Kamis, 31 Oktober 2013

Pengamatan Bareng dengan Birder Selangor Malaysia



Pengamatan bersama dengan rekan birder Selangor.

Birdwatching or birding is the observation of birds as a recreational activity. It can be done with the naked eye, through a visual enhancement device like binoculars and telescopes, or by listening for bird sounds.

Birding di daerah Ekowisata Mangrove Wonorejo yang saya awali pada pertengahan tahun 2007 selain menambah wawasan tentang ilmu perburungan, ternyata kegiatan ini juga dapat menyambung persaudaraan dan mengenal alam lebih dalam. Bersama rekan-rekan pengamat burung (Peksia) Universitas Airlangga, pengamatan rutin juga tidak selalu di area Mangrove Wonorejo Surabaya. Tapi juga kami melakukan pengamatan di beberapa Taman Nasional Jawa Timur dan sesekali kami juga melakukannya di Cagar Alam untuk menambah perbendaharaan list burung.

Apakah kawan sekalian pernah menonton film The Big Year? Film yang release pada 14 Oktober 2011 dengan genre film komedi ini dibintangi oleh Steve Martin, Jack Black, dan Owen Wilson yang bercerita bagaimana salah satu fenomena tentang birding di luar negeri khususnya di Amerika begitu digemari. Film tersebut menceritakan aktifitas masyarakat dalam melakukan pengamatan burung (birding) yang bermula dari kegiatan perlombaan menembak burung.

Birding bagi saya adalah upaya menjaga kelestarian burung (keilmuan) dalam kemasan rekreasi yang menyenangkan. Namun disatu sisi, beberapa masyarakat awam masih menganggap kegiatan pengamatan burung adalah kegiatan sia-sia dan acara buang-buang waktu saja. Padahal lebih dari itu, burung memiliki peranan pada lingkungan sebagai bio-indikator lingkungan.

Kemarin (Rabu, 30 Oktober 2013) kami kedatangan tamu dari MDHS (Majelis Daerah Hulu Selangor) Malaysia. Tamu kami tersebut berjumlah tiga orang: Ibu Azlina, Ibu Nurul, dan Bang Hanis. Mereka menyatakan kepada kami ingin melakukan pengamatan di Surabaya. Sebelumnya obrolan ringan melalui chat Facebook untuk acara pengamatan bersama yang diadakan di Ekowisaata Mangrove Wonorejo Surabaya. Mereka menanyakan beberapa akses yang dapat didatangi untuk melakukan pengamatan, serta menanyakan beberapa burung endemik yang berada di Surabaya.

Ibu Azlina, Ibu Nurul, dan Bang Hanis setelah mendengar penjelasan dari kami semakin penasaran untuk segera pengamatan bersama kami di Surabaya. 

Tepat pukul 07.00 WIB, Ryan dan Mas Lukman sudah berada di hotel Garden Palace untuk menjemput mereka. Sedangkan saya, Adit, dan Anggara langsung menuju Ekowisata Mangrove dan melakukan observasi lokasi terlebih dahulu.

Setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirnya mereka datang. Nasi pecel Rungkut membuka semangat untuk mengawali acara pengamatan. Nasi pecel langganan Adit di daerah Rungkut ternyata mendapat pujian ‘sedap’ dari Ibu Azlina, terutama peyek teri yang renyah itu.

Pengamatan bersama birder dari Selangor di Wonorejo Surabaya.
Pengamatan bersama birder dari Selangor di Wonorejo.

Kami berjalan dengan jalur pengamatan yang biasa kami lakukan. Melewati jalan setapak ke arah timur yang sisi kanan dan kiri terdapat kolam (tambak) bandeng. Ibu Azlina sudah bersiap-siap dengan kamera 7D dan lensa 100-400mm miliknya untuk proses pendokumentasian acara pengamatan. Kami berjalan dengan ritme santai. Sedangkan saya yang belum terbiasa membawa teleskop pinjaman seharga 9 juta dengan pasangan tripot yang lumayan berat, memilih berjalan paling belakang.

Beristirahat sejenak dan berdiskusi.
Kami bertujuh sangat menikmati pengamatan yang luar biasa terik hari itu. Matahari yang bersinar sempat membuat kawatir kami, sebagai pemandu jalan. Kekawatiran kami bukan tidak beralasan, karena tempat tinggal Ibu Azlina dan rekan-rekan di Selangor Malaysia termasuk kawasan bukit yang berhawa sejuk.

Mas Lukman dan Ryan.
Setelah berjalan selama kurang lebih dua jam, kekawatiran kami keliru. Kawan-kawan birder dari Selangor ini, begitu antusias tanpa mempedulikan bagaimana terik matahari Surabaya yang begitu menyengat. Mereka tidak henti-hentinya berkata, “Wah cantiknyaaaaa.” Saat mengamati ratusan Little Egret terbang di hadapan kami. Belum lagi saat mereka mengamati shorebird yang sedang mencari makan.

***

Hari ini (Kamis, 31 Oktober 2013) Ibu Azlina dan rekan-rekan birder akan melakukan perjalanan kembali ke Malaysia. Mereka tak henti-hentinya mengajak kami bertandang ke Selangor pada bulan April Tahun depan. Karena mereka adalah salah satu penggiat konservasi burung yang berada di Malaysia. Tentunya kami akan pengamatan bersama lagi.

“Hanya butuh tiket saja untuk pergi ke Malaysia, setelah sampai di sana kami tanggung,” begitu kata Ibu Azlina kepada kami di teras depan rumah Adit.

“Ah Ibuuuu, setelah melihat video pelancong hulu selangor yang anda perliahtkan kepada saya." Saya jadi 'teracuni' ingin pergi ke Selangor. Insyaallah, semoga saya diberi rizki untuk mengunjungi Ibu dan rekan-rekan birder di Selangor dan melakukan pengamatan bersama lagi. Tabik.

Saya, Bang Hanis, Ryan, dan Mas Lukman.

Senin, 21 Oktober 2013

SINGGAH DI BEDUGUL



Danu Ulun Watu-Bedugul.

Setelah memutuskan bermalam di pos polisi Desa Tabog, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Bedugul. Sebelum itu kami sedikit membenarkan tatanan seprei kasur yang kami orak-arik semalaman, kemudian kami berpamitan dengan Bli Agung sambil berpelukan. Lebay memang, namun kami sepakat dengan berpelukan kita telah menjadi saudara secara batin.

Kami bersiap menunggu transportasi publik yang melintas, kami menuggu di dekat pohon bambu di pinggir jalan yang masih basah akibat uap air semalam yang naik. “Segar sekali udara pagi di sini”, kata Ryan sambil melipat lengannya kearah dada sambil menghirup nafas panjang. Tak lama kami mengobrol, angkutan colt L300 dari arah selatan melaju ke arah kami. Sepertinya mobil pertama yang kami tunggu itu masih sedikit membawa penumpang.

Enam orang penumpang termasuk kami. Saat kami masuk terlihat di sisi kiri pak supir ada satu orang wanita berumur sekitar 50 tahun, dan dua orang lagi duduk di bangku belakang bersama kami adalah bapak-bapak yang memakai udeng khas pulau Bali dengan setelan kemeja hitam. Segera kami melontarkan senyum kearah mereka untuk mengawali perjalanan kami menuju Bedugul.

Sebenarnya kami masih menyisakan rasa kantuk yang belum tuntas, maklum kami hanya tidur satu jam setengah saja semalam. Jika kami tak menolak ajakan Bli Made untuk minum arak Bali, bisa dipastikan kami akan bangun kesiangan. Untung saja Bli Made cukup mengerti kondisi kami malam itu, yang telah melakukan long-march sejauh 7 kilometer dan hampir memutuskan bermalam di pos kamling Desa Tabog.

“Mereka semua orang baik, dan mereka tak akan memaksakan sesuatu hal kepada kami jika kami tak ingin.”

Perjalanan yang menawarkan suasana khas perkebunan cengkeh dan kopi, memaksa kami untuk diam dan membiarkan mata terbuka lebih lebar. Sisi kanan-kiri jalan yang kami lewati, berdiri hutan bambu dan beberapa tanaman perdu yang menghijau. Apalagi suara riuh burung-burung hutan yang bersahutan menyapa mentari, membuat kami semakin tertegun. Dalam batin berkata, “inilah seharusnya Bali”. Mungkin pemandangan yang kami lewati juga diamini oleh Evan yang sebelum naik angkutan publik sudah berujar kepada saya dan Ryan untuk melanjutkan tidur, “eh rupanya niatnya itu hanya di bibir saja”. Pupil matanya seakan melebar setelah melihat formasi sengkedan persawahan dan beberapa pura kecil yang tertutupi oleh sarung.

Saya sedikit terusik dengan terpaan angin yang masuk dari celah jendela yang susah ditutup, praktis membuat saya sering mengatupkan gigi geraham dengan nada-nada yang fals. Eeeerr. Dasar kecéng!

Empat puluh lima menit perjalanan yang kami lewati, dibantu dengan saran dari seorang bapak yang berada di sebelah saya, untuk berhenti tepat di pintu masuk Bedugul. Sedikit memastikan saja, lokasi yang sempat saya dan Ryan cari di peta, kami padukan dengan bertanya kepada bapak tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk turun tepat di depan gapura Bedugul. Kemudian, kami membayar lima belas ribu rupiah untuk satu orang dari Desa Tabog. Lumayanlah, dari pada kami memutuskan long-march lagi.

Setelah menurunkan tas kariel dari mobil, kami memutuskan untuk berjalan ke arah utara sembari mencari lokasi sarapan. Kami sengaja untuk tidak masuk ke dalam area danau dan Pura Ulun Danu Bratan. Karena kami berpendapat, pemandangan Bedugul sejatinya bukan dinikmati secara langsung dari dekat Danau Bratan, melainkan dari kejauhan sambil menyeduh kopi dan menikmati hisapan tembakau.

Kami memutuskan berjalan mendekati area perkampungan yang berada di sekitaran Danau Beratan, terdapat beberapa homestay dan pondokan untuk disewakan. Kami sudah tak bernafsu lagi dengan penginapan. Kami lebih memilih mencari warung kecil untuk mengganjal isi perut sembari mengobrol dengan beberapa masyarakat yang terlihat sedang asyik mengemasi olahan buah strowberi. Sepertinya buah yang kaya air itu baru datang dari kebun, dan segera dikemas oleh beberapa ibu-ibu yang memakai penutup kepala.

Ada yang menarik perhatian kami saat kami berada di Bedugul, di sini terdapat masjid besar dan beberapa masyarakatnya muslim--terlihat beberapa wanita yang kami temui menggunakan kerudung/penutup kepala seperti masyarakat di Jawa. Setelah menghabiskan beberapa pisang dan menuntaskan seduhan kopi. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke arah Masjid Al-Irsyad Candi Kuning yang sedari tadi menarik perhatian kami.

Bedugul terletak di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan Bali. Saat itu kami menghadap Danau Beratan yang tenang sembari berbincang dengan beberapa penjual asongan yang berada tak jauh dari kami. Memang kami tak memutuskan untuk masuk ke dalam Pura Ulun Danu Beratan, namun dari tempat kami duduk terlihat jelas pura dengan formasi bagian atap yang melancip kearah atas.

Danau Beratan, Bedugul Bali.

Bedugul memang daerah daratan tinggi yang unik, dengan hegemoni masyarakat dan tatanan geografis yang membuat saya ingin berlama-lama duduk sambil merenung. Namun, keinginan tersebut cepat-cepat saya urungkan, karena perjalanan ke beberapa lokasi lain harus kami lanjutkan.

Mendung dari arah barat sudah mulai nampak, dan sepertinya hujan akan turun. Kami segera merampungkan beberapa sesi dokumentasi untuk pembuatan buku. Saya berjalan menuju jalan utama sambil menenteng keriel di pundak, tiupan angin dari arah belakang begitu sejuk seolah-olah menghantarkan kami keluar dari tepian Danau Beratan. Saya berjalan sambil terus melihat kearah bawah, mengantisipasi jika harus mengenai beberapa sesaji yang biasanya ditempatkan di beberapa jalan.

Sesaji di pinggir jembatan Danau Beraran.

Persinggahan yang singkat ke Danau Bratan dan mengintip indahnya Pura Ulun Danu Beratan. Membuat saya bertanya-tanya, “Apakah manusia harus tenang untuk lebih menghargai kata syukur?” (Bersambung)

Kamis, 03 Oktober 2013

BERHENTI SEJENAK DI TABOG


Kami memutuskan menerima tawaran Bli Made untuk menginap di pos polisi Tabog. Perasaan kami bertiga memang bercampur aduk malam itu. Saya melihat Ryan yang sedari tadi memegang Iphone, membuka aplikasi mapping untuk memastikan keberadaan kami dan sesekali melihat linimasa. Sedangkan Evan, lebih sering menggerakkan posisi punggungnya untuk mencari sandaran yang nyaman karena mulai kelelahan, akibat tas ransel yang terlampau penuh terisi perlengkapan fotografi. Sedangkan saya, hanya diam sembari mengamati sekeliling pos yang minim penerangan, sambil sesekali menghisap kretek dengan hisapan yang dalam.

Kami tersesat di sektor Banjar, tepatnya di daerah Tabog. Setelah berjalan kira-kira 6 sampai 7 kilometer dari Banyuatis. Kami ‘tergoda’ oleh rayuan calo bis di terminal Ubung yang menawarkan tujuan menuju Singaraja dengan harga murah. Namun pada akhirnya kami diturunkan di perempatan Munduk, karena kernek bis yang ‘diduga’ sedikit mengalami gangguan pendengaran. Parahnya lagi, tarif yang kami keluarkan untuk satu trayek tidak dipotong dengan kesalahannya. Sial sekali nasib kami.

Ada beberapa yang perlu kita perhatikan saat kita memutuskan menggunakan angkutan publik ke arah Singaraja dari Denpasar. Lokasi yang masih sangat jarang dilalui angkutan umum. Hanya minibis dan semacam mobil colt L300 yang tersedia untuk melintasi desa ini. Daerah Munduk sampai Banyuatis memang terkenal dengan sulitnya transportasi publik jika lepas dari pukul 14.00 WITA. Kecuali jika kita memutuskan mengambil angkutan carter atau mobil sewaan dari Denpasar, kita dapat dengan leluasa memejamkan mata dan beristirahat tanpa perlu merasa was-was.

Jika kita terpaksa melakukan perjalanan dengan transportasi publik ke arah tersebut dan hari sudah mulai sore, alternatif lain adalah dengan cara ngompreng/nebeng kendaraan yang melintas di jalan ini. Namun cukup beresiko untuk dilakukan. Mengingat semakin sore, daerah di Banyuatis begitu sepi dan jarang terlihat angkutan pick up yang melintas. Meskipun kawasan ini terkenal dengan kawasan perkebunan dan terdapat pasar tradisional yang membuat kami berprediksi, “dimana ada perkebunan dan pasar tradisional, pastilah ada mobil pick up yang dapat kita tumpangi”. Dan intuisi kami tak selamanya benar. Alhasil kami memutuskan untuk long-march.

Keheningan kami bertiga seketika itu dibuyarkan dengan suara ketukan sepatu yang berjalan mendekati kami. Sosok pria tinggi kekar dengan jaket kulit warna hitam menghampiri kami yang sedang duduk bermalas-malasan. Kemudian pria kekar itu berbicara kepada kami dengan nada tegas beraksen Bali.

“Selamat malam?” Sapa pria dengan jaket kulit warna hitam kepada kami.

“Malam pak.” Jawab kami bertiga dengan suara parau dengan aksen mengantuk dan sedikit menahan hawa dingin.

“Maaf ada keperluan apa? Malam-malam begini.” Tanyanya lagi kepada kami.

“Kami meminta ijin bermalam pak, karena kami tidak mendapatkan penginapan dan kami tersesat karena salah pilih transport.” Jawab Evan kepada bapak berjaket kulit itu.

Seketika itu, obrolan kami dengan bapak berjaket kulit tersebut dimulai. Kemudian disusul beberapa orang rekannya yang ikut mendatangi kami. Obrolan yang awalnya tegang kemudian menjadi cair karena rekan bapak berjaket kulit menawarkan nasi goreng kepada kami. Tanpa sungkan kami bertiga sepakat mengangguk bersamaan, hampir mirip anjing kintamani yang kelaparan. Kamipun tertawa kecil untuk menambah cairnya suasana. Mungkin mereka iba, melihat tiga pemuda dihadapannya seperti korban remaja yang kekurangan gizi. Muka sayu dan bibir pecah-pecah. Memang benar sejak lepas dhuhur, kami bertiga memang belum makan. Perut yang hanya terisi air dan beberapa asap rokok membuat kami merasa sebah malam itu.

Sembari menunggu nasi datang, kami ditanya ini dan itu--oleh bapak berjaket kulit--mulai dari identitas dan rencana ke pulau Bali dengan maksud wisata atau kunjungan lain. Kami hanya menjawab seadanya, malah kami bertiga lebih tertarik membahas hasil perkebunan di daerah Tabog serta suasananya yang tenang dan arif. Sangat kontras dengan Legian dan Kuta yang begitu hedon. Melihat barang bawaan kami yang lumayan mencolok, si bapak berjaket kulit ini mulai curhat kepada kami tentang masa mudanya yang sering mengikuti kegiatan diklat dan sejenisnya. Memanggul tas kariel dan melalang buana ke beberapa provinsi di Nusantara. Berpindah tugas ke luar pulau dan jauh dari keluarga adalah tantangan yang harus beliau jalani saat mulai menginjak umur 20 tahun. Ternyata dihadapan kami adalah kepala pos polisi Tabog. *Salim pak! Kita sesama traveler harus saling memahami*

Tak sampai menunggu 15 menit, nasi goreng pesanan kami datang. Waktu itu saya tak peduli lagi nasi goreng ini terbuat dari apa? bercampur dengan minyak babi atau menggunakan sedikit daging babi atau tidak, Allahualam. Saat itu, yang ada di otak kami hanya perut yang begitu lapar, seperti cacing-cacing yang berada di dalam perut meronta-ronta meminta makanan. Dengan ucapan basmallah, saya melahap nasi goreng saus merah dengan begitu khusuknya. Kata Evan--yang mungkin sudah terbiasa dengan masakan Bali--jika masakan yang menggunakan bahan atau minyak dari babi jelas ada bedanya. Lebih enak dan gurih katanya. “Lah menurut lo, nasi goreng yang kita makan saat ini juga termasuk?” Sahut saya dengan kondisi mulut yang masih penuh dengan nasi goreng. “Waallahualam”, kata Evan dengan nada datarnya dan melanjutkan suapannya. Hash, Evan setaaan!

Setelah menuntaskan nasi goreng antah-beratah itu, saya langsung menutupnya dengan bacaan hamdallah. Berharap gusti Allah menghalalkan nasi goreng yang saya makan malam itu. Guru ngaji saya dulu pernah berpesan, “cak man bacok’an, bar mangan gak rokok’an?” yo seppo le! Saya yang ingat pesan guru termasuk guru ngaji, tanpa banyak babibu segera mengambil korek api kemudian mengeluarkan kretek yang hampir layu di saku kiri kemeja dan langsung membakar ujungnya dengan hisapan bercampur perasaan legowo. Byuhh.. urip songo!

“Kalu sudah pukul segini, tak ada publik yang lewat”. Kata salah satu rekan bapak berjaket kulit hitam kepada kami.

Kami hanya manggut-manggut seperti boneka HokBen di Royal Plaza.

“Kira-kira pukul berapa ya pak, publiknya lewat?”, pertanyaan simbolik yang diajukan Ryan untuk menghargai pernyataan si bapak bertato di area lengan kanannya itu.

“Yaaah, kira-kira pukul 6 pagi. Lalu, rencana mas-mas ini mau menginap dimana?”

“Hmm, kami juga kurang mengerti pak, mau menginap dimana?”

“Yasudah, silahkan menginap di kantor sini saja. Karena di sini tak biasa jika ada orang menginap di pos kamling, apalagi warga juga takut untuk memasukkan orang asing kedalam rumahnya.”

“Matur sukma, paaaakk”. Kami hanya tertawa kecil sedikit menutupi perasaan malu.

Karena, sebelum kami berada di pos polisi Tabog. Kami bertiga memutuskan untuk tidur di pos kamling sembari menunggu pagi dan transportasi publik melintas. Namun sengaja kami batalkan, karena beberapa warga menghampiri kami dan kemudian mengantarkan kami ke kantor polisi Tabog. Dengan pertimbangan, daerah Tabog sangat rawan jika malam hari. Saya sempat ragu, jika harus memaksakan diri tidur di pos kamling, yang notabene banyak sekali anjing kampung berkeliaran dengan menjulurkan lidahnya. Ugh..


Setelah berbincang-bincang selama satu jam, kami ‘mengangkat bendera putih’ untuk meminta istirahat. Karena perjalanan kami esok harus segera dilanjutkan pagi-pagi buta. Karena semakin pagi kami berangkat, semakin lama kami bersenang-senang. Selain itu, kami ingin cepat-cepat meluruskan punggung yang 17 jam memanggul kariel sambil berlari-lari mengejar tumpangan. Yah, hitung-hitung sudah pernah merasakan tidur di kantor polisi. Hehe.. (bersambung)