Selasa, 04 Juni 2013

Kepada Yth. Ibu Surabaya, di Tempat.

HUT Surabaya ke 720 Tahun.

Selamat Sore Ibu Surabaya, semoga Ibu selalu diberi kesejahteraan dan kedamaian. Sebelumnya saya ingin meminta maaf, karena telat untuk mengucapkan hari jadimu. Tak hanya itu Bu, saya juga tak bisa meluangkan waktu untuk memberimu kado di hari yang luar biasa ini untukmu. Maafkan saya, Ibu Surabaya. Sebagai putramu, sebenarnya saya sangat malu untuk membicarakan ini. Namun untuk beberapa hal yang dapat mengingatkan saya, saya harus menuliskannya dan membicarakannya. Karena manusia adalah mangkuk dari sebuah hal yang bernama salah dan lupa.

Mungkin baru pertama kali saya memberanikan diri untuk menuliskan surat untukmu. Mungkin tahun-tahun sebelumnya, saya hanya bisa menghabiskan malam dengan gemerlapnya lampu kota yang menghias hari jadimu, dengan paket keramaian yang telah tersedia untuk memeriahkan malammu. Ibarat seorang Ratu, kau di puja dan di lontar dengan teriakan “Surabaya”. Saya pun juga sangat menikmatinya kala itu.

Namun tahun ini berbeda, saat kau menginjak angka 720 tahun. Saya ibarat seorang putra yang tak bergeliat dengan keramaian. Malam-malam yang begitu semarak sebagai wujud kecintaan atas hari jadimu, perlahan ku hindari dengan mengalihkan diri kedalam kontemplasi dan perenungan yang dalam. Saya lebih senang berjalan di pinggiran batas kotamu, menyelami bagaimana geliat yang berbeda yang dapat saya saksikan untuk memeriahkan hari jadimu, hai Ibu Surabaya. mungkin keputusanku untuk ini, terasa kontra dengan saudara-saudaraku yang lain, yang nampak selalu antusias dengan setiap acara untuk merayakanmu. Mereka menggandeng kekasih, dengan pakaian yang senada dengan iklim tropis. Begitu tipis antara malu dan memalukan terasa tak ada batasnya.

Saya lebih terkesan jika mereka—saudara-saudaraku—yang mungkin juga adalah anakmu wahai Ibu Surabaya, tidak menyemarakkan hari jadimu dengan cara yang seperti itu. Mungkin jalan tunjungan, adalah saksi bisu dari perkembangan dan wajah putra-putrimu saat ini. Mereka menjadikan acara malam itu bak karpet merah, bak seorang yang haus perhatian. Bagaimana rambut, lengan, sampai paha mereka dapat di nilai dari seberapa banyak mereka dilihat lebih lama. Dan mungkin mereka lebih ingin merasa disebut pemudi ‘wah’ jika mereka memakai pakaian seperti itu. Padahal jika mereka tahu, jalan tunjungan merupakan tempat heroik untuk para pejuang yang bertaruh nyawa merebutkan harkat dan martabat bangsa. Seolah perjuangan mereka tak ada harganya.

Ibu Surabaya, jika kau mengerti bagaimana cara menyemarakkan hari jadimu dengan yang semestinya, supaya kau bahagia dan merasa damai, akan aku lakukan itu untukmu. Bukan hanya sekedar menggelar konser bak tujuh rupa bintang dengan beribu taburan cahaya lampu supaya kau dapat lebih dilihat oleh masyarakat luar. Jika kau tahu saat konser berlangsung bagaimana putra-putrimu keroyokan sehabis minum, dan membuat onar di tengah-tengah konser. Bukankah alunan musik syarat dengan hiburan dan kegembiraan, mengapa mereka saling tonjok sesama saudara. Saya lebih memilih menyingkir dan pulang, wahai Ibu Surabaya yang kucintai. Mereka—saudara-saudaraku—semua haus perhatian.

Saat saya beranjak untuk pulang, niatan itu urung. Saya berbelok ke sebuah gang kecil, gang yang sering disebut dengan nama: keputran. Terasa pas sekali dengan diriku sebagai wujud putramu, hai Ibu Surabaya. Saya memesan kopi, kemudian memanjakan perut dengan sajian khas kotamu. Sederhana namun sangat membekas Ibu. Tetapi Ibu, tahukah kau saat aku bertanya kepada sang empunya warung kalau malam itu adalah hari jadimu, mereka hanya tersenyum tak mengetahui. Warung yang tak besar, berada di sebelah trotoar untuk pejalan kaki, yang mulai ramai oleh para ‘lijo’ yang akan menyambut pagi dengan sayur, daging, dan buah yang mereka jual. Sebagai wujud untuk bakti terhadapmu supaya tak nampak hina jika menganggur.

Trotoar yang begitu apik, dengan keramik yang selalu bersih. Meski jarang terlihat pejalan kaki menggunakannya. Mereka lebih suka dengan berkendara motor, walaupun bahan bakar akan naik mereka tak ambil pusing. Ibu Surabaya apakah benar, rencana monorail akan segera menjawab bagaimana kemacetan kota ini semakin nyata.

Braaaaakkk! Tiba-tiba terdengar suara benturan yang memecah obrolanku dengan penjaga warung. Ku tengok, ternyata seorang pemuda paruh baya, tersungkur di sisi motornya. Tak jauh dari tempatnya jatuh, terlihat seorang Ibu dengan tas belanjaan juga tergeletak tak bergerak. Mulailah muncul keramaian di sana, tempat sumber suara benturan itu terjadi. Aku tak mengerti setelahnya. Aku hanya berdoa, kepada Tuhan. Semoga hari jadimu bukan hanya terucap melalui sms, dan media informasi internet yang semakin marak akhir-akhir ini, melainkan lebih kepada tindakan nyata untuk membangun, memberi, dan membagi.

Semarakkan hari jadi kota Surabaya, dengan karya bukan dengan kata. –tuan ali

2 komentar:

  1. konsisten bray, kalo dari awal pake saya, ya terusin ae pake saya. jangan berubah-berubah dari saya menjadi "aku/ku" dalam sebuah tulisan. biar enak dan gak ganjil mbacanya. #saran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Trisandi. Trima kasih dan mohon bimbingan dari sang suhu Trisandi. :)

      Hapus