Sabtu, 30 November 2013

Selamat Datang (Lagi) Kepada Majelis Daerah Hulu Selangor Malaysia

Saya saat berada di meeting room, Hotel Surabaya Plaza.

Hari ini tanggal 30 November 2013, tepatnya di Hotel Surabaya Plaza Surabaya. Kami "Sarang Burung Surabaya" kedatangan tamu dari Majelis Daerah Hulu Selangor (MDHS) Malaysia. Kedatangan mereka ke Surabaya dengan maksud memperkenalkan beberapa potensi wisata yang berada di Hulu Selangor terutama dari segi Ekowisata, khususnya bird watching.

Acara yang berlangsung pada pukul 09:00 WIB di ruang meeting conference 1-3 HSPS, mengundang berbagai komunitas pengamat burung dan kelompok studi burung dari setiap Universitas di Surabaya. Beberapa perwakilan yang hadir pada acara "Meeting Conference Selayang Pandang Hulu Selangor" yaitu Peksia (Kelompok Studi Burung Departemen Biologi Universitas Airlangga), Kirik-kirik (Kelompok Studi Burung Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga), Srigunting (Kelompok Studi Burung Universitas Negeri Surabaya), dan Pecuk (Kelompok Studi Burung Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Sedangkan penggiat dan peneliti burung senior dihadiri oleh komunitas "Anak Burung", pada kesempatan ini diwakili oleh saudara Iwan Londo.

Ibu Azlina Mochtar sebagai (Ketua Pegawai Perancang Bandar & Desa) Hulu Selangor yang sempat berkunjung pada bulan Oktober 2013 bersama tiga rekan dari Malaysia, sudah mengawali kunjungannya ke Surabaya untuk bird watching di Wonorejo Surabaya, yang dipandu oleh rekan-rekan dari komunitas Sarang Burung Surabaya yang diketuai oleh Lukman Nurdini (alumni mahasiswa pasca sarjana di Departemen Biologi Universitas Airlangga) dan juga aktif dalam pengamatan rutin di Wonorejo Surabaya. Pada kesempatan kali ini, beliau menyampaikan presentasi tentang potensi wisata Hulu Selangor, dengan presentasi yang begitu menarik dan persuasif. Beberapa penyajian yang diberikan terutama dari segi pengamatan burung. Beliau menampilkan beberapa jenis burung yang dapat diamati di Hulu Selangor, salah satunya yang menjadi ikon daerah tersebut adalah burung dari jenis Black-naped Oriole atau dengan nama daerah di Malaysia sering disebut sebagai burung Kunyit Besar/Dendang Selayang. (Bersambung)

Suramadu bersama dengan birder Selangor Malaysia.


Jumat, 29 November 2013

Untuk Kamu yang Takut Ketinggian



Foto oleh Radityo Pradipta
Sandi, maaf aku lupa untuk mengirim surat untukmu. Sudah tiga minggu ini aku tak mengabarimu. Bukan karena mengabaikan, tetapi aku teramat sibuk dengan ketidakpastian.

Sandi, aku tak pernah lupa ketakutanmu akan ketinggian. Mungkin kita masih mengingatnya, saat kita berada satu bis yang sama menuju bukit. Kamu duduk bersebelahan bersama kekasihmu, sedangkan aku duduk sendiri tepat di depanmu. Aku baru mengerti ternyata kamu orang yang membenci ketinggian dengan bersembunyi di balik ketiak kekasihmu. itu sangat menggelikan.

Empat hari lalu, aku mengunjungi pulau Madura. Aku berkeliling mencari suasana yang berbeda. Saat dhuhur tiba aku memutuskan untuk menepi di masjid Bangkalan, masyarakat di sana menyebutnya dengan “Masjid Emas”. Entah mengapa panggilan emas tersemat untuk masjid yang selalu ramai pengunjung itu.

Setelah rebahan sekitar lima belas menit, aku segera bersiap menuju barat. Perjalanan yang tak tentu arah itu, membawaku pada area pertambakan rakyat. Melewati kumpulan perdu yang hijau dan beberapa komunitas mangrove mayor yang sebagian telah terpangkas oleh tangan-tangan jahanam. Perjalanan saat itu mengingatkan aku pada desa Sukapura dan Ngadisari saat sore hari yang sepi, mungkin bedanya jalan yang saat itu aku lewati tidak ada tanjakan atau turunan yang menggoyang pantat kita.

Sayang kau tak ada di jok motor bersamaku saat itu.

Sandi, memang perjalanan waktu itu aku tak sendiri, aku mengajak beberapa rekan-rekanku pekerja foto untuk bergabung denganku. Mereka mengabariku secara kebetulan saat aku hampir membuat keputusan untuk memutar balik setang motorku. Mungkin tak selamanya sendiri itu mengasyikkan, terkadang kita butuh teman untuk berbagi. Mungkin Tuhan mengerti ini, dan mengirim mereka untuk mewakilkanmu.

Lengkap sudah kami berempat saat itu. Salah satu kawanku bernama Muslim menyarankan untuk mengunjungi mercusuar di daerah Sembilangan. Masyarakat Bangkalan sering menyebut mercusuar itu dengan sebutan “Mercusuar Lampu”. Letak mercusuar tersebut berada di desa Sembilangan, maka sebagian besar masyarakat luar Madura lebih mengenal dengan nama Mercusuar Sembilangan.

Kesan pertama saat aku tiba di kawasan Mercusuar Sembilangan sore itu: sepi. Tak begitu ramai dengan pengunjung berserta hiruk pikuknya. Aku juga masih ingat saat kamu mengajakku ke pos pantau mangrove Wonorejo untuk mencari inspirasi dan menghindari keramaian kota. Saat itu aku membawa binocular untuk mengamati burung, sedangkan kamu membawa tas seukuran kertas A3 dengan isi kamus bahasa Indonesia dan pensil warna-warni. Mungkin Tuhan menciptakan beberapa kesamaan untuk aku mengingat dan menghargai peristiwa.

Setelah memarkir sepeda motor, aku masih enggan untuk memasuki komplek mercusuar. Aku memandangi sekitaran sembari menarik nafas yang dalam. Teduh. Namun sayang beberapa kali mengarahkan pandangan, terlihat beberapa sampah tercercer tak karuan. Aku mengambil yang terdekat dari tempatku berdiri, kemudian berjalan kearah timur untuk melihat beberapa mangrove yang terpangkas. Perasaan miris, bercampur aduk saat itu. Mungkin sebentar lagi kawasan ini akan ramai oleh pertokoan. Tapi semoga saja tidak, karena empat warung di depanku saja sudah cukup membuat perutku berisik untuk diisi.

Sudah ah, daripada aku berlama-lama bercerita. Lebih baik aku pamerkan beberapa foto tentang Mercusuar Sembilangan itu padamu. Semoga suatu hari nanti kita dapat mengunjunginya, menikmati sunset dan berlari beradu cepat untuk menaiki anak tangga. Oh aku lupa lagi, kalau kamu takut ketinggian dan badanmu sudah tak selangsing dulu.

Mercusuar Sembilangan, dengan 16 lantai dan 1 lantai untuk lampu.
Kenalkan: Kang Agung, Adit, dan Asdi.
Dari dalam kita dapat melihat pemandangan luar dari jendela pada setiap lantai.


View dari dalam Mercusuar Sembilangan.


Tangga di dalam Mercusuar Sembilangan.


View dari belakang, Mercusuar Sembilangan.

Aku cukupkan untuk sementara tulisanku. Semoga saja tulisan kali ini, menjadi penawar rinduku padamu. Sampai berjumpa lagi Sandi. Semoga kamu selalu diberi kekuatan dan kebaikan untukmu sendiri dan untuk manusia lain di sekitarmu. Amiin. 

*Foto tambahan, (Landscape)

Seperti kataku, Mangrove sudah banyak yang ditebang di area Mercusuar Sembilangan.
Z. M. Willem III, Mercuar Sembilangan.
View dari bawah, tempat untuk menaik-turunkan barang.
Lorong untuk barang dilihat dari atas lantai tiga.
View dari lantai 16, Mercusuar Sembilangan.
Foto latar adalah pelabuhan Tanjung Perak.
Dari lantai 16, kita dapat melihat pemandangan pertambakkan.
Cheers!



Jumat, 22 November 2013

Mengganti Kerinduan



Momen saat usai pengamatan burung. Foto: Ryan

Entah sejak kapan saya mengutuk sebuah kerinduan. Barang kali beberapa pertemuan dengan sahabat dan keluarga cenderung menyebalkan akhir-akhir ini. Saya sering bosan. Alhasil dengan cara menghindar dan kabur dari rutinitas menjadi jalan pintas. Ambilah contoh pelarian saya menuju pulau Lombok beberapa bulan lalu. Ditambah lagi kegiatan mendaki gunung Argopuro yang hampir saya yakini sebagai batas akhir hidup. Miris? Dengan jujur saya katakan, “iya.”

Memang terlalu dini untuk mengatakan, “supaya orang lain mengambil pelajaran hidup dari apa yang saya lakukan.” Mungkin ini adalah kalimat paling congkak yang saya yakini waktu itu. Memangnya siapa saya, sampai orang lain mau belajar dari saya.

Mencoba memutar ulang waktu.

Pada saat itu, dibawah kekalutan dan beberapa perasaan sepi yang saya alami. Membuat saya menguji beberapa pemikiran dan buku yang saya baca. Tentang seberapa kuat, benar, sampai beberapa pertanyaan tentang seberapa rindu saya akan hal-hal yang menyakitkan. Saya berpendapat, bahwa hidup adalah membuktikan apa yang panca indra rasa.

Seperti perasaan bagaimana kita menuntaskan buku bacaan kesayangan, dan berusaha mati-matian untuk mengoleksinya hingga tuntas. Mungkin itulah hidup menurut saya waktu itu. Saya tak butuh pembenaran atau sangkalan dari orang lain, karena prinsip akan timbul dari beberapa pengalaman hidup yang kita sendiri alami. Bukankah cara kita berjalan berbeda?

Saya pernah membenci keramaian, maka saya berusaha mengujinya dengan mendatangi Gili Trawangan. Saya pun pernah membenci sepi, maka saya mengujinya dengan mengunjungi Argopuro. Kemudian pernah saya tergelitik dengan pernyataan, “Berburu pantai eksotis”. Maka saya tergerak untuk memburunya. Semua perkara pembuktian.

Saya tak ingin benar-benar membenci sesuatu hal, saat saya belum melakukannya. Entah orang lain mempunyai pendapat yang berbeda dari saya, itu adalah hak. Sekali lagi, bukankah cara kita berjalan berbeda?

Parahnya lagi, saya tak mudah percaya dengan apa yang saya dengar sebelum saya melihatnya dengan mata kaki saya. Contoh bodohnya adalah saat seorang kawan pendaki mengatakan bahwa Argopuro memiliki jalur trekking terpanjang se-Jawa, saya membuang muka di depannya dan berujar, “Saya akan kesana”. Alhasil, di pertengahan perjalanan trekking Argopuro, saya mengalami hypothermia dan kuku jari kaki hampir lepas, karena perjalanan yang tak habis-habis. Saya menyesal? Tidak, karena saya belajar.

Saya yakin Tuhan punya rencana sendiri untuk mengingatkan sikap sombong. Sebenarnya saya tak pernah suka dengan sikap yang membinasakan itu. Mana ada orang yang dipanggil sombong akan suka dan tersenyum. Fitrah manusia, ingin dipandang baik toh.

Selain membuktikan tentang ketakutan, kesepian, sampai dengan kata utuh. Saya juga ingin membuktikan apa arti kerinduan? Semua manusia berhak rindu dan dirindukan. Chandra Malik bisa saja bebas menulis tentang apa itu kerinduan dengan #fatwarindu-nya setiap malam, supaya kita tersentuh dan menangis.

Memang benar adanya, rindu adalah harapan. Saat harapan itu begitu jauh dan mungkin detik waktu tak cukup untuk menggantikannya. Lalu bagaimana kita menggantinya? Dengan diam? dengan berucap? Sampai tiap buih doa pagi hari yang kita ucap yang kita yakini sebagai antidot, mulai pupus dan membuat kita jengah dengan keadaan.

Saya pun tak benar-benar yakin, bahwa menulis adalah sebuah proses merapikan kenangan. Karena kenanganlah yang membuat perasaan rindu semakin kuat dan menyesak di celah-celah rongga dada yang membuat kering kerongkongan.

Kita hanya bisa menggantinya. Mengganti rindu yang telah usang, membuat harapan baru dengan sesuatu yang pantas dirindukan.

Seperti bermain puzzle. Kita berhak merubah letaknya, mencarinya, sampai kita menuntaskan permainan. Tapi ingat, suatu saat kita akan membuka kembali dan mengacak-acaknya. Itulah rindu.

Selasa, 19 November 2013

Eksistensi Mural dan Perjalanan Nasionalisme Indonesia

Foto diambil disini.


22:25:00 WIB
Oleh: Rudi Hartono*

Di Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Jogjakarta, Makassar, dan Bandung akan dengan mudah kita menjumpai mural di tembok, dinding rumah/gedung, atau sepanjang jalan-jalan besar. Banyak yang mencibir sebagai perilaku mengotori keindahan kota, sebagian lagi menuduh itu hanya pekerjaan seniman yang tidak punya panggung. Sangat sedikit diantara kita yang mau membuka mata dan pikiran, untuk menempatkan mural dalam konstruksi masyarakat modern, dimana bahasa komunikasi sangat beraneka ragam. Selama ini kita hanya mengenal mural sekedar sebagai aktivitas coret-coret dinding/tembok, ataupun yang paling tinggi memahami mural sebagai aktivitas berkesenian. Tetapi, sangat kurang menangkap peran mural sebagai media komunikasi, penyampaian pesan, dan penggugah semangat.

Sebagian besar dari kita sudah lupa bahwa mural selain sebagai bentuk tulisan yang memuat isian seni di dalamnya, juga punya peranan yang tidak sedikit dalam sejarah. Kendati sejarah selalu di tuliskan berdasarkan bait-bait yang di kehendaki oleh sang penguasa. Namun, beberapa tulisan telah menjadi sumber inspirasi, sumber penyatuan ide, dan menjadi saksi-saksi sejarah bagi generasi kemudian. Revolusi Perancis mencatat bagaimana mural-mural yang di buat oleh aktivis kiri, menjadi bahan propaganda yang menggema dalam revolusi Perancis May 1968. Revolusi Rusia yang termasyur itupun, di dalamnya dikenal peranan mural di dinding pabrik dan tembok istana raja untuk menyadarkan orang akan situasi Rusia dan apa yang harus dilakukan.

Dalam sejarah revolusi Indonesia pun kita mengenal kata-kata yang cukup popular diantara kaum pejuang, yakni “Merdeka atau Mati”, “Boeng Ayo Boeng” atau kata-kata “Revolusi Sampai Mati”. Namun sekarang merebaknya mural di berbagai kota, justru, menimbulkan pencitraan yang negatif oleh mayoritas diantara kita. Padahal, itu harus dimaknai sebuah ungkapan (baca;ekspresi) dari sebuah ide, walaupun ide-ide itu masih samar-samar. Di Jogjakarta paska gempa bumi, muncul mural dimana-mana, yang memberikan semangat dan motivasi bagi semua warga masyarakat untuk bangkit. Di Jakarta, problem perkotaan seperti kemiskinan, polusi udara, kemacetan, dan situasi nasional bisa tergambarkan oleh mural-mural yang menghiasi berbagai tembok dan dinding sepanjang jalan kota Jakarta.

Mural dan Revolusi Nasional
Dalam revolusi nasional mempertahankan kemerdekaan ada dua nama yang sangat terkenal, yakni Affandi dan Sudjoyono, dalam konteks pembebasan lewat seni rupa. Peranan mereka tidak dapat dikecilkan, mengingat beberapa karya, justru menjadi pesan yang mengobarkan semangat kaum muda melawan penjajahan. Affandi misalnya, lewat lukisan dan muralnya yang berjudul “Tiga Pengemis” telah menjadi alat yang efektif propaganda melawan Jepang, dan untuk menyadarkan kaum muda akan nasib bangsanya. Dalam revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, lukisan dan muralnya yang menggambarkan seorang pemuda memekikkan kata “merdeka”, sanggup membangkitkan semangat kaum muda. Selain itu kata-kata “Boeng, ayo boeng” di massalkan oleh pelukis lain lewat coretan dinding (mural), sanggup memobilisasi kaum muda terlibat dalam lascar-laskar mempertahankan kemerdekaan. Lihat saja dalam dokumenter sejarah perjuangan bangsa kita, mural hadir dalam setiap front-front perlawanan di garis depan. Kereta-kereta api yang mengangkut pejuang, di penuhi dengan coretan-coretan yang membangkitkan nasionalisme, yang kemudian ditangkap oleh rakyat sebagai seruan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Serikat mural Surabaya, tolak kenaikan harga BBM.
Tahun 1950-an, boleh dikatakan sebagai puncak kejayaan seni dan sastra pembebasan termasuk di dalamnya mural. Penolakan terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), dan kenyataan bahwa penjajah belanda tidak sepenuhnya enyah dari Indonesia termanifestasikan dalam seruan-seruan coretan dinding (mural). Kata-kata seperti “Ayo tuntaskan revolusi kita”, atau “Ganyang Imperialisme Inggris-Amerika” tidak sulit untuk di temui sepanjang dinding tembok pinggir jalan. Seni rupa memang tidak bisa di lepaskan dari kepentingan politik dan ideologis. Tinggal sekarang, sejauh mana sastra dan seni rupa mau mengabdi kepada mayoritas massa rakyat yang terhisap.

Eksistensi mural-mural ini sangat signifikan dalam masa-masa revolusi, karena telah menjadi bahasa pesan untuk menyampaikan seruan perjuangan. Kita tidak bisa menafikan bahwa menggemanya kata-kata “Merdeka atau Mati” dan “Boeng, ayo boeng” tidak bisa di lepaskan dari keberadaan mural sebagai alat propaganda di ruang publik. Selama revolusi fisik hingga detik-detik terakhir kejatuhan pemerintahan Soekarno, mural punya andil dalam menyatukan ide soal persatuan nasional, kemerdekaan sejati, dan tugas-tugas revolusi di masa depan. Namun, sebaliknya, naiknya rejim orde baru telah memberangus daya kritis, termasuk prinsip kesukarelaan semua suku bangsa dalam sebuah “nation”. Jika dijaman Soekarno, persatuan dan nasionalisme Indonesia terlahir/terwujud dari ide-ide, yang tentu saja senjatanya adalah tulisan (artikel, Koran, mural, lukisan, selebaran, dsb). Maka di bawah kekuasan Orde Baru, nasionalisme Indonesia dipaksakan dengan pendekatan militeristik, sehingga nasionalisme yang dihadirkan adalah nasionalisme yang berdarah-darah, penuh paksaan dan Chauvinis.

Menempatkan Mural dalam situasi Indonesia Kini.
Pandangan merendahkan eksistensi mural adalah tindakan yang ahistoris dan tidak peka dengan perkembangan situasi. Di bawah gempuran budaya neoliberalisme (dimana salah satu unsurnya adalah Individualisme), maka keberadaan ruang-ruang publik terus digeser dan dihapuskan oleh derasnya modal dan ideologi individualisme. Di kota-kota besar sekarang, sangat susah menemukan ruang publik yang gratis (yang bisa diakses banyak orang) dan memberikan ruang yang leluasa bagi semua individu, tanpa memandang klas. Ruang-ruang publik di dominasi oleh selebriti, tokoh-tokoh politik, atlet-atlet terkenal, dan produk-produk komersil. Papan reklame yang menawarkan produk, dengan bahan propaganda selebriti cantik dan seksi menghiasi seluruh kota. Bersamaan dengan semua proses semua itu, ideologi nasionalisme kita juga semakin direduksi dan digantikan dengan ideologi individualisme dan komsumerisme barat. Pertanyaannya, mau dikemanakan ideologi pancasila kita? Dan siapa yang harus menjaganya?

Ideologi neoliberal telah menggerus jiwa dan semanggat ideologi nasionalisme kita. Dalam kondisi seperti ini, menurut Antonio Gramsci (seorang Marxis Italia) bahwa bentuk hegemoni harus dilawan dengan counter hegemoni. Sehingga dalam memaknai kebangkitan mural di berbagai kota besar di Indonesia saat ini, harus di letakkan dalam pengertian sebagai berikut: (1) ruang aktualisasi diri (ber-eksistensi), merupakan gerakan kultural untuk melawan dan merebut kembali ruang-ruang publik yang saat ini dikuasai pasar. Dinding tembok, trotoar, dan halte merupakan ruang publik (Public Space) yang selalu disaksikan oleh banyak orang. (2). Munculnya mural-mural politis dan ideologis merupakan senjata ampuh merebut dan membentuk kembali ide nasionalisme kita yang telah lama di biaskan. Papan reklame yang menawarkan komoditi, pornografi (industri seksual), dan konsumerisme harus di counter dengan propaganda alternatif salah satunya adalah mural. (3). Mural-mural itu penting untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif massa akan sejarah nasional bangsa ini. Di Cuba tahun 1970-an, ketika semangat revolusi semakin surut dikalangan kaum muda maka pemerintahan Revolusioner Castro menghidupkan kembali sosok Che Guevara dalam berbagai bentuk termasuk mural-mural.

Foto diambil disini.
Sekarang saatnya kembali mengangkat mural dalam konteks perjuangan nasional, mengembalikan kepribadian bangsa Indonesia yang dikenal dengan semangat gotong royong, anti imperialisme, dan anti eksploitasi. Tidak seharusnya mural hanya di tempatkan sebagai media penghilang stress karena macet dan lain sebagainya. Cukup Sudah Jadi Bangsa kuli, bangkit jadi Bangsa mandiri.

***

*(Penulis Koordinator Divisi Seni Sanggar Satu Bumi, saat ini sebagai Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-EN LMND).