Selasa, 24 September 2013

CERITA DARI SEORANG PELARI

Running Man.

Pernah ada sebuah cerita yang saya dengar dari seorang kawan lama. Ceritanya amat singkat namun syarat dengan makna. Ia menceritakan ada sebuah pelari dari benua Afrika. Bukan pelari maraton, melainkan hanya pelari cepat dengan lintasan 300 meter.

Pelari berkulit hitam ini panggil saja “synter.” Ia yang sangat mendambakan ajang bergengsi itu, mempersiapkan segala hal untuk kematangan dalam perlombaan. Menjaga pola makan, dan selalu memperhatikan porsi latihan demi mendapatkan performa terbaik saat perlombaan berlangsung.

Lama sudah ia menyiapkan persiapan menuju perlombaan. Hari yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba, bukan perasaan cemas yang singgah menghampiri hati synter, melainkan perasaan percaya diri yang begitu kuat menyala-nyala. Seperti ada binar api yang selalu meletup-letup hebat pada dada dan sorot tajam tatapannya.

Saat perlombaan tinggal menunggu hitungan detik. Beberapa kontestan sudah berjajar mengambil ‘kuda-kuda’, posisi yang menunjukkan kesiapan untuk memulai pertandingan lari cepat. Tak begitu lama terdengar letusan api yang menandakan perlombaan lari cepat itu dimulai. “Jedeeorr”

Semua pelari menunjukkan kemampuan terbaiknya di lintasan yang menjadi pusat perhatian 50.000 penonton dari berbagai negara. Termasuk synter yang ‘memompa’ langkahnya untuk segera mencapai garis finish.

Setiap lensa dan kamera menjadi saksi betapa perlombaan itu begitu luar biasa. Namun ada pemandangan yang ganjil dari beberapa kamera yang mengambil gambar secara candid atau sembunyi-sembunyi. Kamera yang memang sengaja disiapkan oleh pihak penyelenggara berfungsi mengabadikan setiap momen tanpa sedikitpun terlewatkan.

Terlihat di lintasan ke-3, synter pelari dari benua Afrika itu terhenti dengan posisi menunduk sambil memegangi kaki kanannya. Sentak penonton yang tak sengaja melihat layar yang menyorot gambar secara candid tersebut bersorak, “WHY?” apa yang terjadi pada  pelari Afrika itu?

Tanpa mempedulikan synter. Pelari lain tetap mempercepat langkahnya mencapai garis finish. Sedangkan synter yang semula hanya menunduk, sekarang mulai terlihat berjongkok sambil tetap memegangi kaki kanannya. Ada beberapa kendala yang sering dialami oleh pelari cepat, yaitu gangguan ligamen. Ada kemungkinan synter saat itu sedang mengalaminya.

Awalnya hanya satu kamera yang merekam kejadian tersebut, kemudian semakin banyak yang menyorot ke arahnya, seolah meminta perhatian. Sehingga tiap penonton yang hadir dapat dengan jelas menyaksikan mengapa pelari dari Afrika itu menghentikan langkahnya. Tanpa memperdulikan riuhnya sorakan penonton yang berbangga karena pelari-pelari mereka sampai pada garis finish terlebih dahulu. Synter tetap berhenti dan memegangi kakinya. Synter terlihat meneteskan air mata, mimik wajah itu terekam oleh videografer yang semakin mengarahkan sorotan ke arah wajahnya. Synter berusaha melawan rasa sakit pada kakinya dengan tetap berusaha bangkit dari posisinya yang merunduk itu.

Sorak riuh penonton semakin membuncah hebat, penonton sepertinya ingin memberi semangat kepada synter untuk mengakhiri perlombaan ini dengan mencapai garis finish

Di satu sisi lain terlihat sorotan kamera pada tribun penonton. Terlihat seorang pria paruh baya keluar dari tempat ia duduk, menuju ke dalam lintasan lari. Pria tersebut berlari ke arah synter yang sudah mulai berdiri dan berjalan dengan pelan dan terpincang sambil sesekali memegangi kaki kanannya.

Pria paruh baya tersebut menghampiri synter kemudian menggandengnya untuk berlari menuju garis finish. Synter yang terlihat dengan kaki yang terpincang-pincang, tetap berlari bersama pria paruh baya tersebut.

Kejadian tersebut, membuat sorakan penonton semakin riuh. Terlihat ada yang menesteskan air mata melihat dua orang yang sedang berlari beriringan menuju garis finish. Pelari lain yang telah merampungkan lintasannya dan berdiri setelah garis finish, ternyata juga memberikan semangat pada synter untuk merampungkan lintasannya. Mereka bersorak, dan memberi semangat. “Come on Synter, selesaikan lintasan ini!”

Tribun penonton riuh, mereka semua berdiri dan memberikan aplause untuk synter dan pria paruh baya yang ternyata adalah kakak synter. Synter akhirnya mencapai garis finish, dan telah merampungkan lintasan larinya. Mereka berpelukan, sudut mata yang tak kuasa untuk menahan air mata kebahagiaan semakin membuat suasana menjadi mengharukan.

Semua berbangga telah melihat dan menjadi saksi bagaimana usaha synter menyelesaikan lintasannya. Semua orang yang berada disana paham bagaimana usaha dari setiap pelari, sampai mereka berada di perlombaan lari cepat itu. Pastilah dengan semua pengorbanan dan proses yang tidak dapat dikatakan mudah. 

Ada beberapa hal yang dapat kita peroleh dari cerita singkat di atas. 

1. Terkadang kita terlalu lancang untuk membicarakan sebuah hasil, padahal sebelum ‘hasil’ yang kita peroleh ada tahapan yang bernama ‘proses’ yang harus kita lampaui terlebih dahulu.

2. Siapapun orangnya yang melampaui garis ‘finish’ terlebih dahulu tak jadi soal, karena itulah proses hidup. Tak jadi soal saat ada seseorang yang sukses terlebih dahulu, yang terpenting adalah kita menuntaskan setiap ‘lintasan’ yang ada di depan kita sampai ke garis finish.

3. Kita menyiapkan beberapa energi yang begitu luar biasa untuk setiap hal yang kita impikan. Namun pernahkah kita menyadari, terkadang kita merusaknya sendiri dengan pelan, dan pelan, dengan begitu halusnya. Dan ini adalah sesuatu hal yang harus kita mengerti.

4. Ada banyak opsi yang dapat dipilih saat synter mengalami cidera pada lintasan larinya. Ia bisa saja mengurungkan niat untuk tidak merampungkan perlombaan dan berteriak minta tolong kepada tim medis. Tapi mengapa ia tak lakukan itu? Ia tetap menahan rasa sakit pada kakinya dan mengelola rasa sakit itu, karena ia tak ingin mimpinya hancur gegara tak mampu menyelesaikan perlombaan dan sampai ke garis finish. Baginya juara tak jadi soal, yang terpenting adalah menyelesaikan lintasan yang jauh-jauh hari ia impikan.

5. Terkadang ada seseorang di luar sana, jauh dari pemikiran kita yang mempunyai andil besar dalam setiap mimpi kita. Dari kejadian synter yang sempat berhenti dalam perlombaan, ada pria paruh baya yang turun menghampiri synter yang diketahui adalah kakak synter. Dukungan dalam meraih mimpi dapat berasal dari orang-orang terdekat kita. Sayangi mereka, karena dari merekalah energi terbesar yang mampu menguatkan kita saat kita terpuruk sekalipun.

6. Terakhir, adalah “to be”. Menjadi apakah kita? Banyak sudah yang mengatakan bahwa lawan terbesar adalah diri kita sendiri. Ketakutan terbesar juga berasal dari diri kita sendiri. Manusia yang mampu ‘mengukur diri’ adalah manusia yang beruntung.

Bersyukur saya mendapat cerita itu dari obrolan di kedai kopi bersama rekan saya. Ternyata inspirasi juga bisa kita dapatkan darimana saja, Malah saya banyak belajar dari hal-hal kecil semacam ini, yang mungkin tidak kita dapatkan dari bangku sekolah ataupun perkuliahan yang umumnya memberikan pola, bahwa semua bisa diukur dengan nilai ujian yang terpampang di papan pengumuman dan mengesampingkan aspek lain. Memandang si pintar dan menyandingkannya dengan si bodoh diurutan terbawah pada papan penilaian. Diskriminatif. Aspek dukungan, aspek ketimuran, terkadang luput dari gemerlapnya media sosial yang makin mengarahkan kita menuju sikap apatis.

Bahwa orang sukses itu harus berijazah, bahwa orang pintar itu namanya selalu ada di nomer satu papan nilai ujian. Saya yang tak pernah sepakat, bahwa nilai ujian dijadikan kasta yang tanpa kita sadari membuat sekat pada tingkatan peserta didik.

Saya semakin terpancing untuk menanyakan beberapa hal, mengapa anak jaman sekarang lebih menyukai dan menghabiskan waktunya untuk bermain video game? Daripada mereka rajin mengerjakan PR atau tugas kuliah? Karena ada yang salah dalam cara kita menilai dan mengapresiasi proses dan hasil. Kita hanya menyetak seorang buruh berlabel sarjana dan mengesampingkan sebuah proses yang memicu kita untuk membaca peluang. Tak banyak pengajar yang mengispirasi, ia sibuk mencari cara untuk disegani dan kemudian ditakuti oleh peserta didik.

Jawabanya sangat mudah. Saat kita bermain game, berjuta reward, pengakuan, dan apresiasi akan sangat mudah kita dapatkan daripada kita sibuk mengerjakan PR atau tugas kuliah yang dinilai hanya dalam hasil akhir saja. Toh ujung-ujungnya nanti juga jadi seorang buruh dan menua di jalan raya sepaket dengan kemacetan kota. Menikmati pensiun dengan gaji yang tak seberapa. Mari kita cemaskan bersama pertanyaan ini, itu pun untuk kalian yang peduli yang bukan termasuk kaum apatis yang cukup memikirkan perut masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar