MENYAMBUNG SARAF MALU



Menurut saya, perasaan menyesal adalah perasaan paling bodoh.

Saya akui saya memang bodoh. Seharusnya tulisan ini dibuat pada awal tahun 2011 lalu. Saat saya masih mempunyai semangat untuk mengerjakan penelitian dan segera merampungkannya. Atau mungkin tulisan ini dibuat sebagai pengantar proposal penelitian yang sering kita dengar dengan kata: skripsi. Sehingga setiap mahasiswa yang ingin memulai mengerjakan skripsi merasakan hal yang sama dengan saya. Memiliki rasa malu. Perasaan yang timbul jika gagal dan terlambat.

Malam ini tepat dimana saya berada di pelataran rumah yang sepi, memikirkan beberapa hal ganjil tentang apa itu “rasa malu” dan “rasa semangat”. Terlebih jika dua kata tersebut disandingkan dengan kata: “tanggung jawab”. Akan menjadi paduan kata yang berbobot. Begitu ketiga kata itu dipadukan seolah-olah menjadi sekat gelap yang harus ditembus, dan banyak ekspektasi yang muncul untuk segera direalisasikan. Berusaha menyadari secara utuh, ketiga kata tersebut seolah-olah menjadi balok-balok kayu yang siap membuat tungku tetap mengepul karena bara api semakin membesar. Dapat diibaratkan mengepulnya tungku adalah tanggung jawab, bara api adalah semangat, sedangkan balok-balok kayu adalah perasaan malu yang harus kita miliki.

Banyak sahabat mengatakan, “Kita harus memiliki rasa malu”. Tetapi rasa malu yang bagaimana? Itu pertanyaan dasarnya. Ada beberapa perasaan malu yang harus saya buat sendiri untuk kemudian menjadikan diri ini semangat dan dapat dipanggil, “Manusia yang bertanggung jawab”.

Perasaan malu yang pertama
Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orang tua saya adalah revolusioner dalam bidang pendidikan di lingkup masing-masing keluarga. Ayah saya anak kedua dari dua bersaudara, dan beliau adalah satu-satunya yang mengawali menjadi sarjana. Sedangkan mamak saya adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Sama seperti ayah saya, mamak adalah penembus border gelap dari masanya untuk bisa menjadi seorang sarjana pertama kali.

Pada setiap perbincangan, ayah dan mamak selalu menekankan arti ketekunan dan keuletan. Mereka mengakui bahwa mereka berdua tak begitu pintar. Tapi pada setiap sisi perbincangan kami, mereka selalu menyisipkan kata semangat dan keberanian untuk menggapai mimpi. Waktu itu, mereka memimpikan menjadi seorang sarjana.

Saya masih mengingatnya, saat ayah berkata bahwa titel sarjana adalah sebuah pintu gerbang. Sebuah alat yang berfungsi untuk “hidup” dan “menghidupi”. Pada saat itu, animo untuk menjadi seorang sarjana di negara kita tak sebesar sekarang. Sedangkan untuk menggapai beberapa tujuan dan mimpinya, titel sarjanalah gerbang yang harus dibuka terlebih dahulu. Lebih dari kata dan titel sarjana, keilmuanlah yang mampu menjadikan manusia naik satu level dari manusia lainnya.

Ayah berpegang teguh, “Bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bekal yang dapat menjadikan timbangan akhirat menjadi lebih berbobot.”

Perasaan malu yang kedua
Setiap saya pulang ke rumah yang berada di Mojokerto, selalu bawaanya adalah tidur. Bagi saya keputusan saya untuk pulang kesana adalah pemuasan kebutuhan berdiam dan beristirahat. Menjauh dari rutinitas, dan ingin menyepikan diri sejenak. Saya sangat menyukai suasana di sana yang begitu asri dan jauh dari kata bising.

Namun jika memutar ulang ke beberapa tahun silam, tepatnya awal tahun 2006. Kedua orang tua saya khususnya mamak, mencetuskan sebuah gagasan untuk menghadirkan suasana belajar mengajar di kampung kami Blooto, Prajurit Kulon. Mamak yang lulusan sejarah itu, tak ingin melihat anak-anak di kampung kami bekerja dan mengesampingkan waktu sekolah. Lahan disamping rumah yang dulunya adalah kebun pisang dan empon-empon, segera disulap menjadi bangunan untuk sekolah taman kanak-kanak.

Saya juga masih mengingatnya, begitu luar biasanya perjuangan mamak dan ayah untuk mendirikan sekolah itu. Dalam penerapannya, setiap upaya baik tak selalu dibarengi respon yang baik juga. Banyak pertentangan dari aparat desa dan beberapa warga  sekitar, yang menganggap TK kami nantinya akan menjadi kompetitor bagi TK Darma Wanita yang sudah lebih dahulu berdiri. Padahal jika mereka mengerti, jauh dari kalimat tersebut mamak dan ayah tak meminta biaya untuk mereka yang mau belajar di sekolah kami. Jangankan sebuah kata kompetitor, berbisnis dalam hal mendidik pun tak terbesit sedikitpun dari benak kami. Bukankah setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan mengupayakannya.

Namun proses lebih utama dari kata hasil. Semakin kuat kita berproses, semakin nyata hasil yang kita peroleh. Begitulah kegigihan mamak dan ayah untuk mewujudkan medium kecil dalam mengisi sisi keilmuan di kampung kami. Sampai sekarang saya juga tak mengerti, mengapa nama Ar-Rohman yang dipakai untuk menamai sekolah tersebut?

Perasaan malu yang ketiga
Saya mengakui, saya adalah manusia yang banyak omong. Saya suka bercerita, apalagi berbagi pengalaman. Paling tidak bisa melihat kawan apalagi saudara jatuh dan tak punya harapan hidup.

Saya juga heran, mengapa saya begitu mudahnya memotifasi seseorang dengan begitu powerful. Namun saat saya terhenti (stuck), begitu susahnya menemukan formula untuk kembali bangkit.

Saat adik saya kecelakaan. Saya dapat melihat beberapa gelagat aneh yang ia tampilkan. Perasaan tak tenang, dan selalu memegang ponsel untuk menanyakan beberapa informasi tentang perkuliahan kepada rekan barunya, yang ia kenal kurang dari satu minggu itu. Apalagi sorot matanya yang begitu tajam saat mendengar kata perkuliahan di dekatnya. Lutut kirinya yang mengalami keretakan, yang menyebabkan ia harus mengurungkan keinginannya untuk mengikuti keseruan ospek dan keasyikan perkuliahan pertama kali. Mungkin baginya sangat menyebalkan jika harus berlama-lama berdiam diri di rumah dengan waktu yang lama.

Pernah pada suatu sore, saya berdua dengan adik berbicang di teras. Obrolan santai dengannya, untuk menayakan keadaan dan rencanannya.

“Dik, opo sing marai awakmu pengen banget melebu kuliah? Padahal, awakmu mlaku ae yo durung teteh.”

“Sampeyan lali yo mas, biyen sampeyan tau ngandani aku masalah kuliah.”

“DEG.” Saya hanya diam dan berusaha mengalihkan pandangan tajam darinya. Berusaha mengingat kembali apa yang sudah saya katakan kepadanya dulu, saat ia akan menajalani ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi negeri.

***

Sebenarnya banyak sekali list malu yang ingin saya tuliskan. Namun, tak ada yang begitu penting jika sebuah kaca “bengala” dihadapkan tepat di depan saya. Kaca benggala itu ibarat keluarga. Banyak berkaca dari apa yang diperjuangkan oleh keluarga membuat saya ingin menata kembali visi hidup saya. Saat kaca itu bernama keluarga, dengan melihat apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan di dalam keluarga, semoga saya kembali merapikan misi hidup saya yang sedikit berantakan ini.

Selama ini mungkin saya bukan anak yang baik, malah lebih sering mengecewakan keluarga. Tapi saya yakin, dari dasar hati yang terdalam saya akan tebus perasaan kecewa kalian dengan penuh rasa tanggung jawab. Saat saya meminta beliau-beliau yang berada di kampus untuk sudi membimbing saya dalam penyusunan skripsi, sekarang saya malah mengabaikan kerelaan itu, malah membalas dengan menimbulkan perasaan kecewa yang mendalam.

Saya memang bukan anak bimbing yang baik, namun percayalah saya selalu memikirkan perasaan malu saya terhadap bapak ibu sekalian. Biarkan rasa malu ini tetap menggumpal di dalam dada, dan akan saya selesaikan tanggung jawab ini segera. Bukan karena siapa-siapa, melainkan tanggung jawab untuk diri sendiri karena sudah banyak bicara lancang tentang masa depan dan hasil yang belum dituntaskan dengan proses yang semestinya. Saya meminta maaf untuk beberapa hal omong kosong yang teramat sering saya utarakan.

Bahwa terkadang pengetahuan yang teramat sedikit ini dapat membuat silau dan menjadikan saya pribadi yang keminter. Alhasil saraf malu menjadi putus, semakin tak tahu diri. Ini hal yang fatal. Jika saat ini saya memulai menyambung saraf malu saya, karena saya sadar saat ini saya teramat bodoh. Manusia bodoh yang tak kunjung pandai. Dulu saya sempat tak percaya, bahwa kesempatan itu datang hanya satu kali. Tapi sekarang saya paham, bahwa kesempatan itu datang sekali, di hari dimana kita bernafas dengan baik.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengutarakan bahwa saya meminta maaf karena telah mengecewakan beberapa pihak. Beberapa pihak yang sangat menaruh kepercayaan besar terhadap saya. Beberapa pihak yang telah sudi bertaruh, dengan memberi harapan yang begitu tinggi kepada saya. Saat ini, ijinkan saya menyambung saraf malu yang dulu sempat putus itu. Menjadi manusia yang menjunjung rasa malu itu adalah yang utama, karena dengan rasa malu, kita akan tetap berada pada koridor pengertian dan pengendalian diri. Dengan rasa malu, kita akan terus belajar dan belajar.

Bagi saya malu itu mudah kok, buktinya saya selalu malu untuk menemui dosen pembimbing. Sekarang yang lebih sulit ialah untuk “menyambung saraf malu” itu. Saya akan berusaha menyambung malu dengan menemui mereka. Namun saya tak mampu melakukannya seorang diri, saya butuh ahli untuk membantu saya menyambung saraf malu ini. katakan dimana, saya akan segera datangi!

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini