Sabtu, 25 Mei 2013

Wayang Of The Shadow Theatre, Mendadak Cinta Wayang




“Hari sabtu ada wayang kulit di daerah Kebun bibit, Men. Datang yuk!.” Ajakan untuk menghadiri pertunjukan wayang di kawasan Kebun Bibit Surabaya, hanya keisengan semata. Terucap begitu saja oleh kawan saya, bernama Adit.

Sabtu malam selepas magrib, beberapa kawasan di Surabaya terguyur hujan cukup deras. Hal itu juga terdengar dari beberapa pendengar radio Suara Surabaya, yang melaporkan keadaan lalu lintas lewat sesi kelana kota. Saya hampir pesimis untuk datang melihat pertunjukkan wayang kulit. Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, tanda sms masuk. “Santai Men, jam 21.00 WIB. Udanne mandek, disingkap karo dukun. :) ” pesan singkat dari Adit, kepada saya. Saya pun tersenyum setuju.

Hujan yang begitu derasnya hanya bertahan kira-kira satu jam lepas magrib, berganti gerimis. Kemudian langit nampak berwarna hitam keabu-abuan, memberi isyarat bahwa air langit masih tersimpan. Saya segera bergegas untuk menyiapkan diri untuk berangkat menuju rumah Adit, kami memutuskan untuk berangkat bersama.

Wayang memang tak asing bagi saya, meski di keluarga saya hampir tak pernah mengadakan pagelaran wayang atau “mengundang pak dalang dan bu sinden untuk manggung di acara saya.” Tapi di daerah saya masih sering didapati pertunjukkan wayang yang diadakan untuk beberapa acara tertentu: khitan, hari jadi desa, atau acara ulang tahun keluarga pejabat. Beda saya, beda Adit. Ia termasuk beruntung pernah duduk di deretan paling depan dalam menyaksikan pertunjukkan wayang, yang sempat ia dan keluarganya adakan di daerah Banyuwangi. Raja minyak!

Tak sampai 20 menit dari rumah Adit menuju lokasi pagelaran wayang kulit. Kami berlima segera menuju suara sinden dengan nada slendronya yang khas mengisyaratkan bahwa pertunjukkan sudah dimulai. Luar biasa, antusias warga setempat. Meski wayangan ini diadakan di kota metropolis macam kota Surabaya, tak menyurutkan animo penonton yang hadir. Tua-muda, pria-wanita, bocah-tengil tumplek-bleg.

Wayang yang telah diakui sebagai warisan budaya Indonesia pada tanggal 7 November 2003 sebenarnya bukan karena semata-mata ada begitu saja. Hal ini ada dan diakui oleh dunia, karena masyarakat kita sangat antusias dan peduli akan warisan budaya yang syarat akan makna dan edukasi. Dengan media wayang, kita tak sadar telah mendapatkan beberapa sajian seni yang beragam: meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Dan ini semuanya Free, alias gratis-tis, yang gak gratis: kacang rebus, teh anget, kopi, lan udute. Haha

Kami berlima, terus berjalan mendekati panggung. Kami berada di sisi yang dapat melihat dalang, pesinden, dan penabuh gending. Karena kami ingin menyaksikan bagaimana seni Jawa yang komplit ini berpadu secara harmoni. Selain itu, saya penasaran dengan wajah pesinden yang nampaknya seperti bule. Sebenarnya sih, gak terlalu penasaran-penasaran amat, toh wajah bule ya gitu-gitu aja masih kalah top sama wajah pribumi (tetangga sendiri). :)

Memang untuk mencintai dalam hal ini budaya, kita harus mirsani rumiyin (baca: lihat dahulu). Kalau istilah anak muda, adalah ‘pandangan pertama’. Saya memang jatuh cinta pada pagelaran wayang karena saat saya duduk di bangku sekolah dasar, saat membaca buku Mahabarata. Secara ringkas diceritakan bagaimana kisah pandawa lima berperang dengan kurawa yang memiliki jumlah yang lebih banyak, “seribu orang yang melambangkan sifat manusia dari sisi kejahatan.” Sangat seru untuk mengikuti kisahnya waktu itu. Dari sini saya tertarik untuk melihat pagelaran seni wayang kulit, dulu televisi nasional sering menayangkan pagelaran seni wayang. Ya semoga masih ada acara semacam itu, daripada anak muda disuguhi kisah drama televisi pria naik vespa bonceng wanita berwajah rupawan. Toh jaraaaaanng banget dikehidupan real, pria bervespa yang dibonceng wanita rupawan. Yang ada mah bawa sapu lidi, baliho bekas dicantolin di sespan. Sambil teriak woyo, woyoo..

Beberapa hal yang saya tunggu-tunggu dalam pagelaran wayang ini, yaitu saat pak dalang memunculkan punakawan. Punakawan adalah tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Punakawan ada diantaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa.

Saya sempat tersindir oleh beberapa dan banyak hal. Terutama tentang pemahaman saya akan budaya dan wawasan akan berbudaya. Ada yang bilang begini, “Sampeyan tiang Jowo, tapi mboten ngerti Jawane.”  Tujuh kata yang singkat namun memiliki arti yang sangat luas dan kompleks. Sangat kompleks menohok bagi saya. Bisa jadi kalimat tersebut, mengatakan secara lirih di telinga saya: “kamu harus tahu asal-usulmu, dari atap atau palimbahan?.” 
______________________________________________________________________________

Radityo Pradipta adalah pecinta fotografi alam liar khususnya burung, yang masih melakukan studinya di salah satu universitas negeri di Surabaya, dengan program pasca sarjana bidang imunologi. Pria yang lahir bulan Desember ini lahir di Jakarta, selain memilki hobi fotografi ia sangat gemar baca dan menelaah budaya dan film.

Pria yang sekarang sedang melakukan program pelangsingan badan ini juga telah membukukan karya fotografinya yang berjudul "Burung Pantai Wonorejo." bersama kedua rekannya Lukman Nurdini dan Cristian Agung, yang merupakan pengamat Burung asal Surabaya.

berikut adalah foto-fotonya saat kami mengikuti pagelaran wayang bersama.

foto oleh Radityo Pradipta.
foto oleh Radityo Pradipta.
foto oleh Radityo Pradipta

6 komentar:

  1. aseemm,,program pelangsingan jaree,,
    big is beautipul boi,,beautipully ngglundung glundung...

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum wr wb.
    Rek, piye kabare? Adit sisan?
    Dit, kalo berhasil program pelangsingannya kasih resepnya ya :)
    Wish all of you always get the best.

    nb: Mamen, itu nontonnya pake bahasa kawi ya? Ra ngerti blas wes --"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam wr wb.

      hahaha, jeng fitri malah tanya program pelangsingan. ndang balap karung para genduters..

      Adit kan translator bahasa kawi fit. tuh namanya Pringgo. ;)

      Hapus
  3. salam budaya. semoga wayang terus jaya !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam budaya Nusantara, Amiin. Salam kenal, dan matur suwun sampun mampir ke blog nubi ini mas Sofyanda :)

      Hapus