Jumat, 30 Agustus 2013

Cinta Itu Melepaskan. Good bye Sikonyen!



 

Tiga hari lagi saya akan berangkat ke Gunung Argopuro. Bersama beberapa rekan yang kebetulan satu kampung dengan saya. beberapa perlengkapan kami siapkan, baik itu untuk keperluan pribadi maupun keperluan tim. Semua tertulis dengan lengkap dan rapi.

Setiba di kamar, saya kemudian berpikir sambil melihat beberapa list yang tadi kami tulis dan sepakati bersama. Kemudian terbesit pikiran, “Bagaimana saya mengangkut semua barang bawaan pendakian dengan tas yang sering saya pakai kuliah, dengan ukuran kurang dari 20 lt ini?” Perlahan saya mulai mencemaskan hal ini. Singkat kata, saya sms beberapa rekan yang aktif di kegiatan pecinta alam, dan beberapa rekan perkuliahan. Namun hasilnya nihil. “Tas yang anda maksud belum mau berlabuh ke punggung saudara.”

Kemudian saya membuka dompet dan menghitung beberapa isi amplop gaji freelance saya. Kemudian dengan menarik nafas yang panjang, saya memutuskan untuk pergi ke beberapa gerai outdor dengan maksud membeli tas caril sebesar 60 lt. Alhasil saya mendaratkan pilihan kepada Cozmeed dengan ukuran 60 lt. Tak ada yang istimewa dari tas yang memiliki warna abu-abu dan kuning keemasan ini. Saya pikir ia juga tetap akan terasa berat saat saya memenuhinya dengan berkilogram dari daftar barang bawaan saya. Pundak akan nyut-nyutan, dan punggung mungkin akan sedikit terasa bergeser dari sumbunya.

Namun setelah membawanya pulang, ada sisi batin yang ingin mengucapkan terima kasih. “Lebih baik buruk, jika itu milik kita. Daripada baik, jika itu milik orang lain.” Kemudian perlahan saya mulai mencintai tas ini.

Sejurus kemudian, kami berselancar menuju keindahan Gunung Argopuro. Kami merasakan bagaimana saya dan tas ini menjadi sebuah tim yang solid, saat saya melewati halang rintang menuju Hutan Argopuro yang lebat dan memiliki trek pendakian terpanjang se-Jawa. Puji syukur kami berhasil melewatinya. Saya banyak belajar dari pendakian ini, bahwa sebuah batas hidup itu terbentuk akan dua hal, “Rasa utuh, dan rasa kehilangan.” 

***

Kenangan di atas adalah penggalan kecil dari cerita saya dengan tas caril yang saya beri nama: Sikonyen. Sikonyen yang berarti tas berwarna kuning-keoranyean. Beberapa bulan lalu saya dengan sikonyen juga sempat berpetualang sampai ke Lombok dan nyaris sampai ke Flores. Saya bepergian berkilo-kilometer meninggalkan rumah dan segala bentuk kekhawatiran, ketakutan, ataupun kenyamanan di dalamnya. Bersama sikonyen yang begitu setia berada di belakang saya memeluk dengan erat pundak dan pinggang saya. Laiknya seorang adik terhadap kakaknya, atau laiknya seorang kekasih yang sedang jatuh cinta. Ia saya gendong begitu mesranya. 

Sesekali saya juga sangat keterlaluan terhadapnya. seperti saat saya melemparkannya ke dalam bagasi Bis, mobil pick up, atau pun saat saya berebut waktu untuk nebeng Truk sayur. Namun ia tak pernah mengeluh terhadap saya atas perlakuan kurang ajar itu. Malah, ia tetap rela menampung keinginan saya, menemani mimpi saya untuk berpetualang, dan menjaga dengan aman apa yang saya khawatirkan.

Terlalu Banyak kenangan saya bersama sikonyen tas caril yang lusuh ini. Andai saja sikonyen mengetahuinya, jika saya menceritakan beberapa hal absurd kepada kalian, tentang kisahnya berada di kubangan saat saya terbaring lemas tengah malam menahan tusukan hawa dingin pos pendakian Cisentor Argopuro. Mungkin ia sangat marah. Baginya sebuah eksistensi tak lagi penting dari apa itu fungsi/manfaat. Ya, sikonyen lebih memilih function not fashion. Ia lebih terlihat simple daripada tas kebanyakan. Ia lebih senang untuk dipakai dan bermanfaat, daripada di pamerkan kebanyak orang. Lagian tak lagi penting untuk diceritakan bagaimana saya tertusuk menahan hawa dingin, bersama tas caril di kubangan. Sekali lagi, “bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing,” dan itu yang sering kita baca dan dengar di sosial media bukan?

Sikonyen adalah tas caril yang tiba-tiba ada karena sebuah proses saat saya membutuhkannya. Tiba-tiba saya memberi sebuah nama kesayangan untuknya, karena saya mencintainya. Saya menceritakannya kepada kalian, karena saya bangga pernah bersamanya. Ia mungkin benda mati, namun tetap sebuah ‘makhluk’ dihadapan Tuhan. “Bukankah setiap benda yang ada di muka bumi ini akan menjadi saksi atas semua perilaku kita sewaktu hidup?” Kira-kira begitu firman Tuhan, jika saya tak salah mengutarakan.

Namun sekarang sikonyen berada di lemari pakaian yang terbungkus rapi dengan plastik kedap, bersama shall berwarna hitam pemberian mantan. Ia semakin tak terlihat karena bersebelahan dengan cardigan ungu yang jarang saya pakai. Ia hanya diam menunggu untuk saya keluarkan. Selama ini saya menjaganya dari penyakit yang bernama fungi dan beberapa debu yang mungkin sedikit binal, hingga membuatnya nampak selalu baru. Terkadang saya sebelum tidur teringat beberapa momen bersamanya, berlari menggendongnya untuk mengejar tumpangan. Melompat bersama melewati terjalnya batu dan sungai yang begitu dalam. Saya pikir hanya dengan satu lompatan panjang, kami dapat melewatinya. Namun ternyata salah. Walaupun begitu, kami sangat menikmatinya. Kami sepakat, minimal kami pernah mencobanya dengan sangat bahagia. Sikonyen pun mengiyakan dengan tanda robekan kecil menyerupai senyuman manis gadis yang sedang jatuh cinta.

Situasi merubah kebersamaan saya dengan sikonyen. Tas caril kesayangan saya ini, mungkin tak akan lama bersama saya. Karena tiga hari lagi, sikonyen akan saya hibahkan kepada kawan saya Yedha. Yedha akan melakukan perjalanan jauh, serupa dengan saya. Mungkin lebih berat dari yang saya lakukan. Kawan saya Yedha bermaksud menukarkan beberapa lembaran rupiah miliknya untuk saya. Sebagai ganti untuk caril yang ia bawa, namun saya menolaknya. Yedha memaksa, namun sejurus dengan itu saya pun dengan keras menolaknya. Biarkan sikonyen bersama Yedha yang membutuhkan, sebagai teman perjalanannya. Saya cukup paham ketika seseorang melakukan perjalanan seorang diri. Sepi dan begitu tersiksa. Saya hanya seorang kawan yang berempati, sekedar membatu dengan melepaskan apa yang saya cintai untuk sebuah kecintaan yang lain. Bukankah kesenangan terbesar adalah melihat orang lain bahagia dan tersenyum dengan tulus. Saya mulai menyukai kalimat bijak itu akhir-akhir ini.

Saya selalu punya cara untuk merayakan rasa syukur. Salah satunya dengan cara mengingatnya. Seperti yang saya lakukan kali ini, menuliskannya kepada kalian. Saya meyakini sebuah momen bersama sikonyen adalah sebuah anugrah yang saya syukuri. Saya pun belajar banyak dari sebuah tas yang mungkin bagi sebagian orang adalah benda remeh dan temeh. Lebih dari itu semua saya memaknainya lebih, bahwa mencintai itu juga melepaskan. Jika kita berani mencintai, kita juga harus berani melepaskan. Hal terkecil adalah dengan melepaskan sikonyen; sebuah tas caril 60 lt dengan kombinasi warna abu-abu dan kuning-keemasan, sehingga ia tetap dapat berjalan-jalan dengan patner barunya Yedha kawan saya. Sedangkan saya, harus berkemas-kemas untuk segera merampungkan thesis saya yang sudah lama tak terjamah. Kemudian menyiapkan kembali perjalan yang baru, dengan tujuan dan patner yang baru tentunya.








Surabaya, 29 Agustus 2013
*Sembari memikirkan,
Siapa lagi yang kawan saya yang akan traveling.

Selasa, 27 Agustus 2013

Bahasa Semangat Kang Asyeb dan Harapan Besar Bagi Dimas*

Foto oleh: Asad Trisandi.


“Alhamdulillah Man, Hari ini kita panen jamur 12 kilo. Kalau hari ini luang, kau bisa mampir ke rumah. Kita akan syukuran dan makan besar.” –Asyeb Awwaluddin

Pesan singkat dari Asyeb diatas, seperti semilir pagi yang membangunkan mata Saya yang baru setengah sadar dari tidur Minggu pagi. Asyeb adalah rekan Saya sewaktu kuliah, dan sekarang ia adalah salah satu karyawan tetap di biro perjalanan haji dan umroh. Disela kesibukannya, ia adalah pimpinan (direktur) kami di usaha micro urusan jamur. Ya, jamur tiram putih.

Tahun 2010

Sebelumnya, kami (Saya, Dimas, Abi, dan Asyeb). Terlibat dalam satu tim pembuatan proposal wirausaha untuk diajukan ke Dikti yang bekerjasama dengan Universitas Ciputra. Kegiatan tersebut bermula dari tawaran seorang rekan kami bernama Adit.

Saya dan Adit mengawali beberapa penelitian tentang manfaat buah Nipah untuk bahan utama pembuatan tepung alternatif. Kegiatan terus berlanjut, yang pada akhirnya Saya dan Adit memutuskan untuk mengikuti beberapa program karya ilmiah ke beberapa event. Kegiatan sampingan kami selain kuliah itu, diketahui oleh Ibu Adit yang kebetulan menjadi bagian penting dari Kemenristek (tentang riset dan teknologi). Gayung bersambut, rencana kami tersebut direspon begitu positif oleh sang Ibu. Beberapa poin pentingnya adalah kegiatan kami untuk program pemberdayaan masyarakat pesisir pantai Surabaya. Kemudian kami membuat proposal untuk diajukan ke pihak Dikti.

Saat proses pembuatan proposal, kami berubah pikiran tentang tema. Mengapa? Karena penggarapan tentang tema “Nipa” yang sudah kami lakukan cukup ribet dan kurang maksimal dalam pelaksanaannya. Baik dari segi sumber, maupun pengelolaannya. Mengingat buah Nipa di wilayah pesisir pantai sangat langka, selain itu prosesnya yang membutuhkan mesin pencacah yang belum umum di pasaran. Apalagi kami (Saya dan Adit) tergolong awam untuk bidang botani, meskipun beberapa ilmu dasar telah kami dapat saat perkuliahan. Sebenarnya beberapa kendala tersebut tak jadi soal, lebih dari itu kami berdua memikirkan aspek keberlanjutan dari tema yang kami ambil tersebut untuk masyarakat.

Kami mencari beberapa gagasan baru untuk permasalahan tersebut, akhirnya kami sepakat untuk memilih tema pupuk organik cair. Mengingat di area pesisir pantai Surabaya, masyarakat masih menggantungkan hidupnya menjadi bagian dari area-area pertambakan, selain menjadi nelayan dan pedagang olahan ikan. Harapan kami, dengan adanya pupuk organik cair masyarakat dapat terbantukan dan dapat menekan biaya pakan ikan budidaya tambak tersebut.

Setelah dipertimbangkan bersama, Saya dan Adit memutuskan untuk membagi dua tim. Satu tim yang diketuai Adit membuat tema tentang pupuk organik cair,  sedangkan Saya memegang tema untuk bakteri starter dari pupuk organik cair yang menjadi bahan utama dari tim Adit. Praktis, kami berdua mencari beberapa rekan untuk dijadikan tandem dalam pembuatan proyek besar ini.

Saat itu berlabuhlah  Cipto, Ade, dan Mas Lukman kedalam tim yang diketuai oleh Adit. Kemudian Saya dengan tema bakteri starter menggandeng Abi, Dimas, dan Asyeb sebagai rekan tim. Kedua tim ini bertemu bersama dengan harapan menjadi dua tim yang solid serta dapat lolos ke dalam program Kemenristek.

Alhamdulillah, kedua tim ini masuk kualifikasi untuk program ristek dan kewirausahaan. 

Selang beberapa minggu dari pengumuman tersebut, kami harus menyiapkan dua orang yang menjadi delegasi tim untuk mengikuti kegiatan pelatihan kewirausahaan di Tanggerang selama kurang lebih 3 minggu. Setiap person yang terdelegasi dilatih menjadi bakal calon wirausahawan yang dibina langsung oleh Ristek Dikti dan beberapa tim dari Ciputra. Terpilihlah Ade, dan Mas Lukman menjadi delegasi tim Adit. Sedangkan dari tim Saya, kami mempersilahkan Abi, dan Dimas sebagai wakil dari tim bakteri starter.

Tahun 2011

Kepulangan Dimas, Abi, dan beberapa rekan-rekan yang telah mendapatkan pelatihan di Tanggerang, seolah menjadi kayu bakar baru bagi tungku bakar semangat tim kami. Semangat untuk berkarya dan bermasyarakat semakin menggelora. Hal ini juga ditunjang dari segi donasi untuk program yang dilaksanakan, serta yang membuat kami berapi-api adanya pemantauan langsung oleh Kemenristek.

Kedua tim sepakat mendaftarkan diri utuk membuat badan usaha sendiri, guna bersaing dan dapat bermain kearah wirausaha yang lebih masif. Tim Adit dengan CV. Agro Nusantara, sedangkan tim Saya dengan CV. Bioasa Karya Nusantara. Namun dalam pelaksanaan kali ini ada beberapa perubahan. Ternyata membuat sebuah badan usaha (CV) haruslah memiliki kualifikasi seperti: surat tanah, rumah yang akan menjadi alamat perusahaan tersebut. Perubahan terjadi di tim Saya, memilih Asyeb sebagai direktur CV. Bioasa Karya Nusantara.

Beberapa roadmap untuk kerja dan pengabdian masyarakat sudah terbentuk. Dalam setiap upaya, Tuhan selalu menyelipkan kendala untuk kita mengevaluasinya. Kekurangan disana-sini, terutama dari segi sumber daya manusia. Pada prosesnya sebuah pengadaan bakteri starter untuk bahan utama pupuk organik cair membutuhkan personal yang benar-benar konsen dibidangnya untuk riset dan pengembangannya. Akhirnya, dari tim Bioasa merekrut Jery, dan Febriandy untuk memenuhi pos sektor riset bakteri.

Pada bidang ini kami sepakat untuk mengklasifikasikannya ke dalam dua bidang tim yang berbeda. Mengingat setiap tim memiliki gerakan otonom masing-masing dalam lingkup CV. Adit bersama CV. Agro selaras bermain di Surabaya dan sekitarnya, bermain diarea pesisir untuk petani tambak dan udang. Sedangkan kami yang memenehui target pengadaan bakteri starter, dipaksa untuk survive melakukan eksplorasi bidang garapan. Setelah rembuk sana-sini kami memutuskan merambah sektor pertanian padi.

Kami mendapatkan sebuah kesempatan untuk berkarya di wilayah Demak sampai Grobogan, Semarang. Waktu itu kami mengadakan demoplot untuk beberapa tanah pertanian padi disana. Kami mencoba beberapa pupuk organik cair yang kami produksi dari Surabaya untuk membantu petani di Semarang, alhamdulillah semua berjalan sesuai harapan. Pertumbuhan padi meningkat. Namun setelah upaya selesai, selalu ada permasalahan baru yang muncul. Permasalahan barunya adalah penyakit padi yang berbanding lurus dari laju pertumbuhan hijaunya sang padi. Penyakit seperti sundep, dan wereng semakin meruah. Maklum kami mengusung konsep organik, wajar jika padi yang begitu segar mengundang  beberapa penyakit alam yang singgah. Kami langsung membawa pulang permasalahan tersebut ke Surabaya dan berupaya mencari antidot untuk beberapa penyakit padi tersebut.

Terkadang sebuah kebaikan tak selalu mendapat respon positif. Makelar pupuk mencoba menguasai di area demoplot kami. Alhasil kami yang baru terjun untuk membantu petani, merasa tersingkir karena tak mendapat dukungan penuh dari petani. Parahnya lagi ketua Gapoktan pun tak kuasa akan hal ini. Dengan alasan beragam, malah yang lebih miris adalah menganggap kami adalah anak bau kencur yang mencoba menjadi pahlawan kesiangan. 

“Tak masalah. Kami terlambat bukan berarti kami menjadi terhambat.” –Asyeb Awwaluddin

Tahun 2012

Rencana ristek untuk mendatangi beberapa tim terealisasikan. Pelajaran yang paling berharga yang dapat kami ambil adalah sebuah kekonsitenan dalam berkarya bagi masyarakat, bukan hanya sekedar bekerja.

Saat tim ristek meninjau kinerja kami, kami semua terasa terlucuti dengan lugu. Kesalahan dan kekurangan diurai satu-persatu. Awalnya kami tertunduk malu dan lesu. Karena kami merasa tak dapat menjalankan amanah dengan baik. Ditambah lagi beberapa rekan sudah memulai menunjukkan egonya masing-masing. Termasuk Saya.

Tapi Saya selalu suka akan cara pertemanan kami. Selalu ada cara untuk bertemu, saling berpelukan setelah beradu argumen dengan panas yang begitu menggebu. Kami mempunyai prinsip, lebih baik kau marah dan menghardik di mukaku, daripada kau meludahiku saat kita tak bertemu. Kami profesional.

Tahun 2013

Kami mengevaluasi perjalanan usaha kami yang dahulu. Kami mencari beberapa formula yang baru dan mencari titik temunya, kemudian berlari untuk mencapainya.

Tahun ini, Alhamdulillah merupakan tahun kebangkitan kami. Start up, baru dari CV. Bioasa. Meski disana-sini masih ada tambal sulam yang terjadi. Mengapa tambal sulam? Karena beberapa anggota dari kami mempunyai beberapa kesibukan/pekerjaan yang cukup menyita waktu dan tenaga di luar CV. Bioasa. Inilah kami: 

Jeri, yang telah menjadi karyawan tetap di perusahaan pakan ternak, menyiapkan waktu disela beberapa shift yang padat untuk selalu memantau perkembangan CV. Bioasa. Ia adalah sosok pemberani dalam mengambil terobosan dalam gagasan berbisnis.

Abi, yang baru-baru ini memutuskan untuk melanjutkan kuliah pada program pasca sarjana di Universitas Airlangga, juga berupaya untuk menarik investor untuk kemajuan CV. Bioasa, selain itu ia juga menanamkan sebagian dana di usaha lain di bidang warnet yang ia kelola.

Febriandy, yang telah menjadi staf ahli di bidang quality control pada perusahaan makanan tetap meluangkan waktunya yang padat disela jadwal shift untuk CV. Bioasa. Untuk menunjang laju CV. Bioasa, ia membuat CV. ekspedisi yang bernama CV. Mitra Alam Sejahtera, dan ia lah direkturnya.

Asyeb, yang kami ketahui adalah penampuk tanggung jawab terbesar dari setiap langkah rekan-rekan adalah sosok ‘kompor gas’ tim. Ia pernah menjadi one man show selama 14 bulan lebih pada langkah CV. Bioasa, saat semua dari kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun yang Saya ingat dari sosok seorang Asyeb adalah ia tak pernah menyalahkan tim, namun selalu menguatkan. Lah secara nalar, dia adalah objek yang tersakiti dari tim, lah kok malah menguatkan kami. Manajemen yang unik dari direktur kami. itulah kang Asyeb.

Sedangkan selamat datang untuk rekan kami, Bagus. Kami memang diatas kertas tidak berada satu jurusan pada saat perkuliahan. Namun diatas rata-rata ia adalah sosok yang bertanggung jawab mengatur kemana cashflow perusahaan CV. Bioasa, dan ialah ahlinya. Satu hal dari seorang Bagus yang Saya ketahui, ia adalah rekan yang tanpa diduga datang membatu secara ikhlas saat semua dari kami sibuk dan asyik dengan pekerjaan masing-masing, ia adalah rekan yang begitu berempati melihat Asyeb berjibaku dengan kesendirian mengatur CV. Bioasa, melebihi kami yang ngakunya satu jurusan saat kuliah. 

Tapi mengapa ada sesuatu semangat tersendiri saat kita memutuskan untuk bertemu, berkumpul untuk merembuknya. Semua terpecahkan. Sekali lagi ada yang Saya suka dari tim ini, semangat untuk berpikir positif. Bukan berarti tak menghitung resiko, namun menyikapi sesuatu hal yang negatif dengan mencari hikmah dan mempelajarinya. Bukankah itu sangat luarbiasa kawan.

***

Baru-baru ini kami telah memindahkan beberapa media tumbuh jamur tiram dari kumbung lama kami yang berada di tambak wedi (Kenjeran-Suramadu) berpindah ke kumbung baru di daerah Jemundo (rumah Asyeb). Sekarang kumbung baru (Jemundo) berisikan kurang lebih 1000 kantung media tumbuh jamur tiram. Dan tiga hari yang lalu kami telah panen sebesar 12 kg dan alhamdulillah langsung habis. Meskipun ada yang masih tersisa itupun tak banyak hanya beberapa ons saja, dan langsung menjadi kudapan lezat selepas kami memanenya.

Rencana kami kedepan adalah mendatangkan lagi media tumbuh jamur tiram dengan kisaran 8000 buah dan ada kemungkinan dapat lebih pada awal bulan September. Besar harapan dapat memenuhi permintaan pasar di daerah Krian, Sepanjang, dan Jemundo.

Kumbung yang baru di daerah Jemundo lumayan luas, dengan ukuran 8x6 meter persegi. Kedepan, kami berencana akan memperluas dengan menambah lokasi kumbung jamur tiram tersebut. Kami tidak menutup kemungkinan jika ada dari rekan-rekan untuk berinvestasi, menjalin rekanan usaha, atau hanya sekedar menengok usaha kecil kami yang berada tak jauh dari pusat pasar terbesar Jawa Timur “Puspa Agro”.

“Bukankah sesuatu hal yang besar dapat kita mulai dari hal yang terkecil kawan.”

Sebuah kumbung jamur kami yang baru di Jemundo merupakan langkah awal kami untuk menggapai mimpi. Kami berenam mempunyai mimpi masing-masing, namun bagi saya pribadi jamur tiram adalah medium kecil dari luasnya pelajaran hidup yang Tuhan siapkan untuk kita. Karena malam ini kami sepakat tentang perkataan Bapak Ir. Ciputra yang menjadi landasan bagi kami dalam berkarya, “Tuhan menciptakan manusia untuk kita, dan kita mensyukurinya dengan cara memuliakan ciptaanNya.”








 

Jemundo, 27 Agustus 2013
*Sembari membuka beberapa file cv. bioasa karya nusantara, dan sebelum memutuskan untuk tertidur.

 
*Disela-sela kesibukan kami, kami masih berharap besar untuk kawan kami Dimas bergabung kembali ditengah-tengah riuhnya kinerja CV. Bioasa yang sedang menggelora. Karena salah satu pencetus awal dari tim Bioasa ini tak terlepas dari tangan dingin seorang kawan kami Dimas yang begitu ulet dan struggle. Com’on Guys, lets play with me!

Sabtu, 24 Agustus 2013

Idealisme si Gentong!

Saat itu saya sedang duduk di kedai kopi toko buku Togamas. Benar, Togamas Manyar Surabaya. Saya yang sore itu bersama Ryan sedang hunting pelbagai buku untuk refrensi proyek besar kita. Proyek rahasia, dan ini masih kami simpan rapat-rapat.

Ada beberapa hal yang menarik sore itu. Kami seperti biasa membuka perbincangan dengan menyulut sebatang kretek. Entah mengapa, kami begitu percaya kretek dapat mencairkan perbincangan setelah kopi, dan nutrisari rasa jeruk. Saya mengawali perbincangan dengan beberapa pertanyaan sekitar: idealisme. 

***

Sedikit cerita tentang kisah idealisme:
Waktu saya baru masuk kuliah, saya bertemu dengan kakak angkatan yang bernama: Adrian Fauzi. Namun rekan-rekan seangkatannya sering memanggilnya dengan sapaan: Gentong. Entah mengapa?. Mungkin dilihat dari tubuhnya yang subur, titel Gentong tersematkan kepada dirinya.

Sedikit tentang Adrian, ia adalah sosok kakak angkatan yang saya kenal sebagai panutan dan pengayom adik-adik angkatan di jurusan kami. Baik di kegiatan Himpunan maupun di warung kopi, ia adalah “pengencer” suasana yang memiliki sifat buffer dalam perdebatan. Jika diibaratkan burung ia adalah Egretta eulophotes. Energik, focal, dan mempunyai skill untuk memangsa.

Saya mengenal bang Gentong secara baik. Pernah pada kesempatan, kami masuk dan berkegiatan bareng dalam sebuah event Ormawa. Saya selalu bertandem dengannya menyiapkan dan mengatur bidang Pubdekdok. Begitupun di Himpunan, saya yang masih Maba waktu itu sempat direkrut oleh bang Gentong sebagai staf Media. Kemudian saya diproyeksikan untuk menjadi Kepala Departemen Kominfo di Himpunan kami yang bernama HIMBIO (Himpunan Mahasiswa Bibir Ombo). Semuanya menyenangkan.

Gentong yang saya kenal adalah pecinta musik dan mempunyai skill yang tulus dalam bermusik. Pernah pada kesempatan santai, saya bermain ke rumahnya. Terlihat ada beberapa perlengkapan musik: drum, dan beberapa ragam gitar. Selera musiknya yang begitu menyentuh saya adalah saat ia memainkan, “Ada yang hilang, dari Ipang”. Sadis, petikan senar gitarnya.

Meskipun secara materi bermusik ia berkecukupan, ia tak pernah pelit untuk meminjamkan peralatan musiknya untuk kegiatan di Himpunan kami. Mungkin jika disejajarkan dengan Gamalama –tempat persewaan alat pesta dan musik– Saya pegang alat-alatnya bang Gentong, karena kualitasnya A. Tapi sayang, bang Gentong tak sekomersil itu untuk menyewakan ke publik. Ia hanya meminjamkan kepada rekan-rekan yang ia kenal saja. Apalagi untuk kegiatan di Himpunan kami. Ia begitu total tanpa aling-aling.

Pensiun dari pengurus Himpunan, bang Gentong mengikuti program penelitian Dosen. Ia yang Saya ketahui adalah pecinta fauna dan alam liar. Akhirnya memutuskan diri untuk bertaruh dengan penelitian mikroskopik. Penelitiannya berkutat dengan mencit –tikus kecil berwarna putih, dengan mata yang merah– dan beberapa kadar dari tubercolosis yang menjadi poin penting skripsinya. Bukan bang Gentong jika tak mampu melawan tantangan. Secara tekun ia melakukan “hidup” di laboratorium bersama mencit dan penelitiannya.

Meski selama ini ia yang saya kenal adalah “orang hutan”, dan “anak jalanan”. Kegiatan pemantauan burung migran dan penelitian di tiga taman nasional di Jawa Timur sudah sangat sering ia lampaui. Sampai kami menyebutnya, suhu spiritual berlevel macan. Mengapa macan? Karena ia sedikit banyak sebagai “penyembuh” adik-adik angkatan yang mempunyai kemampuan metafisika. Sering Saya dapati bertingkah seram layaknya macan yang sedang marah.

Setelah ia lulus, saya dapat kabar jika ia sakit dan sudah dirawat di rumah sakit swasta di Surabaya. Saya langsung menyiapkan hari untuk menengoknya. Saya bertemu dia dan beberapa keluarga yang mendampinginya. Kami bercerita dan bertukar kabar. Gentong yang saya kenal gendut nan subur, waktu itu terlihat sedikit menyusut dan layu. Ia terkena tipes dan demam berdarah. Penyakit umum, namun mematikan.

Menurutnya ia kurang teratur makan saat ia bekerja. Oh iya, setelah lulus, ia sempat bekerja di salah satu perusahaan produksi pakan ternak. Waktu itu ia berpikir semua jerih payahnya saat ia kuliah harus teraplikasikan di dunia kerja. Ia berpendapat ilmu yang kita kenyam saat kita duduk di bangku kuliah, harus benar-benar berfungsi. Bukan sekedar titel yang didapat  tapi nol dalam praktik ke masyarakat. Saat itu ia beranggapan, betapa nistanya jika mahasiswa jurusan saints (Biologi), setelah lulus bekerja di bidang perbankan. Sangat rancu dengan rekan kita yang selama beberapa tahun menghabiskan energi dan waktunya di dalam bidang Akuntasi dan Manajemen Keuangan.

Setelah perbincangan panjang dengannya, saya dapati ia tak betah di perusahaan yang menjadikan jagung sebagai bahan utama untuk produksi pakan ternak. Saya bertanya, mengapa ia tak betah. Bukankah perusahaan yang ia masuki adalah bidang dari penelitiannya dulu saat ia di kampus. Berkutat di bidang kualiti kontrol, dan pelbagai percobaan dari pakan ternak ke hewan coba. Dan menurut saya, ia benar-benar memimpikannya waktu itu. 

Namun setelah menyelami secara dalam, Gentong berpendapat ternyata tak semuanya berjalan lancar dengan apa yang diharapkannya. Ia merasa terforsir, baik mental maupun fisik. Intinya bekerja seperti robot ia sangat mengutuk dan membecinya. Ia begitu stress jika memikirkannya. 

Lama kami tak bersua, mungkin sekitar 3 tahun. Kemudian kami bertemu secara tak sengaja di acara pengamatan rutin yang diadakan oleh adik-adik angkatan kami yang masih aktif di kelompok studi burung yang bernama Peksia. Wah, bukan hanya senang bertemu dengan si Gentong namun lebih dari itu sepaket dengannya saya bertemu sahabat-sahabat dari bang Gentong angkatan 2005. Seperti minum jamu komplit dengan kuning telur 4 butir. Wareg kangene!

Saya bertanya sekarang apa yang ia karyakan. Bagaimana kabar dan pertualangannya. Ia mengawali dengan beberapa hisapan dalam rokok Marlboro kesukaannya. Ia berbincang dengan senyum yang ia sematkan secara alami. Membuat obrolan semakin ami dan gemi

Ia bercerita, sekarang ia telah menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan bank negara. Sudah beberapa bulan lalu ia diangkat. Sebelumnya ia juga sempat melakukan pelatihan di Jakarta selama 4 bulan. Beberapa pemikirannya terbantahkan. Ia juga mengakui jika dulu (semasa kuliah), ia sangat membenci bidang ini (bank). Dan berharap, baik dari dirinya maupun orang lain harus konsisten dengan apa yang ia kerjakan. Namun, sekarang ia bercerita bagaimana kisahnya dapat dijadikan sebuah contoh, mengapa kita dapat berbeda. Lebih dari sekedar arti ideal.

Mungkin ada tangan Tuhan disana, mungin juga disetiap doa yang kita panjatkan merubah jalan dan pemikiran kita. Supaya kita tak jenuh, mungkin juga tuhan mengerti bagaimana sifat manusia adalah berkutat di area bosan, dan mengeluh. Mungkin juga sifat itu begitu perlu, dengan adanya hal itu kita akan selalu berproses, berputar, ataupun menggelinding. Yak, itulah Adrian Fauzi, ibarat Gentong ia selalu haus untuk menampung dan menyimpan. Menampung pelajaran hidup, kemudian ia membagikannya dengan.. 

Ah, saya jadi ingat kalimat dari Rizal shidiq terhadap Nuran:

“Because he/she doesn't know what life is. Most of them that I know, end up in a boring life." –Rizal Shidiq, dalam Foi Fun.

***

Saya tengok jam tangan sudah pukul setengah enam, semenit kemudian adzan magrib berkumandang. Saya memandang Ryan meminta apa pendapatnya tentang obrolan kami sore ini. Ryan dengan muka datar dan sedikit gelisah melempar pandangan berbalik kearah Saya yang berharap ada respon positif yang dapat Saya ambil. Di luar ekspektasi, Ia mengambil sebatang kretek lagi, dan mencari korek di saku kiri kemejanya sambil berujar kepada Saya yang berharap jawaban keluar darinya, Sik Bro, Aku kebelet ngising. Cuk, spontan kalimat ampuh keluar dari mulutku.

“Ah, Semua boleh berekspektasi dengan tinggi, namun kita wajib bersahabat dengan realita.”








Tokobuku Togamas Manyar, 22 Agustus 2013
*Sembari melipat sampul untuk buku “Waktu yang Mengubahmu” dan “Singgah”

Rabu, 21 Agustus 2013

ILUSI KESEPIAN



“Mesti selalu mabuk. Terang sudah, itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri sang waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-menerus. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!.” –Kahlil Gibran- 

Pertengahan malam yang dingin setelah hujan mereda, sama seperti sebagian besar pria yang sedang patah hati, di kamar, dan melamun kesepian. Kamar itu mempunyai lampu berwarna oranye-kekuningan menggantung perantara kabel dengan panjang empat puluh centi dan tak menempel langsung pada langit-langit kamar; ada sebotol bir yang masih tersegel, pisau lipat warna merah dengan tulisan ‘victorinox’, shall hitam berbahan wol, dan beberapa cetakan foto dengan berbagai pose romantis yang tercecer, semua benda tersebut tercecer dan tersebar tak karuan hampir memenuhi sudut kamar. Kamar itu berantakan, terlihat buku-buku bergeletakan di lantai, dan sebagian lagi di kasur. Di disinilah kisah itu berakhir. Bukankah akhir adalah sebuah permulaan.

Ini kisah tentang lelaki bernama Fiki. Pria berparas manis dengan kulit kecoklatan, ia menggunakan kaca mata dengan frame khusus buatannya. Malam itu, Fiki baru usai melakukan liburannya bersama seorang gadis bernama Fuko, kekasihnya. Fuko adalah wanita dengan postur yang cukup ideal bagi seorang gadis perkuliahan, postur yang ideal tersebut merupakan bawaan dari keluarganya, mungkin juga terbentuk dari kegiatan rutinnya bermain ‘squosh’, olah raga yang menyerupai tenis lapangan dengan ‘dinding’ yang menjadi media untuk pantulan bola yang ia pukul menggunakan raket dengan ujung yang datar, tidak melengkung seperti raket tenis pada umumnya. Fuko adalah bagian lamunan Fiki malam ini.

Fiki Kenzo Asogi menyalakan sigaretnya dengan tatapan kosong kearah sebuah buku harian menyerupai alkitab. Buku yang semula kosong dengan lembaran berwarna putih-kekuningan sekarang telah berisi ribuan kalimat bahkan jutaan cerita bersama mantan kekasihnya Fuko Narosia . Fiki perlahan menghisap sigaretnya, dengan hisapan yang semakin dalam membuat bara di ujung sigaretnya terlihat berjalan mundur kearah mulutnya. Malam itu, ia nampak menikmati suasana kamar yang berantakan dengan aroma alkohol di dalam kamar bernuansa jingga keemasan. Ia kemudian mengabil ponselnya, berharap ada beberapa pesan singkat atau panggilan masuk yang mungkin luput olehnya. Tapi tak ada satupun pesan singkat dan panggilan masuk ke ponselnya. Ia ingin membuang perasaan sedih malam itu, dengan mencoba membuka bir. Botol bir berbahan beling berwarna hijau mengkilap yang masih tersegel di permukaan bibir botolnya. Kemudian ia mengambil buku harian yang menyerupai alkitab berwarna abu-abu muda itu. Ia meneteskan air mata dengan muka tertunduk. Kemudian botol bir yang ia genggam di tangan kirinya terlepas, terjatuh ke lantai dengan bunyian yang seolah-olah memecah kesunyian malam. Fiki larut dalam tangisan lirihnya, kemudian terlelap bersama buku harian yang ia pegang, entah sekarang ia berada dimana?, mungkin ia sedang di alam mimpi. Sejenak bermimpi mengulang waktu tiga tahunnya bersama mantan kekasihnya, sebelum ia benar-benar terbangun dan tersadar bahwa esok tak lagi sama.