Kamis, 19 September 2013

ALL IS WELL*






Tulisan ini seharusnya dibuat seminggu yang lalu, namun entah mengapa saya mengurungkan niat tersebut, saat dimana ingatan-ingatan rinci itu berada di kepala dengan kuat.

Seminggu yang lalu, saya dikagetkan dengan berita bahwa adik saya Rohim mengalami kecelakaan, saat ia perjalanan pulang dari Malang menuju Mojokerto. Berita mengagetkan itu bukan saya dapat langsung darinya, melainkan dari Ayah, yang saat itu berada di Kalimantan.

Saya masih mengingatnya, malam itu saya sedang menonton televisi sambil tiduran. Empat telpon masuk yang saya abaikan, karena mode silent. Ponsel yang saya taruh di meja, letaknya memang jauh dari jangkauan saya saat itu. Saya sempat tertidur beberapa menit, namun getaran ponsel yang berada di meja membuat saya terbangun dan berusaha mengangkatnya. Saya terdiam untuk mempersilahkan suara dari seluler itu terdengar, “Mas, dimana? Susah sekali di telpon?” Ternyata suara sang Ayah yang sedikit meninggi.

Pikirku, apalagi salah saya. Sampai membuat Ayah yang berada di Kalimantan rela marah-marah menelponku selarut ini. Saya seketika itu terdiam, untuk mencari kesalahan saya, sambil mempersilahkan suara Ayah yang semakin meninggi itu terus berbicara. Dan perasaan bersalah dimulai malam itu.

“Mas, sekarang dimana?”

“Di kamar yah, sedang tiduran.”

Saya masih menerka-nerka mengapa selarut ini Ayah menelpon saya. Ada dua kebiasaan Ayah menelpon Saya di waktu selarut ini. Pertama, mengabarkan berita duka dari keluarga dan meminta untuk segera menyampaikannya kepada Kakek dan Nenek, karena Ayah mengerti mengapa tidak secara langsung memberi kabar melalui telpon rumah dan menghubungi saya sebagai perantara, karena saya dianggapnya memiliki kemampuan mengolah intonasi saat berbicara. Jika dibandingkan dengan Ayah yang cenderung keras dan spontan saat menyampaikan sesuatu.

Kedua, kebiasaan Ayah menelpon selarut ini biasanya untuk meminta bantuan tenaga sampling. Namun Ayah sangat jarang dan hampir tak pernah mengajak saya sampling ke luar Jawa. Mentok, kegiatan kami sampling paling jauh sampai Jawa Tengah. Apalagi akhir-akhir ini kami jarang bertemu, semenjak kejadian saya yang kabur ke Gili trawangan tanpa pamit beberapa bulan yang lalu. Membuat kami lost contact beberapa bulan. Berikut perbincangan telpon kami, setelah beberapa bulan tak pernah berbicara di telpon.

“Mas, sekarang bisa ke Mojokerto?”

“Hmm, ada  apa Yah?, kok semalam ini.”

“Ini Ayah barusan dapat telpon dari kantor Polisi Mojosari, bilang kalau Adikmu Rohim kecelakaan disana.”

“DEG, iya Yah??.”

“Kamu ijin mbah Kakung dulu, untuk berangkat malam ini ke Mojokerto. Jangan ngebut ya Mas, pelan-pelan saja!”

“Hmm, iya Yah.”

Kemudian telpon ditutup. Saya segera beranjak dari kasur. Mengganti sarung yang biasa saya kenakan dengan celana semi-jeans, memakai kaos katun berwarna abu-abu, dan mengalungkan sweater ungu di pundak. Setelah melipat sarung dan mencari kunci motor di kabinet dan almari, saya segera menyiapkan diri untuk mengetuk kamar Embah. Pikiran berkecamuk saat itu, saya diwanti-wanti oleh Ayah dan Bude, kabar seburuk apapun harus benar-benar dikelola dan gak asal disampaikan ke Mbah yang udah sepuh. Apalagi waktu itu sudah sangat larut, terdengar suara lirih tarikan nafas tua dari sang Embah di balik pintu. Saya memberanikan diri untuk mengetuk pintu, memulainya dengan perlahan dan dengan tempo yang tidak terlalu cepat.

“Mbah, mbah Kakung, mbah Putri. Niki Rahman mbah.”

“Onok opo Le?”

Saya menunggu sampai salah satu dari beliau yang sedang tidur terbangun, kemudian keluar menghampiri saya. akhirnya mbah Kakung yang lebih dahulu keluar menghampiri saya, kemudian disusul oleh mbah Putri di belakangnya.

“Mbah, kulo kajenge teng Mojokerto.”

“Lah, lapo kok bengi-bengi ngene to le?”

“Diaturi Ayah mbah, mangke kulo kabari maleh ba’da Shubuh.”

“Iyowes nak, sing ngati-ngati nang dalan.”

Setelah dapat ijin, pikiran berkecamuk lagi. Bagaimana nasib Rohim di sana, siapa yang menunggunya. Jika Rohim menunggu saya, kemungkinan saya baru bisa datang menjemput Mamak dan Fadli, satu jam setengah jika perjalanan saya dari Surabaya dengan kecepatan 80km/jam. Saya lihat jam tangan menunjukkan pukul 22:45 WIB. Mamak yang saya telpon, hanya menangis dan mengirim nada khawatir. Saya pun makin tak tega untuk meneruskan perbincangan dengan mamak di telpon, dan menyuruhnya untuk menunggu kabar lagi dari saya.

Kemudian saya berpikir, siapa yang dapat saya hubungi. Di otak saya, keluar nama mas Rosy yang kebetulan sudah pulang ke Mojokerto terlebih dulu. Segera saya menghubunginya, meminta bantuannya untuk menjemput Mamak dan Fadli, untuk mengantarkannya ke RSU Mojosari.

***

Malam itu, angin dari tenggara begitu menusuk. Saya yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan hampir mencapai 60km/jam, dibuat ngilu. Persendian yang tertusuk angin dan lagi pikiran yang melayang-layang membayangkan nasib adik di sana. Terkapar, dan menahan rasa sakit. Seolah-olah membuat tiap persendian tulang kaki kanan saya terasa lebih ngilu.

Saya bukan kakak yang baik. Tapi saya percaya semua pasti baik-baik saja.

Saya menambah kecepatan laju sepeda motor, menambahkan gigi perseneling, memutar gas ke belakang hingga hampir mencapai batas. Malam itu benar-benar seperti berada di jalur drag. Kencang dan dingin. Jalanan by pass Krian yang malam itu sangat sepi. Saya yang sebelumnya tak pernah terbesit untuk melewatinya selarut itu, akhirnya patah juga. Saya berani melewatinya seorang diri tanpa kawan di belakang. Waktu itu saya merasa seperti ada nyawa baru yang masuk kedalam rongga dada saya. Berandai-andai untuk membuang kekhawatiran, jika nanti ada segerombolan preman mendekat, saya tak segan-segan menerjang mereka. Jika perlu adu jotos seperti di serial film action. Huaaargh! Gilaa! Adik saya terkapar di rumah sakit, saya malah berkhayal yang tidak-tidak.

***

Saat tiba di RSU Mojosari, di belakang saya ada mobil angkut (pick up) dari kepolisian. Saya melihatnya ada sepeda motor bernopol (L 23 sekian-sekian). Saya langsung mendekati mobil itu untuk memastikannya. Saya menoleh kearah lobi IGD sudah ada Mamak, mas Rosy, dan beberapa tetangga rumah yang ikut mengantar. Saya sedikit tenang, meski belum melihat keadaan adik secara langsung.

Perhatian saya masih tertuju pada mobil polisi yang baru datang itu, membawa sepeda motor revo merah, dengan kondisi ajur-ajuran. Ah, ya Tuhan semoga adik baik-baik saja. Namun mustahil dengan kondisi sepeda motor yang saya lihat itu, kondisi adik baik-baik saja. Sepeda motor itu, rusak di bagian depannya, ace steering bengkok ke arah kanan, dua spion tinggal besi penyangga saja. Sedangkan bagian belakang motor juga lebih ajur dari yang depan. Slebor/pantat motor ringsek, velg dan ban belakang juga sudah berbentuk layaknya telur ayam, oval.

Saya menarik nafas dalam-dalam, sembari menebak-nebak dan mengumpat dalam hati. Dasar bodoh, baru jadi Maba saja sudah belagu.

Saya berjalan agak cepat kearah lobi. Mamak, mas Rosy, dan Fadli segera mendekati saya. Seusai mencium tangan Mamak dan menjabat tangan beberapa tetangga. Saya segera menghampiri Rohim.

Rohim waktu itu mengenakan kaus sport berbahan katun putih tim kesayangannya, Real Madrid. Namun saat saya amati, ada yang aneh di posisi berbaringnya saat itu, badannya miring kearah kanan sedangkan kakinya berbelok kearah kiri. Aduh, was-was saya dibuatnya. Saya memperhatikan apakah ia baik-baik saja saat itu. Kemudian saya mengusap keningnnya dengan perasaan nelangsa, namun saya tak mau memperlihatkan perasaan ini kepadanya.

“Piye, juara piro awakmu?”

“Aku rapopo kok mas.”

“Terus, lawanmu endi? Iku tah nang sebelah?”

“Uduk kok, bedo. Bocah kui ceblok dewe, bar tril-trillan. Ketampani truk tekan mburi.”

“Terus iki awakmu sing owah bagian endi?”

“Sikil kiwo, bagian dengkul.”

Kemudian saya perlahan membuka selimut yang ia kenakan. Saya membuka perlahan dari bagian bawah kakinya. Ah cukup, saya tak mampu mengingatnya lagi. Yang pasti saat itu lutut kiri Rohim membengkak sebesar bakpao chikyen. Tulang yang mengawang (Patella) itu naik kearah tulang femur (paha), menjauhi tulang tibia (betis). Kulit lututnya berwarna merah keunguan. Lekukan-lekukan sendi lutut pun sudah tak kentara lagi. Bundar karena pembengkakan. Luka lecet yang tidak terlalu dalam juga terlihat di sekitaran benjolan di area lutut kirinya itu. Kaki kirinya tak dapat digerakkan. Ada keretakan di bagian tulang femur, kaki kirinya. Sudah pasti akan dioperasi.

Saya memutuskan untuk keluar ruangan, menenangkan diri. Menyalakan rokok sambil melihat ke arah langit. Dulu sewaktu kecil Mamak selalu bilang kepada saya, saat saya ingin menangis atau ingin mengeluarkan air mata setelah melihat kejadian yang mengharukan di televisi. “Ayo lihat ke langit, biar air matanya menjadi hujan.” Namun, malam itu langit sedang bertaburan bintang, sangat indah. Mustahil langit seindah itu akan turun hujan. Tapi saya percaya, semua pasti akan baik-baik saja. Saya juga selalu ingat saat Rohim menuliskan statusnya di facebook pribadinya dengan kalimat, “All is well, all is well, all is well”. Saya ingin mengatakannya tadi, namun tak sekuat kenyataannya.












*Post-scriptum: Selamat ulang tahun adikku Abdurrahim Nur Salim, mungkin kali ini Tuhan lebih sayang kepadamu. Kau disuruh berhenti barang sejenak. Beristirahat, dan memikirkan kembali semua cita-cita dan rencanamu. Sebelum kau benar-benar berdansa di dunia kampus baru mu itu. Maafkan mas, pada saat ulang tahun mu saja aku tak sempat memberikan kado untuk mu. Untuk menuliskan mu saja pun, aku terlambat. Aku memang bukan seorang kakak yang baik. Namun aku tak akan tinggal diam saat kau menangis, atau pun terlukai. Aku lah orang pertama yang membelamu. Semua pasti akan baik-baik saja, seperti kata-katamu yang idiot itu di facebook kapan hari: All is well, all is well, all is well.

2 komentar: