Minggu, 09 Juni 2013

Finding Srimulat Pulang ke Kampung Halaman Surabaya

Foto bersama dengan Charles Gozali sutradara film Finding Srimulat.

Jika kita tahu darimana kita berasal, kita akan mengerti kemana kita akan pergi. –Charles Gozali

Ungkapan dari sutradara film Finding Srimulat di atas telah menjawab bagaimana kemelut tanya yang selama ini saya alami. Pemutaran film dan diskusi interaktif dari pembuat film yang berlangsung di kampung ilmu Surabaya serasa mengisi dahaga penikmat film dan pecinta budaya lawak Indonesia. Film yang diputar ulang di Surabaya, berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam ini mendapat apresiasi yang cukup meriah dari para penggemar Srimulat di Surabaya. Acara juga nampak hidup di tambah keriuhan Akbar sang comic dan pelawak acara ‘becak’ di Jtv.

Film yang syarat makna akan sebuah capaian mimpi dikemas apik dengan gaya dagelan khas Srimulat. Film yang di bintangi oleh Reza Rahardian, Rianti, dan tokoh utama dari Srimulat: Gogon, Mamik, Kadir, Tesi dan Djujuk seolah membawa kita kembali ke beberapa tahun silam, saat Srimulat tayang di TVRI dan Indosiar. Meskipun bukan pemutaran perdana bagi saya, Film Finding Srimulat yang berlangsung di jalan Semarang nomer 55 ini, tetap tak bosan untuk disaksikan lagi terutama dari cara dagelan dan lawakan khas Srimulat yang begitu kental melekat bagi masyarakat Surabaya. 

Mungkin sedikit flash back ke beberapa tahun silam, Srimulat yang berawal dari kota Solo masih sayup-sayup terdengar di telinga dan mendapatkan hati dari sebagaian pecinta budaya lawak Indonesia. Baru pada tahun 1953, Srimulat berada di Surabaya dapat mbeledos suaranya dan menjadi trending topic Nusantara sampai saat ini.

Almarhum Bapak Teguh Selamet Raharjo dan Almarhumah Ibu Raden Ayu Srimulat adalah sosok penting yang menjadi pendiri grup lawak Srimulat, yang sekarang sudah diteruskan oleh generasi ketiga dalam setiap pementasannya di Nusantara. “Karena Uang bukanlah segalanya,” seperti penggalan kalimat yang diucapkan Kabul atau yang sering kita ketahui dengan nama Srimulat: ‘Tesi’, di film yang mengambil stasiun Balapan Solo sebagai latar tempat pengambilan scene, menjadi sebuah semangat untuk berkarya dan menghibur masyarakat.

Nama besar Srimulat bukan serta merta ada tanpa sebuah proses keringat dan semangat dari tiap anggota yang telah mendedikasikan karyanya untuk Nusantara. Hal ini yang mendasari Charles Gozali untuk menyambungkannya kedalam sebuah sajian yang menarik, supaya kita (masyarakat yang masih peduli akan budaya Nusantara) semakin melek untuk melestarikannya. Bahwa kita masih mempunyai sebuah karya yang membanggakan, dan sejarah tidak akan pernah melupakan upaya dan jerih payah mereka.

Finding Srimulat pulang ke kampung halaman juga tak luput dari tangan seorang Dhahana Adi atau yang sering kita panggil mas Ipung. Ia adalah seseorang yang saya kenal pertama kali di acara pemutaran film dokumenter The Tielman Brothers garapan Eky Imanjaya. Sang penggiat film dan pecinta budaya ini, berusaha menjembatani Charles Gozali dengan para pecinta Srimulat yang berada di Surabaya untuk secara langsung memutar ulang film dan berdiskusi bagaimana sisi lain pembuatan film yang mengalami proses panjang selama kurang lebih tiga tahun. Dhahana Adi juga tidak sendiri untuk menjembatani proses kedatangan Finding Srimulat pulang ke kampung halaman, tanpa campur tangan dari Himpunan Mahasiswa Informasi dan Komunikasi Universitas Airlangga ‘acara obat rindu’ semacam ini nihil terwujud. Pulang kampung Srimulat juga menjadi kado teristimewa bagi HM-Inkom UA yang merayakan hari jadinya ke 25 tahun.

Foto oleh Septyo Gunarto.
Foto oleh Septyo Gunarto.
 
Ada beberapa hal yang menjadi sorotan saya saat menghadiri acara pemutaran ulang film Finding Srimulat dan diskusi behind the scene dengan tema pulang ke kampung halaman Surabaya. Charles Gozali banyak membagikan pengalamannya kepada kami bagaimana ia berkarya dengan media film. Usaha yang ia lakukan untuk berkarya, menjadi sorotan tersendiri bagi saya. Terutama saat ia melawan semua keterbatasan yang ia hadapi, mulai dari materi dan beberapa ‘tokoh’ yang diluar dugaan menjadi guru dari sebuah pengalaman berharganya. Beberapa poin yang dapat saya ambil, bahwa mimpi adalah realisasi dari upaya. Apresiasi saya untuk Charles Gozali yang telah menginspirasi kami, bahwa “bukanlah materi yang menjadi modal utama dari sebuah mimpi, melainkan karya yang memiliki jati diri.” Dan ia merealisasikannya melalui ‘Film Finding Srimulat’, seperti menemukan kemana kita harus melangkah tanpa melupakan dimana kita berasal. Tabik.

Selasa, 04 Juni 2013

Kepada Yth. Ibu Surabaya, di Tempat.

HUT Surabaya ke 720 Tahun.

Selamat Sore Ibu Surabaya, semoga Ibu selalu diberi kesejahteraan dan kedamaian. Sebelumnya saya ingin meminta maaf, karena telat untuk mengucapkan hari jadimu. Tak hanya itu Bu, saya juga tak bisa meluangkan waktu untuk memberimu kado di hari yang luar biasa ini untukmu. Maafkan saya, Ibu Surabaya. Sebagai putramu, sebenarnya saya sangat malu untuk membicarakan ini. Namun untuk beberapa hal yang dapat mengingatkan saya, saya harus menuliskannya dan membicarakannya. Karena manusia adalah mangkuk dari sebuah hal yang bernama salah dan lupa.

Mungkin baru pertama kali saya memberanikan diri untuk menuliskan surat untukmu. Mungkin tahun-tahun sebelumnya, saya hanya bisa menghabiskan malam dengan gemerlapnya lampu kota yang menghias hari jadimu, dengan paket keramaian yang telah tersedia untuk memeriahkan malammu. Ibarat seorang Ratu, kau di puja dan di lontar dengan teriakan “Surabaya”. Saya pun juga sangat menikmatinya kala itu.

Namun tahun ini berbeda, saat kau menginjak angka 720 tahun. Saya ibarat seorang putra yang tak bergeliat dengan keramaian. Malam-malam yang begitu semarak sebagai wujud kecintaan atas hari jadimu, perlahan ku hindari dengan mengalihkan diri kedalam kontemplasi dan perenungan yang dalam. Saya lebih senang berjalan di pinggiran batas kotamu, menyelami bagaimana geliat yang berbeda yang dapat saya saksikan untuk memeriahkan hari jadimu, hai Ibu Surabaya. mungkin keputusanku untuk ini, terasa kontra dengan saudara-saudaraku yang lain, yang nampak selalu antusias dengan setiap acara untuk merayakanmu. Mereka menggandeng kekasih, dengan pakaian yang senada dengan iklim tropis. Begitu tipis antara malu dan memalukan terasa tak ada batasnya.

Saya lebih terkesan jika mereka—saudara-saudaraku—yang mungkin juga adalah anakmu wahai Ibu Surabaya, tidak menyemarakkan hari jadimu dengan cara yang seperti itu. Mungkin jalan tunjungan, adalah saksi bisu dari perkembangan dan wajah putra-putrimu saat ini. Mereka menjadikan acara malam itu bak karpet merah, bak seorang yang haus perhatian. Bagaimana rambut, lengan, sampai paha mereka dapat di nilai dari seberapa banyak mereka dilihat lebih lama. Dan mungkin mereka lebih ingin merasa disebut pemudi ‘wah’ jika mereka memakai pakaian seperti itu. Padahal jika mereka tahu, jalan tunjungan merupakan tempat heroik untuk para pejuang yang bertaruh nyawa merebutkan harkat dan martabat bangsa. Seolah perjuangan mereka tak ada harganya.

Ibu Surabaya, jika kau mengerti bagaimana cara menyemarakkan hari jadimu dengan yang semestinya, supaya kau bahagia dan merasa damai, akan aku lakukan itu untukmu. Bukan hanya sekedar menggelar konser bak tujuh rupa bintang dengan beribu taburan cahaya lampu supaya kau dapat lebih dilihat oleh masyarakat luar. Jika kau tahu saat konser berlangsung bagaimana putra-putrimu keroyokan sehabis minum, dan membuat onar di tengah-tengah konser. Bukankah alunan musik syarat dengan hiburan dan kegembiraan, mengapa mereka saling tonjok sesama saudara. Saya lebih memilih menyingkir dan pulang, wahai Ibu Surabaya yang kucintai. Mereka—saudara-saudaraku—semua haus perhatian.

Saat saya beranjak untuk pulang, niatan itu urung. Saya berbelok ke sebuah gang kecil, gang yang sering disebut dengan nama: keputran. Terasa pas sekali dengan diriku sebagai wujud putramu, hai Ibu Surabaya. Saya memesan kopi, kemudian memanjakan perut dengan sajian khas kotamu. Sederhana namun sangat membekas Ibu. Tetapi Ibu, tahukah kau saat aku bertanya kepada sang empunya warung kalau malam itu adalah hari jadimu, mereka hanya tersenyum tak mengetahui. Warung yang tak besar, berada di sebelah trotoar untuk pejalan kaki, yang mulai ramai oleh para ‘lijo’ yang akan menyambut pagi dengan sayur, daging, dan buah yang mereka jual. Sebagai wujud untuk bakti terhadapmu supaya tak nampak hina jika menganggur.

Trotoar yang begitu apik, dengan keramik yang selalu bersih. Meski jarang terlihat pejalan kaki menggunakannya. Mereka lebih suka dengan berkendara motor, walaupun bahan bakar akan naik mereka tak ambil pusing. Ibu Surabaya apakah benar, rencana monorail akan segera menjawab bagaimana kemacetan kota ini semakin nyata.

Braaaaakkk! Tiba-tiba terdengar suara benturan yang memecah obrolanku dengan penjaga warung. Ku tengok, ternyata seorang pemuda paruh baya, tersungkur di sisi motornya. Tak jauh dari tempatnya jatuh, terlihat seorang Ibu dengan tas belanjaan juga tergeletak tak bergerak. Mulailah muncul keramaian di sana, tempat sumber suara benturan itu terjadi. Aku tak mengerti setelahnya. Aku hanya berdoa, kepada Tuhan. Semoga hari jadimu bukan hanya terucap melalui sms, dan media informasi internet yang semakin marak akhir-akhir ini, melainkan lebih kepada tindakan nyata untuk membangun, memberi, dan membagi.

Semarakkan hari jadi kota Surabaya, dengan karya bukan dengan kata. –tuan ali

Sabtu, 01 Juni 2013

Kaidah 10.000 Jam dan Film Dokumenter

Saya merupakan salah satu orang yang percaya bahwa kesuksesan adalah upaya untuk berkarya dan mengabadikannya. Seorang rekan juga sering mengatakannya kepada saya, “bahwa sesuatu yang besar yang kita upayakan tanpa tercatat, atau terdokumentasi ibarat air yang terpapar sinar mentari.” Menguap tanpa arti, Saya pun menyetujui.

Ketika kita berbicara kesuksesan, sangat erat kaitannya dengan sebuah proses. Walaupun awam dengan sedikit mengesampingkannya. Mari kita membuat contoh yang cukup dikenal: adalah The Beatles, salah satu band rock yang paling terkenal; dan Jhon Lennon, salah satu orang berpengaruh di dalamnya.

The Beatles—Jhon Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringgo Starr—datang ke Amerika Serikat pada bulan Februari di tahun 1964, memulai Invasi Inggris ke arena musik Amerika dan mengeluarkan lagu-lagu hits yang mengubah wajah musik pop.

Hal pertama yang menarik tentang The Beatles untuk tujuan kita adalah seberapa lama mereka telah bersama-sama sebelum tiba di Amerika Serikat. Lennon dan McCartney pertama kali bermain bersama-sama di tahun 1957, tujuh tahun sebelum tiba di Amerika. (Kebetulan, jarak waktu antara pendirian band ini dengan keberhasilan artistiknya yang paling hebat—Sgt. Pepers’s Lonely Hearts Club Band dan The Beatles [White Album]—adalah sepuluh tahun.) Di tahun 1960 saat mereka masih berupa band rock sekolah yang sedang memulai kariernya, mereka diundang untuk bermain di Hamburg, Jerman.

“Pada saat itu Hamburg tidak memiliki klub musik rock-and-roll. Namun ia memiliki banyak klub striptease,” kata Philip Norman, yang menuliskan biografi The Beatles Shout! “Ada seorang pemilik klub bernama Bruno, yang dahulunya adalah seorang penghibur di taman ria. Dia memiliki pemikiran untuk membawa kelompok musik rock untuk bermain di sejumlah klub. Mereka memiliki sebuah formula. Mereka merencanakan pertunjukan nonstop, berjam-jam lamanya, dengan banyak orang keluar masuk. Dan band akan terus bermain untuk menjerat orang-orang yang lalu lalang. Di sebuah distrik lampu merah di Amerika, mereka menyebutnya sebagai striptease nostop.

“Banyak band yang telah bermain di Hamburg berasal dari Liverpool,” ujar Norman melanjutkan. “Semuanya terjadi secara kebetulan. Bruno pergi ke London untuk mencari sejumlah band. Tetapi dia kebetulan bertemu seorang wirausaha dari Liverpool di Soho yang sedang berada di London. Dan dia membuat janji untuk mengirimkan beberapa band ke Jerman. Itulah bagaimana hubungan itu terjadi. Dan akhirnya The Beatles membuat hubungan tidak hanya dengan Bruno tetapi dengan pemilik klub yang lainnya juga. Mereka terus kembali ke Jerman karena di sana terdapat banyak alkohol dan seks.”

Dan apa yang sungguh istimewa dari Hamburg? Mereka tidak dibayar mahal untuk bermain di sana. Tidak. Dan bukan karena akustiknya yang fantastik. Tidak juga. Atau karena penontonnya cerdas dan menghargai mereka. Semuanya tidak. Tetapi waktu bermain cukup banyak yang dipaksakan kepada band tersebut.

Berikut ini hasil wawancara dengan John Lennon setelah The Beatles dibubarkan, membicarakan tentang penampilan band di klub striptease di Hamburg yang bernama Indra:

Kami menjadi lebih baik dan memiliki rasa percaya diri yang lebih besar. Kami mendapatkan semua itu karena mendapatkan pengalaman bermain sepanjang malam. Dan kenyataannya bahwa penonton adalah orang asing ternyata cukup membantu. Kami bahkan mencoba lebih keras lagi, menumpahkan jiwa raga ke dalam permainan kami, berusaha membuat penonton tertarik.

Di Liverpool, kami hanya melakukan sesi selama satu jam saja, dan kami hanya memainkan nomor-nomor kami yang terbaik, lagu-lagu yang sama, pada setiap sesi. Di Hamburg, kami harus bermain selama delapan jam lamanya jadi kami benar-benar harus menemukan cara baru untuk memainkan musik kami.

Delapan jam?
Berikut wawancara dengan Pete Best, pemain drum The Beatles pada saat itu, “Begitu berita tersebar bahwa kami mengadakan pertunjukan, penonton mulai berdatangan ke klub. Kami bermain tujuh malam setiap minggunya. Pada awalnya kami bermain hampir nonstop sampai jam setengah satu malam saat klub ditutup, tetapi saat permainan kami terus membaik penonton terus bertahan sampai jam dua pagi.”

Tujuh hari dalam seminggu?
The Beatles akhirnya melakukan perjalanan ke Hamburg lima kali antara tahun 1960 sampai ahir 1962. Pada perjalanan pertama, mereka bermain 106 malam, minimal lima jam setiap malamnya. Pada perjalanan mereka yang kedua, mereka bermain 92 kali. Pada perjalanan yang ketiga mereka bermain 48 kali dengan total waktu selama 172 jam di atas panggung. Dua pertunjukan terakhir di Hamburg, di bulan November dan Desember tahun 1962, melibatkan pertunjukan selama 90 jam lamanya. Bila dijumlahkan mereka telah bermain selama 270 malam dalam waktu satu setengah tahun. Sesungguhnya, pada saat meraih kesuksesan di tahun 1964 mereka diperkirakan telah naik panggung sebanyak seribu dua ratus kali. Apakah Anda tahu seberapa luar biasanya hal itu? Kebanyakan band pada zaman sekarang tidak pernah melakukan pertunjukan selama seribu dua ratus kali sepanjang karir mereka. Kawah candradimuka yang bernama Hamburg adalah salah satu hal yang membedakan The Beatles dari band lainnya.

“Tidak ada panggung yang bagus saat mereka pergi ke sana dan kualitas mereka bertambah baik saat kembali,” ujar Norman melanjutkan. “Mereka tidak hanya mempelajari tentang stamina. Mereka harus mempelajari sedemikian banyak lagu—berbagai lagu band lain, bukan hanya rock and roll, namun juga sedikit jazz. Mereka tidak begitu disiplin saat bermain di atas panggung sebelumnya. Tetapi saat kembali dari Jerman, mereka sungguh berbeda dari band-band lainnya. Pengalaman itu telah membentuk mereka.”

***

Ternyata kita juga bisa berbangga. Indonesia memiliki band legendaris yang lebih dulu sukses sebelum The Beatles: The Tielman Brothers. Tapi tak banyak dari kita mengetahuinya. Seperti yang telah diuraikan di atas pada tahun 1960an, saat The Beatles menitih karir di dunia musik berangkat dari band rock sekolah. Mereka memperkaya cara bermusiknya dengan jam terbang tinggi. Selain itu, mereka juga memperkayanya dengan menjadi penonton konser musik. Bertemulah mereka—The Beatles dan The Tielman Brothers—di sebuah konser yang di gelar di Hamburg. 

Bersyukur saya pernah bertemu dengan seorang pengajar di Binus Film School: Ekky Imanjaya. Salah seorang yang memperkenalkan saya bahwa sebelum The Beatles lahir ada peranakan indo yang menjadi inspirasi mereka. Gaya panggung yang sangat aktraktif yang menjadi ciri khas The Tielman Brother seolah menjadi kiblat bagi The Beatles.

Eky yang mendapatkan gelar masternya di Universitet Van Amsterdam dengan bidang film studies, seolah menyadarkan saya bahwa sebuah pendokumentasian menjadi sangat penting. Saya tak akan pernah tahu bahwa sebelum The Beatles berguling-ria menguasai panggung dengan sangat energik dan aktraktif, ternyata The Tielman Brothers dengan vokalisnya Andy Tielman juga lebih kreatif. 

Jadi dapat kita ambil pelajaran dari beberapa pengalaman legenda dunia di atas. Bagaimana sebuah proses sangat penting untuk penilaian akhir. Terkadang terlalu banyak yang luput dari perhatian kita, bagaimana sebuah proses dianggap oleh sebagian besar dari kita adalah sesuatu hal yang sia-sia, malah kita lebih memilih jalan pintas untuk mendapatkan sebuah akhir yang indah. Ibarat punuk merindukan rembulan, akan sangat tidak mungkin.

Saya teringat saat saya berada di bangku perkuliahan, geliat kampus sangat ramai. Diskusi riuh dan kegiatan mahasiswa bak pesta malam yang menyenangkan. Kemudian saya terarah pada satu kalimat dari seseorang rekan yang saya kenal baik, “apakah guna kita berproses, jika kita tak berdoa?” dengan suara lirih ia berbicara pada saya. Saya selalu mengingat akan hal ini. Kita tak akan tahu apa yang kita lakukan dan upayakan sekarang, semua pengharapan musti disertai doa dan restu dari sang pencipta manusia. Tuhan Yang Maha Esa.