Sabtu, 24 Agustus 2013

Idealisme si Gentong!

Saat itu saya sedang duduk di kedai kopi toko buku Togamas. Benar, Togamas Manyar Surabaya. Saya yang sore itu bersama Ryan sedang hunting pelbagai buku untuk refrensi proyek besar kita. Proyek rahasia, dan ini masih kami simpan rapat-rapat.

Ada beberapa hal yang menarik sore itu. Kami seperti biasa membuka perbincangan dengan menyulut sebatang kretek. Entah mengapa, kami begitu percaya kretek dapat mencairkan perbincangan setelah kopi, dan nutrisari rasa jeruk. Saya mengawali perbincangan dengan beberapa pertanyaan sekitar: idealisme. 

***

Sedikit cerita tentang kisah idealisme:
Waktu saya baru masuk kuliah, saya bertemu dengan kakak angkatan yang bernama: Adrian Fauzi. Namun rekan-rekan seangkatannya sering memanggilnya dengan sapaan: Gentong. Entah mengapa?. Mungkin dilihat dari tubuhnya yang subur, titel Gentong tersematkan kepada dirinya.

Sedikit tentang Adrian, ia adalah sosok kakak angkatan yang saya kenal sebagai panutan dan pengayom adik-adik angkatan di jurusan kami. Baik di kegiatan Himpunan maupun di warung kopi, ia adalah “pengencer” suasana yang memiliki sifat buffer dalam perdebatan. Jika diibaratkan burung ia adalah Egretta eulophotes. Energik, focal, dan mempunyai skill untuk memangsa.

Saya mengenal bang Gentong secara baik. Pernah pada kesempatan, kami masuk dan berkegiatan bareng dalam sebuah event Ormawa. Saya selalu bertandem dengannya menyiapkan dan mengatur bidang Pubdekdok. Begitupun di Himpunan, saya yang masih Maba waktu itu sempat direkrut oleh bang Gentong sebagai staf Media. Kemudian saya diproyeksikan untuk menjadi Kepala Departemen Kominfo di Himpunan kami yang bernama HIMBIO (Himpunan Mahasiswa Bibir Ombo). Semuanya menyenangkan.

Gentong yang saya kenal adalah pecinta musik dan mempunyai skill yang tulus dalam bermusik. Pernah pada kesempatan santai, saya bermain ke rumahnya. Terlihat ada beberapa perlengkapan musik: drum, dan beberapa ragam gitar. Selera musiknya yang begitu menyentuh saya adalah saat ia memainkan, “Ada yang hilang, dari Ipang”. Sadis, petikan senar gitarnya.

Meskipun secara materi bermusik ia berkecukupan, ia tak pernah pelit untuk meminjamkan peralatan musiknya untuk kegiatan di Himpunan kami. Mungkin jika disejajarkan dengan Gamalama –tempat persewaan alat pesta dan musik– Saya pegang alat-alatnya bang Gentong, karena kualitasnya A. Tapi sayang, bang Gentong tak sekomersil itu untuk menyewakan ke publik. Ia hanya meminjamkan kepada rekan-rekan yang ia kenal saja. Apalagi untuk kegiatan di Himpunan kami. Ia begitu total tanpa aling-aling.

Pensiun dari pengurus Himpunan, bang Gentong mengikuti program penelitian Dosen. Ia yang Saya ketahui adalah pecinta fauna dan alam liar. Akhirnya memutuskan diri untuk bertaruh dengan penelitian mikroskopik. Penelitiannya berkutat dengan mencit –tikus kecil berwarna putih, dengan mata yang merah– dan beberapa kadar dari tubercolosis yang menjadi poin penting skripsinya. Bukan bang Gentong jika tak mampu melawan tantangan. Secara tekun ia melakukan “hidup” di laboratorium bersama mencit dan penelitiannya.

Meski selama ini ia yang saya kenal adalah “orang hutan”, dan “anak jalanan”. Kegiatan pemantauan burung migran dan penelitian di tiga taman nasional di Jawa Timur sudah sangat sering ia lampaui. Sampai kami menyebutnya, suhu spiritual berlevel macan. Mengapa macan? Karena ia sedikit banyak sebagai “penyembuh” adik-adik angkatan yang mempunyai kemampuan metafisika. Sering Saya dapati bertingkah seram layaknya macan yang sedang marah.

Setelah ia lulus, saya dapat kabar jika ia sakit dan sudah dirawat di rumah sakit swasta di Surabaya. Saya langsung menyiapkan hari untuk menengoknya. Saya bertemu dia dan beberapa keluarga yang mendampinginya. Kami bercerita dan bertukar kabar. Gentong yang saya kenal gendut nan subur, waktu itu terlihat sedikit menyusut dan layu. Ia terkena tipes dan demam berdarah. Penyakit umum, namun mematikan.

Menurutnya ia kurang teratur makan saat ia bekerja. Oh iya, setelah lulus, ia sempat bekerja di salah satu perusahaan produksi pakan ternak. Waktu itu ia berpikir semua jerih payahnya saat ia kuliah harus teraplikasikan di dunia kerja. Ia berpendapat ilmu yang kita kenyam saat kita duduk di bangku kuliah, harus benar-benar berfungsi. Bukan sekedar titel yang didapat  tapi nol dalam praktik ke masyarakat. Saat itu ia beranggapan, betapa nistanya jika mahasiswa jurusan saints (Biologi), setelah lulus bekerja di bidang perbankan. Sangat rancu dengan rekan kita yang selama beberapa tahun menghabiskan energi dan waktunya di dalam bidang Akuntasi dan Manajemen Keuangan.

Setelah perbincangan panjang dengannya, saya dapati ia tak betah di perusahaan yang menjadikan jagung sebagai bahan utama untuk produksi pakan ternak. Saya bertanya, mengapa ia tak betah. Bukankah perusahaan yang ia masuki adalah bidang dari penelitiannya dulu saat ia di kampus. Berkutat di bidang kualiti kontrol, dan pelbagai percobaan dari pakan ternak ke hewan coba. Dan menurut saya, ia benar-benar memimpikannya waktu itu. 

Namun setelah menyelami secara dalam, Gentong berpendapat ternyata tak semuanya berjalan lancar dengan apa yang diharapkannya. Ia merasa terforsir, baik mental maupun fisik. Intinya bekerja seperti robot ia sangat mengutuk dan membecinya. Ia begitu stress jika memikirkannya. 

Lama kami tak bersua, mungkin sekitar 3 tahun. Kemudian kami bertemu secara tak sengaja di acara pengamatan rutin yang diadakan oleh adik-adik angkatan kami yang masih aktif di kelompok studi burung yang bernama Peksia. Wah, bukan hanya senang bertemu dengan si Gentong namun lebih dari itu sepaket dengannya saya bertemu sahabat-sahabat dari bang Gentong angkatan 2005. Seperti minum jamu komplit dengan kuning telur 4 butir. Wareg kangene!

Saya bertanya sekarang apa yang ia karyakan. Bagaimana kabar dan pertualangannya. Ia mengawali dengan beberapa hisapan dalam rokok Marlboro kesukaannya. Ia berbincang dengan senyum yang ia sematkan secara alami. Membuat obrolan semakin ami dan gemi

Ia bercerita, sekarang ia telah menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan bank negara. Sudah beberapa bulan lalu ia diangkat. Sebelumnya ia juga sempat melakukan pelatihan di Jakarta selama 4 bulan. Beberapa pemikirannya terbantahkan. Ia juga mengakui jika dulu (semasa kuliah), ia sangat membenci bidang ini (bank). Dan berharap, baik dari dirinya maupun orang lain harus konsisten dengan apa yang ia kerjakan. Namun, sekarang ia bercerita bagaimana kisahnya dapat dijadikan sebuah contoh, mengapa kita dapat berbeda. Lebih dari sekedar arti ideal.

Mungkin ada tangan Tuhan disana, mungin juga disetiap doa yang kita panjatkan merubah jalan dan pemikiran kita. Supaya kita tak jenuh, mungkin juga tuhan mengerti bagaimana sifat manusia adalah berkutat di area bosan, dan mengeluh. Mungkin juga sifat itu begitu perlu, dengan adanya hal itu kita akan selalu berproses, berputar, ataupun menggelinding. Yak, itulah Adrian Fauzi, ibarat Gentong ia selalu haus untuk menampung dan menyimpan. Menampung pelajaran hidup, kemudian ia membagikannya dengan.. 

Ah, saya jadi ingat kalimat dari Rizal shidiq terhadap Nuran:

“Because he/she doesn't know what life is. Most of them that I know, end up in a boring life." –Rizal Shidiq, dalam Foi Fun.

***

Saya tengok jam tangan sudah pukul setengah enam, semenit kemudian adzan magrib berkumandang. Saya memandang Ryan meminta apa pendapatnya tentang obrolan kami sore ini. Ryan dengan muka datar dan sedikit gelisah melempar pandangan berbalik kearah Saya yang berharap ada respon positif yang dapat Saya ambil. Di luar ekspektasi, Ia mengambil sebatang kretek lagi, dan mencari korek di saku kiri kemejanya sambil berujar kepada Saya yang berharap jawaban keluar darinya, Sik Bro, Aku kebelet ngising. Cuk, spontan kalimat ampuh keluar dari mulutku.

“Ah, Semua boleh berekspektasi dengan tinggi, namun kita wajib bersahabat dengan realita.”








Tokobuku Togamas Manyar, 22 Agustus 2013
*Sembari melipat sampul untuk buku “Waktu yang Mengubahmu” dan “Singgah”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar