untuk membaca beberapa buku yang tertutup semalaman. Dan sesekali membumbuinya dengan menyeduh kopi di teras rumah sebelum berangkat kerja.

Saat siang menjelang. Menepi karena terik atau jika hujan mulai datang. Meski setiap harinya bertemu dengan orang-orang yang selalu berbeda, tapi nampak biasa saja.

Petang pun demikian biasa. Melaluinya dengan perasaan lelah, dengan hati yang teramat biasa.

Pernah pada satu malam, tak ada kamu atau pun lirih lagu yang mengalun. Aku memaksa untuk diam saja, memandang langit-langit kamar yang sengaja aku padamkan sinarnya. Merangkai beberapa pola abstrak yang ada di sana.

Ya, hanya diam saja.

Kemudian aku memaksa otakku berpikir tentang satu keadaan. Keadaan yang memaksa otak bekerja supaya lelah, dan berharap aku lekas tertidur setelahnya.

Seolah-olah sekrup di poros encephalon bergerak begitu cepat.

Aku memikirkan, delapan hari setelah ini. Kemudian bergulir seperti roda-roda gila, menjadi delapan minggu setelah ini, kemudian menjadi delapan bulan setelah ini, dan semakin cepat menuju delapan tahun setelah ini. Entah, mengapa harus angka delapan. Mungkin aku sedang memikirkan satu keterbatasan dengan simbol angka itu.

Mungkin aku pula belum sadar, bahwa saat ini masih bulan baru: Januari. Tapi bulan ini, beberapa rencanaku sedang di revisi oleh yang maha menghakimi. Satu rencana ke Flores, satu rencana ke Sinabung, dan satu rencana lain menuju Ujung Pandang. Semuanya di revisi habis oleh Nya.

Mungkin aku terlalu sibuk melihat perut yang makin lama mulai berlemak, mungkin juga aku mulai mengalami kekikiran, atau juga aku mulai haus akan kenikmatan panca indra. Dan lupa bagaimana caranya berpuasa, mungkin juga aku lupa bagaimana caranya memberi dan mencintai.

Luna, pernah aku bertemu dengan satu kalimat. "Saat manusia menjadi biasa, ia telah bersyukur."
Tapi malam itu aku cuma bertemu dengan yang biasa di beberapa pikiran sepi dalam gelap.

Mungkin saat kamu bertemu dengan rasa syukur itu. Katakanlah, "Bagaimana caraku untuk menemuinya?" Aku begitu rindu dengannya, supaya malam-malamku terlelap dengan perasaan syukur yang luar biasa. Atau mungkin aku memutuskan untuk berhenti mencari saja?

Lama aku terdiam, kemudian perasaan lancang menyeruak untuk mengirim tulisan ini untukmu.



Balasan dari Luna untuk menyadarkanku.

Rabu, 22 Januari 2014

Belum Terlambat

"Selama hidup sepanjang usiaku
Tak sekalipun pernah ku menyentuh wujudnya.." 
Padi - Belum Terlambat.





Saat saya menulis ini, saya telah merampungkan satu buku dari Paulo Coelho yang berjudul ziarah. Kebiasaan pagi, yang saya awali dengan kegiatan medhang, seperti membuat teh atau jika mata masih merasa kantuk, saya akan membuat kopi untuk menyegarkannya.

Meluangkan waktu selama lima menit sebelum keluar rumah dengan membaca beberapa bacaan, seperti majalah, komik, koran, sampai buku yang tak sengaja tertutup semalaman oleh kantuk. Menurut saya, aktivitas pagi yang seperti ini adalah cita-cita setiap orang nantinya, setelah aktivitas berkebun yang menjadi cita-cita tua saya kelak. Pagi yang luar biasa menyenangkan.

Beberapa hari ini memang ada sebuah peristiwa yang membuat saya berdecak kagum, seperti seorang kawan lama yang tiba-tiba datang ke rumah lalu menyodori undangan pernikahan. Kemudian banyak berita gembira yang saya terima baik itu bersifat langsung atau berita yang sengaja saya cari tahu sendiri kebenarannya. Saya merasa waktu memang berputar begitu cepat dan beringas meninggalkan orang-orang malas macam saya.

Saya masih berpikir, "ini saya yang terlampau lambat menikmati dunia, atau orang-orang di luar sana terlampau cepat untuk menghadapi dunia?"

Saya masih mencari jawabannya. 

Melihat cangkir teh dengan isi yang sudah mulai habis, saya urungkan untuk meneruskan membaca. Saya putuskan untuk menutup beberapa majalah yang 8 menit lalu saya buka secara bergantian, saya berhenti mencari beberapa refrensi perjalanan untuk destinasi saya menuju Ujung Pandang akhir bulan nanti. Tiba-tiba perasaan saya menjadi datar, saya memikirkan pertanyaan yang saya buat sendiri barusan.

Majalah-majalah dengan framing warna kuning dan foto-foto yang menawan itu saya rapikan di sisi kursi tempat saya duduk. Saya menyalakan rokok yang masih utuh semalaman yang tak sempat saya nikmati sebelum saya tidur, berusaha mengusir beberapa pikiran aneh yang berputar-putar melalui pembuluh vena kiri. Saya menghadap ke arah atas, melihat susunan pohon sepatu yang mulai menguap terpapar sinar matahari. Kombinasi hijau berbaur dengan warna keemasan. Membuat saya teralihkan untuk menikmati pola warna yang saya lihat itu semakin lama.

Saya mulai rindu masuk hutan, berjalan puluhan kilo kemudian menemukan sumber air untuk membalas kering dahaga dan perasaan lelah. Saya juga mulai rindu pantai, rindu semilir angin, dengan masyarakat pesisir yang selalu bersahaja dengan kulit coklat keemasannya. Namun pagi ini, pikiran saya berisi ribuan sel yang meminta saya untuk bercerita, bahwa saya sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dengan orang lain di luar sana, entah, orang lain yang tak pernah tersentuh wujudnya. Siapa saja, yang merasa saya mencintainya. Saya ingin mengatakan, "belum terlambatkah saya untuk mengerti?"


Ps: Menulis sembari mendengarkan lantunan suara Fadli, Padi dengan judul Belum Terlambat.

Selasa, 14 Januari 2014

Meluruskannya dengan Menikah

Baru satu tahun saya mengenal Bagus Setiawan. Saya tak pernah menyangka bisa berkawan dengan pria jangkung nan selow asal Surabaya ini.

Saya masih ingat, pertemuan pertama kami berlangsung di kedai kopi yang tak jauh dari rumahnya. Setelah magrib berkumandang, dan setelah beban pekerjaan rampung, saya selalu menyempatkan diri ke kedai ini. Sebelumnya saya hanya mengenalnya sebagai kawan dari Asyeb. Asyeb Awwaluddin, pria yang saya kenal tujuh tahun lalu saat masuk perkuliahan, yang sampai sekarang menjadi karib untuk berbagi tawa dan melerai kepenatan.

Kedekatan saya dengan Bagus Setiawan berlanjut saat usaha rintisan saya dan Asyeb mengalami krisis. Usaha kecil itu, dibidang produksi pupuk organik cair dan budidaya jamur tiram yang kami rintis mulai dari bangku perkuliahan. Bagus Setiawan adalah orang yang membatu kami untuk melerai krisis itu, membuatnya sedikit mudah untuk ditekuni kembali.

"Bro, besok aku mau minta arsip keuangan CV. Mau aku pelajari dan siapa tau, aku bisa bantu preteli satu persatu." Ujar Bagus Setiawan dengan raut serius. Waktu itu saya dan Asyeb hampir kehilangan cara untuk mengganti kerugian yang hampir mencapai angka 20 juta itu. Alhasil, kami pasrah tak ada pilihan lain untuk menerima tawaran darinya.

***

Sebuah awal cerita untuk saya, yang beruntung mengenal seorang Bagus Setiawan. Pria yang yang banyak mengajarkan kepada kami tentang semangat pantang menyerah, dan selalu merenovasi rasa malu untuk terus berjalan dengan spartan.

Sekarang tepat di hari kelahiran Rosullullah Muhammad SAW, Pria pekerja keras, dan pemikir pintar ini, mewujudkan niat lurusnya untuk menikahi Sekar Wening di hari kelahiran Rasullullah SAW yang insya-Allah diberkahi.

Ada prinsip di dalam diri ini yang tertanam, untuk menjalin persaudaraan dalam kemanusiaan . Prinsip ini saya dapat dari perbincangan dengan kedua orang tua saya, khususnya dengan sang Ayah. Ayah pernah berucap kepada saya, "Ada tiga hal penting untuk sebuah penghormatan untuk sesama manusia. Pertama, merayakan kelahiran. Kedua, menghadiri undangan pernikahan, dan ketiga adalah menghadiri pemakaman."

Sebagai seseorang sahabat, yang ikut berbahagia dengan suka cita yang dirasakan Bagus dan Sekar. Saya sangat bersemangat untuk pakewuh di dalam kegembiraan mereka berdua. 

Ada beberapa hal yang saya lihat dalam prosesi itu, dan kemudian diam-diam menjelma menjadi sebuah perenungan dan pertanyaan diri. Kapan saya pantas? kemudian lirih saya menjawab, saatnya untuk berbenah dan meluruskan niat supaya waktu itu pantas. Bahwa meluruskan niat dan menyempurnakan ibadah dengan menikah, sebagai sunnah Rosullullah SAW.

Siapa Berikutnya?


ps: Saya berterima kasih untuk percakapan malam dengan kawan perempuan yang jauh di sana. Secara sadar atau tidak, ia banyak memberi inspirasi untuk saya menulis tentang pernikahan, yang saya sendiri pun sebenarnya ragu untuk menuliskannya. Kemudian, perasaan berani itu keluar, karena ia pernah berkata kepada saya melalui percakapan melalui seluler, "bahwa sebelum memutuskan untuk menikah, ada satu hal yang harus diluruskan yaitu niat." Subhanallah. :)

Jumat, 03 Januari 2014

Sederhana saja



Muka yang lagi sederhana.


Seusai shalat Jum’at saya merasa lapar. Maklum akhir-akhir ini nafsu sarapan sedikit menurun, mungkin beberapa jadwal yang begitu padat, membuat saya sedikit mengabaikannya.

Setiba di rumah, saya langsung menuju ruang makan. Membuka penutup sari (kerudung makanan) untuk melihat menu makanan siang itu. Berharap rasa lapar sedari shalat mendapat lawan yang setanding di meja makan. Srek, penutup sari cepat saya buka. Di meja makan terlihat tempe dan tahu goreng. Kemudian di sisi lain terlihat mangkuk berisikan sayur asem yang mulai dingin. Kemudian saya melihat sambal terasi dengan perpaduan warna antara cabai merah yang mulai kalah dengan warna terasi yang khas.

Saya mengambil piring putih kesayangan, kemudian memutuskan untuk duduk melihat beberapa hidangan yang berada di meja makan. Saya sengaja tidak segera mengambil nasi, atau mengambil beberapa lauk yang ada. Saya masih ingin melihat-lihat beberapa benda dihadapan saya, sembari mbatin di dalam hati.

Saya mulai bergejolak untuk mengumpat, 

“yah, kenapa sih tempe lagi, tahu lagi? Gak ngerti opo, weteng luwe?”

***

Semenjak saya suka travelling, tak jarang saya mengunjungi beberapa kedai lokal yang menjual masakan khas daerah. Seperti waktu saya ke Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat, melihat langsung masyarakat Mandar mengolah hasil laut dengan tiga rasa yang khas: asam, manis, dan pedas. Sungguh, jika mengingatnya membuat saya rindu untuk kembali.

Beberapa pengalaman dan temuan, membuat saya selalu menempatkan diri menjadi orang yang baru. Karena tak mungkin jika kita mengunjungi beberapa daerah baru, masih menggunakan cara lama. Bisa dibilang, dengan beradaptasi manusia dapat bertahan.

Mungkin semua pengalaman tidak bisa disandingkan secara bersamaan untuk satu lokasi yang berbeda. Beda lokasi, berbeda pula cara kita untuk menghadapinya. Sebagai contoh, saat saya berada di gunung untuk pendakian. Mulai dari membawa logistik yang sangat sederhana, sampai dengan taraf ekslusif. Tapi tetap saja, kita dihadapkan dengan keterbatasan.

Saya sampai menemukan sebuah pemikiran, “bahwa kita hidup untuk mencari keterbatasan. Bukan mencari kebebasan.” Sama halnya jika kita berpikir, pernahkah kita merasa baik untuk satu hal? Tidak akan pernah kan. Bahwa manusia akan selalu diuji dengan beberapa ketakutan dalam hidupnya. Miskin, lapar, mati dan lain sebagainya.

***

Mungkin saat itu, saya sedang terlena dengan beberapa kenyamanan dalam hidup. Berada di rumah dengan ekspektasi, “jika lapar tinggal ke meja makan untuk makan.“ tapi kenyataannya? Saya masih saja mengeluh dan ngumpat kasar.

Berbeda saat saya berada di hutan dengan persediaan logistik yang minim. Seperti dihari terakhir saat saya memutuskan untuk turun gunung argopuro, tanpa disangka perbekalan yang kian menipis. Hanya ada serbuk biskuit melempem yang hampir tak meninggalkan rasa. Tetap saja, sisa makanan itu begitu nikmat saat berada di jalur pendakian. Tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup saat itu.

Sawang-sinawang. Melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. itu menyebalkan.

Kemudian saya memikirkan beberapa pengalaman yang sudah terjadi, saat saya ditempatkan pada posisi kekurangan, seperti minimnya isi dompet. Saat itu saya hanya berpikir, bagaimana mengelola dan bertahan dengan kondisi itu. Kemudian roda berputar, menempatkan saya dengan kondisi yang Alhamdulillah cukup dan terkadang berlebih, malah bukan rasa syukur. Dengan takabur menyiapkan beberapa list kebutuhan ini dan itu, yang jika dipikir kembali adalah kebutuhan tersier. 

Jika sudah demikian, saya kembali melihat ke lingkungan keluarga, dan beberapa orang yang masih belum seberuntung saya. Melihat kembali beberapa catatan di dalam buku jurnal harian yang sering saya bawa. Secara sederhana, melihat dengan hati. Bahwa perilaku yang sekiranya berlebihan, dan sesuatu keinginan yang berlebihan akan membuat diri kita lupa. Lupa akan arti hidup yang sebenarnya ada keluarga kita yang makan saja masih sukar, dan beberapa orang untuk tidur saja masih mencari.

Tuhan, di tahun yang masih baru ini. Ijinkan saya kembali kepadamu (lagi), ijinkan saya untuk kembali ke beberapa hal yang sering terlupakan untuk menjadi sederhana. Bahwa kata-kata, “bahagia itu sederhana” tidak hanya menjadi slogan hidup, bertebaran di media maya untuk sebuah eksistensi belaka. Namun tetap mengakar kuat, untuk sebuah tujuan hidup yang lebih mulia. Bersahaja dalam karya, bermanfaat di setiap persahabatan. 

Ternyata memang benar kata orang, “bahwa makanan terenak adalah saat perut kita merasakan lapar.” Sederhana saja.