Jumat, 26 Juli 2013

Fesyen di Bali



Foto: Ryan Essa Anugra

Novalsyah pernah mengutip kalimat yang ampuh di sebuah majalah pejalan, Ia menceritakan bagaimana Rendezvous di Walidwipa. Kata Walidwipa sendiri adalah kata yang terpahat pada prasati Blanjong dari Sri Kesari Warmadewa yang bertarikh sekitar abad ke-9 Masehi. Sebutan tersebut merujuk pada sebentuk daratan yang sebagian sisinya diolah menjadi persawahan beralurkan subak nan indah, dijejaki oleh gadis-gadis eksotis yang menarikan legong, serta liukan pesisir pantai yang disesaki oleh jutaan pelancong yang berdiri terpana di atas pasirnya kala senja tiba. Walidwipa berarti pulau Bali, destinasi turistik yang bisa dibilang paling termasyur di negeri kita, Indonesia.

Salah satu keindahan sejati Bali terletak pada keteguhan penduduknya dalam menjalankan kehidupan yang selaras dengan alam dan menjunjung keagungan Sang Hyang Widhi Wasa. Kentalnya nilai-nilai budaya ini terus dipertahankan di tengah deburan ombak modernisasi dan kebudayaan asing yang mendarat bersama gairah pariwisata yang seakan tanpa jeda. Bagaimanapun, disadari atau tidak, persentuhan antara kebudayaan lokal dan mancanegara di Bali memantik kondisi saling mewarnai, bahkan saling mempengaruhi.

Sejurus kemudian, hasil dari bauran antara kebudayaan Bali dan mancanegara tersebut mulai mencuat ke permukaan. Seakan-akan suatu bentuk kebudayaan baru telah dilahirkan, misalnya dalam hal cara berbusana pada berbagai aktifitas keseharian. Fesyen tidak bisa dilepaskan, bahkan terekspresikan dengan sangat jelas bersama masyarakat yang hidup dengan latar belakang kultur apresiasi seni yang kuat. Ritme akulturasi juga terasa dalam sendi-sendi rutinitas lainnya. Mulai dari pasar tradisional hingga pusat belanja modern, dari banten sampai alat komunikasi mutakhir.

Budaya yang tercipta dari cipta, rasa, dan karsa akan lebih langgeng jika dilestarikan dengan seni, sesuai ajaran Tri Hita Karana: hidup selaras bersama alam dan ajaran Yang Maha Kuasa untuk tercapainya kemakmuran dan kedamaian. Bali merupakan simbol dari masyarakat yang mau membuka diri, menjadi bagian masyarakat modern dengan tidak menentang, tetapi seraya mengembangkan nilai-nilai leluhur. Terlepas dari argumentasi baik buruk, esensi adaptasi dan toleransi terletak pada pelestarian tradisi sebagai dasar pengembangan budaya atas dinamisnnya putaran zaman.

Mari kita ambil contoh sebuah lokasi di Bali bernama Kuta dan Legian. Beberapa gang dengan ramai aktifitas niaga terjadi di sana. Hiburan, kuliner, sampai dengan sajian jasa yang dapat kita pilih sesuai dengan selera. Menarik sekali kita amati bagaimana hilir-mudik wisatawan yang berjalan kaki sepanjang Legian dan Kuta. Berbagai style yang tersaji sebagai fenomena budaya yang telah masuk di Bali. Miniatur budaya yang dapat kita gali lebih dalam lagi untuk mengambil sebuah kesamaan dan bersahabat dengannya. 

Berikut adalah sentilan yang unik dari seorang rekan yang mencoba mendokumentasikan, bagaimana fesyen turis LN (luar negeri) yang telah lama berada di Bali. Mungkin kali ini adalah Kuta dan Legian. Selamat menikmati, dan jangan lupa untuk mengomentari jepretan nakalnya. Terima kasih.

Foto: Ryan Essa Anugra

Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Nugraha
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
Foto: Ryan Essa Anugra
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar