Kamis, 26 September 2013

MENYAMBUNG SARAF MALU



Menurut saya, perasaan menyesal adalah perasaan paling bodoh.

Saya akui saya memang bodoh. Seharusnya tulisan ini dibuat pada awal tahun 2011 lalu. Saat saya masih mempunyai semangat untuk mengerjakan penelitian dan segera merampungkannya. Atau mungkin tulisan ini dibuat sebagai pengantar proposal penelitian yang sering kita dengar dengan kata: skripsi. Sehingga setiap mahasiswa yang ingin memulai mengerjakan skripsi merasakan hal yang sama dengan saya. Memiliki rasa malu. Perasaan yang timbul jika gagal dan terlambat.

Malam ini tepat dimana saya berada di pelataran rumah yang sepi, memikirkan beberapa hal ganjil tentang apa itu “rasa malu” dan “rasa semangat”. Terlebih jika dua kata tersebut disandingkan dengan kata: “tanggung jawab”. Akan menjadi paduan kata yang berbobot. Begitu ketiga kata itu dipadukan seolah-olah menjadi sekat gelap yang harus ditembus, dan banyak ekspektasi yang muncul untuk segera direalisasikan. Berusaha menyadari secara utuh, ketiga kata tersebut seolah-olah menjadi balok-balok kayu yang siap membuat tungku tetap mengepul karena bara api semakin membesar. Dapat diibaratkan mengepulnya tungku adalah tanggung jawab, bara api adalah semangat, sedangkan balok-balok kayu adalah perasaan malu yang harus kita miliki.

Banyak sahabat mengatakan, “Kita harus memiliki rasa malu”. Tetapi rasa malu yang bagaimana? Itu pertanyaan dasarnya. Ada beberapa perasaan malu yang harus saya buat sendiri untuk kemudian menjadikan diri ini semangat dan dapat dipanggil, “Manusia yang bertanggung jawab”.

Perasaan malu yang pertama
Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orang tua saya adalah revolusioner dalam bidang pendidikan di lingkup masing-masing keluarga. Ayah saya anak kedua dari dua bersaudara, dan beliau adalah satu-satunya yang mengawali menjadi sarjana. Sedangkan mamak saya adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Sama seperti ayah saya, mamak adalah penembus border gelap dari masanya untuk bisa menjadi seorang sarjana pertama kali.

Pada setiap perbincangan, ayah dan mamak selalu menekankan arti ketekunan dan keuletan. Mereka mengakui bahwa mereka berdua tak begitu pintar. Tapi pada setiap sisi perbincangan kami, mereka selalu menyisipkan kata semangat dan keberanian untuk menggapai mimpi. Waktu itu, mereka memimpikan menjadi seorang sarjana.

Saya masih mengingatnya, saat ayah berkata bahwa titel sarjana adalah sebuah pintu gerbang. Sebuah alat yang berfungsi untuk “hidup” dan “menghidupi”. Pada saat itu, animo untuk menjadi seorang sarjana di negara kita tak sebesar sekarang. Sedangkan untuk menggapai beberapa tujuan dan mimpinya, titel sarjanalah gerbang yang harus dibuka terlebih dahulu. Lebih dari kata dan titel sarjana, keilmuanlah yang mampu menjadikan manusia naik satu level dari manusia lainnya.

Ayah berpegang teguh, “Bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bekal yang dapat menjadikan timbangan akhirat menjadi lebih berbobot.”

Perasaan malu yang kedua
Setiap saya pulang ke rumah yang berada di Mojokerto, selalu bawaanya adalah tidur. Bagi saya keputusan saya untuk pulang kesana adalah pemuasan kebutuhan berdiam dan beristirahat. Menjauh dari rutinitas, dan ingin menyepikan diri sejenak. Saya sangat menyukai suasana di sana yang begitu asri dan jauh dari kata bising.

Namun jika memutar ulang ke beberapa tahun silam, tepatnya awal tahun 2006. Kedua orang tua saya khususnya mamak, mencetuskan sebuah gagasan untuk menghadirkan suasana belajar mengajar di kampung kami Blooto, Prajurit Kulon. Mamak yang lulusan sejarah itu, tak ingin melihat anak-anak di kampung kami bekerja dan mengesampingkan waktu sekolah. Lahan disamping rumah yang dulunya adalah kebun pisang dan empon-empon, segera disulap menjadi bangunan untuk sekolah taman kanak-kanak.

Saya juga masih mengingatnya, begitu luar biasanya perjuangan mamak dan ayah untuk mendirikan sekolah itu. Dalam penerapannya, setiap upaya baik tak selalu dibarengi respon yang baik juga. Banyak pertentangan dari aparat desa dan beberapa warga  sekitar, yang menganggap TK kami nantinya akan menjadi kompetitor bagi TK Darma Wanita yang sudah lebih dahulu berdiri. Padahal jika mereka mengerti, jauh dari kalimat tersebut mamak dan ayah tak meminta biaya untuk mereka yang mau belajar di sekolah kami. Jangankan sebuah kata kompetitor, berbisnis dalam hal mendidik pun tak terbesit sedikitpun dari benak kami. Bukankah setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan mengupayakannya.

Namun proses lebih utama dari kata hasil. Semakin kuat kita berproses, semakin nyata hasil yang kita peroleh. Begitulah kegigihan mamak dan ayah untuk mewujudkan medium kecil dalam mengisi sisi keilmuan di kampung kami. Sampai sekarang saya juga tak mengerti, mengapa nama Ar-Rohman yang dipakai untuk menamai sekolah tersebut?

Perasaan malu yang ketiga
Saya mengakui, saya adalah manusia yang banyak omong. Saya suka bercerita, apalagi berbagi pengalaman. Paling tidak bisa melihat kawan apalagi saudara jatuh dan tak punya harapan hidup.

Saya juga heran, mengapa saya begitu mudahnya memotifasi seseorang dengan begitu powerful. Namun saat saya terhenti (stuck), begitu susahnya menemukan formula untuk kembali bangkit.

Saat adik saya kecelakaan. Saya dapat melihat beberapa gelagat aneh yang ia tampilkan. Perasaan tak tenang, dan selalu memegang ponsel untuk menanyakan beberapa informasi tentang perkuliahan kepada rekan barunya, yang ia kenal kurang dari satu minggu itu. Apalagi sorot matanya yang begitu tajam saat mendengar kata perkuliahan di dekatnya. Lutut kirinya yang mengalami keretakan, yang menyebabkan ia harus mengurungkan keinginannya untuk mengikuti keseruan ospek dan keasyikan perkuliahan pertama kali. Mungkin baginya sangat menyebalkan jika harus berlama-lama berdiam diri di rumah dengan waktu yang lama.

Pernah pada suatu sore, saya berdua dengan adik berbicang di teras. Obrolan santai dengannya, untuk menayakan keadaan dan rencanannya.

“Dik, opo sing marai awakmu pengen banget melebu kuliah? Padahal, awakmu mlaku ae yo durung teteh.”

“Sampeyan lali yo mas, biyen sampeyan tau ngandani aku masalah kuliah.”

“DEG.” Saya hanya diam dan berusaha mengalihkan pandangan tajam darinya. Berusaha mengingat kembali apa yang sudah saya katakan kepadanya dulu, saat ia akan menajalani ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi negeri.

***

Sebenarnya banyak sekali list malu yang ingin saya tuliskan. Namun, tak ada yang begitu penting jika sebuah kaca “bengala” dihadapkan tepat di depan saya. Kaca benggala itu ibarat keluarga. Banyak berkaca dari apa yang diperjuangkan oleh keluarga membuat saya ingin menata kembali visi hidup saya. Saat kaca itu bernama keluarga, dengan melihat apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan di dalam keluarga, semoga saya kembali merapikan misi hidup saya yang sedikit berantakan ini.

Selama ini mungkin saya bukan anak yang baik, malah lebih sering mengecewakan keluarga. Tapi saya yakin, dari dasar hati yang terdalam saya akan tebus perasaan kecewa kalian dengan penuh rasa tanggung jawab. Saat saya meminta beliau-beliau yang berada di kampus untuk sudi membimbing saya dalam penyusunan skripsi, sekarang saya malah mengabaikan kerelaan itu, malah membalas dengan menimbulkan perasaan kecewa yang mendalam.

Saya memang bukan anak bimbing yang baik, namun percayalah saya selalu memikirkan perasaan malu saya terhadap bapak ibu sekalian. Biarkan rasa malu ini tetap menggumpal di dalam dada, dan akan saya selesaikan tanggung jawab ini segera. Bukan karena siapa-siapa, melainkan tanggung jawab untuk diri sendiri karena sudah banyak bicara lancang tentang masa depan dan hasil yang belum dituntaskan dengan proses yang semestinya. Saya meminta maaf untuk beberapa hal omong kosong yang teramat sering saya utarakan.

Bahwa terkadang pengetahuan yang teramat sedikit ini dapat membuat silau dan menjadikan saya pribadi yang keminter. Alhasil saraf malu menjadi putus, semakin tak tahu diri. Ini hal yang fatal. Jika saat ini saya memulai menyambung saraf malu saya, karena saya sadar saat ini saya teramat bodoh. Manusia bodoh yang tak kunjung pandai. Dulu saya sempat tak percaya, bahwa kesempatan itu datang hanya satu kali. Tapi sekarang saya paham, bahwa kesempatan itu datang sekali, di hari dimana kita bernafas dengan baik.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengutarakan bahwa saya meminta maaf karena telah mengecewakan beberapa pihak. Beberapa pihak yang sangat menaruh kepercayaan besar terhadap saya. Beberapa pihak yang telah sudi bertaruh, dengan memberi harapan yang begitu tinggi kepada saya. Saat ini, ijinkan saya menyambung saraf malu yang dulu sempat putus itu. Menjadi manusia yang menjunjung rasa malu itu adalah yang utama, karena dengan rasa malu, kita akan tetap berada pada koridor pengertian dan pengendalian diri. Dengan rasa malu, kita akan terus belajar dan belajar.

Bagi saya malu itu mudah kok, buktinya saya selalu malu untuk menemui dosen pembimbing. Sekarang yang lebih sulit ialah untuk “menyambung saraf malu” itu. Saya akan berusaha menyambung malu dengan menemui mereka. Namun saya tak mampu melakukannya seorang diri, saya butuh ahli untuk membantu saya menyambung saraf malu ini. katakan dimana, saya akan segera datangi!

Selasa, 24 September 2013

CERITA DARI SEORANG PELARI

Running Man.

Pernah ada sebuah cerita yang saya dengar dari seorang kawan lama. Ceritanya amat singkat namun syarat dengan makna. Ia menceritakan ada sebuah pelari dari benua Afrika. Bukan pelari maraton, melainkan hanya pelari cepat dengan lintasan 300 meter.

Pelari berkulit hitam ini panggil saja “synter.” Ia yang sangat mendambakan ajang bergengsi itu, mempersiapkan segala hal untuk kematangan dalam perlombaan. Menjaga pola makan, dan selalu memperhatikan porsi latihan demi mendapatkan performa terbaik saat perlombaan berlangsung.

Lama sudah ia menyiapkan persiapan menuju perlombaan. Hari yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba, bukan perasaan cemas yang singgah menghampiri hati synter, melainkan perasaan percaya diri yang begitu kuat menyala-nyala. Seperti ada binar api yang selalu meletup-letup hebat pada dada dan sorot tajam tatapannya.

Saat perlombaan tinggal menunggu hitungan detik. Beberapa kontestan sudah berjajar mengambil ‘kuda-kuda’, posisi yang menunjukkan kesiapan untuk memulai pertandingan lari cepat. Tak begitu lama terdengar letusan api yang menandakan perlombaan lari cepat itu dimulai. “Jedeeorr”

Semua pelari menunjukkan kemampuan terbaiknya di lintasan yang menjadi pusat perhatian 50.000 penonton dari berbagai negara. Termasuk synter yang ‘memompa’ langkahnya untuk segera mencapai garis finish.

Setiap lensa dan kamera menjadi saksi betapa perlombaan itu begitu luar biasa. Namun ada pemandangan yang ganjil dari beberapa kamera yang mengambil gambar secara candid atau sembunyi-sembunyi. Kamera yang memang sengaja disiapkan oleh pihak penyelenggara berfungsi mengabadikan setiap momen tanpa sedikitpun terlewatkan.

Terlihat di lintasan ke-3, synter pelari dari benua Afrika itu terhenti dengan posisi menunduk sambil memegangi kaki kanannya. Sentak penonton yang tak sengaja melihat layar yang menyorot gambar secara candid tersebut bersorak, “WHY?” apa yang terjadi pada  pelari Afrika itu?

Tanpa mempedulikan synter. Pelari lain tetap mempercepat langkahnya mencapai garis finish. Sedangkan synter yang semula hanya menunduk, sekarang mulai terlihat berjongkok sambil tetap memegangi kaki kanannya. Ada beberapa kendala yang sering dialami oleh pelari cepat, yaitu gangguan ligamen. Ada kemungkinan synter saat itu sedang mengalaminya.

Awalnya hanya satu kamera yang merekam kejadian tersebut, kemudian semakin banyak yang menyorot ke arahnya, seolah meminta perhatian. Sehingga tiap penonton yang hadir dapat dengan jelas menyaksikan mengapa pelari dari Afrika itu menghentikan langkahnya. Tanpa memperdulikan riuhnya sorakan penonton yang berbangga karena pelari-pelari mereka sampai pada garis finish terlebih dahulu. Synter tetap berhenti dan memegangi kakinya. Synter terlihat meneteskan air mata, mimik wajah itu terekam oleh videografer yang semakin mengarahkan sorotan ke arah wajahnya. Synter berusaha melawan rasa sakit pada kakinya dengan tetap berusaha bangkit dari posisinya yang merunduk itu.

Sorak riuh penonton semakin membuncah hebat, penonton sepertinya ingin memberi semangat kepada synter untuk mengakhiri perlombaan ini dengan mencapai garis finish

Di satu sisi lain terlihat sorotan kamera pada tribun penonton. Terlihat seorang pria paruh baya keluar dari tempat ia duduk, menuju ke dalam lintasan lari. Pria tersebut berlari ke arah synter yang sudah mulai berdiri dan berjalan dengan pelan dan terpincang sambil sesekali memegangi kaki kanannya.

Pria paruh baya tersebut menghampiri synter kemudian menggandengnya untuk berlari menuju garis finish. Synter yang terlihat dengan kaki yang terpincang-pincang, tetap berlari bersama pria paruh baya tersebut.

Kejadian tersebut, membuat sorakan penonton semakin riuh. Terlihat ada yang menesteskan air mata melihat dua orang yang sedang berlari beriringan menuju garis finish. Pelari lain yang telah merampungkan lintasannya dan berdiri setelah garis finish, ternyata juga memberikan semangat pada synter untuk merampungkan lintasannya. Mereka bersorak, dan memberi semangat. “Come on Synter, selesaikan lintasan ini!”

Tribun penonton riuh, mereka semua berdiri dan memberikan aplause untuk synter dan pria paruh baya yang ternyata adalah kakak synter. Synter akhirnya mencapai garis finish, dan telah merampungkan lintasan larinya. Mereka berpelukan, sudut mata yang tak kuasa untuk menahan air mata kebahagiaan semakin membuat suasana menjadi mengharukan.

Semua berbangga telah melihat dan menjadi saksi bagaimana usaha synter menyelesaikan lintasannya. Semua orang yang berada disana paham bagaimana usaha dari setiap pelari, sampai mereka berada di perlombaan lari cepat itu. Pastilah dengan semua pengorbanan dan proses yang tidak dapat dikatakan mudah. 

Ada beberapa hal yang dapat kita peroleh dari cerita singkat di atas. 

1. Terkadang kita terlalu lancang untuk membicarakan sebuah hasil, padahal sebelum ‘hasil’ yang kita peroleh ada tahapan yang bernama ‘proses’ yang harus kita lampaui terlebih dahulu.

2. Siapapun orangnya yang melampaui garis ‘finish’ terlebih dahulu tak jadi soal, karena itulah proses hidup. Tak jadi soal saat ada seseorang yang sukses terlebih dahulu, yang terpenting adalah kita menuntaskan setiap ‘lintasan’ yang ada di depan kita sampai ke garis finish.

3. Kita menyiapkan beberapa energi yang begitu luar biasa untuk setiap hal yang kita impikan. Namun pernahkah kita menyadari, terkadang kita merusaknya sendiri dengan pelan, dan pelan, dengan begitu halusnya. Dan ini adalah sesuatu hal yang harus kita mengerti.

4. Ada banyak opsi yang dapat dipilih saat synter mengalami cidera pada lintasan larinya. Ia bisa saja mengurungkan niat untuk tidak merampungkan perlombaan dan berteriak minta tolong kepada tim medis. Tapi mengapa ia tak lakukan itu? Ia tetap menahan rasa sakit pada kakinya dan mengelola rasa sakit itu, karena ia tak ingin mimpinya hancur gegara tak mampu menyelesaikan perlombaan dan sampai ke garis finish. Baginya juara tak jadi soal, yang terpenting adalah menyelesaikan lintasan yang jauh-jauh hari ia impikan.

5. Terkadang ada seseorang di luar sana, jauh dari pemikiran kita yang mempunyai andil besar dalam setiap mimpi kita. Dari kejadian synter yang sempat berhenti dalam perlombaan, ada pria paruh baya yang turun menghampiri synter yang diketahui adalah kakak synter. Dukungan dalam meraih mimpi dapat berasal dari orang-orang terdekat kita. Sayangi mereka, karena dari merekalah energi terbesar yang mampu menguatkan kita saat kita terpuruk sekalipun.

6. Terakhir, adalah “to be”. Menjadi apakah kita? Banyak sudah yang mengatakan bahwa lawan terbesar adalah diri kita sendiri. Ketakutan terbesar juga berasal dari diri kita sendiri. Manusia yang mampu ‘mengukur diri’ adalah manusia yang beruntung.

Bersyukur saya mendapat cerita itu dari obrolan di kedai kopi bersama rekan saya. Ternyata inspirasi juga bisa kita dapatkan darimana saja, Malah saya banyak belajar dari hal-hal kecil semacam ini, yang mungkin tidak kita dapatkan dari bangku sekolah ataupun perkuliahan yang umumnya memberikan pola, bahwa semua bisa diukur dengan nilai ujian yang terpampang di papan pengumuman dan mengesampingkan aspek lain. Memandang si pintar dan menyandingkannya dengan si bodoh diurutan terbawah pada papan penilaian. Diskriminatif. Aspek dukungan, aspek ketimuran, terkadang luput dari gemerlapnya media sosial yang makin mengarahkan kita menuju sikap apatis.

Bahwa orang sukses itu harus berijazah, bahwa orang pintar itu namanya selalu ada di nomer satu papan nilai ujian. Saya yang tak pernah sepakat, bahwa nilai ujian dijadikan kasta yang tanpa kita sadari membuat sekat pada tingkatan peserta didik.

Saya semakin terpancing untuk menanyakan beberapa hal, mengapa anak jaman sekarang lebih menyukai dan menghabiskan waktunya untuk bermain video game? Daripada mereka rajin mengerjakan PR atau tugas kuliah? Karena ada yang salah dalam cara kita menilai dan mengapresiasi proses dan hasil. Kita hanya menyetak seorang buruh berlabel sarjana dan mengesampingkan sebuah proses yang memicu kita untuk membaca peluang. Tak banyak pengajar yang mengispirasi, ia sibuk mencari cara untuk disegani dan kemudian ditakuti oleh peserta didik.

Jawabanya sangat mudah. Saat kita bermain game, berjuta reward, pengakuan, dan apresiasi akan sangat mudah kita dapatkan daripada kita sibuk mengerjakan PR atau tugas kuliah yang dinilai hanya dalam hasil akhir saja. Toh ujung-ujungnya nanti juga jadi seorang buruh dan menua di jalan raya sepaket dengan kemacetan kota. Menikmati pensiun dengan gaji yang tak seberapa. Mari kita cemaskan bersama pertanyaan ini, itu pun untuk kalian yang peduli yang bukan termasuk kaum apatis yang cukup memikirkan perut masing-masing.

Kamis, 19 September 2013

ALL IS WELL*






Tulisan ini seharusnya dibuat seminggu yang lalu, namun entah mengapa saya mengurungkan niat tersebut, saat dimana ingatan-ingatan rinci itu berada di kepala dengan kuat.

Seminggu yang lalu, saya dikagetkan dengan berita bahwa adik saya Rohim mengalami kecelakaan, saat ia perjalanan pulang dari Malang menuju Mojokerto. Berita mengagetkan itu bukan saya dapat langsung darinya, melainkan dari Ayah, yang saat itu berada di Kalimantan.

Saya masih mengingatnya, malam itu saya sedang menonton televisi sambil tiduran. Empat telpon masuk yang saya abaikan, karena mode silent. Ponsel yang saya taruh di meja, letaknya memang jauh dari jangkauan saya saat itu. Saya sempat tertidur beberapa menit, namun getaran ponsel yang berada di meja membuat saya terbangun dan berusaha mengangkatnya. Saya terdiam untuk mempersilahkan suara dari seluler itu terdengar, “Mas, dimana? Susah sekali di telpon?” Ternyata suara sang Ayah yang sedikit meninggi.

Pikirku, apalagi salah saya. Sampai membuat Ayah yang berada di Kalimantan rela marah-marah menelponku selarut ini. Saya seketika itu terdiam, untuk mencari kesalahan saya, sambil mempersilahkan suara Ayah yang semakin meninggi itu terus berbicara. Dan perasaan bersalah dimulai malam itu.

“Mas, sekarang dimana?”

“Di kamar yah, sedang tiduran.”

Saya masih menerka-nerka mengapa selarut ini Ayah menelpon saya. Ada dua kebiasaan Ayah menelpon Saya di waktu selarut ini. Pertama, mengabarkan berita duka dari keluarga dan meminta untuk segera menyampaikannya kepada Kakek dan Nenek, karena Ayah mengerti mengapa tidak secara langsung memberi kabar melalui telpon rumah dan menghubungi saya sebagai perantara, karena saya dianggapnya memiliki kemampuan mengolah intonasi saat berbicara. Jika dibandingkan dengan Ayah yang cenderung keras dan spontan saat menyampaikan sesuatu.

Kedua, kebiasaan Ayah menelpon selarut ini biasanya untuk meminta bantuan tenaga sampling. Namun Ayah sangat jarang dan hampir tak pernah mengajak saya sampling ke luar Jawa. Mentok, kegiatan kami sampling paling jauh sampai Jawa Tengah. Apalagi akhir-akhir ini kami jarang bertemu, semenjak kejadian saya yang kabur ke Gili trawangan tanpa pamit beberapa bulan yang lalu. Membuat kami lost contact beberapa bulan. Berikut perbincangan telpon kami, setelah beberapa bulan tak pernah berbicara di telpon.

“Mas, sekarang bisa ke Mojokerto?”

“Hmm, ada  apa Yah?, kok semalam ini.”

“Ini Ayah barusan dapat telpon dari kantor Polisi Mojosari, bilang kalau Adikmu Rohim kecelakaan disana.”

“DEG, iya Yah??.”

“Kamu ijin mbah Kakung dulu, untuk berangkat malam ini ke Mojokerto. Jangan ngebut ya Mas, pelan-pelan saja!”

“Hmm, iya Yah.”

Kemudian telpon ditutup. Saya segera beranjak dari kasur. Mengganti sarung yang biasa saya kenakan dengan celana semi-jeans, memakai kaos katun berwarna abu-abu, dan mengalungkan sweater ungu di pundak. Setelah melipat sarung dan mencari kunci motor di kabinet dan almari, saya segera menyiapkan diri untuk mengetuk kamar Embah. Pikiran berkecamuk saat itu, saya diwanti-wanti oleh Ayah dan Bude, kabar seburuk apapun harus benar-benar dikelola dan gak asal disampaikan ke Mbah yang udah sepuh. Apalagi waktu itu sudah sangat larut, terdengar suara lirih tarikan nafas tua dari sang Embah di balik pintu. Saya memberanikan diri untuk mengetuk pintu, memulainya dengan perlahan dan dengan tempo yang tidak terlalu cepat.

“Mbah, mbah Kakung, mbah Putri. Niki Rahman mbah.”

“Onok opo Le?”

Saya menunggu sampai salah satu dari beliau yang sedang tidur terbangun, kemudian keluar menghampiri saya. akhirnya mbah Kakung yang lebih dahulu keluar menghampiri saya, kemudian disusul oleh mbah Putri di belakangnya.

“Mbah, kulo kajenge teng Mojokerto.”

“Lah, lapo kok bengi-bengi ngene to le?”

“Diaturi Ayah mbah, mangke kulo kabari maleh ba’da Shubuh.”

“Iyowes nak, sing ngati-ngati nang dalan.”

Setelah dapat ijin, pikiran berkecamuk lagi. Bagaimana nasib Rohim di sana, siapa yang menunggunya. Jika Rohim menunggu saya, kemungkinan saya baru bisa datang menjemput Mamak dan Fadli, satu jam setengah jika perjalanan saya dari Surabaya dengan kecepatan 80km/jam. Saya lihat jam tangan menunjukkan pukul 22:45 WIB. Mamak yang saya telpon, hanya menangis dan mengirim nada khawatir. Saya pun makin tak tega untuk meneruskan perbincangan dengan mamak di telpon, dan menyuruhnya untuk menunggu kabar lagi dari saya.

Kemudian saya berpikir, siapa yang dapat saya hubungi. Di otak saya, keluar nama mas Rosy yang kebetulan sudah pulang ke Mojokerto terlebih dulu. Segera saya menghubunginya, meminta bantuannya untuk menjemput Mamak dan Fadli, untuk mengantarkannya ke RSU Mojosari.

***

Malam itu, angin dari tenggara begitu menusuk. Saya yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan hampir mencapai 60km/jam, dibuat ngilu. Persendian yang tertusuk angin dan lagi pikiran yang melayang-layang membayangkan nasib adik di sana. Terkapar, dan menahan rasa sakit. Seolah-olah membuat tiap persendian tulang kaki kanan saya terasa lebih ngilu.

Saya bukan kakak yang baik. Tapi saya percaya semua pasti baik-baik saja.

Saya menambah kecepatan laju sepeda motor, menambahkan gigi perseneling, memutar gas ke belakang hingga hampir mencapai batas. Malam itu benar-benar seperti berada di jalur drag. Kencang dan dingin. Jalanan by pass Krian yang malam itu sangat sepi. Saya yang sebelumnya tak pernah terbesit untuk melewatinya selarut itu, akhirnya patah juga. Saya berani melewatinya seorang diri tanpa kawan di belakang. Waktu itu saya merasa seperti ada nyawa baru yang masuk kedalam rongga dada saya. Berandai-andai untuk membuang kekhawatiran, jika nanti ada segerombolan preman mendekat, saya tak segan-segan menerjang mereka. Jika perlu adu jotos seperti di serial film action. Huaaargh! Gilaa! Adik saya terkapar di rumah sakit, saya malah berkhayal yang tidak-tidak.

***

Saat tiba di RSU Mojosari, di belakang saya ada mobil angkut (pick up) dari kepolisian. Saya melihatnya ada sepeda motor bernopol (L 23 sekian-sekian). Saya langsung mendekati mobil itu untuk memastikannya. Saya menoleh kearah lobi IGD sudah ada Mamak, mas Rosy, dan beberapa tetangga rumah yang ikut mengantar. Saya sedikit tenang, meski belum melihat keadaan adik secara langsung.

Perhatian saya masih tertuju pada mobil polisi yang baru datang itu, membawa sepeda motor revo merah, dengan kondisi ajur-ajuran. Ah, ya Tuhan semoga adik baik-baik saja. Namun mustahil dengan kondisi sepeda motor yang saya lihat itu, kondisi adik baik-baik saja. Sepeda motor itu, rusak di bagian depannya, ace steering bengkok ke arah kanan, dua spion tinggal besi penyangga saja. Sedangkan bagian belakang motor juga lebih ajur dari yang depan. Slebor/pantat motor ringsek, velg dan ban belakang juga sudah berbentuk layaknya telur ayam, oval.

Saya menarik nafas dalam-dalam, sembari menebak-nebak dan mengumpat dalam hati. Dasar bodoh, baru jadi Maba saja sudah belagu.

Saya berjalan agak cepat kearah lobi. Mamak, mas Rosy, dan Fadli segera mendekati saya. Seusai mencium tangan Mamak dan menjabat tangan beberapa tetangga. Saya segera menghampiri Rohim.

Rohim waktu itu mengenakan kaus sport berbahan katun putih tim kesayangannya, Real Madrid. Namun saat saya amati, ada yang aneh di posisi berbaringnya saat itu, badannya miring kearah kanan sedangkan kakinya berbelok kearah kiri. Aduh, was-was saya dibuatnya. Saya memperhatikan apakah ia baik-baik saja saat itu. Kemudian saya mengusap keningnnya dengan perasaan nelangsa, namun saya tak mau memperlihatkan perasaan ini kepadanya.

“Piye, juara piro awakmu?”

“Aku rapopo kok mas.”

“Terus, lawanmu endi? Iku tah nang sebelah?”

“Uduk kok, bedo. Bocah kui ceblok dewe, bar tril-trillan. Ketampani truk tekan mburi.”

“Terus iki awakmu sing owah bagian endi?”

“Sikil kiwo, bagian dengkul.”

Kemudian saya perlahan membuka selimut yang ia kenakan. Saya membuka perlahan dari bagian bawah kakinya. Ah cukup, saya tak mampu mengingatnya lagi. Yang pasti saat itu lutut kiri Rohim membengkak sebesar bakpao chikyen. Tulang yang mengawang (Patella) itu naik kearah tulang femur (paha), menjauhi tulang tibia (betis). Kulit lututnya berwarna merah keunguan. Lekukan-lekukan sendi lutut pun sudah tak kentara lagi. Bundar karena pembengkakan. Luka lecet yang tidak terlalu dalam juga terlihat di sekitaran benjolan di area lutut kirinya itu. Kaki kirinya tak dapat digerakkan. Ada keretakan di bagian tulang femur, kaki kirinya. Sudah pasti akan dioperasi.

Saya memutuskan untuk keluar ruangan, menenangkan diri. Menyalakan rokok sambil melihat ke arah langit. Dulu sewaktu kecil Mamak selalu bilang kepada saya, saat saya ingin menangis atau ingin mengeluarkan air mata setelah melihat kejadian yang mengharukan di televisi. “Ayo lihat ke langit, biar air matanya menjadi hujan.” Namun, malam itu langit sedang bertaburan bintang, sangat indah. Mustahil langit seindah itu akan turun hujan. Tapi saya percaya, semua pasti akan baik-baik saja. Saya juga selalu ingat saat Rohim menuliskan statusnya di facebook pribadinya dengan kalimat, “All is well, all is well, all is well”. Saya ingin mengatakannya tadi, namun tak sekuat kenyataannya.












*Post-scriptum: Selamat ulang tahun adikku Abdurrahim Nur Salim, mungkin kali ini Tuhan lebih sayang kepadamu. Kau disuruh berhenti barang sejenak. Beristirahat, dan memikirkan kembali semua cita-cita dan rencanamu. Sebelum kau benar-benar berdansa di dunia kampus baru mu itu. Maafkan mas, pada saat ulang tahun mu saja aku tak sempat memberikan kado untuk mu. Untuk menuliskan mu saja pun, aku terlambat. Aku memang bukan seorang kakak yang baik. Namun aku tak akan tinggal diam saat kau menangis, atau pun terlukai. Aku lah orang pertama yang membelamu. Semua pasti akan baik-baik saja, seperti kata-katamu yang idiot itu di facebook kapan hari: All is well, all is well, all is well.