Mengganti Kerinduan



Momen saat usai pengamatan burung. Foto: Ryan

Entah sejak kapan saya mengutuk sebuah kerinduan. Barang kali beberapa pertemuan dengan sahabat dan keluarga cenderung menyebalkan akhir-akhir ini. Saya sering bosan. Alhasil dengan cara menghindar dan kabur dari rutinitas menjadi jalan pintas. Ambilah contoh pelarian saya menuju pulau Lombok beberapa bulan lalu. Ditambah lagi kegiatan mendaki gunung Argopuro yang hampir saya yakini sebagai batas akhir hidup. Miris? Dengan jujur saya katakan, “iya.”

Memang terlalu dini untuk mengatakan, “supaya orang lain mengambil pelajaran hidup dari apa yang saya lakukan.” Mungkin ini adalah kalimat paling congkak yang saya yakini waktu itu. Memangnya siapa saya, sampai orang lain mau belajar dari saya.

Mencoba memutar ulang waktu.

Pada saat itu, dibawah kekalutan dan beberapa perasaan sepi yang saya alami. Membuat saya menguji beberapa pemikiran dan buku yang saya baca. Tentang seberapa kuat, benar, sampai beberapa pertanyaan tentang seberapa rindu saya akan hal-hal yang menyakitkan. Saya berpendapat, bahwa hidup adalah membuktikan apa yang panca indra rasa.

Seperti perasaan bagaimana kita menuntaskan buku bacaan kesayangan, dan berusaha mati-matian untuk mengoleksinya hingga tuntas. Mungkin itulah hidup menurut saya waktu itu. Saya tak butuh pembenaran atau sangkalan dari orang lain, karena prinsip akan timbul dari beberapa pengalaman hidup yang kita sendiri alami. Bukankah cara kita berjalan berbeda?

Saya pernah membenci keramaian, maka saya berusaha mengujinya dengan mendatangi Gili Trawangan. Saya pun pernah membenci sepi, maka saya mengujinya dengan mengunjungi Argopuro. Kemudian pernah saya tergelitik dengan pernyataan, “Berburu pantai eksotis”. Maka saya tergerak untuk memburunya. Semua perkara pembuktian.

Saya tak ingin benar-benar membenci sesuatu hal, saat saya belum melakukannya. Entah orang lain mempunyai pendapat yang berbeda dari saya, itu adalah hak. Sekali lagi, bukankah cara kita berjalan berbeda?

Parahnya lagi, saya tak mudah percaya dengan apa yang saya dengar sebelum saya melihatnya dengan mata kaki saya. Contoh bodohnya adalah saat seorang kawan pendaki mengatakan bahwa Argopuro memiliki jalur trekking terpanjang se-Jawa, saya membuang muka di depannya dan berujar, “Saya akan kesana”. Alhasil, di pertengahan perjalanan trekking Argopuro, saya mengalami hypothermia dan kuku jari kaki hampir lepas, karena perjalanan yang tak habis-habis. Saya menyesal? Tidak, karena saya belajar.

Saya yakin Tuhan punya rencana sendiri untuk mengingatkan sikap sombong. Sebenarnya saya tak pernah suka dengan sikap yang membinasakan itu. Mana ada orang yang dipanggil sombong akan suka dan tersenyum. Fitrah manusia, ingin dipandang baik toh.

Selain membuktikan tentang ketakutan, kesepian, sampai dengan kata utuh. Saya juga ingin membuktikan apa arti kerinduan? Semua manusia berhak rindu dan dirindukan. Chandra Malik bisa saja bebas menulis tentang apa itu kerinduan dengan #fatwarindu-nya setiap malam, supaya kita tersentuh dan menangis.

Memang benar adanya, rindu adalah harapan. Saat harapan itu begitu jauh dan mungkin detik waktu tak cukup untuk menggantikannya. Lalu bagaimana kita menggantinya? Dengan diam? dengan berucap? Sampai tiap buih doa pagi hari yang kita ucap yang kita yakini sebagai antidot, mulai pupus dan membuat kita jengah dengan keadaan.

Saya pun tak benar-benar yakin, bahwa menulis adalah sebuah proses merapikan kenangan. Karena kenanganlah yang membuat perasaan rindu semakin kuat dan menyesak di celah-celah rongga dada yang membuat kering kerongkongan.

Kita hanya bisa menggantinya. Mengganti rindu yang telah usang, membuat harapan baru dengan sesuatu yang pantas dirindukan.

Seperti bermain puzzle. Kita berhak merubah letaknya, mencarinya, sampai kita menuntaskan permainan. Tapi ingat, suatu saat kita akan membuka kembali dan mengacak-acaknya. Itulah rindu.

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini