Minggu, 21 Juli 2013

Hello Gili! (the islands as a lookout post and prisoner of war camp)


Sebagai pecinta eco-adventure, tentu saya lebih menyukai alam daripada perkotaan yang ingar-bingar. Maka jawaban saya tertuju pada sebuah pulau bernama Gili Trawangan. Sudah tidak asing lagi di telinga kita nama Gili Trawangan. Pulau yang menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal untuk berlibur dan melepas segala penat rutinitas. Namun saya baru mengetahuinya dari seorang rekan yang sekitar enam bulan lalu berlibur kesana. Saya pun segera menyiapkan hari untuk mengunjungi Gili Trawangan. Bermodal nekat. Perjalanan tanpa reservasi atau booking hotel, Just it flow Bro!. 
***

Tiga pulau kecil yang berada di lepas pantai barat laut pulau Lombok yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Menjadi salah satu spot terbaik bagi pecinta aktifitas diving. Tidak salah jika beberapa pelancong memilih tempat ini sebagai tujuan menyepi, merasakan sebuah suasana tinggal di pulau terpencil sambil berenang dan menyelam. Fasilitas menginap atau resort sungguh menawarkan sensasi “bermanja” bagi para penghuninya. Desain penginapan seperti gubuk-gubuk kecil beratapkan jerami kering yang tersusun rapi menghadap langsung kearah pantai, kemudian di tambah kolam renang kecil berair tawar berada di tengah-tengah cafe, memberikan nuansa bahwa pulau ini memang untuk bermanja, berpesta dan bersenang-senang. Pulau yang bebas dari kendaraan bermotor bisa kita nikmati sambil berjalan kaki, menggunakan sepeda kayuh, dan jika tidak ingin repot ada transportasi kereta bermesin kuda, Cidomo namanya.

Dari tiga Gili, Gili Trawangan-lah yang paling banyak penduduknya. Sekitar 1500 manusia berada disana, berpesta dan menghabiskan waktu berlibur mereka. Sampai saat ini pun tidak diketahui secara pasti jumlah penduduk asing yang berada disana. Karena hilir-mudik wisatawan mancanegara begitu cepat mengunjungi Trawangan. Menyebabkan sulitnya masyarakat lokal mendata secara pasti penduduk luar negeri yang berada di Gili Trawangan. Bisa dibayangkan kita seperti bertamu di negeri sendiri. Bule dimana-mana.

Kami merasakan langsung bagaimana sensasi romantis di Gili Trawangan, saat kami disambut oleh cubitan pasir dan belaian air di Pulau yang memiliki luas 6 kilometer persegi ini. Gili Trawangan sendiri mempunyai beberapa sejarah. Nama Trawangan yang berarti ‘Terowongan’, yang pada saat pendudukan Jepang dibangun untuk perang dunia ke-2. Dari beberapa sumber secara singkat menyebutkan pada saat perang dunia ke-2, Jepang mempergunakan pulau-pulau di Gili sebagai “a lookout post and prisoner of war camp” sebagai lokasi pengintaian dan lokasi tawanan perang. Beberapa peninggalan bersejarah ini juga dapat kita temui saat kita menuju bukit yang berada di Gili Trawangan, bukit ini juga menjadi spot paling asyik saat menikmati senja dan menikmati hamparan pantai dengan formasi karang yang masuk 7 daftar penyelam dunia. Di Gili Trawangan juga terdapat bekas kapal yang karam di perairan Gili, terdapat di kedalam lebih dari 45 meter di bawah permukaan laut. Lokasi karamnya kapal ini menjadi spot paling favorit para penyelam. Konon kabarnya menjadi salah satu lokasi terbaik untuk melihat formasi karang yang hanya bisa ditemui di Indonesia.

Kemudian sebuah perkampungan yang asri kami temui di Gili Trawangan, sebagian besar jalan di perkampungan masih bertekstur kerikil dan tanah yang keras. Menurut informasi dari beberapa masyarakat Gili Trawangan, rumah-rumah yang mereka tinggali berawal pada tahun 1970-an. Bangunan-bangunan permanen sebagai tempat tinggal mulai dibangun di Gili Trawangan sekitar tahun tersebut. Sebelum tahun tersebut Pulau Gili masih menjadi habitat satwa liar dan hutan bakau yang lebat.


Sedangkan para Backpacker datang menemukan Gili Trawangan dan beberapa Gili yang lain, mulai pada tahun 1980-an. Ini adalah dampak dari memekarnya daerah wisata di Bali. Pengembangan tujuan alternatif pengganti wisata Bali yang semakin sesak mencoba menjadikan Lombok sebagai destinasi empuk. Gayung bersambut, fenomena ini tak disia-siakan oleh investor luar. Mereka merespon dengan cepat dengan mengambil beberapa tempat dan membangun beberapa homestay, cafe, dan restoran untuk para pelancong. Fenomena ini mulai berlangsung akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an. Akibatnya terjadi penggusuran rumah dan beberapa tempat usaha lokal. Beberapa usaha-usaha lokal berganti dengan usaha modern yang dimiliki oleh investor luar. Oh, sungguh fenomena yang luar biasa pelik.

Jika kita datang ke Gili Trawangan, memang tak secara pasti kita menemui polisi atau secara jelas berjumpa dengan penjaga keamanan. Karena masyarakat desa yang arif sangat kompak menjaga desa mereka. Tatanan desa yang menurut kami menjadi sebuah pertemuan budaya yang luar biasa Bhineka-nya. Saat kita ke pantai, kita dapat leluasa melihat bagaimana aktifitas pelancong dengan berbagai style menikmati keindahan pantai dan berenang. Tetapi saat beberapa meter kita menuju kearah perkampungan Gili Trawangan, berdiri sebuah masjid yang megah dengan gaya masjid di Jawa pada umumnya. Oh indahnya perbedaan.

Menginjak malam kita juga dapat menyaksikan geliat perekonomian penjual aneka hiasan dan cinderamata. Bar, Cafe, dan sebuah pasar malam yang penuh gairah kulinerian yang sayang jika dilewatkan sensasinya. Gili Trawangan juga terkenal oleh beberapa pelancong sebagai lokasi bebas untuk mendapatkan ‘obat anti galau’. Konon kabarnya ada pelancong yang mati akibat overdosis saat mengkonsumsi aneka ‘obat anti galau’ ini. Meskipun dapat kita jumpai beberapa tawaran yang dilontarkan secara bebas dari beberapa pemuda lokal, namun kita harus berhati-hati. Bukankah kita datang ke pulau ini untuk bersenang-senang dengan badan dan pikiran yang sehat, sehingga keindahan alam nusantara dapat benar-benar kita nikmati dan syukuri.

Keesokan harinya sayang jika tak berlari menuju pantai, berenang dan menyelam. Menurut informasi yang kami dapat selama tahun 1990-an, industri menyelam sudah mulai digalakkan di Gili Trawangan. Tumbuh cepat dan berkembang menjadi kelas menyelam dunia yang sekarang mampu menampung skala yang lebih luas. Saat sebuah lokasi digali, mereka yang arif tahu bagaimana cara menjaga dan menyulamnya. Pada tahun 2000, sebuah organisasi non-profit yang bernama Gili Eco Trust didirikan untuk melindungi terumbu karang yang mengitari pulau-pulau sekitar dan memberi beberapa pendidikan lingkungan. Organisasi ini didukung penuh oleh satgas (satuan petugas) masyarakat setempat dan beberapa toko-toko menyelam yang berada di Gili Trawangan. Many projects have since been organised to protect and restore coral reefs, improve waste management, struggle against erosion, treat animals, raise awareness and educate.












Post-Scriptum: Tulisan yang singkat dan memiliki penutup yang menggantung ini, saya persembahkan kepada Mama dan Adik saya di rumah yang selalu merindukan saya saat berpergian. Serta untuk selalu mengingat kakak sepupu saya Alm. Taufik Hasyim Latif yang memliki umur yang cukup singkat. Seorang tua pernah bertutur, jangan menjadi manusia yang terlalu baik, karena manusia baik akan mati muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar