Senin, 05 Agustus 2013

Kepulangan Keempat Puluh Hari: Alm. Taufik Hasyim Latif



Saya tidak begitu suka dengan tulisan mengenai kematian. Sangat sukar jika Saya harus menuliskan tentang prosesnya, “apa dan bagaimana?” Bukan karena kehabisan ide atau acuan untuk menuliskannya, lebih dari itu. Ini tentang “kehilangan,” dan beberapa orang menyebutkan dengan sebuah proses “kepulangan manusia.”

Atas dari kiri ke kanan: Alm. Mas Latif, Saya. Bawah dari kiri ke kanan: Mbak Ima, dan Adik Rahim. (Surabaya, 28/7/07)
 
Satu lagi dari kami yang pulang dan diantara kami merasa kehilangan. Kesan tentang kematian yang Saya rasakan, mungkin banyak yang memakluminya. Terutama karena kematian adalah wilayah yang ditelusuri oleh pengetahuan teramat sedikit. Setiap upaya menerangkan wilayah-wilayah kematian, hampir selalu diikuti oleh ketakutan-ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Seolah membicarakan kematian, berarti mengakhiri hidup dan berjuang melawan kenangan. Dahulu, ada seorang teman pernah bertanya kepada Saya, “Mas kenapa manusia diciptakan, jika sekarang harus diambil?” Kemudian Ia menimpali pertanyaannya dengan kalimat, “Sakne mas, keluarga sing ditinggal.” Tuhan lebih mengerti, mengapa demikan kawan.

Eckart Tolle pernah menulis dalam Stillness Speak: “When dead is denied, life lose its depth.” Ketika kematian disangkal, kehidupan kehilangan kedalamannya. Memang benar, Saya pun setuju dengan apa yang dikatakan Eckart Tolle, namun tak semudah itu dalam prosesnya.

Kita ketahui di negara tercinta ini, bagaimana prosesi kematian menjadi sebuah prosesi yang begitu agung dan sakral. Ambilah contoh untuk sebuah prosesi pemakaman di tanah Toraja, kemudian prosesi pemakaman di Bali yang sering kita dengar nama Ngaben. Mereka semua yang melakukan dan mengimani prosesi pemakaman tersebut, bukan menyangkal akan adannya kehilangan dan kematian. Namun lebih dari itu, mereka gegap gempita untuk mengatarkan seseorang yang meninggal untuk segera kembali dan berjumpa dengan Sang Pencipta kehidupan. Kemudian kehidupan baru, segera dimulai.

Di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur juga punya tradisi untuk prosesi pemakaman. Seperti Upacara Brobosan, upacara yang dilakukan denga cara semua anggota keluarga duka, berjalan mengitari bawah keranda jenazah yang diangkat. Mengitari sebanyak tiga kali untuk menghormati jasad yang hendak dibawa ke liang lahat dan dikuburkan.

Kemudian Saya teringat kembali akan saudara sepupu Saya yang beberapa bulan yang lalu telah berpulang lebih dahulu dari kami. Meninggalkan satu orang anak yang begitu lucu, sedangkan sang istri sedang mengandung putra sekitar enam bulan. Lebih dari itu, sepupu Saya ini adalah salah satu orang yang sangat menginspirasi kami khususnya Saya. Ia yang Saya kenal sebagai sosok bapak pekerja keras untuk keluarga. Seorang kawan yang tak sanggup melihat kawannya susah dan sedih. Ia adalah sosok yang sangat jenaka, jika kami berada di sebuah momen bersama dalam keluarga. Jika orang tua kami takut nantinya kami anak muda generasi yang akan “mematikan obor” seduluran, Ia adalah orang yang pertama kali akan membantah hal itu tak akan pernah terjadi. Bertindak nyata untuk saling mengikat hubungan keluarga dengan komunikasi dan silaturahim.

Saya beruntung telah mengenalnya sebagai seorang saudara. Ia sangat melindungi keluarga dan adik-adiknya. Baginya uang adalah hal kesekian, keluarga adalah hal yang paling utama. “Berapa pun kau minta, aku akan upayakan, asalkan keluargaku tak kekurangan.” Itulah kata-kataya yang selalu Saya ingat sampai sekarang. 

Dia adalah sebuah pribadi yang menyenangkan, jenaka, sederhana, dan begitu kreatif. Saya masih ingat, saat Ia membuat sebuah proyek untuk buku tahunannya. Mungkin Ia tak pernah Saya dapati tidur. Entah energi darimana yang Ia dapat, sehingga bisa seperti itu. Semangatnya sungguh luar biasa. Ia selalu bilang kepada Saya, “lakukan dahulu yang paling tak kau kuasai, kemudian lakukan apa yang kau sukai.”

Saya menyesal saat Ia dijemput oleh segerombolan malaikat pencabut nyawa, Saya tak ada disampingnya. Sial memang! Saya merasa Ia sendirian saat itu. Menghadapi detik-detik yang begitu perih. Membayangkan nafas yang semakin berat, mata yang mulai mengaburkan kefokusan, kesadaran yang hanya menyisakan telinga yang selalu mencari suara dzikrullah terdekat yang mampu Ia dengar. Kemudian mencari tenaga untuk mengucapkan kalimat keikhlasan untuk berpulang kepada pencipta.

“Maafkan Saya mas, ini memang kelewatan. Saat kau terbaring lemas di rumah sakit, dengan nafas yang begitu berat. Saya malah berada di luar pulau. Jika kau tahu, waktu itu Saya berusaha mencari jalan keluar untuk segera pulang dan mendampingimu.”

Meski Ia dulu pernah berujar pada Saya, “Jika kau yakin benar, jangan pernah meminta maaf, sekalipun terhadap dirimu sendiri.” perlahan Saya mengiyakan kalimat tersebut, untuk menutupi penyesalan dan kesedihan atas kepulangannya yang begitu cepat. Mungkin Ia dulu pernah menasihati, “Agar hidup jangan terlalu baik. Sebab terlalu banyak manusia yang hidupnya teramat baik kemudian mati muda.” Dan kemudian Ia tertawa karena kami mengatakan, “Mari menjadi orang jahat!”

Lebih dari itu semua, Ia juga pernah menyelipkan kalimat dengan sedikit nada angkuh, “Aku tak akan pernah takut Mati!” Saya mengerti sekarang makna dari kalimat tersebut, bukan karena Ia frustasi, bukan karena Ia dihimpit banyak penyakit, bukan juga sombong kemudian menantang Tuhan. Saya mengerti, saat manusia mengatakan hal tersebut, mereka memasuki wilayah kepasrahan dan sebuah keikhlasan. Membukakan tangan bagi datangnya sang kematian, manusia mana pun langsung memasuki wilayah-wilayah kebebasan.

Memang kematian sudah dialami oleh banyak orang sebagai sebuah hantu yang menakutkan. Hantu yang tak sedikit membuat kita bergerak dalam ruang-ruang ketakutan yang serba sempit.

“when you are detached from the outcome you are in process, and you are allowing the outcome to take care of your self.” Ya, kita semua ikhlas untuk kepulangannya. Setidaknya Ia tak usah memikirkan laptop rusak, dan deadline kerja foto yang seambrek itu. Sekarang Ia bisa santai di sana. Oya, Saya lupa bilang, “Tolong siapkan kamar bergaya art deco, dengan berbagai buku Travelling yang berisikan foto-foto syur gadis pantai.” Haha Saya hanya bercanda untuk membuang rindu. Sebentar lagi kami persiapkan untuk mengenang 40 hari kepulangan itu. Semoga Ia senang dengan apa yang kami lakukan. Sampai jumpa Masbro!

2 komentar:

  1. Salam kenal Mas. Tulisan Anda sangat bagus, sangat menyentuh, tanpa mengesampingkan alasan bahwa gaya penulisan Anda memang bagus dan mengalir, tetapi karena Beliau yang Anda maksud dalam tulisan ini adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Setiap apa yang Anda tulis tentangnya selalu mengingatkan saya akan segala kebaikannya, keramahannya, setia kawannya, kerja kerasnya, kreatifitasnya. Tidak pernah pelit ilmu, karena Beliau tahu bahwa tabungan ilmu adalah simpanan yang memiliki bunga paling tinggi dan itu hak semua orang. Beliau yang menginspirasi saya di dunia fotografi, mungkin tujuh tahun silam. Foto pertama saya di depan kamera DSLR kesayangannya, cahaya temaram di bawah lampu jalan di dekat kampus C Unair. Sy ingat betul momen itu, "Yak Lun kmu diam aja ya ngk usah bergerak sampai aq bilang boleh". Skg foto itu akan jadi kenangan buat saya akan kebaikannya. Sudah lama tidak kontak, ada rindu untuk bertanya kabar, namun alangkah terkejutnya saya, hari ini, saat saya buka halaman Facebook nya, justru ucapan belasungkawa yang saya dapatkan. Berbagai pertanyaan, kenapa, bagaimana, kapan, sepertinya tadi itu yang memenuhi kepala saya. Namun setelah saya membaca tulisan Anda, saya tersadar bahwa sekarang hanya Doa yang bisa saya berikan sebagai seorang sahabatnya. Selamat jalan sabahat, terima kasih atas segala ilmu dan kebaikan yang kau berikan selama ini. -=Culun=-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mas/mbak Tisna.

      Maafkan jika ada kesalahan dari mas Latif. Mungkin tulisan yang buruk dari saya di atas, sedikit menjadi "pengingat" untuk kita akan selalu belajar dan berkarya.

      Hapus