Sabtu, 20 Desember 2014

Bakso, Baju Olah Raga, dan Dimana Kamu Sekarang?



Kadang kamu bisa begitu kagum dengan bagaimana sebuah kenangan datang dan membuat sisa harimu berakhir. Tentang perasaan-perasaan sentimentil yang kamu kira telah hilang, tentang kerinduan-kerinduan klise yang terlampau murahan untuk diingat, tapi kamu mengingatnya dengan detil-detil yang begitu jelas. Kamu lantas terdiam, menyadari betapa waktu berlalu begitu cepat, dan kesibukan-kesibukan kita untuk hidup, pelan-pelan, telah membuat kita menjadi robot yang melupakan sisi kemanusiaan kita.

Ingatan itu sederhana. Tentang kamu yang menempuh jalan belasan kilometer, dengan sepeda minyak, menelusuri pohon-pohon asam sepanjang jalan, di tengah malam. Hanya untuk mengirim pesan kepada pria yang kamu sukai. "Selamat ulang tahun, coba tengok ke luar jendela," meski pada akhirnya kamu mesti ditampar kenyataan bahwa pria yang kamu sukai sudah tidur, dan ia tidak menyukai hal-hal, yang kau kira, romantis semacam ini. Tapi bukankah ini yang membuat kita hidup? Tentang memenuhi ekspektasi-ekspektasi diri, meski kemudian dihadapkan dengan kegagalan, tapi kita tak pernah menyesal. Kita tahu hasilnya, kita pernah mencoba.

Kamu masih di sini, di satu waktu dimana masa depan masih terlampau jauh, dan masa lalu berada di ujung belokan tadi. Mengingat bagaimana kamu berkejaran dengan waktu, menggunakan jam peralihan kelas, pura-pura sakit perut hanya untuk mencari momen melihat pria yang kamu suka di lorong jalan sekolah. Ia dengan seragam olah raganya yang kebesaran, senyum canggung dan alis mata yang tebal. Saat itu, kamu merasa jantungmu akan meledak, lalu menjalani sisa hari di sekolah dengan senyuman paling bodoh yang bisa kamu buat.

Kenangan itu adalah semangkuk mia ayam atau bakso. Di tengah hujan, sepulang sekolah, bersama seseorang yang kamu sukai. Ia yang tak pernah berani kamu ajak bicara, namun saat itu, pada momen itu saja, tuhan begitu murah hati padamu. Ia mempertemukan seseorang yang kau kira belahan jiwamu, tengah terjebak hujan di sebuah warung mi bakso. Bersamanya kamu akhirnya memutuskan untuk berani bicara. Sepotong kata "halo," yang akhirnya membuat kalian kemudian dekat, selamanya, meski bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai seseorang yang lebih mengerti daripada seorang sahabat.

Mungkin kamu hanya ingin kembali ke masa itu. Ketika kamu tak perlu pusing perihal hutang, ketika kamu tak perlu tertekan memikirkan cicilan. Masa masa di mana kamu hanya memikirkan dia yang kamu sukai. Masa ketika kamu masih menjadi manusia.

Memang benar, cinta memang tak pernah tepat waktu.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Saran: Lakukanlah Segera!

Photo: Anggara Padang
Ada kalimat menarik yang sedikit menggelitik: "If we don’t travel when we’re young, we’re hardly more likely to travel when we get older." Secara umum kita memahami bahwa menunda perjalanan adalah setara dengan menunda kehidupan.

Tetapi banyak yang bingung akan kalimat di atas, bahwa kesan dari traveling adalah mahal dan penuh dengan pengeluaran. Namun, di era digital telah banyak cara yang dapat kita pelajari untuk melakukan perjalanan dengan sedikit uang dan pengeluaran.

If travel is a priority for you, the period between settling down and saving can be maddening. Anda menginginkan untuk pergi keluar dan melakukan beberapa hal yang menyenangkan, tapi kemudian anda harus menahan diri untuk melakukan kegiatan lain, seolah menghukum diri akan beberapa hal untuk kegiatan yang menyenangkan. And if you do try and make life enjoyable in that between time, your savings account will inevitably fill up slower than you’d planned. Ah, Dunia.. ini merupakan pilihan yang bisa membuat kami gila!

Tetapi tenang saja kawan, jika kita masih tetap berkubang dengan persoalan tersebut, bisa dipastikan akan menjadi masalah yang sangat serius bagi hidup kita. Banyak di luar sana, orang-orang kreatif membuat hidupnya tidak bergantung dengan uang, mereka melakukan banyak perjalanan yang dicatat oleh dunia. Mereka melakukan perjalanan yang mempunyai dampak yang luar biasa bagi hidup mereka dan orang-orang disekitarnya. 

Banyak sudah artikel yang menginformasikan kepada kita untuk berjalan dan melakukan perjalanan dengan murah. Tapi itu tak penting lagi kawan, saran saya, segera tutup saja semua catatan dan refrensi perjalanan yang kalian miliki. Kemudian segeralah keluar dan lakukan saja!

Selasa, 14 Oktober 2014

Lupakan Foto Lanskap: Mulailah Memfoto Diri Saat Pergi Melancong

Photo: Abdurrahman Azhim

Saya hanya memiliki tidak lebih lima foto Ayah dan Ibu sampai adik kedua saya lahir. Dari lima foto mereka, mungkin hanya dua yang sempat saya selamatkan. Pertama adalah foto pernikahan Ayah dan Ibu saat melangsungkan upacara pernikahan menggunakan pakaian adat Jawa. Ibu terlihat memakai sanggul, sangat anggun dengan riasan bunga melati di rambutnya. Sedangkan Ayah menggunakan kain batik Jawa yang dipakai melingkar di daerah perut sampai ke bawah lutut.

Foto kedua adalah saat kami bertiga berlibur ke pulau Dewata: Bali. Kami bertiga berada di depan hotel daerah Sanur. Ibu duduk di kursi berbahan bambu yang setiap pangkalnya tertutupi dengan kulit lontar yang berpilin sangat rapi. Sedangkan Ayah dan Saya berdiri di samping kiri dan kanan Ibu. Ibu saya menggunakan rok berwarna biru muda dengan atasan berkerah berwarna hitam. Ibu terlihat manis dengan gaya rambut pendek seleher. Ayah saya memiliki kumis berwarna hitam, nampak aneh bagi saya. Saya mengenalnya saat ini dengan kumis tipis berwarna perak, dan selalu membersihkan jenggotnya dengan gunting kecil. Kami bertiga tersenyum, senyuman kami nampak sama persis. Foto tersebut mencoba memberitahu kepada orang lain bahwa inilah liburan keluarga kami untuk pertama kali yang patut untuk kami kenang nanti.

Foto kami tetap ditempel di kaca lemari rumah kakek dan nenek, rapuh, dan mulai menguning dengan bingkai selotip transparan. Foto yang mengalahkan usia, diambil lebih dari 28 tahun yang lalu, ini adalah salah satu artefak orang tua saya yang masih tersisa sebelum saya memasuki sekolah dasar.

Whenever any of us comes back from traveling, my family insists that we show our photographs in a kind of grandiose slideshow on our monitor laptop. Mungkin hanya untuk mendengar salah satu dari kami berkata "ooh" dan "haaa" untuk pemandangan langit dengan awan cumulus, hamparan savana yang berada di Baluran, dan birunya air laut di pulau Lombok Nusa Tenggara.

Ketika saya masih kuliah, saya memutuskan untuk backpacking selama satu tahun. Mengunjungi beberapa tempat di Jawa Timur dan berlanjut sampai ke Timur Indonesia. Saya kembali ke rumah saat memasuki musim hujan di bulan Desember. Saat saya berada di teras dan menikmati teh, saya mencoba memainkan kamera dengan meng-klik beberapa gambar bunga sepatu yang mulai mekar dengan warna merahnya yang cantik. Memfoto cangkir teh, dan kretek yang terbakar di pinggiran asbak kecil merah jambu.

Lebih dari 200 gambar foto yang ada di memori card kamera saya, mungkin tidak lebih dari 17 foto adalah foto selfie saya saat travelling. Ada yang paling saya ingat dari foto itu adalah saat saya bersama tas kariel 60 liter, berada di pinggir danau Bedugul. Kemudian ada satu lagi saat saya meminta tumpangan kepada supir angkutan sayur di daerah desa Sasak. Rambut yang nampak memerah karena terbakar matahari, kulit yang terbakar dengan warna yang sedikit kusam. Sungguh terlihat eksotis waktu itu. Tapi beberapa bulan terakhir saat saya mengalami musibah, laptop saya jatuh dan rusak, saya harus mengikhlaskan beberapa foto perjalanan saya hilang. Sampai saat ini, saya masih berpikir bahwa itulah kenang-kenangan satu-satunya yang dapat saya bawa pulang dan menjadi penawar rindu akan tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Bahwa saya pernah berkunjung ke sana di umur 20 tahun.

Saya pernah mendengar beberapa cerita dari Ayah dan Ibu, bahwa mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk berpose dan berfoto bersama saat melakukan perjalanan. Mungkin pada saat itu kamera bukan satu prioritas atau gaya hidup.

Portraits allow us to speak with our past selves, thank them for their youthful dreams. Throughout our extended family, my dad is known for being a stubborn, determined photographer. Mungkin bakat itu menurun kepada saya saat ini. Saya selalu tertarik untuk mengambil beberapa momen apalagi saat hari raya tiba, saat semua keluarga sedang berkumpul. Tetapi belum ada yang sanggup mengalahkan semangat Ayah saya untuk menjadi tukang foto dadakan, 

“You’re all going to be very thankful I did this,” he claims. (mengko awakmu kabeh, podo suwun-suwun nang aku, kata beliau kepada kami)

When I look into my own photographed eyes, I can almost remember exactly what I was thinking at that moment. We all know ourselves so well that we can decode the lines on our faces, the slight crinkles, side glances, turned-up lips. Portraits allow us to speak with our past selves, thank them for their youthful dreams.

Sometimes we see ourselves in old photos — arms around the person we love, hair frizzy, clothes dirty — and we think about what we didn’t yet know. We laugh at our naivety. Envy it. Other times, we marvel at an old friend — a past soul we’ve forgotten — the traveler caught up in a vast landscape, while slowly moving on to another moment of life.

Tidak ada salahnya jika sedikit melupakan foto lanskap, dan memulai foto diri saat pergi melancong.

Selasa, 09 September 2014

Belajar Mengemudi!

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Batu untuk kunjungan kantor. Saat itu saya bersama Pak Aril dan Ibu Indi, dua orang atasan saya. Kami bersepakat untuk bersiap pukul 06:00 Pagi. Sebelumnya saya berinisiatif untuk memulai keberangkatan dari rumah Bapak Aril, saya pikir supaya praktis dan efisien. Mengingat jalanan akhir pekan Surabaya - Malang seperti semut yang mengantri untuk makan: padat merayap.

Saat perjalanan kami menuju Kota Batu, tiba-tiba saya teringat sosok Ayah. Saat itu saya berada di seat belakang Ibu indi yang sedang tidak menyetir. Tiga puluh derajat ke arah kanan, tempat saya duduk menghadap ke arah pak Aril yang sedang mengemudi mobil. Saya teringat saat saya dan keluarga berlibur bersama, saya selalu memperhatikan Ayah saat menyetir.

Saya mengingat satu hal kecil yang menjadi ciri khas Ayah. Ia tergolong orang yang kaku, namun seiring bergulirnya waktu sepertinya ia mengubah sikapnya. Meski begitu ada satu kekakuan kecil yang terus ia pegang sampai saat ini. Itu diwujudkan dalam melatih anak-anaknya berkendara.

Ayah saya punya ukuran jelas dalam mengemudikan kendaraan. Saya sama sekali tak diijinkan mengendarai motor sebelum usia saya 17 tahun, apapun alasannya. Ia melatih saya naik motor sebelum usia 17 tentunya, namun ia hanya akan menyerahkan kunci ketika saat itu saya sudah menginjak usia 17 tahun. Ia pernah mengatakan, akan ada waktunya untuk setiap kesempatan. Begitupun untuk mengajukan saya untuk mengurus surat mengemudi. Beliau pikir semua memang ada masanya.

Layaknya anak laki-laki setelah bisa mengendarai motor, di usia muda saya pun meminta untuk diajari mengendarai mobil. Namun, ia selalu menolak permintaan saya. Malah menyuruh saya untuk tetap menggunakan Motor. Waktu itu saya beranggapan jika Ayah egois dan kaku. Saya yang waktu itu tinggal bersama Kakek dan Nenek, tak punya pilihan untuk menerimanya saja.

Waktu terus berlalu dan saya merasa kebutuhan dapat mengendarai mobil semakin mendesak. Apalagi dalam beberapa bulan terakhir. Saya sering mengunjungi beberapa kantor untuk urusan tour dan travel di pekerjaan. Mengantarkan tamu untuk city tour dan berbelanja.

Ada rasa bersalah ketika saat Bapak Aril menyupiri saat kunjungan kami pergi ke kota Batu. Namun perasaan bersalah itu saya ganti dengan beberapa obrolan ringan mengenai beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan. Minimal pak Aril tidak merasa sendiri saat menyetir.

Setelah obrolan mengenai pengalaman traveling kami habis. Berganti suara hening yang membuat saya memilih utuk diam dan memandang ke arah luar jendela. Saya melihat beberapa pepohonan yang berjalan berlawanan. Semakin cepat mobil melaju, semakin cepat pepohonan berganti.

Saya merindukan keluarga saya. Ayah, Mama, dan dua orang adik yang semakin berumur. Saya juga merindukan berlibur bersama dengan satu mobil dan keceriaannya. Meskipun ada beberapa hal yang sulit saya mengerti sampai sekarang, "Mengapa Ayah selalu mengemudi dengan kecepatan yang begitu lambat?"

Mungkin saya melewatkan pelajaran dari ayah, bahwa mengemudi tidak selalu identik dengan pedal gas dan selalu melaju dengan kecepatan yang tinggi. Terkadang pedal rem itu penting untuk kita perhatikan, "Bahwa banyak obsesi yang tidak terolah, hanya akan membawa kita pada sebuah kecerobohan."

Pada pelajaran mengemudi terakhir yang pernah saya lakukan bersama Ayah, kami tak sedang belajar mengatur kopling, rem pun gas. Yang beliau lakukan sedang mengajak saya berbincang secara setara antara dua laki-laki dewasa. Dan untuk kali itu, saya tak ingin mengecewakannya, setelah apa yang selalu saya bantah darinya di kala muda tentang obsesi saya. Pun mungkin ia sudah tak begitu kecewa dengan impian-impiannya pada saya, seperti yang dikatakannya pagi hari itu, “Cuma kamu mas yang bisa ngerasakan ingin secepat apa lajunya, bukan Ayah.”

Minggu, 24 Agustus 2014

Memotong Lidah

Potong lidahmu!

Sekitar seminggu setelah lebaran, saya kalah. Saya menerima tawaran Ibu untuk menggunakan smartphone. Bukan perkara anti gadget, atau semacamnya. Melainkan ada beberapa ketakutan yang akan saya tarik sendiri dari lidah yang terlanjur menjulur. Saya mengerti bahwa benci dan suka perbedaannya sangat tipis. Kita dapat termotivasi untuk melakukan banyak hal dan berjuang sekalipun, karena dua kata di atas: benci dan suka. 

Setelah membiasakan diri dengan genggaman baru, saya memberanikan diri untuk menghubungi teman-teman lama yang berada di phone list. Saya mengucapkan selamat hari raya, dengan perkataan seremonial seperti pada umumnya. Banyak teman yang merepon dengan kadarnya masing-masing, ada yang berusaha biasa, dan tak jarang ada juga yang begitu hiperbolik.

Saya jadi teringat dengan perkataan teman saya di kantor yang bernama Okky. Pada sebuah sore, perbincangan kita semakin religi di teras masjid. Okky berkata, "Bahwa nanti kita akan memotong lidah kita sendiri."

*sumber gambar



Jumat, 01 Agustus 2014

Selamat Hari Jum'at, Selamat Bekerja, dan Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Lama sudah saya tidak menyentuh blog ini, menulis dan merancau tentang banyak hal. Ada perasaan khawatir saat lama tidak menulis, takut menjadi kaku dan bodoh saat bercerita. Dulu saya pernah mendapat petuah baik dari seorang rekan, "Menulis sama halnya dengan berlatih tinju, jika jarang dan tidak pernah berlatih maka kemahiran kita akan menurun dan menjadi kaku."

Banyak hal yang akhir-akhir ini sudah dan sedang saya kerjakan. Saat saya menuliskan ini contohnya, saya mencuri-mencuri waktu disela kesibukkan saat saya bekerja. Sambil menunggu adzan Shalat Jum'at, saya memaksakan diri untuk menulis dan menjamah kembali blog kesayangan ini.

Setelah pertemuan saya dengan Bianca, wanita yang berasal dari negara dengan luas sembilan juta kilometer persegi: Dominion of Canada. Saya memulai aktivitas yang sempat tertunda, membenahi kembali rencana studi saya yang sempat saya tinggalkan selama tiga tahun lebih, dan akhirnya sekarang selesai juga.

Kemudian saya memutuskan untuk kembali bekerja. Setelah saya bersahabat dengan berbagai pemikiran jika menjadi penulis lepas adalah jalan terbaik yang mampu membuat saya menjadi superhero. Superhero yang mampu berkeliling dunia.

Saya juga sempat meluangkan waktu untuk berkunjung ke Ranu Kumblo beberapa bulan lalu bersama rekan-rekan serta mencoba banyak hal yang menarik untuk perkembangan otak dan perangai saya. haha.. Maklum terlalu lama "tertidur" bisa jadi kemampuan otak dan kemampuan motorik akan berkurang.

Eh sudah dulu ya, acara ngomelnya..
Saya akan berkemas untuk Shalat Jum'at dan lanjut makan siang.

Sabtu, 07 Juni 2014

BVB, Oh Mis Bi! We Miss You..

Bianca Van Bavel.
Setelah bulan Mei semakin sering saya bertemu dengan orang bule. Terakhir perjumpaan saya dengan si Bi, menambah daftar pertemuan saya dengan orang bule pada awal tahun 2014 ini.

Tapi entah dengan si Bi berbeda. Mungkin ada benarnya kata rekan saya kalau si Bi mempunyai senyuman yang luar biasa menawan. Tak hanya itu, Bi merupakan pribadi yang bersahabat nan menyenangkan. Jadi tak jarang beberapa rekan saya di komunitas Sayap Surabaya sering menanyakan keberadaannya saat ini.

Ambillah contoh seperti mas Agung Martani yang rela meluangkan waktunya untuk mengajak si Bi keliling kota (city tour), sampai mencoba sajian kuliner Surabaya, hingga duduk lesehan untuk mencicipi STMJ (Susu Telur Madu Jahe) di daerah Biliton Surabaya. Berbeda mas Agung dengan rekan saya satu ini yang bernama Fahmi Khairizal, yang sering kami sapa dengan nama "Mik-Amik".

Terhitung baru berjumpa dengan si Bi, ia sepertinya sudah menggilai senyumannya. Setiap ada kesempatan untuk kami berkumpul dan membahas agenda Sayap Surabaya, Mik-amik ini sering menanyakan kabar si Bi kepada mas Agung ataupun kepada saya.

Saya selalu tertawa saat Mik-amik menanyakan kabar si Bi. Entah memang pembawaan Amik yang pada awalnya tergolong ke dalam daftar pria dengan tampang dingin. Eh, ternyata terbantahkan dengan kehadiran si Bi, bule manis dari Canada. Amik bilang kepada saya, "selain rindu dengan senyuman Bianca, ia juga ingin berlama-lama dengan Bianca untuk melatih kosakata bahasa inggris yang masih perlu dibiasakan lagi."

Si Bi, dengan nama lengkap Bianca Van Bavel adalah perempuan kelahiran Canada. Ia bersekolah di Ireland fokus dengan studi konsentrasi biologi. Awal Mei 2014 lalu, ia berada di Indonesia untuk penelitian mengenai sanitasi. Sebelum berada di Indonesia, Bi juga aktif menjadi bagian untuk mengajak masyarakat peduli akan hari toilet yang sering diperingati pada bulan November di seluruh dunia. Bersama rekan-rekannya di Mc Gill, Bi aktif menyuarakan mengenai pentingnya sanitasi yang layak.

Si Bi di pojok bawah sisi kiri. Foto di ambil di sini.
Bianca adalah pribadi yang menyenangkan, terbukti kehadirannya ditengah-tengah kami membuat suasana lebih berwarna. Satu hal yang saya ingat dan paling berkesan darinya adalah ia pencinta masakan dengan sambal yang pedas. Ia sungguh kaget saat kami ajari cara makan menggunakan tangan kosong, dengan bahasa Jawa sering kami sebut dengan "muluk." 

Perjalanan Terakhir yang saya ingat bersamannya, sebelum Bi memutuskan untuk pulang ke Canada pada akhir Mei 2014. Mungkin juga menjadi bahan omongan rekan-rekan Sayap Surabaya, apalagi foto berdua saya bersama Bi saat kami traveling begitu dekat. 

With Bianca Van Bavel. :)
Bianca Van Bavel.
Bianca Van Bavel.
Bianca Van Bavel with me.
Bianca Van Bavel.
Bianca van bavel.
So Cute,, :)
I'm so sumonggo guys.. ;) yaaaahh, saya sungguh rindu dengan Bianca dan senyumannya itu.

Before Sunrise

Bromo selalu memiliki pesona yang tak pernah bosan untuk di kunjungi. Lihat saja pengunjung yang selalu berdesakkan. Entah itu yang memesan kamar, sampai yang sering kita temui untuk mengejar matahari terbit di Penanjakan.

Akhir Mei lalu saya mencoba berkunjung ke Bromo. Bertepatan dengan long weekend, sebenarnya bukan pilihan yang tepat untuk mengunjungi Bromo pada liburan sekolah. Karena bisa dipastikan bukan suasana tenang yang menyegarkan pikiran, melainkan suasana hiruk-pikuk oleh pengunjung lain.

Tapi inilah liburan, saya tak ingin mengambil pusing beberapa hal yang mungkin mengganggu pikiran, selama kita masih bisa beradaptasi dengan memilah mana yang memberi hiburan pada diri kita atau tidak sama sekali. Jadi mari kita nikmati liburan selagi masih ada waktu. :)

(1). Pemandangan yang sering kita jumpai saat berada di Penanjakan Gn. Bromo. Para wisatawan dengan beberapa gadget dan kamera mengangkat tangannya untuk mengambil gambar matahari terbit. Sebuah momen yang tidak ingin dilewatkan begitu saja oleh wisatawan Gn. Bromo.
(2). Salah satu pemandangan yang diambil dari puncak kawah Gn. Bromo ke arah timur. Para pengunjung menaiki Kawah Gn. Bromo dengan membuka jalur sendiri, bukan melalui anak tangga yang telah tersedia. Bukan karena tidak ingin menaiki anak tangga yang telah disediakan, namun pengunjung mungkin tidak sabar menaiki anak tangga yang penuh sesak oleh pengunjung lain.
(3). Pemandangan beberapa pegunungan di Jawa Timur yang terlihat dari Penanjakan Bromo. Gambar tersebut diambil pada pukul 06:23 am saat matahari sudah menampakkan diri. Kilauan warna kuning dan oranye, memberikan aksen yang  pas untuk penghobi fotografi landscape.
(4). Salah satu foto yang mendapat pujian dari rekan saya Bianca Van Bavel, entah mengapa ia menyuruh saya untuk mempostingnya. Mungkin foto tersebut dianggapnya memiliki komposisi yang unik. Terima kasih Bi.
(5). Suasana pagi saat kami berada di Poncokusumo, desa yang berdekatan dengan akses menuju ranu pani dan merupakan pos pertama untuk pendakian menuju Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa.
(6). Kuda, adalah daya tarik tersendiri saat kita mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Selain menjadi transportasi para wisatawan, kuda-kuda di TNBTS menjadi obyek foto yang pantang untuk dilewatkan oleh pecinta fotografi.
Meskipun mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada saat yang kurang tepat (pada musim liburan) tidak menjadi masalah, karena kami masih bisa bersenang-senang dan menikmati liburan akhir bulan dengan pengalaman yang baru. 

Bukankah, esensi sebuah perjalanan adalah mengambil saripati dari lokasi yang kita tuju. Maka nikmatilah perjalanan!

Jumat, 23 Mei 2014

Penghujung Bulan Mei

"Di penghujung bulan Mei tahun ini saya mulai merasakan kekawatiran akan beberapa hal tentang cita-cita dan mimpi-mimpi yang satu persatu mulai terwujud."

Saya teringat akan satu kejadian yang baru saja saya alami beberapa minggu lalu. Saat liburan akhir pekan, saya dan Ryan memutuskan untuk pergi ke Taman Hutan Rakyat Cangar Pacet Mojokerto untuk birding. Kami berangkat dini hari sekitar pukul 01:00 WIB. Perjalanan kami ke Tahura Cangar ditemani rintik hujan yang membuat saya semakin berpikir tentang beberapa hal yang telah saya peroleh, baik itu yang saya persiapkan secara matang dan kebetulan-kebetulan yang datang melalui berkah yang tak satu pun saya duga sebelumnya.

Sembilan Mei lalu contohnya, saya dan rekan-rekan Sayap Surabaya dikejutkan dengan sebuah berita bahwa komunitas kami yang yang belum genap dua bulan telah tertulis di koran Jawa Pos. Saya pribadi merasa bingung, mengapa harus komunitas kami yang berada di situ, mengapa tidak komunitas lain yang sudah lama mengawali kegiatan pengamatan burung.

Selama perjalanan saya terus menerka-nerka apalah semua ini? karunia kah, atau sebuah ujian yang sengaja diberikan oleh Tuhan untuk hambanya yang sedang dirundung kebingungan? Tapi terlepas dari itu semua ada satu titik yang terus saya pikirkan yang membawa saya untuk mencoba diam dan menerimanya saja.

Apalah ini?

Jumat, 02 Mei 2014

Belum Genap Tiga Bulan

Setelah pemasangan information board di Ekowisata Mangrove Wonorejo pada bulan Februari lalu oleh tim Yayasan IDEP Bali yang bekerjasama dengan komunitas pengamat burung Sayap Surabaya. Telah terpasang 20 information board di sepanjang jalur (jembatan kayu) di sebelah barat bosem Wonorejo Surabaya.

Pada hari kamis (1/5) kemarin, tim Sayap Surabaya melakukan pengecekan kembali. Pengecekan tersebut adalah pengecekan kali ketiga setelah information board terpasang di bulan Februari 2014. Hasil temuan dari tim Sayap Surabaya pada hari kamis lalu sangat mencenangkan, karena dari 20 papan informasi yang terpasang dijumpai ada sekitar 8 papan yang hilang atau terlepas dari pagar di jembatan kayu tersebut.

Sebagian information board yang masih bertahan. Foto: di sini.
Hasil temuan ini dicatat dan kami data, pengecekan kembali kami lakukan di bagian penyangga tempat papan informasi burung dan mangrove ini di tempatkan. Ada beberapa kayu penyangga yang sudah mulai retak dan hancur. Entah, ini akibat kayu penyangga yang kurang kuat atau ulah dari sebagian pengunjung yang usil.

Pengamatan kami lanjutkan ke beberapa pengunjung yang hadir dan melintas di jembatan kayu sepanjang 200 meter ini. Fenomena yang kami temui adalah sering dari pengunjung yang bersandar di papan informasi dan berfoto. Jarang sekali kami temui pengunjung yang berhenti untuk membaca papan informasi yang terpasang di pinggiran jembatan. Dari 30 menit pengamatan singkat yang kami lakukan kemarin, dijumpai 9 orang pengunjung yang berhenti, kemudian bersandar di dekat papan informasi untuk berfoto, dan hanya 3 pengunjung yang berhenti untuk membaca papan informasi tersebut.

Terhitung belum genap triwulan papan informasi di Ekowisata Mangrove ini dimanfaatkan, sudah rusak dan mulai hilang satu persatu. Hasil pengecekan ini akan kami buat laporan untuk kami bawa ke Dinas Pertanian, lalu akan kami diskusikan kepada Yayasan IDEP selaku penggagas program ini, untuk mendapat perhatian dan segera dilakukan pembenahan. Karena sangat disayangkan, papan informasi yang kami buat untuk pengunjung supaya pengunjung Ekowisata Mangrove dapat sedikit 'melek' lingkungan dan mengerti bahwa di Wonorejo mempunyai keaneragaman flora dan fauna yang Subhanallah melimpah untuk dikaji dan dipelajari.

Sekali lagi saya pribadi bersama rekan-rekan Sayap Surabaya, mengajak pengunjung Ekowisata Mangrove Wonorejo supaya turut menjaga fasilitas yang sudah ada untuk kepentingan bersama. Dalam hati saya mbatin, "Benar kata mas Swiss kalau sedikit dari kita yang mampu ngeregani hutan dengan lebih." Boro-boro menghargai hutan dan isinya, untuk menjaga fasilitas saja sebagian dari kita lebih memilih sikap acuh.

Sekarang saya tantang kalian yang merasa jika harga tiket masuk bisa saja mahal dan kemudian meminta fasilitas harus lengkap dan memadai. Bukan membela pihak manapun yang mencetuskan gagasan tersebut, tapi di Wonorejo anda masuk dengan harga tidak lebih dari Rp2.000,- tapi anda bisa belajar mengenal keaneragaman flora dan fauna gratis melalui papan informasi yang tersedia di sana, menikmati alam dan pesonannya di Wonorejo dengan leluasa. Coba jika kalian mengerti dan sedikit saja berempati, "Bagaimana rekan-rekan kami mendokumentasikan keaneragaman flora-fauna siang dan malam supaya kita bersama dapat belajar mencintai alam Wonorejo, melalui papan informasi tersebut." Mereka yang ikhlas berkarya dan tidak dibayar, tapi mereka mempunyai semangat yang luar biasa untuk menjaga lingkungan. Tapi kalian yang ngakunya sudah membayar dengan kertas warna abu-abu itu, bisa seenaknya saja merusak fasilitas, membuang sampah seenaknya, dan bertindak asusila di sana.

"Apa dengan membayar, semua dapat seenaknya kita lakukan?"

"Oh tentu tidak, bagi kita yang berpikir,"

"Alam dan isinya bukan barang dagangan yang habis sekali bayar."

Minggu, 27 April 2014

Empat dan Sepuluh untuk Sayap Surabaya

Setelah tiga hari menjadi tim pemantau perkembangan rekan-rekan Sayap Surabaya yang berangkat mengikuti event bird race di Selangor, baru malam ini saya dapat merasa sedikit tenang. Karena Sayap Surabaya mendapat nomer 4 untuk lomba fotografi burung dan nomer 10 untuk lomba pengamatan burung. Dua nomer tersebut diperoleh oleh rekan kami Ryan Essa dan Cipto Dwi.

Tim Sayap Surabaya di Bandara Juanda. Foto: Sayap Surabaya.
Dua nomer yang menurut saya sebuah prestasi yang cukup membanggakan adalah salah satu pecutan bagi kami untuk lebih bersemangat melebarkan sayap menghasilkan karya untuk kelestarian lingkungan dan nama Indonesia. Kami bersyukur bisa ikut berpartisipasi mengikuti event internasional di Selangor tahun ini, karena dengan acara ini kami merasa bersemangat untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Tim Sayap Surabaya di Selangor Bersama Birder Jepang.
Ah, saya sudah tidak sabar menunggu rekan-rekan yang berada di Selangor kembali ke tanah air. Tidak sabar untuk mendengarkan mereka membagikan ilmu dan pengalamannya di sana. Dan segera mengeksekusi beberapa program yang sudah kami susun untuk beberapa bulan ke depan.

Saya mengucapkan selamat untuk kawan kami Ryan dan Cipto untuk dua nomer yang sensasional itu. Dan dukungan penuh untuk rekan-rekan yang lain (Lukman, Adrian, dan Fahmi). "Masih ada dua hari lagi Bro, ayo semangat, lebarkan "Sayap Surabaya" dan Indonesia!" []

Kamis, 24 April 2014

Selangor!

Aktifitas tim Sayap Surabaya, H-3.
Tinggal hitungan jam saja tim Sayap Surabaya akan berangkat menuju Selangor Malaysia. Tepatnya tanggal 25 April besok, pukul 14:00 WIB. Rencana keberangkatan akan dimulai di terminal 2 Bandara Juanda. 

Rekan-rekan yang mewakili Sayap Surabaya untuk memenuhi undangan Majelis Daerah Hulu Selangor dalam acara bird race KKB adalah Lukman Nurdini, Ryan Essa, Cipto Dwi, Adrian Fauzi dan Fahmi. Acara yang akan kami hadiri adalah acara internasional pertama dari Sayap Surabaya.

X-banner Sayap Surabaya.
Sebagai komunitas pengamat burung yang baru terbentuk, Sayap Surabaya beruntung diberi kehormatan oleh MDHS untuk berpartisipasi dalam acara yang akan diadakan di daerah Genting Selangor. Berbagai persiapan yang telah kami (Sayap Surabaya) lakukan untuk menyemarakkan acara yang menjadi bagian dari “Visit Malaysia 2014” tidak banyak, karena pada dasarnya kami selaku komunitas yang masih tergolong baru, masih sangat perlu akan informasi dan wawasan mengenai burung dan pelestariannya di alam. Terutama informasi untuk mengadakan acara bird race skala internasional yang diadakan oleh MDHS. Kami masih harus banyak belajar dari MDHS dalam segi penyelenggaraan acara.

Peluang baik yang diberikan kepada kami (Sayap Surabaya) selaku komunitas pengamat burung, akan kami manfaatkan sebaik-baiknya. Terutama dari aspek hubungan baik dengan sesama pengamat burung di negeri Jiran Malaysia. Tidak menutup kemungkinan berlaku untuk negara-negara lain yang hadir pada acara tersebut. Pada dasarnya untuk menjaga kelestarian lingkungan beserta isinya dibutuhkan peran banyak pihak.

Jika Malaysia mampu mengadakan acara bird race skala internasional, pikir kami, “Mengapa kami yang mengaku memiliki keaneragaman flora dan fauna yang luar biasa melimpah ini, tidak mampu mengadakan acara serupa di kemudian hari?” Ini pertanyaan yang menjadi motivasi tersendiri bagi kami setelah pulang ke tanah air nantinya.

Sebulan sudah kami mematangkan persiapan untuk kami bawa pada acara tersebut. Kami membuat video kegiatan, pengumpulan dokumentasi biodiversitas tentang burung yang ada di Wonorejo, sampai dengan pembuatan brosur pun juga stiker, untuk mengenalkan Wonorejo sebagai kawasan penting bagi burung. Tidak cukup itu, untuk media branding komunitas, kami menyiapkan akun media sosial, supaya kami dapat lebih dikenal sehingga interaksi dengan para pemerhati kelestarian burung dan lingkungan dapat terjalin baik sesudah perhelatan acara tahunan tersebut.

Cinderamata yang akan Sayap Surabaya bawa ke Selangor.

Brosur Sayap Surabaya, mengenai potensi Wonorejo.
Semoga yang sedikit dari kami ini, akan mampu memperkenalkan potensi keaneragaman Wonorejo di Selangor. Pagi ini telah rampung x-banner, brosur lipat dan cendramata. Tinggal menunggu id card, pin, dan stiker yang tinggal pengambilan di percetakan. Semoga sedikit yang kami lakukan ini, dapat menjadi tabungan semangat untuk terus berkarya menjaga lingkungan tetap bestari. Tabik []

Minggu, 20 April 2014

Phil and Tetty (Fantastic Ranger)

Fantastic Ranger. (Foto)
Keterangan foto: (dari kiri ke kanan) Tetty Pangaribuan, Dedik, Iwan, Philippe Ganz.
 
Phil dan Tetty adalah suami istri yang saya kenal lewat rekan saya Lukman Nurdini, saat mereka berkunjung pada April 2013 di Wonorejo Surabaya untuk birding. Menurut cerita dari beberapa rekan-rekan saya, Phil adalah pria kelahiran Trüllikon, Switzerland. Sedangkan Tetty adalah istri dari Phil berasal dari Indonesia. Mereka berdua aktif berpetualang dan mendokumentasikan perjalanannya. Fantastic Ranger adalah sebuah nama yang dibuat Phil untuk mewadahi semua aktifitas yang mengarah kepada alam dan hewan. 

Phil, Lukman, dan petani tambak Wonorejo. (Foto)
Kecintaannya terhadap hewan dan alam membawanya ke Taman Nasional Baluran sebagai volunter. Bersama sang istri (Tetty), Phil tidak sendiri. Aktifitas Phil banyak dibantu oleh sang istri sebagai videografer. Sungguh mengagumkan melihat pasangan suami istri ini kompak beraktifitas di alam. Bangga rasanya jika mengetahui kekompakan mereka dalam berkarya bersama, menjaga alam dan mendokumentasikan keaneragaman flora dan fauna Nusantara.

April tahun ini Phil dan Tetty berkunjung lagi ke Wonorejo Surabaya. Kali ini bertepatan dengan komunitas kami yang baru terbentuk pada bulan Maret lalu: Sayap Surabaya. Tim dari Sayap Surabaya yang beruntung menemani Phil dan Tetty untuk birding adalah Adit, Ryan, dan mas Agung Martani selaku ketua dari Sayap Surabaya. Selain itu dari komunitas Mangrovers, mas Rusman Budi yang akrab kami sapa dengan panggilan "mas Prast" juga ikut mendampingi aktivitas birding di pertambakan yang masih menjadi lingkup area Pantai Timur Surabaya ini.

Fantastic Ranger and Sayap Surabaya.
Keterangan foto: (dari kiri ke kanan) Ryan, Phil, Adit, Mas Agung, Mas Prast (Mangrovers), dan Happy (KSB Kirik-kirik FKH UA).

Menurut Phil, "Ia tak pernah bosan jika harus menunggu untuk membidik burung dengan waktu yang cukup lama." Namun sayangnya, saat Phil dan rekan-rekan dari komunitas pengamat burung Surabaya melakukan aktifitas birding di Wonorejo, tidak banyak yang dapat dijumpai dan difoto dikarenakan cuaca yang kurang mendukung. Tetapi rekan-rekan tidak kecewa, karena pada dasarnya tidak ada yang mampu mengatur alam, kita lah yang mesti beradaptasi dengan alam.

Wonorejo sebagai daerah IBA (Important Bird Area), adalah satu kawasan yang berpotensi luar biasa untuk dijaga bersama. Bukan karena pada bulan Mei mendatang bertepatan dengan adanya sensus burung migran saja. Lebih dari itu, kawasan yang dijadikan laboratorium alam untuk siswa dan para mahasiswa yang mengambil bahan untuk penelitian harus memiliki perhatian khusus, terutama dalam segi kebersihan dan kelestariannya.

Philippe Ganz pada unggahan album foto di facebook miliknya yang diberi judul "Goodbye to Surabaya and Mangrove Wonorejo." Mengatakan, "Thank to all friends for an impressive day with so many birds. It was an unforgettable day with the fotocommunity Surabaya." Sembari mengunggah foto segerombolan Dara Laut yang sedang terbang, membuat kami pengamat burung di Surabaya menjadi bersemangat lagi untuk menjaga kawasan tersebut. "Orang bule saja mengakui jika Indonesia adalah cuilane suwargo, lah kita yang berada di dalam bagian ini tidak kah ingin lebih mencintainya?"

Dara Laut in Wonorejo. (Foto)
Kemudian, pada kalimat terakhir yang Phil tuliskan, masih di album yang sama berbunyi, "Thanks everybody and see us next time."
 
Sampai jumpa lagi Phil dan Tetty, terima kasih telah berkunjung ke Surabaya, khususnya Wonorejo sebagai tempat bermain dan belajar kami. Semoga kelak kita diberi waktu yang lebih untuk mengamati keindahan Tuhan yang diberikan kepada kita dengan gratis dan penuh nuansa keceriaan. []
 

Kamis, 17 April 2014

Guyonan Taek!

“Mas, Sehat? Jumat libur, Apa tidak pulang?” Sebuah pesan pendek dari Ibu masuk ke telepon selular saya. Saat menerima pesan tersebut, saya sedang berteduh di kedai kopi dan menyelesaikan draf tulisan mengenai perjalanan ke Sungai Penuh Jambi untuk majalah Indimagz. Pesan dari Ibu saya baca sekilas dan beberapa menit kemudian baru saya balas.

Seperti bunyi pesannya, saya lama tidak pulang ke rumah. Ibu saya sebenarnya sudah terbiasa dengan hal ini, namun ibu tetaplah ibu, ia kerap menanyakan kabar anaknya dalam jangka waktu tertentu. Biasanya ibu akan mengirimkan pesan menanyakan apakah saya pulang ke rumah di akhir pekan, waktu yang biasa saya pakai untuk pulang.

***

Beberapa hari ini saya sedikit terganggu dengan gurauan beberapa rekan saya. Entah itu gurauan di sebuah forum kecil sabtu minggu atau beberapa postingan di lini masa. Entah, ini sebuah kebetulan atau kesengajaan, tapi saya merasa tersudut dalam sebuah kondisi yang tidak mempunyai pilihan “yang apa boleh terima”. Gurauan mengenai sesuatu yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi, bukan menjadi sebuah forum umum yang semua orang harus tahu. Mereka semua membicarakan kenapa saya masih memilih jalan yang bernama: sendiri.

Ada rasa yang aneh ketika tema semacam “Sendiri”, “Kenangan”, “Mengubur Masa Lalu” muncul ke permukaan. Entah kenapa bagi saya tema tersebut seperti sebuah prolog berjudul, “Mantan Kekasih” dan sejenisnya. Tak selamanya salah, tapi terasa begitu naïf. Ia seperti sedang mengorek konteks kehadirannya. Menjadi asing sendiri dan tampak mencari-cari di tengah kehidupan yang begitu biasa. Mungkin pada mulanya nampak lucu, tapi semakin disadari beberapa hal nampak semakin membosankan untuk diterima.

Saya hampir yakin ceritanya akan berpusar pada saling menyudutkan, saling menertawakan, kemudian mereka akan tersadar bahwa mereka akan menertawakan diri mereka sendiri, yang mungkin ada sebuah persamaan yang mereka alami dulu. Mungkin mereka tak perlu jauh-jauh pergi untuk menyorot saya sebagai sebuah obyek yang pernah tersakiti atau dihianati. Jika mereka mempunyai jiwa yang cukup besar, mungkin mereka bisa melihat ke dalam diri mereka masing-masing. Rasanya seperti menyaksikan film Hollywood dengan tambahan satu sendok makan gula pasir saat melihat saya.

***

Ada satu penjelasan yang dapat saya ambil saat saya bertolak ke Bandung beberapa bulan lalu, saat kawan-kawan birder dari Bandung menampilkan foto Kota Bandung pasca lautan api yang hancur lebur, dan disandingkan dengan potret Kota Bandung kini yang cantik. Secara kebetulan juga ada sebuah proyek berjudul, “Decomposing Colonial Town” karya Dea Aulia Widyaeran yang memotret alun-alun Bandung dulu dan kini. Dalam penjelasan karyanya Dea menulis, “Bandung identity now is detach from history, how history still significance, or how to define a downtown nowadays.“ 

Laiknya perbandingan alun-alun dulu dan kini yang dilakukan Dea, buat saya bahasan soal Mantan kekasih dan segala tetek bengek yang tertinggal di dalamnya terkadang tidak lagi signifikan. Kita memberi penilaian dalam konteks masa lalu. “Mantan yang berubah cantik”, “Mantan kekasih yang berlibur di pantai bersama kekasih barunya”, “jalanan yang dulu pernah kami lalui bersama”, atau “tempat makan yang kini sudah direnovasi menjadi sebuah resto yang bonafit.” Semua menjadi biasa dan tak penting lagi. Nyatanya kita hidup di hari ini. Masa lalu tidak pernah pergi. Kita yang pergi meninggalkannya. Kita yang menjadi sombong karena mampu menertawakan kawan sendiri.

Lantas kita masih menilai sebuah keputusan hidup seorang kawan untuk ‘sendiri’, dan mengaitkan sesuatu hal yang berhubungan dengan masa lalu. Hanya keledai bodoh yang dapat menganut paham seperti itu. Dalam perspektif panggilan Mantan kekasih kepada kita dijadikan bahan lelucon di depan umum. Maka frase semacam, “Mantan sudah berpacar” dan menyadarkan kita akan jauhnya kita dari kebahagiaan menjadi begitu signifikan bagi sebuah penceritaan. Dan ya, kita tetap tak beranjak untuk kembali mengorek masa lalu, dan menangisi keadaan yang jauh sudah terlewat bodoh. Mantan kekasih hanya menjadi sebuah elemen romantis paling klise dalam cerita-cerita. Dan saya sangat kecewa akan hal ini, saat dilakukan oleh rekan-rekan dekat saya sendiri, ini seperti memelihara borok yang sudah tau obat mana yang akan kita pakai.

Mungkin ini adalah pertanda, saat ada samsak-samsak yang harus kembali dipukul untuk membuang kekesalan dan mungkin untuk kembali mengasah kepalan tangan yang telah lama tak dipakai untuk diarahkan kepada manusia-manusia yang sombong.

***

Lama saya tak pulang ke rumah. Panggilan Ibu melalui pesan pendek sore ini adalah salah satu indikator menurunnya frekuensi saya pulang ke rumah. Ibu mencari saya, Ayah akan kembali bertanya tentang rencana studi saya tahun ini, dan dua orang adik yang entah masih mengingat saya sebagai seorang kakak yang suka menggunakan sarung setiap malam dan selalu tidur paling larut. Tapi saya tahu ini akan menjadi sebuah momentum untuk kembali menata diri, bahwa intensitas bersama keluarga harus dijaga dengan lebih rapi.

Saat pulang ke rumah, saya menggunakan motor. Dengan kecepatan yang biasa saja. Melewati jalan tikus supaya lebih lama untuk melihat pemandangan persawahan di desa. Berbuah kelelahan yang bisa diobati dengan hawa yang segar dengan seduhan teh hangat. Tak ada gurauan yang menyudutkan mengenai mantan kekasih. Dalam lamunan di kamar setelah mandi saya kadang bingung harus melakukan apa di rumah. Namun ada momentum di mana saya merasa sebuah kenyamanan bersama orang-orang yang mengerti saya. Aman dan sangat bahagia.

Ketika menuliskan ini saya kembali berpikir mengapa banyak cerita masa lalu saya yang kembali dimunculkan oleh rekan-rekan dekat saya sendiri? Saya tidak mengerti motif mereka memunculkan itu baik di depan saya atau di belakang saya. Apakah mereka pernah berpikir, akan ada masanya saat mereka bercerita kepada saya tentang kekasihnya yang pergi bersama laki-laki lain, atau pernikahan yang kandas akibat kedua orang tua mereka tidak menemui jalan mufakat. Kita tidak akan pernah tahu, kapan kita berada di bawah atau di atas lantas tertawa terbahak-bahak menertawakan diri kita masing-masing beserta semua kebodohannya.

Saya hanya tersenyum saat mengingat kejadian dimana saya disudutkan habis-habisan, dan kembali membaca tweet saya di linimasa yang bertuliskan, “Guyonan Taek!” Entah untuk siapa saja yang merasa?

Sabtu, 12 April 2014

Nampak Lucu dan Bodoh


Siang kala itu sedang gila-gilanya melepaskan teriknya. Alhasil, kami berenam dibuat berkeringat, setelah berkeliling museum rokok House Of Sampoerna, kami memutuskan untuk menepi sebentar di sebuah warung makan yang masih satu wilayah dengan HOS.

Kami berenam tidak memesan makan. Padahal jam tangan telah menunjukkan pukul 13:00 WIB, kami malah memesan es teh manis. Saya yang masih kehausan terpaksa membuka lemari pendingin di samping tempat saya duduk dan mengambil botol teh hijau pabrikan. 

Sembari melepas lelah, beberapa diantara kami sibuk membuka hasil tangkapan dari kamera digital. Ryan misalnya, dia menggunakan lensa fix 50 mili nikor yang saya amati sedang memutar ulang rekamannya menggunakan mode video. Sedangkan mas Adrian dan Adit sepertinya lebih memilih menghisap rokok saja sembari mengamati sekitar. Mas Agung dan Ichsan yang saya perhatikan sedang sibuk memainkan ponsel pintarnya, entah sedang mengetik atau bermain game untuk mengusir bosan.

Saya sendiri memutuskan untuk membahas video yang diambil Ryan saat kami berada di museum. Saya memperhatikan beberapa scenes yang diambil Ryan secara sembunyi-sembunyi. Nampak menyenangkan saat melihat setiap orang dalam satu ruangan sedang melakukan aktivitasnya masing-masing tanpa dibuat-buat atau direkayasa. Alami dan apa adanya. Kemudian saya tertarik untuk mengulangi scenes yang direkam Ryan, saat saya sedang mengamati kumpulan Radio lama yang tertata rapi di ruang tengah musium rokok. Nampak lucu, mungkin lebih tepatnya aneh, saat saya melihat diri saya sendiri melakukan beberapa aktivitas yang kami lihat di layar ukuran 5x5 senti meter itu. Ada sebuah miniatur hidup yang saya coba artikan di sana, melihat diri kita beraktivitas dalam sebuah cermin kecil bernama kamera.

Dulu saat kita duduk di bangku sekolah dasar, mungkin kita pernah mendengar guru agama kita berbicara mengenai tugas malaikat (pencatat amal baik dan buruk), yang berkewajiban mencatat beberapa amalan hidup dan mencatat keburukan yang telah kita lakukan, Pada suatu hari akhir nanti, semua catatan itu akan diputar ulang dan kita tidak akan mampu mengelak saat semua rekaman itu ditampilkan di hadapan kita. Saat memutar rekaman di kamera Ryan, mungkin saya sedang tersadar, bisa jadi nanti saya akan lebih merasa bahwa, “semua yang saya lakukan sekarang akan nampak lucu dan bodoh nantinya.”