Jumat, 30 Agustus 2013

Cinta Itu Melepaskan. Good bye Sikonyen!



 

Tiga hari lagi saya akan berangkat ke Gunung Argopuro. Bersama beberapa rekan yang kebetulan satu kampung dengan saya. beberapa perlengkapan kami siapkan, baik itu untuk keperluan pribadi maupun keperluan tim. Semua tertulis dengan lengkap dan rapi.

Setiba di kamar, saya kemudian berpikir sambil melihat beberapa list yang tadi kami tulis dan sepakati bersama. Kemudian terbesit pikiran, “Bagaimana saya mengangkut semua barang bawaan pendakian dengan tas yang sering saya pakai kuliah, dengan ukuran kurang dari 20 lt ini?” Perlahan saya mulai mencemaskan hal ini. Singkat kata, saya sms beberapa rekan yang aktif di kegiatan pecinta alam, dan beberapa rekan perkuliahan. Namun hasilnya nihil. “Tas yang anda maksud belum mau berlabuh ke punggung saudara.”

Kemudian saya membuka dompet dan menghitung beberapa isi amplop gaji freelance saya. Kemudian dengan menarik nafas yang panjang, saya memutuskan untuk pergi ke beberapa gerai outdor dengan maksud membeli tas caril sebesar 60 lt. Alhasil saya mendaratkan pilihan kepada Cozmeed dengan ukuran 60 lt. Tak ada yang istimewa dari tas yang memiliki warna abu-abu dan kuning keemasan ini. Saya pikir ia juga tetap akan terasa berat saat saya memenuhinya dengan berkilogram dari daftar barang bawaan saya. Pundak akan nyut-nyutan, dan punggung mungkin akan sedikit terasa bergeser dari sumbunya.

Namun setelah membawanya pulang, ada sisi batin yang ingin mengucapkan terima kasih. “Lebih baik buruk, jika itu milik kita. Daripada baik, jika itu milik orang lain.” Kemudian perlahan saya mulai mencintai tas ini.

Sejurus kemudian, kami berselancar menuju keindahan Gunung Argopuro. Kami merasakan bagaimana saya dan tas ini menjadi sebuah tim yang solid, saat saya melewati halang rintang menuju Hutan Argopuro yang lebat dan memiliki trek pendakian terpanjang se-Jawa. Puji syukur kami berhasil melewatinya. Saya banyak belajar dari pendakian ini, bahwa sebuah batas hidup itu terbentuk akan dua hal, “Rasa utuh, dan rasa kehilangan.” 

***

Kenangan di atas adalah penggalan kecil dari cerita saya dengan tas caril yang saya beri nama: Sikonyen. Sikonyen yang berarti tas berwarna kuning-keoranyean. Beberapa bulan lalu saya dengan sikonyen juga sempat berpetualang sampai ke Lombok dan nyaris sampai ke Flores. Saya bepergian berkilo-kilometer meninggalkan rumah dan segala bentuk kekhawatiran, ketakutan, ataupun kenyamanan di dalamnya. Bersama sikonyen yang begitu setia berada di belakang saya memeluk dengan erat pundak dan pinggang saya. Laiknya seorang adik terhadap kakaknya, atau laiknya seorang kekasih yang sedang jatuh cinta. Ia saya gendong begitu mesranya. 

Sesekali saya juga sangat keterlaluan terhadapnya. seperti saat saya melemparkannya ke dalam bagasi Bis, mobil pick up, atau pun saat saya berebut waktu untuk nebeng Truk sayur. Namun ia tak pernah mengeluh terhadap saya atas perlakuan kurang ajar itu. Malah, ia tetap rela menampung keinginan saya, menemani mimpi saya untuk berpetualang, dan menjaga dengan aman apa yang saya khawatirkan.

Terlalu Banyak kenangan saya bersama sikonyen tas caril yang lusuh ini. Andai saja sikonyen mengetahuinya, jika saya menceritakan beberapa hal absurd kepada kalian, tentang kisahnya berada di kubangan saat saya terbaring lemas tengah malam menahan tusukan hawa dingin pos pendakian Cisentor Argopuro. Mungkin ia sangat marah. Baginya sebuah eksistensi tak lagi penting dari apa itu fungsi/manfaat. Ya, sikonyen lebih memilih function not fashion. Ia lebih terlihat simple daripada tas kebanyakan. Ia lebih senang untuk dipakai dan bermanfaat, daripada di pamerkan kebanyak orang. Lagian tak lagi penting untuk diceritakan bagaimana saya tertusuk menahan hawa dingin, bersama tas caril di kubangan. Sekali lagi, “bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing,” dan itu yang sering kita baca dan dengar di sosial media bukan?

Sikonyen adalah tas caril yang tiba-tiba ada karena sebuah proses saat saya membutuhkannya. Tiba-tiba saya memberi sebuah nama kesayangan untuknya, karena saya mencintainya. Saya menceritakannya kepada kalian, karena saya bangga pernah bersamanya. Ia mungkin benda mati, namun tetap sebuah ‘makhluk’ dihadapan Tuhan. “Bukankah setiap benda yang ada di muka bumi ini akan menjadi saksi atas semua perilaku kita sewaktu hidup?” Kira-kira begitu firman Tuhan, jika saya tak salah mengutarakan.

Namun sekarang sikonyen berada di lemari pakaian yang terbungkus rapi dengan plastik kedap, bersama shall berwarna hitam pemberian mantan. Ia semakin tak terlihat karena bersebelahan dengan cardigan ungu yang jarang saya pakai. Ia hanya diam menunggu untuk saya keluarkan. Selama ini saya menjaganya dari penyakit yang bernama fungi dan beberapa debu yang mungkin sedikit binal, hingga membuatnya nampak selalu baru. Terkadang saya sebelum tidur teringat beberapa momen bersamanya, berlari menggendongnya untuk mengejar tumpangan. Melompat bersama melewati terjalnya batu dan sungai yang begitu dalam. Saya pikir hanya dengan satu lompatan panjang, kami dapat melewatinya. Namun ternyata salah. Walaupun begitu, kami sangat menikmatinya. Kami sepakat, minimal kami pernah mencobanya dengan sangat bahagia. Sikonyen pun mengiyakan dengan tanda robekan kecil menyerupai senyuman manis gadis yang sedang jatuh cinta.

Situasi merubah kebersamaan saya dengan sikonyen. Tas caril kesayangan saya ini, mungkin tak akan lama bersama saya. Karena tiga hari lagi, sikonyen akan saya hibahkan kepada kawan saya Yedha. Yedha akan melakukan perjalanan jauh, serupa dengan saya. Mungkin lebih berat dari yang saya lakukan. Kawan saya Yedha bermaksud menukarkan beberapa lembaran rupiah miliknya untuk saya. Sebagai ganti untuk caril yang ia bawa, namun saya menolaknya. Yedha memaksa, namun sejurus dengan itu saya pun dengan keras menolaknya. Biarkan sikonyen bersama Yedha yang membutuhkan, sebagai teman perjalanannya. Saya cukup paham ketika seseorang melakukan perjalanan seorang diri. Sepi dan begitu tersiksa. Saya hanya seorang kawan yang berempati, sekedar membatu dengan melepaskan apa yang saya cintai untuk sebuah kecintaan yang lain. Bukankah kesenangan terbesar adalah melihat orang lain bahagia dan tersenyum dengan tulus. Saya mulai menyukai kalimat bijak itu akhir-akhir ini.

Saya selalu punya cara untuk merayakan rasa syukur. Salah satunya dengan cara mengingatnya. Seperti yang saya lakukan kali ini, menuliskannya kepada kalian. Saya meyakini sebuah momen bersama sikonyen adalah sebuah anugrah yang saya syukuri. Saya pun belajar banyak dari sebuah tas yang mungkin bagi sebagian orang adalah benda remeh dan temeh. Lebih dari itu semua saya memaknainya lebih, bahwa mencintai itu juga melepaskan. Jika kita berani mencintai, kita juga harus berani melepaskan. Hal terkecil adalah dengan melepaskan sikonyen; sebuah tas caril 60 lt dengan kombinasi warna abu-abu dan kuning-keemasan, sehingga ia tetap dapat berjalan-jalan dengan patner barunya Yedha kawan saya. Sedangkan saya, harus berkemas-kemas untuk segera merampungkan thesis saya yang sudah lama tak terjamah. Kemudian menyiapkan kembali perjalan yang baru, dengan tujuan dan patner yang baru tentunya.








Surabaya, 29 Agustus 2013
*Sembari memikirkan,
Siapa lagi yang kawan saya yang akan traveling.

6 komentar:

  1. gak pernah bosen aku ngingetin tuan ali, tulisanmu kui jane apik. TAPI... lagi-lagi semua tulisanmu itu mesti sangat kurang nan nggilani di bagian EYD, pemilihan diksi, atau kalimat yang terlalu "hiperbolis" secara teknis (aku ngerti niatmu jane buat agak puitis).

    ya,, saranku sebelum di "publish", cek lagi pake situs KBBI online soal kata-kata yang bakal kamu pakai. Kalo kamu bilang hidup itu ada aturannya, begitupun soal nulis. aturan tersebut dibuat supaya lebih enak tulisanmu dibaca. toh katanya kamu niat ngeblog buat ngeshare kan? mosok tamu mbok suguhi rongsokan.

    satu-satunya hal yang pasti itu perubahan. teknis tulisan yang gak baik pun juga seharusnya diperbaiki. masio bakal agak berubah. di fotografi ada rekayasa digital (photoshop), di koran/majalah ada editor, di dunia ada nabi. mosok koe hari ini podo wae ambek hari kemarin?
    tulisan diedit bukan dosa kok. namanya juga diperbaiki.

    :p *salim* (komenku dowo, tapi gak lemes, soale bukan roti)

    BalasHapus
  2. wah ini tulisannya ka Rahman, sepertinya dari hati ini. :)






    Tiara-Bandung

    BalasHapus
  3. kang, drybagmu hibahno aku. ape tak gawe nang luang jomblang november. hehehe, nek oleh loh yo.. -Gomblez-

    BalasHapus