Senin, 30 Desember 2013

Numpang Pamer: Satu Langkah Menuju Samatrah!

Empat tahun lalu, jauh sebelum saya memiliki beberapa perlengkapan birding apalagi perlengkapan fotografi. Saya mendambakan berada di Pulau Sumatera. Berpetualang, atau apa sajalah yang bisa saya lakukan untuk bersenang-senang di sana.

Dua minggu lalu, siapa yang menduga? Keinginan itu terwujud. Saya terbang ke pulau yang menjadi pondasi beberapa bukit barisan dengan pesonanya itu. Tentu saja perasaan meletup-letup itu muntab, seperti mamak dan nenek yang tak dinyana mendapat kocokkan nomer arisan. piye rasane dab? campur aduk gak karuan. Bingung karepe dewe.

Saat berada di dalam pesawat dengan tujuan Kota Padang, saya menengok keluar jendela berukuran 30x40 cm itu. Melihat formasi awan yang mulai menghitam dan sesekali membuat awak pesawat sedikit bergetar. Saya menguatkan diri untuk tidak tidur.

Saya mencoba menikmati momen di atas pesawat dengan mbatin, mungkin ada benarnya beberapa bacaan yang pernah saya baca tentang mimpi. "Saat seorang berani bermimpi tentang beberapa atau mungkin juga tentang banyak hal. Tanpa sadar mereka sudah memulainya."

Ibnu Batutah sang traveller asal negeri Maroko juga pernah mengunjungi pulau terbesar ke enam dunia itu pada tahun 1345. Beliau melafalkannya dengan kata Samudera menjadi Samatrah, kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera yang sampai sekarang kita sepakati bersama saat menyebutnya.

Memang tidak hiperbolik saat menyebut pulau Sumatera dengan sebutan pulau emas. Masyarakat Minangkabau dan beberapa buku sangsekerta-pun mengamini sebutan itu. Sampai sekarang pun Sumatera tetap menjadi primadona dari hasil pertanian dan pertambangan. Siapa yang tak mengenal kualitas batubara asal Sumatera, siapa pula yang tak tergiur untuk menanamkan modalnya untuk sawit dan tambang minyak di Pulau Sriwijaya itu. Tanah yang subur, cerukan bukit dan banyak jalur lintas provinsi pun menjadi primadona kunjungan wisatawan.

Kedatangan saya di Pulau Sumatera, saya awali di daerah Sungai Penuh Kabupaten Jambi. Sebelumnya saya menempuh perjalanan hampir 8 jam dengan sesekali berhenti untuk buang air kecil dan sholat. Jalur lintas Provinsi yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Jambi itu sungguh Subhanallah. Liukkan dan turunan tajam yang selalu ramai dengan aktivitas transportasi seperti truk, dan mobil dengan bak terbuka sering kita jumpai di jalur ini. Momen saat melewati desa Kayu Aro yang mempunyai landscape perkebunan teh yang mempunyai latar pemandangan gunung tertinggi kedua di Indonesia, yaitu Gunung Kerinci yang tak henti-hentinya membuat saya komat-kamit takjub.

Ah, Saya jadi ingat. Saat semalam saya bercerita kepada seorang kawan perempuan, tentang perjalanan dan pengalaman saya saat bersama suku Sasak, setelah merampungkan pengajian di Masjid setempat. Menjelaskan bagaimana rasa minuman (arak) suku Sasak yang membuat kerongkongan kering dan rasanya seperti buah pisang yang belum masak. Susah untuk dijelaskan toh?. Sama halnya saat saya menuliskan bagaimana satu langkah menuju Sumatera kepada kalian semua.

Yang paling mungkin, Saya berdoa semoga sampeyan-sampeyan semua mendapat rejeki dan mampir ke Sumatera, entah itu nglutus, mblusuk, ataupun ngemper. Yang paling penting jangan bikin onar atau mesum di Pulau Samudera Emas itu.

Kayu Aro - Sumatera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar