Selasa, 31 Desember 2013

Kuciut Kerbau, Before Midnight, Ibu, dan Akhir Tahun.



Mungkin saya sedang sial. Karena keberangkatan menuju Flores yang saya rencanakan berangkat pada tanggal 27 Desember 2013 ternyata batal begitu saja. Seorang teman yang memutuskan untuk berangkat sendiri tanpa mengabari saya, tiba-tiba tidak dapat dihubungi.

Padahal jika keberangkatan saya ke Flores benar terjadi, saya akan menghabiskan akhir tahun di sana. Mungkin bisa jadi ini karma.

Tiga hari sebelum hari Natal, saya berada di Bandung untuk membantu kawan-kawan birder dari Selangor Malaysia melakukan meeting converence bersama beberapa komunitas yang berada di Kota Kembang. Kebiasaan buruk yang orang lain sering sematkan kepada saya adalah mengatakan bahwa saya jarang sekali melihat handphone saat bekerja atau sedang sibuk. Menurut saya, jika ada hal yang amat penting, pastilah ada dering seluler yang terdengar oleh saya. Sisanya seperti pesan singkat, mungkin baru benar-benar mendapat perhatian, saat rehat atau saat tiba di penginapan.

Sudahlah saya tidak ingin membahas lebih jauh mengapa saya jarang memegang seluler terlalu lama. Karena mungkin hal itu bisa jadi hal yang sangat sensitif bagi saya. Saya hanya ingin menceritakan beberapa kejadian di akhir tahun 2013 yang saya putuskan untuk melewatinya di Kota kelahiran saya: Surabaya.

Mungkin tulisan ini berawal dari perasaan tergelitik, dengan pesan singkat dari seorang kawan perempuan yang saya terima beberapa hari lalu. Ia menanyakan, “tumben kamu gak kemana-mana?”

***

Setelah acara meeting converence usai diadakan di Bandung. Saya kembali melakukan aktivitas normal seperti biasa. Berkeliling kota setiap pagi. Kemudian siang hari, sesekali singgah di kedai kopi untuk browsing dan membalas email, kemudian sore hari sampai petang menyempatkan untuk menengok kumbung jamur yang memang sering saya tinggalkan akhir-akhir ini.

Mungkin setelah perpisahan dengan birder Selangor di Bandara Bandung (yang kata orang Malaysia, bandara itu hampir menyerupai kedai kopi atau rumah toko jika dibanding bandara internasional). Saya tertawa jika mengingat perkataan Tuan Lecimanan itu. Saya kembali menghabiskan waktu libur, atau senggang bersama rekan-rekan. Kebetulan beberapa diantara kami memiliki hobi yang sama, yaitu mengamati burung liar.

Tanggal 28 Desember 2013

Setelah bersahabat dengan perasaan mangkel, gara-gara tak jadi berangkat ke Flores. Saya memaksa membuang perasaan mangkel itu, untuk kemudian pergi ke tambak wonorejo. Seperti biasa, saya melakukan pengamatan rutin dan beberapa mencoba peruntungan untuk foto burung.

“Siang ini memang cerah,” kata mas Lukman sambil memasang lensa.

Perkataan itu diamini oleh Pak Boeseth.

Dan kemudian meneruskan perkataannya dengan kalimat optimis,

“Cuaca seperti ini baik untuk pencahayaan foto satwa mas.”

Waktu itu kami memang memilih pinggiran bosem sebagai lokasi pengamatan. Kami menunggu dengan santai sembari bertukar pengalaman tentang cara menunggu burung yang baik dan sopan. ‘Sopan’ seperti tidak memakai pakaian yang berwarna mencolok, sampai setiap melakukan pengamatan haram hukumnya memakai wewangian.

“Burung juga mempunyai saraf penciuman, jadi saat ingin mengamatinya carilah lokasi yang tidak membelakangi arah angin ke arah obyek (burung), burung bakalan kabur saat kita membelakangi arah angin.”

Kalimat itu yang sering saya dengar dari senior bird watcher.

Setelah menunggu lama, buah kesabaran kami menunggu burung kuciut kerbau menampakkan hasil. Burung dengan nama latin Motacilla flava resmi kami dapat penampakkannya. Cekrikk, cekrrikk, cekrriikk..

Tanggal 29 Desember 2013

Entah bisa dibilang waktu itu adalah minggu teraneh. Saya yang menghabiskan waktu setelah shubuh dengan kembali berbaring di kasur. Memutar mp3 dengan lantunan suara Sting dan kemudian sesekali berganti dengan suara dentingan gitar yang dibawakan Adhitia Sofyan dengan Blue Sky Collapse. Sangat slow. Begitu seterusnya, sampai menjelang pukul 9:00, dan kemudian saya bangun dengan perasaan enggan.

Sore hari, saat ingin mengakhiri kunjungan rutin kumbung jamur kesayangan, ban belakang motor saya kempes. Saya tidak langsung berhenti untuk mengeceknya, saya malah memutuskan untuk memacunya lebih cepat, karena di belakang motor saya beberapa kendaraan yang tidak sabar menyalakan kelakson dengan nada tanpa ampun. Sial benar. Ban saya bocor, tertusuk kawat besi dan harus berjalan dengan perut lapar untuk mencari bengkel.

Setelah tiba di rumah, saya memutuskan untuk segera berbaring di kasur, sembari menyalakan kipas angin. Sayup-sayup angin dari kipas membuat saya mengantuk.

Mungkin intinya adalah 5 menit sebelum saya memutuskan untuk tidur. Saya mencoba menghubungi seorang kawan perempuan yang saya kenal saat kami berdua bertemu di SMA. Dulu sebelum ini, kami berdua adalah dua orang yang sangat jarang berkomunikasi satu sama lain. Apalagi bertemu. Mungkin juga dulu kami belum mendapat frekuensi ini, mungkin juga sekarang pun masih berlaku. Entahlah.

Anehnya, ada beberapa perbincangan yang mengalir begitu saja. Seperti bertemu dengan kawan lama, dan malam itu seperti dua karib bertemu, kemudian mencurahkan apa saja dan tentang apa saja yang selama ini kami lalui. Entahlah aneh rasanya, perasaan apa ini? Jika Alvin Zirtaf menulisnya, saat cupid datang tanpa batas waktu, apakah cupid datang malam itu? Mboh wes.

Tanggal 30 Desember 2013

Mamak datang menemui saya. Mungkin perasaannya akhir-akhir ini begitu cemas saat mengingat saya. Keluar masuk hutan, keliling pulau seorang diri, dan jarang sekali pulang. Kalaupun pulang hanya tidur seharian karena saya begitu kelelahan.

Saat beliau datang, saya langsung memeluknya. Saya tidak banyak melakukan pembenaran ataupun mengawali untuk bercerita tentang pengalaman saat travelling. Menurut saya, itu tak penting. Baginya, melihat saya berbahagia dan selau sehat, itu sudah cukup membuat tidurnya pulas.

“Bunda, Maafkan saya yang selalu lupa untuk mengucapkan selamat hari Ibu padamu.”

Tanggal 31 Desember 2013

Sore tadi saya putuskan ke toko buku (lagi). Memang saya akui, selain menulis saya paling bodoh untuk memilih bahan bacaan. Bukan berarti saya tidak menghargai karya orang lain, bukan seperti itu. Niat awal dari rumah, saya ingin membeli beberapa bahan bacaan (buku) untuk teman pergantian tahun baru. Namun setelah tiba di lokasi, saya malah memilih novel romance.

Entahlah, apa yang sedang saya pikirkan semua nampak random tak karuan. Sekarang pun saya kembali berkirim pesan singkat kepada kawan perempuan yang kemarin saya telpon. Argh, semoga nanti malam turun hujan dengan lebatnya. Saya terlalu cemburu dengan muda-mudi yang keluar saat ini dan membuat harapan baru sambil berpelukan. Hahaha, kopi mana kopi?

Goyah. Akhirnya keluar gowes ke tengah kota.

Senin, 30 Desember 2013

Numpang Pamer: Satu Langkah Menuju Samatrah!

Empat tahun lalu, jauh sebelum saya memiliki beberapa perlengkapan birding apalagi perlengkapan fotografi. Saya mendambakan berada di Pulau Sumatera. Berpetualang, atau apa sajalah yang bisa saya lakukan untuk bersenang-senang di sana.

Dua minggu lalu, siapa yang menduga? Keinginan itu terwujud. Saya terbang ke pulau yang menjadi pondasi beberapa bukit barisan dengan pesonanya itu. Tentu saja perasaan meletup-letup itu muntab, seperti mamak dan nenek yang tak dinyana mendapat kocokkan nomer arisan. piye rasane dab? campur aduk gak karuan. Bingung karepe dewe.

Saat berada di dalam pesawat dengan tujuan Kota Padang, saya menengok keluar jendela berukuran 30x40 cm itu. Melihat formasi awan yang mulai menghitam dan sesekali membuat awak pesawat sedikit bergetar. Saya menguatkan diri untuk tidak tidur.

Saya mencoba menikmati momen di atas pesawat dengan mbatin, mungkin ada benarnya beberapa bacaan yang pernah saya baca tentang mimpi. "Saat seorang berani bermimpi tentang beberapa atau mungkin juga tentang banyak hal. Tanpa sadar mereka sudah memulainya."

Ibnu Batutah sang traveller asal negeri Maroko juga pernah mengunjungi pulau terbesar ke enam dunia itu pada tahun 1345. Beliau melafalkannya dengan kata Samudera menjadi Samatrah, kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera yang sampai sekarang kita sepakati bersama saat menyebutnya.

Memang tidak hiperbolik saat menyebut pulau Sumatera dengan sebutan pulau emas. Masyarakat Minangkabau dan beberapa buku sangsekerta-pun mengamini sebutan itu. Sampai sekarang pun Sumatera tetap menjadi primadona dari hasil pertanian dan pertambangan. Siapa yang tak mengenal kualitas batubara asal Sumatera, siapa pula yang tak tergiur untuk menanamkan modalnya untuk sawit dan tambang minyak di Pulau Sriwijaya itu. Tanah yang subur, cerukan bukit dan banyak jalur lintas provinsi pun menjadi primadona kunjungan wisatawan.

Kedatangan saya di Pulau Sumatera, saya awali di daerah Sungai Penuh Kabupaten Jambi. Sebelumnya saya menempuh perjalanan hampir 8 jam dengan sesekali berhenti untuk buang air kecil dan sholat. Jalur lintas Provinsi yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Jambi itu sungguh Subhanallah. Liukkan dan turunan tajam yang selalu ramai dengan aktivitas transportasi seperti truk, dan mobil dengan bak terbuka sering kita jumpai di jalur ini. Momen saat melewati desa Kayu Aro yang mempunyai landscape perkebunan teh yang mempunyai latar pemandangan gunung tertinggi kedua di Indonesia, yaitu Gunung Kerinci yang tak henti-hentinya membuat saya komat-kamit takjub.

Ah, Saya jadi ingat. Saat semalam saya bercerita kepada seorang kawan perempuan, tentang perjalanan dan pengalaman saya saat bersama suku Sasak, setelah merampungkan pengajian di Masjid setempat. Menjelaskan bagaimana rasa minuman (arak) suku Sasak yang membuat kerongkongan kering dan rasanya seperti buah pisang yang belum masak. Susah untuk dijelaskan toh?. Sama halnya saat saya menuliskan bagaimana satu langkah menuju Sumatera kepada kalian semua.

Yang paling mungkin, Saya berdoa semoga sampeyan-sampeyan semua mendapat rejeki dan mampir ke Sumatera, entah itu nglutus, mblusuk, ataupun ngemper. Yang paling penting jangan bikin onar atau mesum di Pulau Samudera Emas itu.

Kayu Aro - Sumatera.

Senin, 16 Desember 2013

Pendaki Gunung Itu

Pendaki gunung itu adalah orang-orang yang telah berguru pada alam. Guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Jadi bisa dibilang, orang-orang yang berguru pada alam itu sesungguhnya telah berguru pada sang maha guru. Maha guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta.

Karena ilmu tanpa batas itu sumbernya dari Tuhan, maka alam adalah sebagai medianya. Nabi Musa saja harus mendaki gunung Sinai ketika akan mendapatkan kitab Taurat. Nabi Muhammad SAW juga harus mendaki bukit (jabal) dan tinggal di Gua Hiro yang tidak semua orang bisa dengan mudah menggapai tempat tersebut, sebelum akhirnya menerima wahyu yang pertama. Demikian pula para empu yang harus mendaki gunung untuk bertapa sampai pada akhirnya mendapatkan pencerahan berupa ilmu atau kesaktian.

Ada beberapa tingkatan “Tujuan mendaki gunung”, yakni sebagai berikut:

Tujuan mendaki gunung yang pertama, bisa dibilang tujuan yang paling rendah adalah ”Untuk hobi atau kesenangan pribadi semata”. Para pendaki gunung yang bertujuan untuk hobi ini, biasanya mendaki gunung untuk sekedar rekreasi, mengisi waktu luang atau melepas kepenatan. Orang-orang ini mendaki gunung untuk menikmati pemandangan alam, menghirup udara segar atau berkemah bersama teman-teman. Puncak gunung bukanlah harga mati, karena yang mereka kejar hanyalah kesenangan semata. Jadi meskipun mereka mendaki gunung tidak sampai ke puncak, sebenarnya mereka sudah cukup puas.

Tingkat kedua, tujuan mendaki gunung “Untuk prestise atau mendapatkan pengakuan”. Para pendaki yang mendaki gunung untuk tujuan seperti ini, yang mereka kejar hanya puncak. Jadi puncak gunung adalah harga mati bagi mereka. Bagaimanapun caranya, puncak harus bisa diraih, karena mereka beranggapan semakin banyak puncak gunung yang dikoleksi, maka prestise akan meningkat pula dan Ia-pun akan mendapat pengakuan dari orang lain (meskipun kenyataannya justru dianggap sombong dan kurang begitu dianggap oleh kebanyakan pendaki).

Tingkatan yang lebih tinggi yakni “ Untuk pengalaman dan Ilmu pengetahuan”. Orang-orang yang bertujuan seperti ini tidak hanya “pendaki gunung atau petualang saja”, tetapi bisa juga para ahli yang mendaki gunung untuk keperluan penelitian. Contoh: Seorang ahli “Vulkanologi” harus mendaki gunung untuk meneliti keadaan kawah sebuah gunung, Seorang pendaki yang mendaki gunung untuk keperluan membuat peta, seorang ahli yang mendaki gunung untuk keperluan meneliti jenis-jenis hewan dan tumbuhan di sebuah gunung, seorang petualang yang mendaki gunung untuk membuka jalur pendakian atau mencari lokasi sumber air dsb. Orang-orang yang memiliki tujuan ini, biasanya mengabaikan “Prestise” atau bahkan “nyawanya” sekalipun karena tujuan utama mereka adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam benak mereka. Demi ilmu pengetahuan dan pengalaman baru sehingga bermanfaat untuk dirinya dan juga orang lain.

Tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi adalah “ Untuk pelestarian alam atau misi penyelamatan”. Biasanya banyak dari kalangan para “Pecinta alam” (Pecinta alam yang sebenarnya), Tim SAR atau polisi hutan. Mereka mendaki gunung untuk kelestarian alam, misalnya reboisasi di lereng gunung, ekspedisi bersih-bersih gunung dari coretan-coretan dan sampah gunung, perbaikan jalur pendakian untuk mencegah adanya jalur-jalur bayangan yang akan menyesatkan pendaki, Tim SAR yang mendaki gunung untuk mencari pendaki yang hilang, para polisi hutan yang mendaki gunung untuk menjaga hutan dari bahaya kebakaran atau memburu para penebang dan pemburu liar.

Tingkatan berikutnya yang lebih tinggi lagi adalah “Untuk mengasah pribadi dan menemukan hakekat diri”. Orang-orang yang memiliki tujuan seperti inilah orang yang mampu berguru pada alam. Mereka mendaki gunung untuk menyendiri dan merenung guna mendapatkan kedamaian dan pencerahan dari Tuhan dengan mengakrabi alam. Karena dengan begitu mereka akan tahu bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam apalagi Tuhan. Tujuan mendaki gunung seperti ini tidak hanya bisa dilakukan oleh para pertapa saja, yang biasanya mendaki gunung dan tinggal disana dalam waktu yang cukup lama sampai mendapat ilmu. Namun, sebenarnya para pendaki gunung biasa juga bisa memiliki tujuan seperti ini, kebanyakan para pendaki yang sudah cukup berpengalaman biasanya mendaki gunung untuk tujuan seperti ini. Mereka mendaki gunung bukan lagi untuk hobi atau mengejar prestise, tetapi mereka mendaki karena “panggilan jiwa” yang harus terus dipenuhi. Mereka seolah tak bisa hidup jauh dari gunung. Meskipun telah lama tidak mendaki gunung, namun keinginan untuk mendaki itu pasti akan tetap ada karena sudah menjadi kebutuhan. Mereka meyakini bahwa ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari mendaki gunung. Dengan mengakrabi alam, maka dengan sendirinya alam akan mengajarkan banyak ilmu kepada kita.

Jadi, jelas bahwa gunung adalah media untuk menempa pribadi manusia sebelum akhirnya mendapatkan ilmu yang berasal dari Tuhan. Ilmu yang tak terbatas dan tidak bisa didapatkan hanya dari sekolah atau kuliah saja.

Ilmu apakah itu?

Ilmu tentang “hakikat diri dan Pemahaman akan arti kehidupan”.
Bagaimana cara memahaminya?

Salah satu caranya adalah dengan “Banyak mendaki gunung”.

Jadi pastikan terlebih dahulu tujuan kita sebenarnya sebelum kita mendaki gunung, sehingga kegiatan yang kita lakukan nanti tidak akan sia-sia, dan jika nanti seandainya kita terpaksa harus mati di gunung sekalipun, maka kita tidak akan mati konyol karena minimal kita sudah memiliki tujuan yang jelas.

Tak ada pendaki yang mati di gunung, mati sia-sia. Mereka hanya manusia biasa yang telah berani menghargai hidup dan memenuhi takdirnya saja.

‘Kematian’ ketika mendaki gunung adalah resiko yang harus dihadapi dengan keberanian.

" Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah "
*Ditulis oleh: Kang Aden. Ia adalah salah satu penggiat dari tim Patas Jatim (komunitas pecinta alam yang berada di Surabaya) dan leader pendakian Gunung Argopuro 2013. Beliau dapat dihubungi di sini.