Eksistensi Mural dan Perjalanan Nasionalisme Indonesia

Foto diambil disini.


22:25:00 WIB
Oleh: Rudi Hartono*

Di Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Jogjakarta, Makassar, dan Bandung akan dengan mudah kita menjumpai mural di tembok, dinding rumah/gedung, atau sepanjang jalan-jalan besar. Banyak yang mencibir sebagai perilaku mengotori keindahan kota, sebagian lagi menuduh itu hanya pekerjaan seniman yang tidak punya panggung. Sangat sedikit diantara kita yang mau membuka mata dan pikiran, untuk menempatkan mural dalam konstruksi masyarakat modern, dimana bahasa komunikasi sangat beraneka ragam. Selama ini kita hanya mengenal mural sekedar sebagai aktivitas coret-coret dinding/tembok, ataupun yang paling tinggi memahami mural sebagai aktivitas berkesenian. Tetapi, sangat kurang menangkap peran mural sebagai media komunikasi, penyampaian pesan, dan penggugah semangat.

Sebagian besar dari kita sudah lupa bahwa mural selain sebagai bentuk tulisan yang memuat isian seni di dalamnya, juga punya peranan yang tidak sedikit dalam sejarah. Kendati sejarah selalu di tuliskan berdasarkan bait-bait yang di kehendaki oleh sang penguasa. Namun, beberapa tulisan telah menjadi sumber inspirasi, sumber penyatuan ide, dan menjadi saksi-saksi sejarah bagi generasi kemudian. Revolusi Perancis mencatat bagaimana mural-mural yang di buat oleh aktivis kiri, menjadi bahan propaganda yang menggema dalam revolusi Perancis May 1968. Revolusi Rusia yang termasyur itupun, di dalamnya dikenal peranan mural di dinding pabrik dan tembok istana raja untuk menyadarkan orang akan situasi Rusia dan apa yang harus dilakukan.

Dalam sejarah revolusi Indonesia pun kita mengenal kata-kata yang cukup popular diantara kaum pejuang, yakni “Merdeka atau Mati”, “Boeng Ayo Boeng” atau kata-kata “Revolusi Sampai Mati”. Namun sekarang merebaknya mural di berbagai kota, justru, menimbulkan pencitraan yang negatif oleh mayoritas diantara kita. Padahal, itu harus dimaknai sebuah ungkapan (baca;ekspresi) dari sebuah ide, walaupun ide-ide itu masih samar-samar. Di Jogjakarta paska gempa bumi, muncul mural dimana-mana, yang memberikan semangat dan motivasi bagi semua warga masyarakat untuk bangkit. Di Jakarta, problem perkotaan seperti kemiskinan, polusi udara, kemacetan, dan situasi nasional bisa tergambarkan oleh mural-mural yang menghiasi berbagai tembok dan dinding sepanjang jalan kota Jakarta.

Mural dan Revolusi Nasional
Dalam revolusi nasional mempertahankan kemerdekaan ada dua nama yang sangat terkenal, yakni Affandi dan Sudjoyono, dalam konteks pembebasan lewat seni rupa. Peranan mereka tidak dapat dikecilkan, mengingat beberapa karya, justru menjadi pesan yang mengobarkan semangat kaum muda melawan penjajahan. Affandi misalnya, lewat lukisan dan muralnya yang berjudul “Tiga Pengemis” telah menjadi alat yang efektif propaganda melawan Jepang, dan untuk menyadarkan kaum muda akan nasib bangsanya. Dalam revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, lukisan dan muralnya yang menggambarkan seorang pemuda memekikkan kata “merdeka”, sanggup membangkitkan semangat kaum muda. Selain itu kata-kata “Boeng, ayo boeng” di massalkan oleh pelukis lain lewat coretan dinding (mural), sanggup memobilisasi kaum muda terlibat dalam lascar-laskar mempertahankan kemerdekaan. Lihat saja dalam dokumenter sejarah perjuangan bangsa kita, mural hadir dalam setiap front-front perlawanan di garis depan. Kereta-kereta api yang mengangkut pejuang, di penuhi dengan coretan-coretan yang membangkitkan nasionalisme, yang kemudian ditangkap oleh rakyat sebagai seruan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Serikat mural Surabaya, tolak kenaikan harga BBM.
Tahun 1950-an, boleh dikatakan sebagai puncak kejayaan seni dan sastra pembebasan termasuk di dalamnya mural. Penolakan terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), dan kenyataan bahwa penjajah belanda tidak sepenuhnya enyah dari Indonesia termanifestasikan dalam seruan-seruan coretan dinding (mural). Kata-kata seperti “Ayo tuntaskan revolusi kita”, atau “Ganyang Imperialisme Inggris-Amerika” tidak sulit untuk di temui sepanjang dinding tembok pinggir jalan. Seni rupa memang tidak bisa di lepaskan dari kepentingan politik dan ideologis. Tinggal sekarang, sejauh mana sastra dan seni rupa mau mengabdi kepada mayoritas massa rakyat yang terhisap.

Eksistensi mural-mural ini sangat signifikan dalam masa-masa revolusi, karena telah menjadi bahasa pesan untuk menyampaikan seruan perjuangan. Kita tidak bisa menafikan bahwa menggemanya kata-kata “Merdeka atau Mati” dan “Boeng, ayo boeng” tidak bisa di lepaskan dari keberadaan mural sebagai alat propaganda di ruang publik. Selama revolusi fisik hingga detik-detik terakhir kejatuhan pemerintahan Soekarno, mural punya andil dalam menyatukan ide soal persatuan nasional, kemerdekaan sejati, dan tugas-tugas revolusi di masa depan. Namun, sebaliknya, naiknya rejim orde baru telah memberangus daya kritis, termasuk prinsip kesukarelaan semua suku bangsa dalam sebuah “nation”. Jika dijaman Soekarno, persatuan dan nasionalisme Indonesia terlahir/terwujud dari ide-ide, yang tentu saja senjatanya adalah tulisan (artikel, Koran, mural, lukisan, selebaran, dsb). Maka di bawah kekuasan Orde Baru, nasionalisme Indonesia dipaksakan dengan pendekatan militeristik, sehingga nasionalisme yang dihadirkan adalah nasionalisme yang berdarah-darah, penuh paksaan dan Chauvinis.

Menempatkan Mural dalam situasi Indonesia Kini.
Pandangan merendahkan eksistensi mural adalah tindakan yang ahistoris dan tidak peka dengan perkembangan situasi. Di bawah gempuran budaya neoliberalisme (dimana salah satu unsurnya adalah Individualisme), maka keberadaan ruang-ruang publik terus digeser dan dihapuskan oleh derasnya modal dan ideologi individualisme. Di kota-kota besar sekarang, sangat susah menemukan ruang publik yang gratis (yang bisa diakses banyak orang) dan memberikan ruang yang leluasa bagi semua individu, tanpa memandang klas. Ruang-ruang publik di dominasi oleh selebriti, tokoh-tokoh politik, atlet-atlet terkenal, dan produk-produk komersil. Papan reklame yang menawarkan produk, dengan bahan propaganda selebriti cantik dan seksi menghiasi seluruh kota. Bersamaan dengan semua proses semua itu, ideologi nasionalisme kita juga semakin direduksi dan digantikan dengan ideologi individualisme dan komsumerisme barat. Pertanyaannya, mau dikemanakan ideologi pancasila kita? Dan siapa yang harus menjaganya?

Ideologi neoliberal telah menggerus jiwa dan semanggat ideologi nasionalisme kita. Dalam kondisi seperti ini, menurut Antonio Gramsci (seorang Marxis Italia) bahwa bentuk hegemoni harus dilawan dengan counter hegemoni. Sehingga dalam memaknai kebangkitan mural di berbagai kota besar di Indonesia saat ini, harus di letakkan dalam pengertian sebagai berikut: (1) ruang aktualisasi diri (ber-eksistensi), merupakan gerakan kultural untuk melawan dan merebut kembali ruang-ruang publik yang saat ini dikuasai pasar. Dinding tembok, trotoar, dan halte merupakan ruang publik (Public Space) yang selalu disaksikan oleh banyak orang. (2). Munculnya mural-mural politis dan ideologis merupakan senjata ampuh merebut dan membentuk kembali ide nasionalisme kita yang telah lama di biaskan. Papan reklame yang menawarkan komoditi, pornografi (industri seksual), dan konsumerisme harus di counter dengan propaganda alternatif salah satunya adalah mural. (3). Mural-mural itu penting untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif massa akan sejarah nasional bangsa ini. Di Cuba tahun 1970-an, ketika semangat revolusi semakin surut dikalangan kaum muda maka pemerintahan Revolusioner Castro menghidupkan kembali sosok Che Guevara dalam berbagai bentuk termasuk mural-mural.

Foto diambil disini.
Sekarang saatnya kembali mengangkat mural dalam konteks perjuangan nasional, mengembalikan kepribadian bangsa Indonesia yang dikenal dengan semangat gotong royong, anti imperialisme, dan anti eksploitasi. Tidak seharusnya mural hanya di tempatkan sebagai media penghilang stress karena macet dan lain sebagainya. Cukup Sudah Jadi Bangsa kuli, bangkit jadi Bangsa mandiri.

***

*(Penulis Koordinator Divisi Seni Sanggar Satu Bumi, saat ini sebagai Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-EN LMND).

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini