Senin, 21 Oktober 2013

SINGGAH DI BEDUGUL



Danu Ulun Watu-Bedugul.

Setelah memutuskan bermalam di pos polisi Desa Tabog, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Bedugul. Sebelum itu kami sedikit membenarkan tatanan seprei kasur yang kami orak-arik semalaman, kemudian kami berpamitan dengan Bli Agung sambil berpelukan. Lebay memang, namun kami sepakat dengan berpelukan kita telah menjadi saudara secara batin.

Kami bersiap menunggu transportasi publik yang melintas, kami menuggu di dekat pohon bambu di pinggir jalan yang masih basah akibat uap air semalam yang naik. “Segar sekali udara pagi di sini”, kata Ryan sambil melipat lengannya kearah dada sambil menghirup nafas panjang. Tak lama kami mengobrol, angkutan colt L300 dari arah selatan melaju ke arah kami. Sepertinya mobil pertama yang kami tunggu itu masih sedikit membawa penumpang.

Enam orang penumpang termasuk kami. Saat kami masuk terlihat di sisi kiri pak supir ada satu orang wanita berumur sekitar 50 tahun, dan dua orang lagi duduk di bangku belakang bersama kami adalah bapak-bapak yang memakai udeng khas pulau Bali dengan setelan kemeja hitam. Segera kami melontarkan senyum kearah mereka untuk mengawali perjalanan kami menuju Bedugul.

Sebenarnya kami masih menyisakan rasa kantuk yang belum tuntas, maklum kami hanya tidur satu jam setengah saja semalam. Jika kami tak menolak ajakan Bli Made untuk minum arak Bali, bisa dipastikan kami akan bangun kesiangan. Untung saja Bli Made cukup mengerti kondisi kami malam itu, yang telah melakukan long-march sejauh 7 kilometer dan hampir memutuskan bermalam di pos kamling Desa Tabog.

“Mereka semua orang baik, dan mereka tak akan memaksakan sesuatu hal kepada kami jika kami tak ingin.”

Perjalanan yang menawarkan suasana khas perkebunan cengkeh dan kopi, memaksa kami untuk diam dan membiarkan mata terbuka lebih lebar. Sisi kanan-kiri jalan yang kami lewati, berdiri hutan bambu dan beberapa tanaman perdu yang menghijau. Apalagi suara riuh burung-burung hutan yang bersahutan menyapa mentari, membuat kami semakin tertegun. Dalam batin berkata, “inilah seharusnya Bali”. Mungkin pemandangan yang kami lewati juga diamini oleh Evan yang sebelum naik angkutan publik sudah berujar kepada saya dan Ryan untuk melanjutkan tidur, “eh rupanya niatnya itu hanya di bibir saja”. Pupil matanya seakan melebar setelah melihat formasi sengkedan persawahan dan beberapa pura kecil yang tertutupi oleh sarung.

Saya sedikit terusik dengan terpaan angin yang masuk dari celah jendela yang susah ditutup, praktis membuat saya sering mengatupkan gigi geraham dengan nada-nada yang fals. Eeeerr. Dasar kecéng!

Empat puluh lima menit perjalanan yang kami lewati, dibantu dengan saran dari seorang bapak yang berada di sebelah saya, untuk berhenti tepat di pintu masuk Bedugul. Sedikit memastikan saja, lokasi yang sempat saya dan Ryan cari di peta, kami padukan dengan bertanya kepada bapak tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk turun tepat di depan gapura Bedugul. Kemudian, kami membayar lima belas ribu rupiah untuk satu orang dari Desa Tabog. Lumayanlah, dari pada kami memutuskan long-march lagi.

Setelah menurunkan tas kariel dari mobil, kami memutuskan untuk berjalan ke arah utara sembari mencari lokasi sarapan. Kami sengaja untuk tidak masuk ke dalam area danau dan Pura Ulun Danu Bratan. Karena kami berpendapat, pemandangan Bedugul sejatinya bukan dinikmati secara langsung dari dekat Danau Bratan, melainkan dari kejauhan sambil menyeduh kopi dan menikmati hisapan tembakau.

Kami memutuskan berjalan mendekati area perkampungan yang berada di sekitaran Danau Beratan, terdapat beberapa homestay dan pondokan untuk disewakan. Kami sudah tak bernafsu lagi dengan penginapan. Kami lebih memilih mencari warung kecil untuk mengganjal isi perut sembari mengobrol dengan beberapa masyarakat yang terlihat sedang asyik mengemasi olahan buah strowberi. Sepertinya buah yang kaya air itu baru datang dari kebun, dan segera dikemas oleh beberapa ibu-ibu yang memakai penutup kepala.

Ada yang menarik perhatian kami saat kami berada di Bedugul, di sini terdapat masjid besar dan beberapa masyarakatnya muslim--terlihat beberapa wanita yang kami temui menggunakan kerudung/penutup kepala seperti masyarakat di Jawa. Setelah menghabiskan beberapa pisang dan menuntaskan seduhan kopi. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke arah Masjid Al-Irsyad Candi Kuning yang sedari tadi menarik perhatian kami.

Bedugul terletak di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan Bali. Saat itu kami menghadap Danau Beratan yang tenang sembari berbincang dengan beberapa penjual asongan yang berada tak jauh dari kami. Memang kami tak memutuskan untuk masuk ke dalam Pura Ulun Danu Beratan, namun dari tempat kami duduk terlihat jelas pura dengan formasi bagian atap yang melancip kearah atas.

Danau Beratan, Bedugul Bali.

Bedugul memang daerah daratan tinggi yang unik, dengan hegemoni masyarakat dan tatanan geografis yang membuat saya ingin berlama-lama duduk sambil merenung. Namun, keinginan tersebut cepat-cepat saya urungkan, karena perjalanan ke beberapa lokasi lain harus kami lanjutkan.

Mendung dari arah barat sudah mulai nampak, dan sepertinya hujan akan turun. Kami segera merampungkan beberapa sesi dokumentasi untuk pembuatan buku. Saya berjalan menuju jalan utama sambil menenteng keriel di pundak, tiupan angin dari arah belakang begitu sejuk seolah-olah menghantarkan kami keluar dari tepian Danau Beratan. Saya berjalan sambil terus melihat kearah bawah, mengantisipasi jika harus mengenai beberapa sesaji yang biasanya ditempatkan di beberapa jalan.

Sesaji di pinggir jembatan Danau Beraran.

Persinggahan yang singkat ke Danau Bratan dan mengintip indahnya Pura Ulun Danu Beratan. Membuat saya bertanya-tanya, “Apakah manusia harus tenang untuk lebih menghargai kata syukur?” (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar