Sabtu, 01 Juni 2013

Kaidah 10.000 Jam dan Film Dokumenter

Saya merupakan salah satu orang yang percaya bahwa kesuksesan adalah upaya untuk berkarya dan mengabadikannya. Seorang rekan juga sering mengatakannya kepada saya, “bahwa sesuatu yang besar yang kita upayakan tanpa tercatat, atau terdokumentasi ibarat air yang terpapar sinar mentari.” Menguap tanpa arti, Saya pun menyetujui.

Ketika kita berbicara kesuksesan, sangat erat kaitannya dengan sebuah proses. Walaupun awam dengan sedikit mengesampingkannya. Mari kita membuat contoh yang cukup dikenal: adalah The Beatles, salah satu band rock yang paling terkenal; dan Jhon Lennon, salah satu orang berpengaruh di dalamnya.

The Beatles—Jhon Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringgo Starr—datang ke Amerika Serikat pada bulan Februari di tahun 1964, memulai Invasi Inggris ke arena musik Amerika dan mengeluarkan lagu-lagu hits yang mengubah wajah musik pop.

Hal pertama yang menarik tentang The Beatles untuk tujuan kita adalah seberapa lama mereka telah bersama-sama sebelum tiba di Amerika Serikat. Lennon dan McCartney pertama kali bermain bersama-sama di tahun 1957, tujuh tahun sebelum tiba di Amerika. (Kebetulan, jarak waktu antara pendirian band ini dengan keberhasilan artistiknya yang paling hebat—Sgt. Pepers’s Lonely Hearts Club Band dan The Beatles [White Album]—adalah sepuluh tahun.) Di tahun 1960 saat mereka masih berupa band rock sekolah yang sedang memulai kariernya, mereka diundang untuk bermain di Hamburg, Jerman.

“Pada saat itu Hamburg tidak memiliki klub musik rock-and-roll. Namun ia memiliki banyak klub striptease,” kata Philip Norman, yang menuliskan biografi The Beatles Shout! “Ada seorang pemilik klub bernama Bruno, yang dahulunya adalah seorang penghibur di taman ria. Dia memiliki pemikiran untuk membawa kelompok musik rock untuk bermain di sejumlah klub. Mereka memiliki sebuah formula. Mereka merencanakan pertunjukan nonstop, berjam-jam lamanya, dengan banyak orang keluar masuk. Dan band akan terus bermain untuk menjerat orang-orang yang lalu lalang. Di sebuah distrik lampu merah di Amerika, mereka menyebutnya sebagai striptease nostop.

“Banyak band yang telah bermain di Hamburg berasal dari Liverpool,” ujar Norman melanjutkan. “Semuanya terjadi secara kebetulan. Bruno pergi ke London untuk mencari sejumlah band. Tetapi dia kebetulan bertemu seorang wirausaha dari Liverpool di Soho yang sedang berada di London. Dan dia membuat janji untuk mengirimkan beberapa band ke Jerman. Itulah bagaimana hubungan itu terjadi. Dan akhirnya The Beatles membuat hubungan tidak hanya dengan Bruno tetapi dengan pemilik klub yang lainnya juga. Mereka terus kembali ke Jerman karena di sana terdapat banyak alkohol dan seks.”

Dan apa yang sungguh istimewa dari Hamburg? Mereka tidak dibayar mahal untuk bermain di sana. Tidak. Dan bukan karena akustiknya yang fantastik. Tidak juga. Atau karena penontonnya cerdas dan menghargai mereka. Semuanya tidak. Tetapi waktu bermain cukup banyak yang dipaksakan kepada band tersebut.

Berikut ini hasil wawancara dengan John Lennon setelah The Beatles dibubarkan, membicarakan tentang penampilan band di klub striptease di Hamburg yang bernama Indra:

Kami menjadi lebih baik dan memiliki rasa percaya diri yang lebih besar. Kami mendapatkan semua itu karena mendapatkan pengalaman bermain sepanjang malam. Dan kenyataannya bahwa penonton adalah orang asing ternyata cukup membantu. Kami bahkan mencoba lebih keras lagi, menumpahkan jiwa raga ke dalam permainan kami, berusaha membuat penonton tertarik.

Di Liverpool, kami hanya melakukan sesi selama satu jam saja, dan kami hanya memainkan nomor-nomor kami yang terbaik, lagu-lagu yang sama, pada setiap sesi. Di Hamburg, kami harus bermain selama delapan jam lamanya jadi kami benar-benar harus menemukan cara baru untuk memainkan musik kami.

Delapan jam?
Berikut wawancara dengan Pete Best, pemain drum The Beatles pada saat itu, “Begitu berita tersebar bahwa kami mengadakan pertunjukan, penonton mulai berdatangan ke klub. Kami bermain tujuh malam setiap minggunya. Pada awalnya kami bermain hampir nonstop sampai jam setengah satu malam saat klub ditutup, tetapi saat permainan kami terus membaik penonton terus bertahan sampai jam dua pagi.”

Tujuh hari dalam seminggu?
The Beatles akhirnya melakukan perjalanan ke Hamburg lima kali antara tahun 1960 sampai ahir 1962. Pada perjalanan pertama, mereka bermain 106 malam, minimal lima jam setiap malamnya. Pada perjalanan mereka yang kedua, mereka bermain 92 kali. Pada perjalanan yang ketiga mereka bermain 48 kali dengan total waktu selama 172 jam di atas panggung. Dua pertunjukan terakhir di Hamburg, di bulan November dan Desember tahun 1962, melibatkan pertunjukan selama 90 jam lamanya. Bila dijumlahkan mereka telah bermain selama 270 malam dalam waktu satu setengah tahun. Sesungguhnya, pada saat meraih kesuksesan di tahun 1964 mereka diperkirakan telah naik panggung sebanyak seribu dua ratus kali. Apakah Anda tahu seberapa luar biasanya hal itu? Kebanyakan band pada zaman sekarang tidak pernah melakukan pertunjukan selama seribu dua ratus kali sepanjang karir mereka. Kawah candradimuka yang bernama Hamburg adalah salah satu hal yang membedakan The Beatles dari band lainnya.

“Tidak ada panggung yang bagus saat mereka pergi ke sana dan kualitas mereka bertambah baik saat kembali,” ujar Norman melanjutkan. “Mereka tidak hanya mempelajari tentang stamina. Mereka harus mempelajari sedemikian banyak lagu—berbagai lagu band lain, bukan hanya rock and roll, namun juga sedikit jazz. Mereka tidak begitu disiplin saat bermain di atas panggung sebelumnya. Tetapi saat kembali dari Jerman, mereka sungguh berbeda dari band-band lainnya. Pengalaman itu telah membentuk mereka.”

***

Ternyata kita juga bisa berbangga. Indonesia memiliki band legendaris yang lebih dulu sukses sebelum The Beatles: The Tielman Brothers. Tapi tak banyak dari kita mengetahuinya. Seperti yang telah diuraikan di atas pada tahun 1960an, saat The Beatles menitih karir di dunia musik berangkat dari band rock sekolah. Mereka memperkaya cara bermusiknya dengan jam terbang tinggi. Selain itu, mereka juga memperkayanya dengan menjadi penonton konser musik. Bertemulah mereka—The Beatles dan The Tielman Brothers—di sebuah konser yang di gelar di Hamburg. 

Bersyukur saya pernah bertemu dengan seorang pengajar di Binus Film School: Ekky Imanjaya. Salah seorang yang memperkenalkan saya bahwa sebelum The Beatles lahir ada peranakan indo yang menjadi inspirasi mereka. Gaya panggung yang sangat aktraktif yang menjadi ciri khas The Tielman Brother seolah menjadi kiblat bagi The Beatles.

Eky yang mendapatkan gelar masternya di Universitet Van Amsterdam dengan bidang film studies, seolah menyadarkan saya bahwa sebuah pendokumentasian menjadi sangat penting. Saya tak akan pernah tahu bahwa sebelum The Beatles berguling-ria menguasai panggung dengan sangat energik dan aktraktif, ternyata The Tielman Brothers dengan vokalisnya Andy Tielman juga lebih kreatif. 

Jadi dapat kita ambil pelajaran dari beberapa pengalaman legenda dunia di atas. Bagaimana sebuah proses sangat penting untuk penilaian akhir. Terkadang terlalu banyak yang luput dari perhatian kita, bagaimana sebuah proses dianggap oleh sebagian besar dari kita adalah sesuatu hal yang sia-sia, malah kita lebih memilih jalan pintas untuk mendapatkan sebuah akhir yang indah. Ibarat punuk merindukan rembulan, akan sangat tidak mungkin.

Saya teringat saat saya berada di bangku perkuliahan, geliat kampus sangat ramai. Diskusi riuh dan kegiatan mahasiswa bak pesta malam yang menyenangkan. Kemudian saya terarah pada satu kalimat dari seseorang rekan yang saya kenal baik, “apakah guna kita berproses, jika kita tak berdoa?” dengan suara lirih ia berbicara pada saya. Saya selalu mengingat akan hal ini. Kita tak akan tahu apa yang kita lakukan dan upayakan sekarang, semua pengharapan musti disertai doa dan restu dari sang pencipta manusia. Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar